Brittle

Brittle
Suicide



...•••••••••••••••••••...


...Kalau lagi berada di titik terlelah, hal yang terlihat paling menyenangkan adalah menyerah.......


...••••••••••••••••••...


...***...


"H-hamil?."


Bruk


Renata jatuh pingsan setelah melihat Reagan yang terdiam tidak menjawab pertanyaan yang diajukan nya. Renata Ibu nya dan ia yang paling paham bagaimana dengan sifat dari anak laki-lakinya. Renata juga paham apa arti dari diam nya Reagan.


"Bunda!", Reagan mendekati Renata, namun langsung didorong oleh Xavier. Pria itu langsung mengangkat tubuh istrinya kedalam gendongan dan membawanya ke kamar.


Reagan menatap nanar punggung Ayahnya. Cowok itu lalu menghela nafas dan menghempaskan tubuhnya ke sofa. Memejamkan mata, mencoba meyakinkan diri jika semua ini hanyalah halusinasi semata.


"Lo harus tanggung jawab!."


Reagan membuka matanya dan memandang tajam kearah sepupunya yang ada diseberang sofa,"Lo bisa diem enggak?, pusing gue nih", ujarnya dan kembali menutup mata sambil mengurut pelipisnya. Sesekali menahan rasa sakit saat tak sengaja bersentuhan dengan lukanya.


Gina mendengus, "Bajing*n", umpatnya keras.


Setelah dari rumah Riko, Gina menyuruh Reagan untuk ikut pulang bersamanya. Walau mendapat penolakan dari cowok tersebut, tapi siapa yang berani membantah Gina. Jika ada, berarti orang itu memang sudah tak sayang lagi dengan nyawanya.


Dengan paksaan dan ancaman dari Gina, akhirnya Reagan berani untuk mengatakan yang sebenarnya kepada kedua orang tuanya. Awalnya cowok itu bersikeras tak ingin menyampaikan, tapi semakin keras Reagan menolak maka semakin keras pula Gina memaksa. Dan pekikan histeris Renata menjadi sambutan utama saat pertama kali mereka masuk kedalam rumah. Wanita itu shock melihat wajah tampan anaknya yang babak belur tak karuan, dan Renata lebih shock lagi saat mengetahui sebab akibat Reagan dipukuli.


Gina memang belum tahu pasti jika Arinta memang hamil apa tidak. Tapi dilihat dari gejala yang ditunjukkan dari gadis tersebut. Gina sangat yakin jika sahabatnya itu memang telah hamil dan mengandung keturunan dari keluarga Allandra.


Tap tap tap


Atensi dua saudara sepupu itu teralihkan kearah pria yang sedang menuruni anak tangga dengan gagah. Melihat aura yang dipancarkan oleh Xavier, membuat mereka berdua sontak berdiri.


Reagan menelan saliva nya kasar. Memang pantas jika ayahnya itu disebut sebagai pembisnis berdarah dingin, sebab aura kepemimpinan yang sangat kental dari sosok Xavier Emerick Allandra.


Ketampanan dan kegagahan Ayahnya itu memang tidak termakan oleh usia. Jika mereka jalan berdampingan berdua, pasti ada saja yang mengira kalau mereka berdua adalah adik kakak. Makanya Reagan malas banget kalau harus jalan berdua sama Xavier, bisa turun pamornya. Reagan yakin jika Ayah nya itu adalah duda, pasti banyak yang mengantri untuk menjadi ibu tirinya. Untung saja ia memiliki Bunda yang galaknya tiada tara.


"Ehem."


Deheman keras dari Gina, menarik Reagan dari ke kaguman atas sosok ayahnya.


Reagan melirik kearah Gina yang tengah menunduk. Sepupunya itu pasti juga sedang gemetaran. Walau Gina itu cuek, dingin, dan judes. Tapi cewek itu masih takut jika harus berhadapan dengan Xavier. Gina bahkan pernah mengatakan jika Ayahnya itu adalah wujud asli dari Yeti.


"Terus apa rencana kamu?", tanya Xavier to the point dengan dingin.


Reagan menoleh takut-takut kearah Ayahnya yang berdiri tepat dihadapannya, lalu ia menggelengkan kepala dan kembali menunduk. Selama Reagan menjelaskan jika ia sudah merusak anak gadis orang, Xavier tidak menunjukan reaksi yang berlebihan. Tapi Reagan paham jika Ayahnya itu telah kecewa terhadap dirinya.


Xavier mendengus, "Saya tidak pernah menyangka, jika anak yang saya besarkan dan saya lindungi selama ini adalah wujud asli dari iblis. Karena kamu yang berbuat, kamu yang harus menyelesaikannya", setelah mengucapkan itu dengan nada datar, Xavier berbalik dan menaiki anak tangga menuju kamar dimana istri tercintanya berada.


Reagan memejamkan mata. Ia tidak pernah mendengar nada seformal itu dari Ayahnya, dan ia tau jika Xavier saat ini tengah menahan amarah yang teramat besar. Reagan yakin jika Xavier pasti akan memukulnya, jika tidak melihat wajahnya yang sudah babak belur begini. Terbukti dari tangan Xavier yang terkepal erat selama berbicara kepadanya.


Drrt drrt


Gina merogoh ponselnya disaku celana. Melihat notifikasi pesan dari Arinta. Dengan penasaran Gina langsung membuka pesan tersebut dan mengernyit heran ketika Arinta mengirim voice note kepadanya. Tak seperti biasanya. Lalu Gina menekan pesan suaara tersebut dan mengeraskan volume ponselnya.


Gina, aku tau jika didalam hidup ini ada suka dan duka. Tak selamanya kita bisa berjalan mulus, pasti ada kerikil dan paku dijalanan. Tapi tergantung diri kita, apa kita bisa menghindari benda yang dapat membuat kita celaka itu. Dan sayangnya, aku terlalu ceroboh sehingga kakiku berdarah tergores kerikil dan tertusuk paku. Kini aku butuh mengobati lukaku. Terima kasih Gina, terima kasih untuk segalanya. Tak ada yang melindungi aku sehebat kamu dan tak ada yang menyayangi aku setulus kamu. Aku sangat berkesan, bisa mengenal dan menjadi sahabat kamu. Rodaku mungkin sudah berhenti. Aku lelah Gin.


Gina menutup mulutnya saat telah mendengar semua apa yang disampaikan Arinta. Cewek itu memejamkan matanya dan bergumam, "Jangan bodoh Rin, please jangan lakuin hal bodoh", Gina berusaha mencoba untuk menghubungi Arinta. Tapi nihil, nomornya tidak aktif.


"Ini semua karena lo setan", sinis Gina dan segera mengambil kunci mobil Reagan diatas meja. Kemudian bergegas keluar dari kediaman Allandra.


Brak


Gina menaikkan alisnya melihat Reagan yang duduk di kursi samping kemudi.


Reagan yang merasa ditatap pun menoleh, "Gue ikut!", ujarnya datar.


Gina menganggukkan kepalanya dan menghidupkan mesin mobil meninggalkan pekarangan rumah bergaya Amerika klasik tersebut.


Gue mohon Rin, jangan ngelakuin hal bodoh. Cukup adik gue yang ninggalin gue, lo jangan, batin Gina sambil menatap fokus jalan sepi didepannya. Hanya ada beberapa kendaraan dan toko yang buka 24 jam. Gina resah, ditengah malam begini kemana perginya sahabatnya itu.


...***...


Arinta menghirup udara sambil memejamkan mata. Menatap pemandangan malam Jakarta dari atas sini. Walau langit malam sudah pekat diatas sana, tapi masih ada saja yang sibuk. Hidup di ibu kota itu memang sangat keras, persaingan ada dimana-mana. Jika kita tidak pintar dan tekun bekerja, maka jangan harap jika besok masih bisa menyuap se-sendok nasi.


Arinta memandang layar ponselnya. Pukul 23:50. Sepuluh menit lagi maka hari akan berganti. Ia tertawa miris, membayangkan jika dirinya tak lagi bisa melihat hari esok.


Arinta menekan perekam suara di ponselnya. Membiarkan perekam tersebut berjalan beberapa menit. Lalu dimenit kemudian Arinta menghela nafas dan mulai merekam suaranya.


"Ayah", suaranya bergetar ketika menyebut pria yang sangat berarti bagi kehidupannya itu. Arinta memejamkan mata dan berusaha menetralkan emosi nya.


"Maafin Rinta. Maaf untuk malu yang kalian hadapi dan maaf untuk cita-cita yang belum bisa Rinta gapai. Rinta sangat bersyukur bisa lahir ditengah-tengah kehangatan kalian. Jangan pernah benci Rinta. Jika pun sudah tiada, Rinta mohon selalu ingat Rinta. Ayah, maaf kalau Rinta belum bisa jadi anak gadis yang bisa Ayah banggakan. Ibu, maaf kalau Rinta selalu ganggu ibu waktu masak", ia terkekeh ketika mengucapkan kalimat terakhirnya.


Arinta menghapus air matanya yang mengalir dengan deras, "Twins, jika saja waktu sedikit berbelas kasih, maka kakak mau selalu menjadi kakak kalian. Untuk Gina dan Laily, terima kasih karena kalian sudah mau menerima aku tanpa memandang rendah status dan asal usulku. Jika saja kehidupan selanjut itu memang ada, maka aku akan meminta kepada Tuhan untuk terlahir kembali menjadi putri dan sahabat kalian", Arinta mematikan rekaman tersebut dan meletakkan ponselnya kelantai.


"Ayah, peluk Rinta sebentar saja", lirihnya sambil melingkarkan kedua tangannya kedepan seolah sedang memeluk seseorang, "Bilang sekali lagi saja Ayah, bilang jangan nangis putri kecil Ayah, jangan takut, Ayah ada disini. Enggak akan ada monster yang bisa gangguin tuan putri Ayah", Arinta menangis sekeras-kerasnya. Mengeluarkan air mata yang terpendam selama ini. Arinta sangat menyayangi Ayah nya, jika saja ditanya siapa orang yang paling ia sayangi, maka ia akan menjawab Ayah. Ayahnya yang paling ia cintai, cinta pertamanya, pahlawan sejatinya, dan pria yang takkan pernah meninggalkannya.


Arinta menurunkan tangannya, lalu dengan sekali helaan nafas, ia membulatkan tekadnya untuk naik kepembatas gedung tersebut. Gedung ini adalah gedung yang di-rekomendasikan Raka waktu itu. Gedung tua yang telah terbengkalai. Dilihat dari barang peninggalan nya, gedung ini sepertinya adalah bekas perkantoran.


Arinta memejamkan matanya merasakan angin yang membelai wajahnya, lalu ia merentangkan kedua tangannya dan bergumam pelan, "Maaf, maaf dan maaf."


...~Rilansun🖤...


.


.


.


.


.


.


.


.


.



Calon Papa muda~ Reagan Zarvio Allandra