Brittle

Brittle
Engagement



...••••••••••••••••••...


...Intinya aku sedang berdiri di sini, meyakinkan diri bahwa kehilangan mu bukanlah suatu hal yang perlu aku tangisi........


...••••••••••••••••••...


...***...


Arinta menatap perutnya lamat-lamat. Tatapan itu bukan tatapan penuh kasih layaknya seorang ibu kepada anaknya. Tetapi tatapan penuh kebencian yang sering ditunjukkannya kepada Ayah dari si jabang bayi.


Perempuan itu lembut, penuh cinta dan kasih. Tetapi Arinta tidak, baginya siapa pun orang yang menghalangi cita-cita nya adalah musuhnya. Setiap orang memiliki sisi gelapnya, dan mungkin inilah sisi gelap dari seorang Arinta.


"Andai kamu itu hadir dengan cara yang lebih baik. Pasti saya akan menerima kamu dengan lapang dada", ucap Arinta dengan nada formal. Tak ada elusan sayang, hanya tatapan benci dan jijik yang dilayangkan Arinta.


Sungguh si kecil yang malang.


"Tv di hidupin, tapi malah si tv yang nontonin orang nya. Cian kamu tv dianggurin", Raka mengambil remote yang tergeletak diatas meja lalu mencari channel kesukaannya.


Raka tersenyum sendu kearah Televisi. Bukan karena ia terharu dengan apa yang ditayangkan, tetapi cowok itu miris dengan apa yang barusan dilihatnya. Ya, Raka melihat bagaimana bencinya Arinta kepada calon keponakannya. Bagi Raka anak itu tidak bersalah, tidak adil jika dia diperlakukan seperti itu. Namun, Arinta tetaplah Arinta, gadis lembut yang sangat keras kepala.


Arinta tak menggubris Raka. Ia mencari ponselnya, namun sedetik kemudian cewek itu langsung mengumpat ketika telah menyadari jika ponselnya masih berada bersama Reagan. Arinta mengutuk dirinya yang bodoh, yang sempat terpesona oleh Reagan sehingga ia lupa meminta ponselnya. Sudahlah, besok saja Arinta meminta bantuan Gina untuk mengambil ponselnya.


"Kakak masuk duluan Rak", Arinta bangkit dan berniat berjalan ke kamarnya. Malam ini cuma mereka berdua yang ada dirumah. Kedua orang tuanya dan Saka sedang menghadiri acara akad nikah salah satu keponakan ibunya. Arinta yang malas, memilih tinggal. Dan Raka yang tidak ingin kakak tersayangnya kesepian, juga memilih tinggal. Tadi si kembar sempat beradu argumen tentang siapa yang lebih pantas untuk menemani Arinta. Untung saja ada sang Ayah yang mampu membuat mereka diam dan menuruti titah kepala keluarga.


"Eh, Kak. Ini ada panggilan video dari kakak cantik", ujar Raka membuat Arinta berhenti dan kembali duduk disamping Raka. Cewek itu langsung mengambil ponsel Raka dan menekan panel hijau untuk mengangkat.


"Hello Rinta", Sapa lembut dan riang dari seberang sana. Terdengar sangat bahagia sekali.


Arinta hanya tersenyum tipis melihat sahabatnya itu yang berada dalam balutan gaun yang indah. Cantik, Laily itu memang selalu cantik dan modis. Sebenarnya Arinta tadi sempat lupa, kalau Laily akan bertunangan malam ini. Untung saja sahabatnya itu langsung menelpon dan mengingatkan Arinta betapa bajing*n nya Reagan. Meninggalkan bangkai begitu saja.


"Kamu cantik Lai", puji Arinta membuat Laily tersenyum malu. Arinta tersenyum geli melihatnya, biasanya juga malu-maluin.


"Ah lo bisa aja. **S**eharusnya lo temani gue disini Rin."


Arinta terdiam sebentar lalu tersenyum tipis sebagai balasan. Ia juga ingin hadir, menemani sahabatnya. Tapi apalah daya, Arinta juga perempuan yang hatinya lemah, ia tak yakin jika masih bisa pulang dengan keadaan hati yang baik-baik saja.


"Gina mana Lai?", tanya Arinta mengalihkan pembicaraan.


"Entah tuh anak, belum juga datang-datang. Lo kayak enggak tau sahabat lo itu aja gimana. Pasti masih molor lah jam segini. Gue kayak enggak ada kawannya disini tau", omel Laily dengan suara yang lirih diakhir kalimatnya. Membuat Arinta tak tega.


"Dia pasti datang. Kamu tunggu aja ya. Jangan sedih dong, kan hari ini acara bahagia nya kamu", ujar Arinta mencoba menghibur.


Laily mengangguk lesu dan tiba-tiba mengarahkan ponselnya kesamping. Membuat Arinta membelalakkan matanya menatap seseorang diseberang sana yang berdiri disamping Laily.


"Calon gue Rin, ganteng nggak?", tanya Laily. Membuat Arinta tersentak dari keterkejutannya. Cewek itu hanya tersenyum sebagai respon. Layar ponsel Arinta masih menunjukkan wajah Reagan yang sialnya sangat tampan malam ini. Beberapa saat mata mereka saling beradu pandang, tak menghiraukan Laily yang masih saja sibuk menyerocos menyombongkan calon tunangannya. Kemudian Arinta mengalihkan pandangannya duluan. Menyadarkan diri sendiri jika itu adalah milik sahabatnya.


"Yaudah, aku tidur dulu ya Lai. Pinggang aku sakit nih kalau duduk lama-lama", alibi Arinta. Padahal bukan pinggangnya yang sakit, tetapi ada organ lain dalam tubuhnya yang lebih sakit. Bukan, bukan Arinta telah jatuh cinta kepada Reagan. Mungkin perasaan tak terimanya karena telah dilecehkan lalu dibuang begitu saja.


Hallo, Arinta ini manusia bukan sampah.


"Yah, padahal gue masih mau ngobrol. Tapi nggak apa lah, lo jaga kesehatan ya Rin. Jaga ponakan gue baik-baik", ujar Laily dengan bisikan diakhir kalimat. Arinta tersenyum mendengarnya, ia memang sudah meminta kepada kedua sahabatnya untuk merahasiakan masalah nya dari dunia luar. Untung saja Laily dan Gina itu tipe yang setia kawan.


Klik


Raka menatap lekat Arinta lalu bernyanyi dengan suara sumbangnya, "Kulepas dirimu dengan ikhlas. Semoga engkau dan dia bahagia......", cowok itu mengambil kembali ponselnya dari tangan Arinta.


Arinta mendongak dan menatap sinis Raka. Ia merasa seperti ditinggal nikah dengan Raka menyanyikan lagu itu untuknya. Arinta menyandarkan tubuhnya kesofa, lalu memejamkan matanya dengan satu lengan menutupi. Pikirannya kembali memutar tentang kejadian tadi sore. Seperti kaset rusak yang sialnya meninggalkan kesan yang manis untuk Arinta.


Tadi sore Reagan terlihat sangat melindungi anaknya. Sementara kini, cowok itu akan memiliki keluarganya sendiri. Sebuah keluarga dan masa depan yang cerah. Sungguh impian semua orang.


Raka menghela nafasnya dan mendekati Arinta. Ia mencium lembut kening kakaknya, membuat Arinta membuka mata dan menatap sendu Raka.


"Enggak usah dipikirin", ucap Raka sambil mengelus sayang rambut hitam panjang kakaknya.


Arinta mencebikkan bibir bawahnya seperti anak kecil. Membuat Raka tertawa pelan. Lalu tanpa aba-aba cewek itu memeluk erat tubuh Raka. Hampir saja Raka terjungkal jika tidak ada sandaran sofa dibelakangnya. Tangannya dengan aktif mengelus lembut punggung kakak tercintanya.


"Dia bajing*n Raka", lirih Arinta dipelukan Raka. Tidak, ia tidak menangis. Arinta tak ingin lagi menyiksa dirinya hanya karena Reagan. Cowok itu tidaklah se-spesial itu untuk ia tangisi, apalagi harapkan.


Raka terkejut. Jarang sekali kakaknya itu berkata kasar. Sepertinya, Reagan memang membawa banyak sekali perubahan untuk Arinta.


"Iya, dia bajing*n. Semua cowok itu bajing*n kecuali aku, Saka dan Ayah. Jadi kakak jangan dekat-dekat dengan cowok lain. Oke", Arinta mengangguk. Raka tersenyum miris mendengar suara Arinta yang seakan tercekat tadi. Ia tau jika kakaknya itu sedang menahan sebisa mungkin tangisannya. Sungguh, itu membuat Raka sakit. Ia lebih memilih memeluk kakak nya yang rapuh, daripada memeluk Arinta yang sok tegar seperti ini.


Sebenarnya Raka ingin sekali menghabisi si Reagan itu. Namun, setelah mereka memukul cowok itu diatas gedung terbengkalai beberapa waktu lalu, Arinta dengan tegas mengatakan jika mereka tidak lagi boleh mencari perkara dengan Reagan. Kakaknya itu berkata, Reagan itu orang berada. Keluarganya memiliki koneksi yang luas. Dan kita bukan lawannya mereka. Tamat riwayat kita jika mereka membawa masalah ini kejalur hukum. Kalau kalian tetap nekat mukulin dia, maka Rinta juga nekat untuk bunuh diri lagi.


Perkataan Arinta itu tentu saja mendapatkan penolakan keras dari keluarganya. Jelas-jelas disini Arinta yang menjadi korbannya. Walaupun dibawa kejalur hukum, pasti Reagan yang menjadi terdakwa. Tetapi Arinta tetap keukeuh meminta mereka untuk tidak mencari masalah dengan Reagan lagi. Dan mereka dengan pasrah menuruti permintaan cewek itu. Disini Arinta itu tuan putri nya, apa pun yang dimintanya pasti dituruti.


"Kakak mau makan apa?, aku belikan", Raka paham jika perempuan yang sedang hamil itu pasti banyak keinginan nya. Tapi karena gengsi Arinta yang tak ingin mengakui anaknya, membuat bumil satu itu tak pernah mengatakan keinginan nya kepada siapapun dirumah ini. Namun, Raka pernah melihat diam-diam Arinta yang memasak mie instan ditengah malam. Padahal kakaknya itu sangat menjaga pola makannya. Takut gemuk katanya.


Arinta menggeleng ragu. Sebenarnya ada yang ia inginkan. Tapi ia takut untuk memintanya kepada Raka. Adik laki-lakinya itu sangat ember, dan itu membuat Arinta terkadang sangat kesal kepada Raka. Ia lebih baik mengatakannya kepada Saka daripada Raka.


"Kakak mau masuk dulu aja. Ngantuk", Arinta melepaskan pelukannya dan bangkit berjalan kearah kamarnya.


Tok tok tok


Arinta yang baru saja berniat membuka pintu kamarnya langsung menatap Raka dan pintu rumahnya secara bergantian.


"Bukain gih", titah Arinta. Raka mendengus dan dengan malas berjalan kearah pintu.


Arinta masuk kedalam kamarnya dan merebahkan tubuhnya diatas kasur. Baru beberapa detik ia memejamkan matanya. Suara gaduh dari luar membuat Arinta berdecak dan bangkit dari tidurnya. Lalu ia berjalan keluar menghampiri Raka yang masih berdiri didepan pintu.


"Siapa sih Rak?", tanya Arinta sambil menepuk pundak Raka.


Raka terkejut namun tak urung menepi dari depan pintu, membiarkan Arinta melihat siapa yang datang bertamu kerumah mereka malam-malam begini.


Arinta membelalakkan matanya menatap cowok yang berdiri dihadapannya kini.


"Hai", sapa orang itu terdengar canggung.


Arinta mengerjapkan matanya lalu beralih menatap Raka. Ia mengisyaratkan melalui matanya menyuruh Raka untuk meninggalkan mereka berdua. Raka terlihat ingin protes, namun pelototan dari Arinta membuat Raka kembali masuk kedalam rumah dengan enggan.


"Ngapain kamu kesini?."


...~Rilansun🖤....