Brittle

Brittle
Sehidup semati



...•••••••••••••••...


...Disaat detak jantung kamu berhenti, aku berharap disaat itu pula denyut nadi aku berhenti......


...•••••••••••••••...


...***...


"Udah pada tidur Bik?", Reagan bertanya pada Bi Ina yang membukakan pintu rumah untuknya.


"Udah, Mas", jawab Bi Ina sambil melirik tuan mudanya yang terlelap dalam gendongan Reagan. Jika berbicara di depan si kecil, mereka harus sangat berhati-hati. Sebab Argan itu peniru ulung. Pernah suatu saat Bi Ina tidak sengaja memanggil Reagan dengan sebutan Mas seperti biasanya, dan si beo kecil itu langsung menirunya dan berteriak memanggil Reagan, Mas.


Reagan mengganguk singkat dan menyerahkan beberapa paper bag berisi oleh-oleh kepada Bi Ina, "Untuk Bibik, sama Bik Surti. Dan ini bagikan ke yang lain", ujarnya. Reagan memang membopong ART Bunda nya itu kerumahnya setelah Renata memutuskan untuk menetap di Sydney.


"Makasih banyak, Mas", ucap Bi Ina berterima kasih. Walaupun Reagan itu sudah hidup bergelimpangan harta dari kecil. Tapi majikannya itu tidak pernah lupa berbagi pada setiap asisten rumahnya. Begitupula dengan nyonya rumah ini.


Reagan mengangguk lagi, "Saya ke atas dulu", pamitnya sopan dan berjalan menaiki undakan anak tangga rumahnya. Menuju kamar sang pangeran kecil. Argan terus berceletuk rindu akan Bunda nya, jadi Reagan segera kembali ke Indonesia setelah urusannya di negeri kangguru itu selesai.


Lalu Reagan melangkahkan kakinya memasuki kamar Argan. Meletakkan putranya itu diatas kasur besar berbentuk pesawat. Menyelimutinya dan mengelus surai coklat yang sama persis seperti miliknya itu.


"Sleep tight prince", bisiknya lembut dengan mencium sekilas kening Argan. Setelah itu, Reagan membuka sebuah pintu dekat lemari baju yang ada di dalam kamar Argan. Pintu itu adalah penghubung antara kamarnya dan kamar putranya. Reagan masih khawatir bila harus membiarkan si kecil tidur sendirian. Tapi jika Argan terus tidur bersamanya, maka lelaki kecil itu akan tumbuh menjadi seorang cowok yang manja dan tidak mandiri. Dan Reagan tentu saja tidak ingin anaknya menjadi seperti itu.


Lengkungan sabit itu terbit tatkala indra penglihatannya menangkap dua sosok bidadari hatinya yang tengah tertidur lelap di atas ranjang yang sangat besar.


Lantas Reagan berjalan menghampiri mereka. Menatap lamat potret indah itu, menyimpannya sebagai kenangan yang takkan pernah bisa terulang kembali.


Setelah merekam momen indah itu didalam benaknya. Reagan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Membersihkan dirinya terlebih dulu sebelum melepaskan rindu pada kedua bidadari nya itu.


Sepuluh menit lebih, Reagan menghabiskan waktu untuk membersihkan dirinya. Setelah selesai, Ayah dari dua orang anak itu langsung berjalan menghampiri sisi kiri ranjang.


Menundukkan sedikit badannya untuk mencium bidadari kecil hatinya. Rearin Kalyca Allandra. Putri satu-satunya.


Reagan mewujudkan keinginan Xavier pada putri kecilnya. Xavier selalu ingin memiliki anak perempuan sejak dulu, makanya pria itu terus memanggilnya Rea waktu kecil. Tapi sayang, setelah melahirkannya Renata divonis untuk tidak lagi bisa memiliki anak.


Makanya setiap memandang Rea, Reagan selalu teringat akan Ayahnya. Dan Reagan bersyukur akan itu, karena ia merasa jika Xavier hidup di dalam diri putrinya.


Dan entah kebetulan atau tidak, Rea itu lebih pendiam dari pada Argan yang sangat aktif. Ngomong seadanya, jenius dan matanya yang tajam saat menatap orang. Persis seperti Xavier.


"Cempat sembuh, little princess Papi", gumam Reagan seraya mengelus pipi merah Rea.


Lalu cowok itu berjalan memutari ranjang. Menghampiri sosok wanita yang sangat dirindukannya. Tak ingin berlama-lama, Reagan lantas langsung membaringkan tubuhnya tepat di samping tubuh istrinya.


Membalikkan badan wanita itu yang semulanya memeluk Rea berganti menjadi menghadap kearahnya. Menatap putri kecilnya itu untuk memastikan kalau tidur Rea tidak terusik karena tindakannya. Setelah melihat jika tidur putrinya masih terjaga. Reagan sontak menghela nafas lega. Lalu memfokuskan perhatiannya pada wanita yang ada dalam dekapannya.


"Rindu", gumamnya sambil mencium seluruh permukaan wajah istrinya itu. Arinta Zarvisya Deltava, wanita yang sempat membuatnya gila karena koma selama seminggu setelah melahirkan twins. Pada saat itu Reagan merasa seperti hidup diambang kematian. Melihat tubuhnya yang bernafas namun tidak bisa diajak berbicara. Tangannya yang terkulai lemah saat Reagan mencoba untuk menggenggam. Serta mata yang selalu menatapnya penuh cinta tertutup dengan rapat.


Merasa teringat akan sesuatu, Reagan lantas bangkit dari tidurnya. Mengambil jas nya yang berada di keranjang kain kotor. Lalu merogoh sakunya dan mengambil sebuah kotak kecil berbahan beludru berwarna merah.


Setelah itu, Reagan kembali membaringkan tubuhnya di samping Arinta. Menatap intens wajah cantik istrinya sebelum meraih telapak tangan Arinta.


Menciumi jari-jemarinya dengan lembut. Kemudian Reagan mengeluarkan sebuah cincin berlian dari dalam kotak kecil tadi. Menyematkannya di jari tengah Arinta, tepat di samping cincin pernikahan mereka yang berkilau indah di jari manis Arinta.


"I love you, Bunda", ujarnya lirih dan mencium berkali-kali punggung tangan Arinta. Besok adalah ulang tahunnya twins. Dan setiap twins merayakan ulang tahunnya, maka Arinta lah yang terlebih dulu menerima kado dari Reagan.


Sebab Reagan berpikir jika tidak ada Arinta, maka tidak akan ada pula twins. Pengorbanan Arinta melahirkan anak-anak mereka lah yang membuat Reagan semakin mencintai wanita itu. Terlebih Arinta yang pernah hampir lepas dari genggamannya. Dan kado-kado kecil setiap tahun itu, hanya lah bentuk ucapan terima kasih Reagan atas perjuangan Arinta untuk tetap bersama mereka.


Sementara itu, Arinta mengerjapkan pelan matanya saat merasakan area lehernya yang basah. Merasa ada yang ganjil, Arinta kontan menatap ke bawah. Membelalakkan matanya saat melihat sosok yang sangat familiar itu mendusel di dadanya.


"Reagan!", pekik Arinta tertahan, mengingat kalau masih ada putrinya yang tengah tertidur pulas di samping.


Reagan yang dipanggil pun langsung mendongak sambil tersenyum. Lalu cowok itu beringsut ke atas. Menyamakan posisi wajahnya dengan Arinta.


"Kok bangun?", tanya Reagan yang membuat Arinta memutar bola mata malas.


"Kalau enggak bangun bahaya", sindir Arinta.


Reagan menyeringai, "Bahaya kenapa?, hm?", tanyanya dengan tangan yang aktif mengelus pinggang Arinta.


"Sok polos", cibir Arinta membuat Reagan tertawa pelan.


"Tiga hari doang."


Mendengar itu Reagan sontak menghela nafasnya. Setelah hampir kehilangan Arinta, Reagan tidak pernah sehari pun meninggalkan istrinya itu. Kemana pun ia pergi, Reagan selalu membawa Arinta. Kecuali tiga hari ini, sebab Arinta harus menjaga Rea yang sedang sakit sehingga ia tidak bisa ikut berziarah ke makam mertuanya. Terkadang ke kantor pun ia bawa. Reagan trauma dengan seminggu bisu nya Arinta.


"Yang penting rindu", balas Reagan dan kembali mencium bibir Arinta.


Arinta tersenyum tipis.


"Awas lepasin, Rea lagi sakit loh", ujarnya kemudian.


"Bentar doang", sahut Reagan dan menyusupkan wajahnya ke arah leher Arinta. Semenjak ada dua orang cecunguk itu, waktu Arinta terbagi untuknya. Walaupun Reagan membawa Arinta kekantor nya. Tapi si kembar itu selalu bisa memonopoli istrinya.


Arinta menghela nafasnya dan membiarkan Reagan melakukan sesukanya.


"Bunda gimana kabarnya?", tanya Arinta.


"Sehat, tapi masih belum bisa menerima kepergian Ayah", jawab Reagan tanpa menoleh.


Arinta tersenyum sendu mendengar itu, "Susah memang melupakan seseorang yang namanya sudah tertanam kuat di dalam hati", lirihnya seraya menerawang nasib Renata yang sangat malang. Walaupun Arinta tau jika kematian adalah jodoh sejatinya manusia. Tapi tidak bisa dipungkiri kalau kehilangan seseorang untuk selamanya adalah sebuah bencana.


"Udah takdir", sahut Reagan.


"Kalau waktu itu aku pergi untuk selamanya, kamu bakal cepat lupain aku gak?", pertanyaan Arinta yang membuat Reagan refleks mendongak dan menatap tak suka istrinya itu.


"Ngomong apa sih."


Arinta mengulum tipis bibirnya, "Kamu mungkin emang jodoh aku. Tapi jodoh nyata dari setiap manusia itu hanya lah kematian. Entah kamu, atau aku yang duluan. Kita sama-sama akan terkubur pada masanya. Enggak ada cerita yang benar-benar berakhir dengan happy ending. Tapi aku-"


"Dan aku berharap aku yang pergi duluan", sela Reagan seraya menatap Arinta tepat di manik hitam tersebut.


"Aku enggak mau ngelihat kamu yang terbujur kaku tak berdaya. Aku enggak mau natap kamu yang terbalut kain putih. Dan aku enggak mau melihat kamu yang dikubur dengan tanah. Biarkan aku yang merasakannya terlebih dulu. Karena aku gak tau gimana hidup aku tanpa kamu", lanjut Reagan yang membuat Arinta terhenyak.


Lalu Arinta mengelus pelan pipi Reagan, "Aku juga gak tau gimana aku bisa hidup kalau kamu enggak ada. Aku meminta pada Tuhan, supaya kita bisa sehidup semati. Disaat detak jantung kamu berhenti, aku berharap disaat itu pula denyut nadi aku berhenti."


Reagan tersenyum dan langsung mencium bibir Arinta. Saling mencecap lembut rasa manis yang ada. Terpaut dan melekat dengan getaran cinta yang kentara. Hingga bulan pun malu untuk mengintip dua sejoli yang hanyut dalam gelombang cinta itu.


"I love you, Arin", ujar Reagan dengan senyuman manisnya.


Arinta tersenyum malu dan langsung menyembunyikan wajahnya di dada bidang Reagan.


"I love you too, Reagan."


Mungkin Tuhan mempertemukan mereka dengan cara yang salah. Tapi Tuhan cukup adil dengan memberikan kebahagiaan setelah melewati berbagai macam luka.


Dan cinta mereka adalah bukti adilnya Tuhan. Walau ada tangis nanti yang menemani. Sebab tidak ada cerita yang benar-benar happy ending. Karena masih ada kematian yang menunggu di akhir cerita.


...~Rilansun🖤....


Like son like father❎


like son like mother✔️



Rearin Kalyca Allandra(penerus Opa Xavier)



Papi bucin



...END....


Huwaaa sorry klo endingnya gk memuaskan 😭.