
...••••••••••••••...
...Karena rasa percaya adalah landasan dari suatu hubungan......
...••••••••••••••...
...***...
Arinta menatap langit-langit kamarnya dengan tangan yang aktif mengelus perut buncit bakal calon anaknya. Sudah dua jam lamanya Arinta dengan kegiatannya itu. Matanya tidak bisa tidur dan pikirannya pun tidak mau diajak berkompromi untuk beristirahat dulu.
Lantas Arinta mendesah pelan kala mengingat jika ia dan Reagan sedang long distance relationship sekarang. Cowok itu sedang melakukan perjalanan bisnis ke Manado untuk lima hari kedepan. Namun baru dua hari berlalu, tapi sudah terasa seperti dua abad.
Arinta benar-benar merindukan suaminya itu.
"Tidur, Rin", ujar Vina saat melihat putrinya itu tidak juga kunjung tidur. Vina paham jika disaat-saat seperti ini yang paling Arinta butuhkan itu suaminya. Tapi mau bagaimana lagi, Reagan juga memiliki sebuah tanggung jawab terhadap pekerjaannya.
Arinta menghela nafasnya dan membalikkan badannya menghadap kearah Vina, "Iya, Mom", sahutnya lalu memaksakan matanya untuk dapat terpejam.
Vina tersenyum melihat hal itu. Arinta itu persis sekali sepertinya. Tidak hanya fisik tapi sifat pun terkadang sama. Dari keras kepala hingga sifat egoisnya. Benar-benar kloningan dirinya.
"Kamu tau, Mommy sama Daddy kamu dulu sempat kau pisah."
Arinta sontak membuka matanya dan menatap Vina yang terlihat melamun. Seperti menatap luka yang pernah sangat menyakitkan. Sungguh, Arinta tidak percaya jika Vina dan Zhein pernah sempat ingin berpisah. Sebab dari yang Arinta lihat hubungan orang tuanya itu sangat harmonis. Karena Daddy nya itu sangat jauh berbeda dengan Ayahnya, Deri. Jika Deri terlihat dingin tapi Zhein tampil dengan lebih humble dan ramah, walau terkadang memiliki kesan acuh tak acuh. Namun Arinta yakin jika Zhein pasti sangat mencintai Vina.
"Kenapa, Mom?", tanya Arinta membuat Vina mendongak menatapnya. Wanita paruh baya itu menatap Arinta dengan senyuman yang rasanya penuh luka.
"Dulu Mommy sempat nyerah sama Daddy kamu", lirih Vina dengan pandangan menerawang jauh ke masa lalunya.
Arinta hanya menatap Vina, menunggu kelanjutan cerita kelam itu dari mulut Mommy nya. Mengapa masa lalu para orang tuanya itu terdengar sangat menarik. Dari kecantikan Sinta yang membawa musibah, hingga rencana perceraian Zhein dan Vina. Apakah masih ada lagi rahasia tersembunyi dari masa lampau itu.
"Pada saat itu Mommy capek hidup dengan bayang-bayang teror. Kemana kami melangkah, selalu ada ancaman nyawa melayang. Mommy hanya bisa menatap hujan dari dalam rumah tanpa bisa menyentuhnya. Tak lagi pernah merasakan hangatnya sinar matahari. Merasa hidup jauh dari dunia luar. Benar-benar sangat tertutup", Vina menelentang kan badannya. Menatap langit-langit kamar dengan pandangan yang kosong.
Mendengar nada Vina seperti orang yang putus asa, Arinta lantas langsung memeluk tubuh ibu kandungnya itu dari samping. Padahal itu sudah sangat lama, tapi sepertinya membuka kembali luka lama itu memang sangat menyakitkan.
Vina tersenyum dan mengelus lengan Arinta yang memeluknya, "Walau Mommy sadar itu semua untuk kebaikan keluarga kita. Tapi Mommy egois, mau sampai kapan Mommy hidup seperti ini. Mommy juga ingin menghirup udara dengan bebas seperti dulu. Sampai Mommy berpikir jika Daddy kamu bukanlah jodoh Mommy yang sebenarnya. Dan Mommy dengan egoisnya minta cerai sama Daddy kamu disaat dia sedang kalut-kalut nya", air mata tanpa sadar mengalir pelan dari telaga bening itu. Membuat Arinta menghapusnya dengan pelan. Arinta seperti dapat merasakan kesedihan Mommy nya itu. Bagi Arinta itu bukanlah kesalahan Vina, sebab rasa bosan itu sudah sifatnya manusia.
"Terus reaksi Daddy gimana?", tanya Arinta kemudian.
Vina melirik sebentar putrinya itu, "Daddy kamu setuju", jawaban Vina yang membuat Arinta melotot tak percaya.
"Beneran?."
Vina mengangguk singkat, "Tapi kami gak langsung ngurus perceraian. Kami sama-sama kasih waktu untuk hubungan dengan cara tinggal terpisah, walau masih dalam pengawasan beliau. Dan Mommy sadar kalau apapun masalah yang ada seharusnya kami menghadapinya berdua. Bukan pergi meninggalkan beban", tambahnya dengan tersenyum tipis membuat Arinta juga ikut tersenyum manis.
Vina beruntung memiliki suami pengertian seperti Zhein. Dan Zhein beruntung memiliki Vina sebagai istri yang mau hidup susah senang bersamanya. Saling melengkapi kekurangan satu sama lain.
"Dan kamu, apapun yang terjadi, masalah apapun yang sedang kalian hadapi, harus tetap saling percaya. Karena rasa percaya satu sama lain adalah landasan dari suatu hubungan. Kalau rasa itu udah gak ada lagi, maka hanya akan ada kecurigaan di dalam rumah tangga kalian. Kamu curiga sama Reagan, dan Reagan juga curiga sama kamu. Akhirnya kalian sama-sama gak nyaman dan berakhir dengan perceraian", ujar Vina menasehati.
"Dan sebelum mengambil keputusan, harus ingat dengan orang sekitar, terutama anak kita. Jangan karena rasa egois kita sendiri, anak-anak menjadi tersiksa. Apapun yang rusak pasti bisa diperbaiki, pasti ada jalannya selagi kita mau berusaha. Mommy harap kamu dan Reagan bisa menua bersama hingga ajal menjemput", tambahnya yang diamin kan oleh Arinta. Semoga saja Tuhan mendengarnya, dan menjadikan Reagan sebagai satu-satunya pria dalam hidupnya.
"Ya udah tidur, udah malam banget ini", titah Vina sambil mengelus rambut Arinta.
"Tapi gak bisa nge-hadap sini tidurnya", protes Arinta sambil mencebikkan bibir bawahnya. Entah apa salahnya hingga Arinta tidak bisa tidur menghadap kiri. Sampai-sampai telinga kanannya terasa pekak kala Arinta bangun pagi.
Vina terkekeh pelan, "Ya udah senyaman kamu aja."
Arinta menganggukkan kepalanya dan langsung membalikkan badannya menghadap kanan. Dengan Vina yang terus setia mengelus kepalanya dari belakang. Untuk beberapa saat Arinta terbuai dengan elusan lembut tangan Mommy nya dan tangannya yang aktif mengelus perutnya sendiri. Dan berakhir dengan matanya yang terpejam sepenuhnya menjemput alam mimpi.
...***...
Drrt drrt drrt
Arinta berdecak saat mendengar suara ponselnya yang berdering. Bukannya membuka mata, ibu hamil itu malah menutup telinganya dengan bantal guling. Mengganggu mimpinya yang sedang makan malam dengan Shawn Mendes.
"Rin, ponsel kamu berisik!", gerutu Vina saat merasa tidurnya terganggu dengan suara deringan ponsel yang sangat nyaring tersebut.
Arinta lantas membuka matanya dengan tak ikhlas. Mengulurkan tangannya mengambil benda persegi panjang itu yang terletak di atas nakas. Melihat siapa orang gila yang menelponnya selarut ini. Apakah orang itu buta sampai-sampai tidak bisa melihat pukul berapa saat ini.
My hubby
Mata Arinta langsung terbuka lebar saat membaca nama yang tertera di layar ponselnya. Cewek itu menoleh sekilas kearah Vina yang tidur membelakanginya. Lalu Arinta berjalan kearah sofa dekat jendela. Segera menggeser panel hijau lalu layarnya seketika penuh dengan wajah suram Reagan.
"Kenapa?", Arinta langsung bertanya dengan khawatir saat melihat bawah mata Reagan yang menghitam dan wajah suaminya itu terlihat sangat tidak sedap untuk dipandang. Apakah Reagan begadang?.
"Rindu kamu."
Blush. Pipinya terasa memanas seketika. Bagaimana Reagan bisa segamblang itu.
"Tiga hari lagi, sabar ya Papi", ujar Arinta dengan tersenyum.
"Mau pulang sekarang aja", terdengar suara Reagan yang sangat putus asa. Sepertinya rasa rindunya sudah mencapai ambang batasnya.
"Boleh, kalau udah jadi arwah. Jadi pulangnya cepat dan instan", sahut Arinta yang membuat Reagan mendengus.
"Tidur sama siapa?."
"Pak Yanto."
"Mana?, biar aku santet dari sini", ketus Reagan yang mengundang gelak tawa Arinta. Cemburuan dan posesif.
"Mommy!, Reagan mau nyantet Mommy katanya", Arinta sedikit berteriak dan mengarahkan ponselnya kearah Vina yang tertidur. Membuat Reagan mengumpat pelan. Jangan sampai ia dipecat menjadi menantu.
Setelah itu Arinta kembali menghadapkan layar ponselnya kearahnya, "Kamu begadang ya?", lirihnya seraya menyentuh layar ponsel, seolah sedang mengelus bawah mata Reagan yang tampak menghitam dan membengkak.
"Enggak bisa tidur. Guling nya gak se-empuk kamu."
Jawaban Reagan yang lagi-lagi membuat jantungnya berdetak kencang, "Alesan."
"Beneran. Kamu sendiri bisa tidur gak?", Reagan menatap Arinta dengan penuh kerinduan. Ingin sekali rasanya Reagan meminjam sayapnya mimi peri dan menghampiri Arinta. Memeluk istrinya dan menghabiskan malam yang panjang. Setelah ini, kemanapun ia pergi Arinta harus ikut bersamanya.
"Bisa lah. Emang aku kayak kamu, bucin", balasnya membuat Reagan memutar bola matanya jengah. Cewek itu memang makhluk teraneh, cowok setia dibilang bucin, kalau cowok selingkuh dibilang gak setia. Maunya apa sih.
"Mau tidur, Rin", rengek Reagan membuat Arinta menggelengkan kepalanya.
"Ya udah tidur."
"Cium dulu tapi", Reagan menatap Arinta dengan pandangan memelas andalannya.
"Enggak bisa, enggak enak", spontan Arinta yang mendapatkan pelototan tak percaya. Apakah benar itu keluar dari mulut istrinya yang polos?. Jangan bilang termotivasi lagi dari drakor ataupun sinetron.
"Astaga Rin, kamu-"
Cup
Arinta langsung mencium layar ponselnya tepat dimana bibir Reagan. Membuat calon Ayah itu terperangah. Jika saja ia berada disana sekarang, mungkin Arinta sudah habis saat ini. Ya Tuhan mengapa berat sekali cobaan yang engkau berikan.
"Udah kan?, tidur gih!", Arinta menatap malu-malu Reagan.
"Enggak berasa."
Arinta mendengus jengah, "Mau berasa ya pulang lah."
"Kamu tunggu suprise dari aku besok", ujar Reagan dengan senyuman misterius. Membuat Arinta mengernyitkan keningnya bingung.
"Apaan?."
"Rahasia dong, Bunda."
Arinta memonyongkan bibirnya tak suka.
"Jangan gitu bibirnya, kode minta dicium?", goda Reagan dengan seringaian jahilnya.
"Mau tidur apa gak?, aku ngantuk nih", Arinta mencoba menahan bibirnya untuk tidak tersenyum.
"Mau cium twins dulu."
Arinta kontan langsung mendekatkan layar ponselnya kearah perutnya yang buncit. Setelah mendengar suara kecupan dan beberapa patah kata Reagan untuk anaknya, Arinta lantas kembali menatap suaminya.
"Udah kan?, cepat pergi tidur. Udah malam banget ini."
"Dekatin dulu coba ke bibir kamu."
Arinta menaikkan kedua alisnya, ada apa di bibirnya. Namun tak urung Arinta menuruti perintah Reagan untuk mendekatkan ponsel ke bibirnya.
"Ada ap-"
Cup
Reagan melayangkan kecupan jarak jauhnya. Berulang kali hingga Arinta tersadar dari lamunannya. Dan menggelengkan kepalanya seraya menatap suaminya itu, "Dasar."
"Malam, Bunda. Jangan lupa mampir ke mimpi aku ya."
"Kenapa?, ada hajatan emang?."
"Ada kecupan."
Arinta mendengus, "Kalau kamu gak niat tidur, aku matiin nih. Aku gak mau mata aku jadi kayak kamu. Jelek", ujarnya dengan nada yang biasa. Sebenarnya Arinta masih ingin berbicara dengan Reagan. Tapi ia kasihan dengan kondisi suaminya itu.
"Iya-iya tidur. Love you Arin."
Klik.
Sambungan terputus sepihak. Reagan mematikannya tanpa persetujuan dari Arinta. Heh, apa-apaan itu. Setelah membuat ia baper, lalu dengan seenaknya pergi gitu aja.
Arinta merasa terpaku, sebab itulah pertama kalinya Reagan mengucapkan hal-hal seperti itu. Karena yang Arinta tau, Reagan adalah tipe yang lebih suka menunjukkan rasa cintanya melalui tindakannya. Daripada mengucapkan hal-hal berbau picisan seperti itu.
Tapi kenapa cowok itu harus mengucapkan pertama kalinya lewat telepon. Arinta kan tidak bisa memeluk suaminya. Huh, menyebalkan.
Tangannya terulur menyentuh dada sebelah kirinya, dimana jantungnya berdetak dengan sangat kencang, "Too, Papi."
...~Rilansun🖤....