
...••••••••••••••••...
...Aku ingin terbang, tapi takut dijatuhkan kedalam jurang yang berlubang......
...••••••••••••••••...
...***...
Arinta menghela nafas panjang. Sudah sepuluh menit berlalu dan hanya keheningan yang terjadi selama perjalanan. Tidak ada yang ingin membuka pembicaraan terlebih dahulu. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing.
Entah mengapa ia mau masuk kedalam mobil cowok itu tadinya. Bukan karena ia ingin menunjukkan kepada Laily kalau ia dekat dengan Reagan. Ralat, mereka tidak pernah dekat sama sekali.
Kemudian Arinta mengalihkan tatapannya dari jendela mobil kearah jam yang ada ditangan kirinya. Lalu melirik Reagan dari ujung matanya. Cowok itu tampak fokus pada jalanan yang ada didepannya.
"Kamu semakin buat aku berada diposisi yang salah", ujar Arinta membuka pembicaraan diantara mereka berdua. Kemudian cewek itu kembali membuang pandangannya ke jendela mobil yang ada disampingnya.
Reagan menoleh sebentar lalu kembali fokus menyetir, "Maksud?."
Tanpa menatap lawan bicara Arinta menjawab, "Apa kamu tahu kalau kamu udah hancurin persahabatan kami. Kamu buat aku kehilangan satu sahabat. Kamu itu benar-benar parasit", ketusnya.
Reagan menghela nafas, "Takdir lo, harus terima!", sahutnya dengan enteng. Membuat Arinta ingin sekali membenamkan cowok yang disampingnya itu ke segitiga bermuda. Biar musnah sekalian tanpa jejak sedikit pun.
"Aku harus terima takdir aku?, sementara kamu nolak takdir kamu", Arinta menatap Reagan sambil tersenyum miring, "Huh, orang kaya emang yang paling berkuasa. Bahkan nyawa seseorang pun tak ada nilainya. Yang ada uang yang paling kuat. Dimata kalian mungkin kami orang-orang miskin ini hanya semut yang sekali pijak langsung mati", sindirnya membuat Reagan terdiam.
Dan keheningan pun terjadi lagi sampai Reagan menghentikan mobilnya tepat didepan gang rumah Arinta. Membuat cewek itu segera menyandang tas nya dan berniat membuka pintu mobil. Namun langsung dikunci oleh Reagan dari dalam. Sehingga Arinta protes ingin turun.
"Jangan pakai kayak gituan lagi", ujar Reagan datar tanpa menoleh kearah Arinta.
Arinta melirik sekilas Reagan dan kembali membuang pandangannya kedepan sambil mentautkan kedua tangannya diatas paha.
"Bukan urusan kamu!", jawab Arinta kalem. Entah mengapa ia merasa atmosfer diantara mereka berdua saat ini sangat menakutkan. Membuatnya merapalkan doa-doa yang bisa diucapkan nya didalam hati.
"Lo buat dia kesakitan", sahut Reagan dengan masih menatap jalanan didepannya.
"Jangan sok tahu", balas Arinta.
"Berhenti keras kepala Arinta!", bentak Reagan membuat cewek itu menatap kearahnya.
"Kenapa kamu selalu memperintah aku. Arinta jangan ini, Arinta jangan itu. Hallo, kamu itu siapa?. Kamu enggak ada hubungan apa pun sama aku, kamu cuma orang asing bagi aku. Dan kamu enggak berhak perintah-perintah aku. Keras kepala kamu bilang?, lalu kamu gimana?", Arinta menatap lekat Reagan membuatnya kikuk.
"Kamu juga pernah bilang kalau ini adalah kesalahan satu malam. Lalu kenapa kamu seolah-olah peduli dengan anak ini. Bukannya bagus kalau dia enggak ada. Kamu bisa kembali ke Laily tanpa ada rasa terikat dengan aku. Dan aku bisa kembali menjalani kehidupan yang bersih tanpa embel-embel pelacur dan perebut. Baguskan?", ujar Arinta panjang lebar. Membuat cowok itu menatap tajam Arinta.
"Ahh", Arinta terpekik tertahan ketika Reagan memojokkan nya kepintu mobil. Dan hal yang membuatnya bertambah kaget adalah Reagan memeluknya, lebih tepatnya cowok itu membenamkan wajahnya di perut Arinta. Erat, sangat erat sampai Arinta merasa sesak sekaligus geli.
"Apa yang kamu lakukan", Arinta berusaha mendorong kepala Reagan untuk menjauh darinya. Tapi cowok itu malah menambah erat memeluknya. Membuat Arinta merasa kegelian.
"Enggak bagus. Aku enggak suka ide kamu", ujar Reagan dengan masih membenamkan wajahnya di perut Arinta. Membuat cewek itu tertegun. Bukan karena ucapannya, tapi ia terkejut karena nada dan gaya bicara cowok itu. Terdengar sedikit lebih lembut dan....manis.
"Siapa yang bilang aku menolak takdir. Aku selalu menerima dia dengan lapang dada. Dan jangan lagi sebut kalau dia suatu kesalahan. Dia bukan kesalahan, dia itu anugerah", tambah Reagan dengan sedikit menjauhkan wajahnya dan memberi satu kecupan diperut Arinta yang masih terbalut seragam. Membuat Arinta berkutik tak bersuara. Berusaha mencerna segala tindakan dan perubahan yang dilakukan Reagan. Arinta shock.
"Kamu–",
Reagan kembali menegakkan tubuhnya dengan masih mengukung Arinta dibawahnya. Setelah mencium untuk kedua kali anaknya. Ini untuk pertama kalinya Reagan bisa sedekat seperti itu dengan anaknya. Tanpa ada adu mulut dan paksaan. Dan Reagan sangat bahagia.
"Kenapa, hm?", Reagan meniup anak rambut Arinta yang menutupi wajahnya.
Sementara Arinta, jangan ditanyakan lagi. Cewek itu merasa ingin lenyap dari bumi ini seketika. Berharap ada kekuatan magic yang menariknya dan membawanya pergi jauh dari hadapan Reagan.
"Kenapa?, takut?."
"E-enggak. enggak takut", jawab Arinta terbata-bata.
"Bagus kalau gitu", Reagan menjauh dari Arinta membuat cewek itu menghela nafas lega. Dan melihat pergerakan Reagan yang tampak tengah mencari sesuatu.
Reagan mengambil gunting yang ada di laci dashboard nya. Dan kembali mendekati Arinta membuat cewek itu langsung meletakkan tas nya didepan dada sebagai perlindungan diri.
Reagan tersenyum tipis dan berniat menarik tas Arinta. Namun dicegah cewek itu dengan mendekap erat tasnya.
"Arin", Reagan menatap mata Arinta intens seraya memanggil namanya dengan lembut.
Deg
Arinta tertegun. Hanya Ayah nya yang biasa memanggilnya seperti itu. Bukan karena apa. Tetapi memang hanya Deri yang memanggilnya dengan nama itu. Dan Arinta sudah terbiasa menjadikannya panggilan khusus yang hanya boleh Ayah nya yang memanggilnya seperti itu.
Tetapi laki-laki ini. Argh, membuat kepalanya terasa ingin pecah.
Melihat Arinta yang termenung menatapnya. Reagan langsung mengambil tas Arinta dan melemparkannya kearah kursi belakang.
Srett
Dan tanpa aba-aba cowok itu menggunting korset yang dikenakan Arinta. Membuat Arinta membelalakkan matanya menatap kancing seragamnya yang telah terbuka tiga dan korset yang telah terpotong menjadi dua.
"Reagan", Arinta menatap horor kearah Reagan yang membuang korset itu kesamping jendela.
Reagan menatap sebentar Arinta dan beralih kearah perut Arinta yang terpampang nyata dihadapannya.
Sadar kemana arah pandang Reagan. Arinta lantas mengeratkan seragamnya.
"Jangan dipakai lagi ya", Reagan melepaskan tangan Arinta dan memasangkan kembali kancing seragamnya. Namun sebelum benar-benar terkancing, Reagan menyusupkan tangannya kedalam dan mengelus lembut perut Arinta, "Bunda", bisik Reagan ditelinga Arinta. Membuat Arinta terasa berada diatas awan. Pipi dan telinganya memanas. Kakinya terasa bergetar.
Tuhan, tolong bantu dirinya. Jauhkan buaya ini dari hadapannya. Sejauh-jauhnya.
"Bajingan", umpat Arinta dan mendorong tubuh Reagan untuk duduk kembali ditempatnya.
"Jangan pakai gituan lagi", ujar Reagan lagi.
Arinta tak menggubris. Cewek itu mengambil kembali tas nya yang ada dikursi belakang. Dan memperbaiki penampilannya. Ia tak ingin keluarganya curiga dan menanyainya macam-macam.
"Kamu itu cowok Reagan. Dan cowok yang dipegang itu janjinya, yang dipandang itu prinsipnya, dan yang dihargai itu tindakannya. Jadi cowok harus gentleman. Iya atau enggak, kamu harus jelas. Kamu harus tegas, jangan buat banyak orang menderita karena keegoisan kamu", Arinta menyandang tasnya dan membuka pintu yang sudah tidak dikunci lagi oleh Reagan.
Namun sebelum benar-benar Arinta beranjak. Reagan menoleh kearah Arinta, "Maafin aku", ujarnya datar namun terdengar tulus.
Arinta terdiam sebentar lalu tanpa mengatakan apapun lagi cewek itu turun dan menutup pintu mobil dengan keras sehingga menimbulkan bunyi yang nyaring.
Hell, cowok itu manusia atau bunglon sih. Cepat banget berubahnya.
Reagan terus menatap Arinta hingga cewek itu hilang dari pandangannya. Kemudian ia menyandarkan tubuhnya dikursi kemudi seraya memejamkan mata mengingat kembali wajah kesal Laily yang ia tinggal pergi. Kenapa hidup nya serumit ini. Seperti sinetron yang sering ditonton oleh Renata. Banyak drama nya.
Kemudian cowok itu membuka kembali matanya dan menatap tangannya yang tadi menyentuh anaknya. Reagan bahkan masih merasakan kehangatan itu.
Secepatnya Reagan harus mengambil keputusan. Apa yang dibilang oleh Arinta benar. Cowok itu harus tegas dalam bersikap. Tapi dirinya, selalu menganggap hidup itu adalah suatu permainan Tuhan
...~Rilansun🖤....