
...•••••••••••••••••...
...Mungkin rasa sakit ini akan hilang disaat jantung ini berhenti berdetak.....
...•••••••••••••••••...
...***...
Arinta memegang benda panjang itu dengan jantung yang berdegup kencang.
Ya, itu testpack.
Setelah mendengar saran dari Gina, Arinta memberanikan diri untuk membeli benda itu selepas pulang dari sekolah. Walau sudah memakai masker dan hoodie untuk menutupi dirinya, Arinta tetap saja mendapatkan pandangan jijik dari orang-orang disekitarnya. Bagaimana tidak, seorang gadis berseragam putih abu-abu membeli sebuah benda yang seharusnya untuk pasangan yang telah menikah.
Awalnya Arinta takut, ia takut jika pemikirannya itu adalah sebuah kenyataan. Tapi Arinta lebih takut lagi jika ia tidak tau kebenaran tersebut.
Arinta mendongakkan kepalanya seraya memejamkan mata. Sungguh, ia tak pernah mengalami ketakutan sebesar ini didalam hidupnya. Kemudian Arinta membuka matanya dan memandang benda panjang yang berada dalam genggaman nya itu.
Lalu dengan langkah mantap Arinta keluar dari dalam kamarnya dan menuju kekamar mandi yang berada disalah satu sudut rumahnya. Jangan pikirkan jika kamar Arinta memiliki kamar mandi nya sendiri. Tidak, kamarnya tidaklah semewah itu.
"Kak Rinta!."
Tubuh Arinta menegang seketika, langkahnya yang mantap tadi mendadak menjadi kaku. Arinta memejamkan mata sebelum berbalik seraya langsung menyembunyikan benda panjang itu dibelakang tubuhnya.
"Mau kemana kak?, buru-buru amat", Raka berdiri dihadapan Arinta dengan masih memakai seragam sekolah, Arinta yakin jika adiknya itu baru saja pulang.
Arinta menggulir matanya bingung, "Eum, kakak mau kekamar mandi", ujarnya.
Raka menganggukkan kepalanya, "Eh, tapi tadi kak Rinta pulang sama siapa?, aku tadi nyariin kakak tau, tapi kata kakak cantik kak Rinta udah pulang duluan. Pulang sama siapa kak?", tanyanya.
"Naik angkot", jawab Arinta sekenanya.
"Kenapa-"
"Udah ya Rak, kakak kebelet nih", potong Arinta dan segera berjalan kearah kamar mandi. Raka itu banyak bicara, jika diladeni bisa sampai malam. Jika biasanya Arinta oke-oke saja untuk meladeninya, tapi sekarang ada satu hal yang lebih penting yang harus ia lakukan, yaitu tentang masa depannya.
Arinta menutup pintu kamar mandi seraya menghela nafas lega. Lalu ia memandang kearah benda yang digenggamnya erat itu.
"Tuhan, sekali saja tolong lah kabulkan permohonanku ini. Jangan membuatku sulit, aku masih ingin mengejar cita-citaku, masih banyak hal yang belum aku lakukan. Aku mohon", lirihnya, kemudian dengan tekad yang bulat Arinta mencoba benda itu sesuai dengan prosedur yang tertera.
Setelah selesai, Arinta membuka pintu kamar mandi dengan memandang keseluruh penjuru rumahnya. Ia menghela nafas lega ketika melihat tidak ada satu pun anggota keluarganya. Arinta yakin jika Raka sudah berlalu masuk kedalam kamarnya, sedangkan kedua orang tuanya sedang berada di halaman belakang, bercengkrama sambil menikmati pemandangan langit jingga. Orang tuanya itu memanglah sangat romantis, mereka selalu menjadi panutan dan pasangan idola Arinta. Sedangkan untuk Saka, entahlah Arinta pun tidak tau dimana salah satu adiknya itu berada.
Arinta berjalan tergesa memasuki kamar, kemudian ia mengunci pintu kamarnya dari dalam. Lalu ia berjalan mondar-mandir sambil menggigiti kukunya, matanya terus menatap was-was kearah benda kecil tersebut.
Hasilnya belum keluar, Arinta menggoyang-goyangkan testpack tersebut agar cepat memberikannya hasil yang semoga saja tidak sesuai dengan pemikirannya saat ini.
Setelah beberapa menit, akhirnya hal yang ditunggunya mulai terlihat.
Deg
Hasil tersebut membuat Arinta membelalakkan matanya, jantung nya terasa ingin lepas dari tempatnya, nafasnya seakan terhenti. Rasanya Arinta ingin menghilang saja detik ini juga.
Dua garis merah.
Arinta menjatuhkan testpack tersebut bersamaan dengan meluruhnya dirinya kelantai. Sekali lagi ia melihat benda itu untuk memastikan jika matanya salah, namun sekali lagi pula hasil tersebut menyakiti nya hingga tak tersisa.
Arinta menggigit lengannya meredam suara tangisannya agar tidak terdengar sampai keluar ruangan. Sorot matanya memancarkan ketakutan. Bahunya bergetar hebat seiring dengan isakannya yang semakin keras.
Arinta bisa merasakan rasa logam dan asin yang masuk kedalam mulutnya. Rasa darah yang bercampur dengan air mata. Lengannya berdarah karena Arinta yang menggigitnya terlalu keras.
Lagi-lagi Tuhan tidak mengabulkan permintaannya.
"Kenapa?...", lirihnya dengan air mata yang terus mengalir deras.
"Kenapa harus aku?, apakah dosaku terlalu banyak ya Tuhan, sehingga memberiku hukuman yang mengerikan seperti ini. Aku bisa melakukan apapun untuk menebus dosaku, tapi tidak seperti ini", Arinta memeluk kedua lututnya dan menenggelamkan kepalanya disana.
Ini sungguh tidak adil untuknya, Arinta korban disini tetapi mengapa harus ia sendiri yang menerima semua penderitaan ini. Mengapa harus ia.
ternyata inilah jawaban mengapa Arinta mual-mual belakangan ini, mengapa periode menstruasinya telat, mengapa semua hal yang disukainya menjadi hal yang dibencinya. Semua itu karena makhluk kecil yang telah bersemayam di dalam perutnya.
Arinta mendongak dan melihat kearah testpack tersebut dengan nanar. Bagaimana reaksi keluarga dan sahabatnya jika mengetahui hal ini. Apa mereka akan mengusirnya, menjauhinya dan memutuskan hubungan mereka dengan dirinya.
Jangan, jika itu benar-benar terjadi, maka Arinta tidak akan lagi memiliki kekuatannya.
Arinta mencengkram perutnya dengan erat, menyalurkan emosi yang terpendam didalam dadanya.
"Ini semua karena kamu", lirihnya pelan sambil melihat perutnya.
"Tuhan.......apakah ini adil?, tidak ini tidak adil", Arinta terkekeh pelan dengan pandangan yang lurus kedepan.
"Kalian semua bajing*n. BAJING*N!", tanpa sadar Arinta berteriak sambil memukuli kepalanya dan perutnya secara bergantian.
Arinta menangis sambil menahan sakit dikepalanya yang terasa seperti dihantam dengan palu godam, ditambah perutnya yang mulai bergejolak. Lalu sekelebat bayangan hitam mengambil kesadarannya. Hal terakhir yang berhasil ditangkap indra pendengarannya adalah teriakan-teriakan cemas dari luar dengan gedoran tak sabar dipintu kamarnya.
Arinta masih berharap jika semua ini hanyalah mimpi.
Mimpi buruk yang akan hilang ketika ia terbangun nanti.
***
🎶Simpan mawar yang kuberi
Mungkin wanginya mengilhami
Sudikah dirimu untuk kenali aku dulu
Sebelum kau ludahi aku
Sebelum kau robek hatiku.....
Huhuuuuuu huuu
Aku bisa membuatmu....
Jatuh cinta kepadaku meski kau tak cinta....
Kepadaku
Beri sedikit waktu.....
Biar cinta datang karena telah terbiasa......
"Galau amat lagu lo", celetuk Riko yang tidak ditanggapi Zidan, cowok itu masih saja memetik gitarnya sambil bersenandung.
"Tuh lagu kayaknya pengalaman banget", sahut Revo dengan pandangan fokus kearah game diponselnya.
"Sialan lo", Riko memukul bahu Revo sambil tertawa.
Zidan memandang sinis kearah kedua temannya yang masih saja mengejeknya itu. Lalu cowok itu berjalan dan duduk disamping Reagan yang tengah memejamkan matanya.
"Reagan, bantu gue dong pdkt sama sepupu lo itu", ujarnya sambil mencolek lengan kekar Reagan. Sebenarnya cowok itu sudah menyukai Gina dari kelas sebelas. tapi karena sikapnya yang terkesan tidak serius, membuat mereka semua beranggapan jika itu hanyalah sebuah lelucon belaka Zidan.
Reagan membuka matanya dan melirik Zidan, "Mana mau si Gina modelan Nobita kayak lo gitu", sarkas Reagan dan bangkit dari duduknya menuju dapur. mereka kini sedang berkumpul di rumah Riko. Karena kedua orang tua cowok itu sedang melakukan perjalanan bisnis, sehingga mereka berencana untuk menginap.
"Yee gini-gini gue itu ja-"
"REAGAN!."
Mereka semua terkejut dengan teriakan nyaring seseorang yang menendang kuat pintu rumah Riko.
Bukan apa-apa, pintu itu terbuat dari jati. Bisa bayangkan bagaimana tebalnya, dan pasti sudah sakit jika ditendang atau dipukul.
"Lo kenapa?", tanya Reagan setelah sampai didepan seseorang tersebut.
Bugh
Bukan jawaban yang didapat tetapi sebuah pukulan yang membuat tubuh Reagan terhuyung kebelakang. Reagan mengusap sudut bibirnya yang berdarah dan menatap bingung kearah orang tersebut.
"Lo kenapa anji*g. Datang-datang main mukul", Reagan yang tersulut emosi pun mengeluarkan kata-kata kasar. Ia menghempaskan tangan Zidan yang menyentuh pundaknya.
"Lo itu yang kenapa bangs*t. Lo udah rusak sahabat gue dan hancurin persahabatan gue. mati aja lo sana sialan", teriak Gina sambil memberikan pukulan-pukulan telak kearah wajah tampan Reagan.
Ya, orang itu adalah Gina. Disaat ia mengetahui jika laki-laki yang merusak sahabatnya adalah sepupunya sendiri, Gina langsung mencari tau dimana keberadaan Reagan. Ia sudah berjanji bahwa dirinya sendirilah yang akan memberikan pelajaran kepada laki-laki bajing*n tersebut.
Instingnya memang selalu tepat, sebenarnya Gina sudah mencurigai Reagan. Tapi ia berharap jika pemikirannya itu adalah salah, karena bagaimana pun Reagan tetaplah keluarganya.
Reagan yang tak paham langsung mendorong tubuh Gina menjauh, "Apa maksud lo?!", tanya nya sambil meringis menahan sakit.
Gina tertawa pelan. Ia mengalihkan atensinya kearah empat cowok yang sedari tadi menatap mereka bingung. Kemudian ia kembali menatap dingin Reagan yang sedang memegangi kepalanya.
"Lo tanya maksud gue?, gue rasa lo sendiri juga paham", ujarnya datar, "Lo itu udah ngerusak sahabat gue bangs*t, lo bajing*n pergi aja keneraka lo sana", teriak Gina dan kembali melayangkan pukulan kearah Reagan.
Reagan mematung seketika. Gadis itu sudah tau, Reagan yakin jika Gina tidak akan tinggal diam. Sepupunya itu pasti akan memberitahukan masalah ini keseluruh keluarganya.
"Terus lo mau gue kayak gimana?", tanya Reagan yang menambah api emosi didalam dada Gina.
"Lo nikahin dia!."
Reagan menggeleng, "Enggak. Gue enggak bisa nikahin dia, gue cinta sama Laily", tolaknya membuat Gina membabi buta memburu wajah Reagan.
"Bangs*t, masih berani lo bilang cinta sama cewek lain, sementara lo udah ngerusak masa depan cewek lainnya diluaran sana. Bajing*n, kenapa gue harus punya sepupu kayak lo, anji*g. Buat malu keluarga lo!", teriak Gina.
"Mampus lo brengs*k. Mampus", umpat Gina dengan tangan yang tak berhenti memukuli wajah tampan Reagan.
Reagan membiarkan Gina melampiaskan amarah hingga gadis itu puas. Ia tak akan melawan, apalagi mencegah. Cowok itu menggelengkan kepalanya memberi isyarat kepada teman-temannya yang ingin membantu nya. Reagan memang pantas mendapatkan ini semua.
"Sialan", Gina menghempaskan tubuh Reagan, ketika tidak mendapatkan sama sekali perlawanan. Bukan prinsipnya untuk melawan yang lemah. Padahal ia belum puas untuk membuat sebuah mahakarya di wajah tampan Reagan.
"Bangun lo", titah Gina yang langsung dituruti Reagan dengan menahan rasa sakit. Pukulan Gina bukanlah main-main, jika saja sepupunya itu tidak menghentikan pukulannya, mungkin saja ia bisa mati ditempat.
Gina memejamkan matanya seraya memegang kepalanya. Ia berusaha meredam amarah yang masih bergejolak didalam sana. Jika ia tidak bisa mengontrol emosinya, siapa yang akan bertanggung jawab atas kesalahan yang diperbuat Reagan.
Kemudian Gina membuka matanya dan memandang tajam kearah Reagan, "Dia hamil", ujarnya membuat kelima cowok tersebut membelalakkan matanya.
Deg
Reagan tidak menyangka jika kesalahan satu malamnya akan menghasilkan sebuah janin yang kelak akan memanggilnya dengan sebutan Ayah.
"H-hamil?", tanya Reagan terbata-bata. Ia ingin memastikan jika indra pendengarannya salah.
Namun anggukan pasti dari Gina membuat Reagan memejamkan matanya sambil membenturkan kepalanya berkali-kali ke dinding yang berada tak jauh darinya. Reagan tak menghiraukan keempat temannya yang menonton sedari tadi. Ia yakin jika sudah banyak pertanyaan di otak masing-masing cowok tersebut.
Tamat, satu kata yang cocok untuk kondisinya sekarang.
Hubungannya dengan Laily yang akan berakhir bersama dirinya yang habis ditangan keluarganya.
Gina memandang sedih kearah Reagan, ia yang paling paham bagaimana cowok itu sangat mencintai Laily. Walau pun sudah ditinggal tanpa kabar, Reagan masih saja setia dengan perasaannya. Kini Gina yakin, cowok itu tengah dilema dengan dua pilihan. Orang yang dicintainya, atau orang yang telah dirusaknya. Bagaimana pun, Reagan tetaplah salah dan kesalahan terbesarnya adalah merusak seseorang yang sangat dilindungi oleh Gina.
...~Rilansun🖤....
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
jangan di skip!
jangan di skip!
pokoknya jangan di skip!
cowok ganteng mau lewat.....
pipipip pipipip cowok ganteng
• Reagan Zarvio Allandra
Rilansun: Reagan mundur dong!
Reagan:kenapa?
Rilansun: brengs*k nya kelewatan
• Zidan Avarel Artharwa
"Gue jago berantem kok, tapi diranjang😂"
• Revo Zafran Alvino
"Mau tau favorit gue apa?, watermelon yang gede🍉"
• Ardean Brigara Prahasta
"Cowok yang pendiem itu lebih cool."
• Riko Surya Ibram
"Gue baru beli Barbie sofia the first lho."
To be continued