
...•••••••••••••...
...Masa lalu adalah garis awal untuk kita menuju masa depan. Mungkin kelam, tapi jangan sesali apalagi lupai.......
...•••••••••••••...
...***...
Arinta memegang kepalanya yang terasa sakit seraya meringis pelan. Kelopak mata yang perlahan-lahan terbuka lantas membola ketika melihat empat orang yang berdiri sangat dekat dengannya. Ekspresi yang mereka tunjukkan membuat Arinta ingin menangis. Mengapa para orang tua itu khawatir sekali. Arinta hanya pingsan, bukan mati.
"Bu", Arinta memanggil pelan Sinta yang duduk disamping kirinya.
"Apa sayang?, kamu haus?", Sinta membantu Arinta untuk duduk.
Arinta mengangguk dan mengambil segelas air yang disodorkan Sinta. Arinta hampir saja menyemburkan air didalam mulutnya keluar saat wanita yang mengaku sebagai ibu kandungnya itu tiba-tiba menggenggam tangan nya. Menangis seraya terus menggumamkan kata maaf. Padahal belum lebaran.
Arinta tertegun. Ia merasa speechless. Air mata pun dengan tak tau malunya meluncur membasahi pipinya. Jika memang wanita itu adalah ibu kandungnya. Apa yang harus dilakukannya. Semuanya terjadi sangat mendadak. Datang seperti angin yang lalu. Tanpa aba-aba.
"Leta, maafin mommy."
Arinta mendongak seraya menghapus air matanya. Argh, mengapa hatinya terlalu rapuh.
"Enggak perlu minta maaf Tan", ujar Arinta canggung sambil memegang pundak wanita tersebut yang masih setia membungkuk mencium tangan Arinta berulang kali.
"Vina", Zhein yang diketahui suami wanita itu menegakkan tubuh istrinya, "Jangan nangis, putri kita juga nangis lihat kamu kayak gini."
Vina menegakkan badannya. Memandang Arinta dengan air mata yang bersimbah. Bahkan mata nya saja sudah bengkak. Seperti mata Arinta apabila cewek itu tengah menonton film drakor.
"Panggil mommy sayang, please", pinta Vina. Hatinya sakit mendengar Arinta yang memanggil dirinya dengan sebutan Tante. Walau bukan ia yang membesarkan Arinta. Tapi setidaknya Arinta pernah meringkuk nyaman dalam perutnya serta dalam gendongannya. Bahkan Vina masih bisa mendengar suara tangisan Arinta ketika masih bayi.
Arinta mendekatkan dirinya kearah Vina yang duduk ditepi ranjang. Lalu dengan mata yang berkaca-kaca Arinta menghapus air mata dipipi Vina.
"Ja-jangan nangis mommy", ujarnya membuat Vina langsung memeluk erat tubuh putrinya. Ia sangat bersyukur pada Tuhan karena Arinta tidak membencinya. Princess kecilnya telah menjelma menjadi seorang gadis dewasa yang cantik dan anggun.
"Jangan benci mommy. Jika saja bukan karena suatu hal, kamu pasti tetap sama mommy sampai sekarang. Melihat kamu berjalan untuk pertama kalinya, mendengar kamu memanggil mommy disaat kamu sudah bisa bicara. Tapi sayang, waktu tidak mengizinkan mommy untuk merasakan semua itu", Vina berharap jika Arinta bisa kembali kecil, dan membiarkannya melihat semua momen yang indah itu. Lalu merekamnya didalam ingatan untuk diceritakan pada cucu nya disuatu hari kelak.
Arinta menangis. Membayangkan bagaimana rindunya Vina kepada dirinya setiap hari. Sementara wanita itu tidak dapat menyalurkan kerinduan nya.
"Mommy", Arinta memanggilnya dengan lirih, "Mommy. Rinta bakal menyebutkan itu terus sampai mommy puas. Sebagai ganti waktu yang terlewati", tambahnya dengan memeluk erat Vina. Jika Vina benar Ibu nya, maka Arinta akan menerima nya dengan lapang dada. Sebab ia yakin, pasti ada alasan dibalik semua itu. Lagipula, selama ini Arinta tidak kekurangan kasih sayang dari Deri dan Sinta. Jadi tidak ada alasannya untuk kesal dan benci terhadap orang tua kandungnya.
Vina merenggangkan pelukannya, "Kamu enggak benci mommy?."
Arinta terkekeh, "Mommy terlalu banyak nonton sinetron, kayak Ibu", melirik Sinta yang menangis dalam pelukan Deri.
Lalu cewek itu menghapus air mata Vina seraya menggelengkan kepalanya, "Kalau Rinta benci mommy, siapa yang bakal sayang sama mommy. Rinta enggak mau buat bidadari menangis. Dan Rinta enggak mau jadi anak durhaka."
Vina tersenyum manis. Tidak salah ia dan Zhein menitipkan Arinta kepada Deri dan Sinta. Setelah melihat bagaimana sopan dan lembutnya sikap Arinta.
"Kamu memang putri nya Sinta."
Arinta menggeleng, "Putri nya Vina dan Sinta", balasnya. Arinta bahagia mengingat jika sekarang ia memiliki dua orang Ibu dan Ayah.
"Leta-"
"Mommy, bisa panggil Arinta?, karena selama ini Rinta hidup dengan nama dan identitas itu", ujar Arinta hati-hati. Sebab ia takut menyinggung perasaan Vina.
Vina tersenyum memaklumi. Walau ada rasa tak terima, "Baiklah. Arinta", yang penting putrinya bisa tersenyum tulus menerimanya. Apa pun akan ia lakukan untuk kebahagiaan Arinta. Vina tak ingin lagi kehilangan putrinya.
Arinta tersenyum, lalu melirik Sinta yang masih menangis, "Ibu cengeng, kurang-kurangi nonton sinetron ya Bu", ujarnya seraya menggenggam tangan Sinta.
"Ayah", Arinta mendongak menatap Deri yang berdiri disisi kiri ranjang, "Bisa jelasin?", pinta Arinta. Ia ingin mengetahui alasan yang membuat Zhein dan Vina mengambil keputusan untuk memberikannya kepada Deri dan Sinta. Karena hal ini bukanlah suatu yang bisa dianggap sepele. Ini menyangkut hidup dan identitasnya.
"Biar mommy aja yang jelasin", celetuk Vina melihat Deri yang enggan untuk menceritakan masa lalu tersebut.
Arinta menoleh dan mengangguk. Duduk tenang, siap mendengarkan sebuah cerita yang menyangkut hidupnya.
"Dulu mommy, Sinta, Deri, Rihanna, dan Renata adalah mahasiswa Indonesia yang berkuliah di Sydney. Masa kuliah kami sangat bahagia dan penuh warna. Menemukan semua suasana yang baru. Sampai ditahun kedua kami bertemu dengan Daddy kamu dan Xavier", ujar Vina mulai bercerita.
Arinta terdiam. Xavier dan Renata?, orang tuanya Reagan, bukan. Apakah mereka saling mengenal. Pantas saja waktu di toko roti, Renata memanggilnya Leta. Ternyata wanita itu mengenalnya.
"Daddy kamu adalah orang asli Rusia yang bermukim di Sydney."
Wah, sekampung dengan Marsha dong
"Pada saat itu Mommy dan Daddy yang lebih dulu berpacaran. Lalu ternyata Renata diam-diam menyukai Xavier, berkat bantuan kami semua keduanya akhirnya bisa berpacaran. Sebab Xavier itu orangnya dingin dan pendiam. Hanya berbicara apabila itu perlu", ujar Vina menerawang ke masa lalu. Mengingat bagaimana ia bisa bertemu dengan suaminya waktu itu.
"Dan pada malam natal tahun itu, kami diundang untuk hadir dirumah Daddy kamu. Pada saat itu Xavier membawa adik laki-lakinya yang lebih muda darinya setahun. Leon. Cowok yang memiliki sifat berlawanan dengan Xavier. Dan tanpa kami ketahui, rupanya Leon menyukai Sinta yang notabenenya adalah pacar Deri waktu itu. Ya bisa dibilang sebagai love at the first sight lah", Vina menoleh kearah Sinta yang menunduk. Vina bisa mengerti jika masih ada trauma dalam diri Sinta bila menyangkut masa kelam tersebut.
"Berulang kali Leon menyatakan cintanya, berulang kali pula Sinta menolaknya. Sampai Leon nekat untuk menculik Sinta dan membawanya ke gereja, untuk menikahinya. Leon benar-benar terobsesi pada Sinta. Untung saja Deri datang tepat waktu, sehingga rencana gila Leon itu gagal total. Karena Leon melihat Sinta yang memeluk Deri waktu itu. Membuat Leon paham, jika Sinta sudah menyukai Deri. Dan itulah alasan mengapa Leon selalu ditolak. Lalu dengan segala kegilaannya, Leon menembak dirinya sendiri tepat dihadapan Sinta dan Deri. Cowok itu berkata, ia lebih memilih mati daripada harus melihat pujaan hatinya dengan lelaki lain."
Arinta meringis. Mengapa ada orang yang sebuta itu terhadap cinta. Cinta boleh, tapi bodoh jangan.
"Kami kira dengan meninggalnya Leon, maka semua masalah ikut terkubur bersama cowok itu. Tapi siapa sangka, ternyata Xavier menyimpan dendam didalam hatinya untuk Sinta. Ia tak rela jika adik kecilnya harus pergi begitu saja. Xavier sama gilanya dengan Leon, ia sudah berulang kali mencoba untuk membunuh Sinta."
"Hah", Arinta membekap mulutnya, tak percaya jika masa muda Ibu nya sangat mengerikan. Bahkan lebih mengerikan daripada nasibnya.
"Sampai pada waktu Deri membuat janji dengan Xavier. Kami semua sebagai saksinya, Deri mengatakan kalau Xavier tetap kekeuh untuk membunuh Sinta. Maka Deri tidak akan segan-segan untuk menghabiskan seluruh keluarga Xavier."
"Idih, si Ayah sok kayak tuan muda yang berkuasa", celetuk Raka yang sedari tadi menjadi pendengar diluar kamar Arinta. Dua saudara kembar itu bersandar pada dinding. Karena kamar Arinta yang tak muat apabila semuanya masuk.
Raka dan Saka juga terkejut setelah mendengar cerita masa lalu orang tuanya. Tapi mereka tidak bisa berkomentar apa-apa.
"Loh, kalian enggak tau kalau Ayah kalian ini-"
"Vina", sela Deri seraya menggelengkan kepalanya.
"Ck, sok-sokan misterius. Apa mommy?, kami tau kok kalau Ayah itu bucin banget sama Ibu", sahut Raka yang mendapat pukulan dikepalanya dari Saka.
"Diem lo!", tajam Saka yang membuat Raka kicep.
Arinta memutar bola matanya jengah. Raka selalu bisa menjadi perusak suasana.
"Lanjutin mommy", pinta Arinta penasaran.
Vina tersenyum dan mengelus lembut kepala Arinta, "Akhirnya karena takut keluarganya celaka. Xavier melepaskan Sinta dengan satu syarat, bahwa Deri tidak boleh menyentuh keluarganya sampai kecucu-cicitnya kelak. Dan dengan janji itulah persahabatan kami hancur. Semuanya berjalan dijalan masing-masing. Lalu setelah kami lulus, Mommy dan Daddy kamu mutusin untuk nikah. Setelah mendapat persetujuan keluarga besar Daddy kamu untuk masuk Islam."
"Kemudian kami pindah ke Belanda setelah dua tahun menikah. Pada saat itu mommy sedang mengandung kamu, dan kamu telah menjadi incaran para musuh bisnis Daddy. Dan dengan segala ancaman dimana-mana mommy melahirkan kamu di Belanda."
Belanda?. Berarti selama ini ia telah menipu guru-gurunya. Dari SD sampai SMA. Sebab dibiodatanya, Arinta lahir di Jakarta bukan di Belanda. Oh guru, dengan segala kemurahan hatimu tolong maafkan lah anak murid mu ini.
"Dan dengan berat hati, setelah seminggu kamu lahir. Kami berdua menitipkan kamu dengan Deri dan Sinta. Lalu dengan bantuan seorang yang besar kami berhasil memusnahkan mereka yang mengincar kamu", Vina melirik Deri yang menenangkan Sinta.
"Awalnya kami akan menunjukkan diri dihadapan kamu ketika kamu berulang tahun yang ketujuh belas tahun. Tapi setelah mendengar dari Deri apa yang menimpa kamu. Mommy mutusin untuk segera pulang dan jumpa kamu. Walau agak telat, karna masih banyak urusan di Belanda yang harus diurus. Dan sekarang mommy bahagia setelah melihat kamu. Jangan putus asa lagi ya sayang, karna banyak orang yang cinta kamu disini", Vina meneteskan air matanya. Membayangkan betapa susahnya Arinta untuk beberapa bulan ini.
"Tenang aja mommy. Kalau si setan tetap enggak mau tanggung jawab. Raka yang bakal tanggung jawab. Kan kami berdua enggak ada hubungan darah", celetuk Raka yang membuat Sinta melemparkan bantal keluar.
"Emak lo sadis bener", Raka menyengir kearah Saka yang menatap datar dirinya.
"Dari awal gue juga udah curiga sih kalau kak Rinta itu bukan anak kandungnya Ayah dan Ibu. Lo lihat deh, kak Arinta itu agak kebule-bulean enggak sih. Cuma rambut sama matanya aja yang ciri khas orang Indonesia, hitam. Tapi kulitnya walaupun dijemur dibawah sinar matahari selama dua hari. Enggak bakal butek tuh kulit kayak kita. Tapi pada saat itu gue juga sempat curiga kalau kak Rinta itu vampir", cerocos Raka dengan segala pemikirannya. Lihatlah, sepertinya Raka memang memiliki bakat menjadi seorang penulis. Imajinasi cowok itu terlalu tinggi.
Saka memutar bola matanya, "Vampir enggak bisa kenak matahari goblok."
"Oh, iya ya", cengir Raka yang membuat Saka ingin membunuh adiknya itu sekarang juga.
Sementara itu, didalam kamar Arinta memeluk Sinta yang bergetar. Ia paham jika membuka sebuah luka lama itu sangat menyakitkan. Sebab Arinta pernah merasakannya.
"Mungkin masa lalu ibu kelam. Tapi dari sanalah Ibu mendapatkan semua pelajaran. Bukankah Ibu pernah bilang, segelap apapun masa lalu kita, jangan lupakan dan sesali. Sebab itu adalah awal terangnya masa depan kita", ujar Arinta mencoba menghibur. Cewek itu memeluk erat tubuh Sinta yang tengah menangis. Arinta merasa Dejavu dengan situasi ini. Pada waktu itu Sinta yang memeluknya, sekarang justru ia yang memeluk ibunya.
...~Rilansun🖤....