Brittle

Brittle
Requests



...•••••••••••••...


...Aku tidak bisa memberikan hatiku kepada tangan yang telah mematahkan nya......


...••••••••••••...


...***...


Arinta memperhatikan Vina dan Sinta yang tengah asik menata makanan diatas meja. Tadinya Arinta berniat untuk membantu, namun kedua Ibunya itu mengomelinya untuk duduk diam dan tenang. Alhasil Arinta terdampar duduk disofa ruang tamu sendirian. Sepi dan sunyi.


Sedangkan kedua adik kembarnya itu sedang bermain play station di kamar mereka. Dan untuk Zhein dengan Deri, kedua Ayah itu sedang bercengkrama diluar teras. Tanpa menghiraukan jika hari sudah malam. Alasannya adalah menunggu calon mantu.


Ya, dua hari setelah Arinta mengatakan jika dirinya siap menikah dengan Reagan. Orang tuanya langsung sibuk menelpon keluarga Reagan. Awalnya Arinta menolak untuk melakukannya hari ini. Walau hanya sebatas temu keluarga, tapi bagi Arinta ini terlalu cepat. Tapi lagi-lagi mereka berhasil meyakinkan Arinta dengan alibi jika sesuatu yang baik tidak boleh ditunda-tunda.


"Kenapa?, gugup?", Saka duduk disamping Arinta sambil merampas camilan yang ada dipangkuan Arinta.


Arinta menghela nafas panjang, "Enggak gugup. Tapi takut", cicitnya pelan.


Saka tersenyum tipis, lalu ia mencubit pipi Arinta yang membuat siempunya meringis dan meronta.


"Batalin aja."


Arinta menatap tajam Saka seraya mengelus pipinya yang terasa nyeri, "Kalau cuma ngomongnya sih gampang. Tapi ngelakuinnya itu sulit."


Saka mengangkat bahunya acuh sambil terus mengunyah camilan milik Arinta.


"Baru dua malam semalam kakak melihat Ibu dan Ayah bisa tersenyum melegakan seperti itu. Semenjak apa yang menimpa kakak, belum pernah kakak melihat mereka tersenyum tulus. Mungkin iya tersenyum, tapi kakak paham kalau dibalik itu semua pasti banyak beban pikiran dikepala mereka", Arinta menjeda ucapannya dengan mengambil napas panjang lalu menghembuskan nya dengan berat, "Mommy bener, seharusnya dihari tua mereka. Ibu dan Ayah bisa mendapatkan ketenangan dan kedamaian di sisa-sisa hidupnya. Kakak enggak mau nambah beban hidup dengan memberikan dia kepada mereka. Udah cukup hutang budi kakak selama ini sama Ayah dan Ibu. Kakak enggak mau nambah bon hutang", lanjutnya.


Saka terkekeh pelan, "Bayar cepat, nanti bunga nya nambah", kelakarnya yang membuat Arinta semakin murung.


Melihat itu Saka lantas berdehem, "Jadi apa yang Kakak takutin, seperti yang dibilang Ayah, kalau kakak mau berpisah sama dia nantinya. Ada kami yang bakal berdiri digarda terdepan siap memeluk kak Rinta."


Arinta memutar bola matanya jengah, Saka pasti sudah ketularan virus alay nya Raka.


"Bukan itu, bukan itu yang buat kakak takut."


Saka mengernyitkan keningnya, "Terus apa?."


Arinta terdiam. Sebenarnya yang Arinta takutkan adalah tentang kehidupan nya nanti setelah menikah. Walau pernikahan itu entah bertahan atau tidak nantinya. Tapi selama pernikahan itu berlangsung tentu saja ada kewajiban yang harus Arinta laksanakan sebagai seorang istri. Dan kewajiban itulah yang membuatnya takut.


"Kakak takut dia nyentuh kakak lagi", Saka menatap intens Arinta yang menoleh kaget kearah nya.


"Kamu benar-benar cenayang Sak?", tanya Arinta polos. Sebab segala pikiran Arinta akan terbaca apabila ia didekat Saka, "Dimana kamu belajar gituan Saka?."


Saka tertawa melihat mata Arinta yang berbinar penasaran.


"Dari dukun", jawab Saka asal yang mendapat pukulan dikepalanya dari Arinta.


"Ngawur."


"Kalau kakak belum siap nikah, lari aja pas dihari pernikahan. Buat tuh si Reagan malu, sampai mau bunuh diri. Itung-itung bales dendam."


"Ngaco, kebanyakan nonton sinetron nih kayaknya kamu", ujar Arinta dan bangkit dari duduknya menuju dapur. Meninggalkan Saka yang masih asik memakan sisa-sisa camilannya.


...***...


Deri mengalihkan atensinya ketika melihat sebuah mobil Lexus berwarna hitam terpakir diluar pagar rumahnya, dan disusul dengan Mercedes Benz berwarna silver dibelakangnya. Kedua mobil mewah tersebut tentu saja menarik perhatian para tetangga sekitar.


Kemudian setelah itu terlihat Reagan beserta keluarganya turun dari mobil dan memasuki pekarangan kecil rumah Deri. Dengan beberapa bingkisan kecil ditangan mereka.


Lalu Reagan menyalim tangan Zhein dan Deri yang diikuti Gina setelahnya. Jangan tanyakan mengapa sepupunya itu juga ikut datang. Cewek itu beralasan karena orang tuanya hadir, maka ia juga harus hadir. Lagipula sebagai sepupu dan sahabat yang baik, Gina harus merestui dan mendoakan kebahagiaan mereka berdua bukan.


Kemudian setelah itu mereka semua masuk kedalam rumah. Duduk diruang tamu yang tak mampu menampung mereka semua. Alhasil hanya para orang tua yang duduk di atas sofa dengan Arinta yang duduk diapit Deri dan Sinta.


"Sebelum acara ini dimulai, boleh saya minta sesuatu?", Zhein berdiri menatap Reagan.


Reagan yang merasa pertanyaan itu ditujukan untuknya, lantas ia bertanya balik dengan canggung, "A-apa Om?", ia harap jika permintaan dari Ayah kandung Arinta itu tidaklah sulit. Ya, Reagan sudah tahu dari Bunda nya kalau Deri dan Sinta bukan lah orang tua kandung Arinta. Dan Reagan juga tau jika mereka semua adalah teman dengan segala kisah masa lalu yang kelam. Dan satu lagi, Reagan juga tau alasan mengapa Deri tidak mau menuntut ataupun menghajar dirinya disaat tau Reagan lah yang melecehkan Arinta.


"Saya tidak menyangka jika anak laki-laki berumur satu tahun yang sering saya gendong dulu akan berubah menjadi seorang pemuda yang tampan", Zhein merapikan kerah kemeja yang dikenakan Reagan, "Tapi sayang, pemuda tampan ini telah melecehkan putri saya,-bugh", tanpa aba-aba Zhein melayangkan satu pukulan telak diwajah Reagan. Membuat para wanita memekik histeris.


Zhein menarik kerah baju Reagan, "Jika Deri tidak bisa, tapi saya bisa melakukannya", ujarnya dan kembali memukuli Reagan dengan membabi buta.


Reagan yang diserang tiba-tiba pun tidak bisa berbuat apa-apa. Lagipula, yang memukulinya sekarang adalah Ayah mertua masa depannya. Tidak mungkin Reagan membalas. Auto jadi menantu durhaka.


"Bangun", titah Zhein yang langsung dituruti oleh Reagan. Cowok itu bangkit seraya menyeka ujung bibirnya yang mengeluarkan darah. Menghampiri Renata yang sudah siap dengan satu buah kotak P3k. Pemberian Sinta.


Semuanya hanya menatap nanar kearah wajah tampan Reagan tanpa ada satupun yang membuka suara. Apes banget jadi Reagan.


Kemudian Zhein duduk kembali disamping Vina, istrinya. Setelah puas memukuli wajah laki-laki yang berani menodai putri satu-satunya.


"Xavier, I didn't expect your son to be a bastard who abuses my daughter", ujar Zhein sambil menatap Xavier yang sedari tadi diam dengan tampang datarnya.


"Itu si Daddy ngomong apa?", bisik Raka menyenggol bahu Saka yang berdiri disampingnya.


"Pantun", jawab Saka singkat.


Raka mengangguk paham. Lalu kembali berdiri tegak dengan kaki dibuka selebar bahu dan tangan dibelakang punggung.


Xavier menatap Zhein, "I don't think that this bastard is my son", balasnya.


"Cakep!", teriak Raka yang membuat semua mata menuju kearahnya.


Krik krik krik


Raka yang merasa suasana menjadi awkward, lantas menggaruk kepalanya yang tak gatal, "Ikan hiu makan tomat, pantun nya bagus amat", ujarnya dengan dua jempol yang ditunjukkan untuk Zhein dan Xavier. Mengapresiasi pantun dari kedua pria tersebut. Namun Raka segera menurunkan kedua tangannya setelah melihat semua orang menatap flat dirinya.


Apakah ia salah bicara. Mengapa mereka semua menatap aneh dirinya. Argh, kayaknya apa yang dilakukannya semua salah. Mengapa begitu Tuhan.


Deri berdehem, merasa malu mempunyai anak seperti Raka, "Kalau gitu kita mari langsung ke intinya aja", ujarnya tanpa basa-basi.


"Tunggu Ayah", sela Arinta membuat semua orang menatapnya.


"Ada apa Arin?."


Arinta menghela nafas berat, "Sebelum semuanya diputuskan, Arinta mau ngajuin permintaan terhadap Reagan", ucapnya seraya menatap Reagan.


"Apa?", Reagan harap-harap cemas jika Arinta akan kembali menolak dirinya.


"Aku mau nikah sama kamu, kalau kamu sanggupin tiga permintaan aku."


"Hm, apa?", Reagan lega ketika tahu Arinta tidak menolaknya. Tapi Reagan juga waspada akan permintaan yang diajukan Arinta.


Arinta menundukkan kepalanya, "Yang pertama setelah aku melahirkan, aku mau lanjut kuliah. Kedua, walaupun kita udah menikah nantinya aku harap kita enggak mencampuri urusan masing-masing. Dan ketiga, aku enggak mau dipaksa melakukan kewajiban yang aku enggak mau", ujar Arinta yang membuat suasana hening. Merasa aneh, lantas Arinta mendongak kan kepalanya. Hal yang pertama dilihatnya adalah senyum kedua orang tuanya, dan wajah datar Reagan. Lalu pandangannya beralih kearah Gina yang memberinya jempol semangat.


Kemudian Arinta menatap Renata dan Xavier yang sedari tadi diam, "Om, Tante keberatan?."


"Huh?, enggak sayang. Kami enggak keberatan, apapun yang kamu mau, kami setuju", sahut Renata seraya tersenyum manis kearah Arinta.


Arinta menganggukkan kepalanya, "Dan kalau nantinya kita cerai, hak asuh anak aku serahkan ke kamu."


Reagan melotot menatap Arinta. Segitu bencinya kah Arinta kepada anak kandungnya sendiri, "Pamali. Belum nikah udah ngomongin cerai", sinis Reagan.


"Kamu kira aku sukarela nikah dengan kamu. Aku enggak bodoh untuk menyerahkan hati aku dengan orang yang telah mematahkannya. Pernikahan ini hanya karena dia, tidak lebih", sarkas Arinta.


"Apapun sayang, asal itu buat kamu bahagia kami dukung. Walau itu harus bercerai dengan Reagan nantinya."


Wtf, Reagan menatap horor Renata yang baru saja mengucapkan hal konyol tersebut. Apakah ia juga bukan anak kandung dari Renata dan Xavier. Mengapa Bunda nya itu suka sekali melihat putranya sendiri ternistakan.


Tapi yasudah lah, yang penting Arinta mau menikah dengannya. Cinta bisa dipupuk seiring berjalannya waktu. Bukankah ada yang mengatakan jika cinta hadir karena terbiasa. Dan semoga saja itu benar


...~Rilansun🖤....


Cinta hadir karena terbiasa?, enggak ada itu, bohong 😭. yang adanya terbiasa tersakiti.