Brittle

Brittle
Drama apa lagi ini?



...•••••••••••••...


...Hidup itu bukan banyak drama, tetapi pada hakikat nya hidup itu memang lah sebuah drama, dengan Tuhan yang menjadi sutradara dan kita menjadi pemeran utama.......


...••••••••••••...


...***...


Tok tok tok


Arinta mengerjapkan matanya dan melihat kearah pintu kamarnya yang diketuk dari luar.


Merasa terganggu, Raka lantas bangun dari tidurnya. Menguap lebar seraya merenggangkan badan nya. Lalu cowok itu memandang Arinta yang menatap datar kearah bantal yang digunakannya tadi.


Merasa paham Raka pun menyengir malu, "Hehehe, maaf", ujarnya melihat pulau yang telah dibuatnya diatas bantal Arinta. Membuat Arinta mendengus kasar dan berjalan membuka pintu.


"Nih", Sinta menyodorkan segelas susu ketika pintu terbuka.


Arinta mengambilnya dan meminum dalam sekali teguk. Susu rasa strawberry memang selalu menjadi favoritnya.


"Gimana Bu?, udah pulang?", tanya Arinta dan mengembalikan gelas tersebut kepada Sinta.


"Udah. Sempat enggak terima tadi pas Ayah kamu bilang kalau udah ada orang lain yang duluan melamar kamu", jawab Sinta mengingat kembali amarah Albert yang meledak ketika Deri mengatakan kalau Arinta sudah dilamar oleh orang lain. Marah?, tentu saja. Arinta adalah gadis yang sudah disukainya sejak lama. Dan ketika ia ingin mempersuntingnya, tau-tau gadis pujaan hatinya sudah dimiliki oleh orang lain.


"Terus, terus?", tanya Arinta penasaran.


"Ya dia pulang lah. Kata nya dia enggak restuin kamu nikah sama cowok lain", Sinta terkekeh pelan.


"Siapa yang mau nikah coba", sungut Arinta.


"Sok-sokan si Albert. Tau kalau calon nya Kak Rinta itu lebih ganteng dari dia, kebakaran jenggot tuh anak", celetuk Raka.


Arinta menoleh tajam kearah Raka yang bersiap kembali ingin tidur, "Apa yang dikasih Reagan sama kamu?!", tanya Arinta tajam.


Raka yang baru saja membaringkan badannya refleks langsung terduduk sambil terbatuk-batuk. Tersedak air liur nya sendiri.


"Emang kenapa?, Raka ngapain lagi Rinta", sela Sinta seraya ikut-ikutan menatap tajam Raka.


"Enggak, Raka enggak ngapa-ngapain kok. Raka kan anak Ibu yang paling ganteng dan berbudi pekerti", ujarnya seraya berdiri tegak.


Arinta memutar bola matanya jengah, "Jawab, kamu dikasih apa sama Reagan kok tiba-tiba kamu bisa pro ke dia?."


"Cuma mau silaturahmi ke calon ipar, salah?", Raka menyengir ketika melihat Arinta menatap horor kearahnya. Seakan-akan ingin menelannya hidup-hidup.


"Hehehe, Raka mau ke kamar mandi dulu ya", Raka berjalan cepat melewati Arinta dan Sinta yang masih berdiri didepan pintu.


"Adik kamu tuh."


"Anak Ibu itu", jawab Arinta cepat.


Sinta tertawa pelan, "Anak pungut itu."


Arinta ikut tertawa lalu ia mendengar suara-suara dari ruang tamu.


"Ada tamu lain Bu?", tanya Arinta.


Sinta menepuk dahinya, "Tuh kan Ibu lupa. Kamu sih, ngajak Ibu ngobrol."


Lah, Arinta yang salah?.


"Siapa memangnya Bu?", Arinta berjalan sedikit kedepan hendak mengintip siapa yang datang bertamu. Namun Sinta lebih dulu mencekal tangan nya.


"Arinta", panggil Sinta sendu yang membuat Arinta menatap bingung Ibu nya.


"Kenapa Bu?."


Sinta meletakkan gelas yang dipegangnya keatas nakas. Lalu memeluk erat tubuh putrinya. Membuat Arinta dilanda kebingungan.


"Bu?", Arinta mengusap lembut punggung Sinta yang tiba-tiba bergetar. Apakah Ibu nya itu tengah menangis?. Tapi karena apa.


Sinta melepaskan pelukannya, " Apa yang kamu lihat dan kamu dengar nantinya. Tolong jangan benci Ibu. Selama ini Ibu menyayangi kamu dengan tulus. Sampai kapan pun kamu tetap jadi putri Ibu satu-satunya. Jangan benci Ibu Rinta", ujarnya dengan air mata yang meleleh.


Arinta menggelengkan kepalanya sambil menghapus air mata dipipi Sinta.


"Kenapa Rinta harus benci sama Ibu. Walau pun Ibu bunuh orang, Rinta tetap bakal sayang sama Ibu. Enggak ada alasan untuk Rinta benci Ibu. Ibu adalah wanita terhebat dalam hidup Rinta. Jangan nangis Bu."


Sinta tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca. Itulah putrinya, sangat lembut dan rapuh. Tidak akan bisa melihat orang lain kesulitan.


"Semoga begitu", Sinta menghapus air matanya yang kembali turun, "Udah. Kamu temani Ayah sana."


"Tapi Ibu-"


"Ibu nanti nyusul", Sinta mendorong Arinta untuk segera pergi.


Arinta menurut, lalu mengayunkan kaki nya kearah ruang tamu. Meninggalkan Sinta yang menatap nanar punggung mungil putrinya.


...***...


"Ayah", Arinta memanggil Deri yang tengah berbincang. Membuat dua orang lainnya menatap Arinta dengan pandangan yang sulit untuk diartikan. Tapi tunggu, mengapa wanita yang duduk didepan Ayah nya itu terasa sangat mirip dengan Arinta. Hanya berbeda usia saja. Apakah hanya halusinasi Arinta semata.


"Leta, Arleta", wanita tersebut berdiri dan tiba-tiba berlari memeluk Arinta, "Princess Leta nya mommy udah tumbuh jadi seorang Ratu. Hanya Tuhan yang tau gimana rindu nya mommy sama kamu. I really miss you dear."


Deg


Arinta membatu. Tanpa tau sebab nya, air mata turun begitu saja dipipi nya. Entah mengapa ia merasa ikut sedih mendengar isak tangis wanita yang tengah memeluknya tersebut.


"Why are you crying?, don't cry honey", wanita yang tanpa Arinta tahu namanya itu tiba-tiba menghapus air mata di pipinya. Menatap penuh kasih Arinta. Membuat cewek itu tidak bisa bersuara. Arinta bungkam, seperti ada rasa yang tidak bisa diungkapkan nya melalui kata-kata.


"Kamu siapa?", tanya Arinta kemudian dengan pandangan lurus kearah wanita tersebut.


"I-ini mommy sayang. Mo-"


"Mommy apa?. Saya punya Ibu, bukan mommy", sela Arinta dengan tampang polos.


"Ini mommy. Mommy yang lahirin kamu. Kamu itu anak mommy."


Arinta terpaku. Matanya melebar menatap wanita yang kembali menangis dihadapannya itu. Apakah Ayah nya menerima orang gila sebagai tamu. Jelas-jelas Sinta lah Ibu nya. Wanita yang telah melahirkan nya kedunia ini.


"Arin", panggil Deri membuat Arinta menoleh kearahnya, "Dia Ibu kamu. Ibu kandung kamu", ujar Deri.


"APA!", Raka yang baru saja datang bersama dengan Sinta dibuat kaget setelah mendengar penuturan Deri.


Jdar


Arinta merasa ada petir yang menyambar nya. Apa maksud Ayah nya itu. Apakah selama ini ia salah orang tua. Tidak, tidak mungkin. Hal-hal seperti itu hanya bisa terjadi di film-film. Tidak untuk didunia nyata.


Arinta terkekeh pelan, "Ayah jangan bercanda deh. Mana mungkin mereka orang tua Rinta. Ayah pasti ketularan Ibu kan, sering nonton sinetron. Udah tua, banyakin ibadah Yah. Bukannya sering nonton sinetron", ujar Arinta santai, namun air mata terus turun dari pipi nya. Ia memang selalu begitu kalau melihat orang yang menangis. Iya, pasti begitu. Tidak ada perasaan apa-apa.


"Dia memang mommy kamu Rinta. Wanita yang udah melahirkan kamu", tambah Deri serius dengan wajah datarnya.


"Apa?!", Arinta membekap mulutnya, "Jadi dia istri pertama Ayah. Ya Tuhan Ayah, sebelum sama Ibu, Ayah pernah nikah."


Deri memijit pelipisnya, lihat lah siapa yang sering menonton sinetron sekarang.


"Iya-iya, pasti gitu", sahut Raka, "Hallo istri pertama Ayah. Saya Raka, anak dari istri kedua Ayah", sapa Raka dengan senyuman manisnya.


"Zhein", wanita tersebut tidak menghiraukan Raka, membuat cowok itu misuh-misuh ditempat. Justru wanita paruh baya tersebut memanggil seorang pria yang sedari tadi berdiri diam menyaksikan.


"Dia istri saya. Dari sembilan belas tahun yang lalu sampai sekarang", ujar pria yang dipanggil Zhein itu seraya merangkul wanita yang diketahui sebagai istrinya.


"Oh, astaga. Berarti dia selingkuhan Ayah yang hamil dan maka nya datang kesini untuk minta pertanggung jawaban", celetuk Raka dengan segala asumsinya. Membuat Sinta yang berdiri disampingnya mencubit pedas pinggang Raka.


"Raka, kayak nya kamu punya bakat buat jadi penulis", gumam Sinta dengan menatap horor Raka. Menyuruh putranya itu untuk tidak banyak bicara.


"Duh, kepala Rinta pusing nih. Sebenarnya mommy ini istri pertama Ayah atau selingkuhan Ayah?", tanya Arinta sambil memegang kepalanya yang terasa berdenyut. Otak nya capek setelah memikirkan segala kebenarannya.


"Dia bukan istri pertama Ayah atau selingkuhan. Dia itu Ibu kamu Arin. Ibu kamu!", ujar Deri frustasi. Mengapa disaat-saat penting seperti ini, Arinta harus telmi.


"I-ibu kandung?", gumam nya dan menoleh kearah Sinta yang menunduk. Apakah ini maksud dari ucapan Ibu nya tadi. Jangan membenci dirinya, karna tahu jika orang tua asli nya sudah ada disini. Apa ini ya Tuhan. Mengapa terlalu dramatis sekali. Apakah Arinta adalah anak yang diculik Deri dan Sinta, atau ia adalah anak yang dibuang?.


Argh, memikirkannya saja membuat kepala Arinta bertambah sakit.


"La-lalu, om ini-"


"No om, call me Daddy dear. Don't you want to hug me?", Zhein merentangkan tangan nya. Menunggu Arinta untuk masuk kedalam dekapan nya.


"D-daddy?", tanya Arinta terbata-bata. Sungguh ia masih tidak percaya. Mengapa segalanya menjadi rumit seperti ini sekarang. Arinta ingatkan loh ya, kalau ia belum genap berusia tujuh belas tahun. Dan jantung nya belum kuat menerima kejutan-kejutan mendadak.


Arinta tidak berkutik dari tempatnya. Ia memijit pelan kepalanya yang semakin berat. Tuh kan otaknya jadi sakit. Ini hidup atau teater drama ya Tuhan. Tidak cukupkah untuk membuatnya menjadi seorang Ibu. Dan sekarang harus membuatnya menerima kalau ia bukanlah anak kandung dari Deri dan Sinta. Mengapa semesta terlalu suka memberinya lelucon. Jujur saja cita-cita Arinta itu bukanlah menjadi seorang komedian.


"Leta", panggil wanita yang mengaku sebagai ibu kandung Arinta.


Arinta mendongak, menatap wanita tersebut yang tiba-tiba menjadi dua bagian dalam penglihatan nya. Pandangan nya menjadi berputar-putar, seperti ada kunang-kunang yang mengitari kepalanya, "Saya bukan-"


Brak


"Arinta!"


"Kak Rinta!"


"Arleta!"


Kompak semua orang mendekati Arinta yang terjatuh pingsan sebelum bisa merampungkan kalimatnya. Deri yang merasa khawatir terhadap Arinta dan cucu nya. Lantas langsung membopong tubuh Arinta kedalam kamar nya.


Deri tahu jika Arinta akan sangat shock apabila setelah mendengar hal tersebut. Tapi Deri tidak tahu kalau itu akan membuat Arinta kehilangan kesadarannya. Jika begini, Deri tidak akan mengungkapkan rahasia tersebut sekarang. Semua hal yang membuat Arinta sakit, akan Deri lenyapkan. Kecuali Reagan, ia tidak bisa melakukan apa-apa.


"Maafkan Ayah Arin", ujar Deri pelan merasa bersalah. Kembali merasa tak becus menjaga putrinya.


...~Rilansun🖤....