Brittle

Brittle
Papa?



...•••••••••••••••...


...Lepasin kalau lo cuma bisa buat dia sakit, karena bidadari kayak dia enggak pantes buat iblis kayak lo........


...•••••••••••••••...


...***...


Riko memperhatikan Zidan yang membolak-balikkan wajahnya yang cowok itu letakkan diatas meja. Seperti orang yang tengah gelisah memikirkan hutang yang belum dibayar. Gerak terus, enggak bisa diam.


Merasa risih, Riko pun memukul pelan kepala Zidan, "Kenapa sih?."


Zidan berhenti membolak-balikkan wajahnya dan menoleh sepenuhnya kearah Riko yang duduk disamping kirinya.


"Gue rindu Papa", ujar Zidan lesu yang berhasil membuat Reagan dan Revo yang tadinya sibuk dengan ponsel sendiri menatap kearah Zidan.


Mereka bertiga terdiam. Walau Zidan itu terkenal humble dan humoris. Tapi tak pernah menutupi jika cowok itu juga bisa merasakan kesepian. Mereka paham, sebab Ayah dari Zidan baru saja meninggal setahun yang lalu. Tentu saja rasa kehilangan itu masih berbekas dihati.


Riko mengelus pelan kepala Zidan, "Minggu besok kita sama-sama pergi ke makam bokap lo", ujarnya berusaha menghibur Zidan.


Namun Zidan menolehkan wajahnya kekanan, "Gue rindu peluk Papa, gue rindu senyuman Papa, gue rindu semua yang ada sama Papa", cicitnya membuat suasana tambah hening. Hanya terdengar suara murid-murid yang heboh membeli makanan dan bercerita satu sama lain.


Reagan, Revo dan Riko terkejut. Karena yang mereka tahu Zidan itu adalah orang yang tertutup. Tidak pernah mau menceritakan apa masalah yang tengah dihadapinya. Sekeras apapun mereka memaksa untuk bercerita. Zidan tetap bungkam dan memilih mengalihkan topik dengan lelucon receh yang dibuatnya. Membuat mereka semua terkadang geram ingin mencekik.


"Ikhlasin. Makanya rajin sholat, jangankan sholat baca Al-fatihah aja mungkin lo masih terbata-bata. Pacaran mulu sih!", sarkas Revo yang membuat Zidan mendongak dan menatap cowok itu sengit.


"Ih ngomongin diri sendiri", balas Zidan dan kembali ke posisi semula. Membuat Revo memutar bola matanya malas.


"Gue beneran rindu sama Papa. Rindu dibeliin mobil baru sama papa. Mobil gue yang itu udah jelek. Minta sama Mama enggak dikasih. Emang beneran pelit tuh si Nyonya. Huwaaa, Papa beliin Zidan mobil baru. Lam–"


Puk


"Anjim, kenapa sih lo", Zidan menatap kearah Riko yang menatap datar dirinya lalu beralih menatap Reagan dan Revo yang tak kalah datar menatap dirinya. Tembok Cina mah kalah sama wajah mereka bertiga.


"Hehehe peace", Zidan membentuk huruf V dengan tangannya sebagai tanda perdamaian seraya menyengir tak berdosa.


"Jangan kayak gitu senyum lo, gue tampol lagi tuh mulut baru tau rasa", sinis Riko.


Zidan menggeleng sambil menutup mulutnya lalu segera beralih duduk kesamping Reagan.


Kemudian Ibu kantin datang menghampiri mereka dengan makanan yang telah mereka pesan.


"Makasih ibuk janda", Riko tersenyum manis yang menular kepada Ibu kantin tersebut.


Kemudian setelah selesai menyajikan, wanita paruh baya itu pergi dengan membawa nampan ditangannya.


"Namanya Chanda, bukan janda bege", celetuk Zidan yang membenarkan nama Ibu kantin tadi.


Riko menukikkan salah satu sudut bibirnya, "Suka-suka lah", jawabnya sinis.


Zidan memutar bola matanya.


"Eh, btw Dean mana?, kok lama banget", tanya Riko sambil menyeruput es jeruk miliknya.


"Toilet katanya, tapi kok lama banget ya", sahut Zidan.


Sementara Reagan dan Revo fokus dengan mie ayam yang ada dihadapannya. Tak menggubris dua manusia yang ada didepan mereka. Saat ini mengisi perut adalah prioritas utama.


"Uhuk, uhuk", Riko meraih es jeruk nya lalu meminumnya hingga tandas dengan cepat. Sesuatu yang ia lihat di ponsel tadi memang sungguh sangat mengejutkan, sampai membuatnya terbatuk. Untung mie nya enggak keluar dari hidung.


"Kenapa sih?, makan aja bisa remedi gitu", Zidan meminum teh es nya sebagai penutup.


Riko tak menghiraukan Zidan. Cowok itu sibuk menggulir layar ponselnya dengan mimik wajah yang serius. Membuat Ketiga temannya menatap aneh dirinya.


"Omaygat, Astagfirullah, Ya ampun gue kaget", ujar Riko dan tanpa sengaja membuat ponselnya hampir terjatuh.


"Kenapa sih?, Alay banget", celetuk Revo membuat Riko menatap sinis cowok itu.


Merasa penasaran Zidan dengan cepat mengambil ponsel Riko dan melihat apa yang membuat cowok itu sampai terkejut segitunya.


"Demi kolor Revo yang enggak pernah ganti-ganti, gue kaget", Zidan meletakkan tangannya di dada persis seperti orang yang terkena serangan jantung.


"Apaan sih bangs*t", umpat Revo lalu mengambil ponsel Riko dari Zidan. Rasa penasaran itu tidak boleh ditunda-tunda, entar enggak bisa buang air besar.


Cowok itu duduk disamping Riko. Melihat aneh kearah Revo, Zidan dan Riko yang menatap intens dirinya.


"Kenapa?", tanya Ardean kepada Reagan. Namun, cowok itu hanya menaikkan kedua bahunya acuh dan melanjutkan kembali acara makannya yang terganggu oleh kehebohan para sahabatnya.


"Yeti, itu beneran?", tanya Riko kepada Ardean membuat cowok itu mengernyit heran.


"Apa?", tanya Ardean tak paham.


"Yang di–"


"Lo dari mana?", potong Revo.


Ardean terdiam sebentar lalu menjawab dengan singkat, "Toilet."


"BOHONG!", teriak Riko dan Zidan serempak. Membuat mereka menjadi pusat perhatian. Lalu Zidan menatap sekelilingnya dan meminta maaf. Membuat siswi-siswi yang melihatnya terpekik tertahan.


Cling


Reagan mengalihkan pandangannya dari Riko dan Zidan kearah ponselnya yang berbunyi. Cowok itu membuka ponselnya dan menatap notifikasi dari grup sekolahnya yang baru masuk. Merasa penasaran, Reagan membuka dan sedetik kemudian bola mata berwarna coklat terang itu terlihat melebar.


Didalam grup sekolahnya ada yang mengirimkan foto Ardean yang menghampiri salah satu siswi Allandra. Tentu saja kabar itu menghebohkan, karena yang semuanya tahu Ardean adalah orang yang paling anti dengan yang namanya perempuan. Bahkan ada kabar burung yang mengatakan kalau cowok itu adalah penyuka sesama jenis.


Dan satu hal yang membuat Reagan bertambah kaget adalah sosok yang dihampiri Ardean. Sosok itu adalah Arinta Zarvisya Deltava. Cewek yang tengah mengandung anak nya.


Brak


Reagan tiba-tiba mengebrak meja membuat gelas dan piring yang ada diatasnya nyaris terjatuh. Untung saja ada Zidan dan Riko yang bergerak cepat mengamani piring dan gelas bekas mereka makan tadi. Kalau tidak, auto ganti rugi.


"Maksud lo apa berengsek!", Reagan menarik kerah baju Ardean dengan gerakan yang cepat. Membuat Revo, Riko dan Zidan kaget. Sehingga mereka menjadi pusat perhatian seluruh kantin.


"Apa?", tanya Ardean dengan kernyitan didahinya.


"Gue enggak nyangka lo ternyata suka sama bekas teman sendiri", sinis Reagan sambil menampilkan smirk membuat Riko bergidik ngeri. Aura Reagan mirip dengan psycopath-psycopath yang ditontonnya di tv.


Merasa paham apa yang dimaksud Reagan. Lantas Ardean menyeringai merendahkan. Membuat emosi Reagan membuncah seketika.


Tanpa aba-aba satu pukulan melayang menghantam wajah Ardean. Membuat sudut bibir cowok itu sedikit mengeluarkan darah.


"Kenapa marah?, lo enggak mau tanggung jawab kan?", Ardean menaikkan sebelah alisnya, "Yaudah, gue sebagai kawan yang baik, bakal tanggung jawab untuk lo. Dan gue juga bakal gantiin lo yang dipanggil papa", bisik Ardean diakhir kalimatnya.


Deg


Papa?. Membayangkan anaknya memanggil orang lain Papa, membuat darah Reagan mendidih seketika. Lalu satu pukulan telak kembali dilayangkannya kearah wajah Ardean.


Merasa tak terima, Ardean membalas pukulan Reagan. Sehingga terjadi perkelahian yang sengit antar dua sahabat itu. Sudah banyak yang mengerumuni mereka. Ada yang menonton, dan ada yang mengabadikan momen langka itu dengan ponselnya. Namun tidak ada yang berani mendekat melerai mereka.


Bahkan Revo, Riko dan Zidan berdiri menepi. Menonton dari jarak jauh. Mereka pernah mencoba melerai Reagan dan Ardean yang berkelahi. Namun bukan meleraikan, justru mereka yang menjadi samsaknya. Dan berakhir dengan mereka yang menginap di rumah sakit.


Maka dari itu, Revo, Riko dan Zidan mengangkat tangan jika disuruh menghadapi Reagan dan Ardean yang berkelahi. Mereka menyerah. Masih ada rasa trauma yang membekas.


"Gue Ayah dari anak itu. Bajing*n!", umpat Reagan sambil terus memukuli Ardean. Tak mempedulikan wajahnya yang sudah lebam sana sini. Begitupun dengan wajah Ardean.


Ardean meludahkan darah yang masuk kedalam mulutnya.


"Itu hubungan lo dengan anaknya. Tapi ibunya?, lo enggak punya hubungan apa pun. Jadi lo jangan pernah lagi ganggu Arinta!", ujar Ardean dengan mimik wajah yang serius. Sungguh, ucapannya hari ini bukanlah main-main.


Reagan bergeming. Namun sedetik kemudian ia kembali melayangkan tendangan terakhir diperut Ardean. Membuat cowok itu jatuh tersungkur.


Sebelum berbalik pergi. Reagan mendekati Ardean, sedikit membungkuk lalu membisikkan sesuatu ditelinga cowok itu.


"Enggak ada yang boleh dekatin ibu dari anak gue!", Reagan menyeringai puas dan kembali menegakkan tubuhnya.


"Lepasin kalau lo cuma bisa buat dia sakit, karena bidadari kayak dia enggak pantes buat iblis kayak lo. Dan gue masih waras untuk enggak menyia-nyiakan cewek baik kayak dia", balas Ardean sambil mencoba bangkit.


Reagan terdiam dengan menatap tak bersahabat kearah Ardean. Lalu ia menoleh menatap Revo, Riko dan Zidan yang sedari tadi diam menyaksikan.


"Obatin teman lo!", ujarnya lalu membelah kerumunan dan segera pergi dari sana.


Hanya gue, Reagan Zarvio Allandra yang boleh dipanggil papa sama anak yang dikandung si cupu. Keduanya enggak boleh lepas dari gue.


...~Rilansun🖤....