
...•••••••••••...
...Mengapa dunia sekecil ini ya Tuhan......
...•••••••••••...
...***...
Arinta memandang langit malam yang sangat indah dengan hiasan bintang yang berkelap-kelip diatas sana. Ditambah suara kendaraan yang berlalu-lalang. Sangat ramai dan berisik. Tetapi lebih terasa hidup untuk hatinya yang tengah kosong untuk saat ini.
Lalu kelopak mata dengan bulu mata yang lentik itu perlahan tertutup. Memejam lama tatkala teringat kembali suatu hal yang membuat hatinya gundah. Suatu hal yang mampu membuatnya uring-uringan.
...“Tuhan, kenapa harus ada pertemuan bila nantinya akan terjadi sebuah perpisahan yang mengurai air mata.”...
Cuitan terakhir Laily di sosial media nya itu kembali berputar dibenak Arinta. Entah apa sebabnya hingga cewek itu terdengar sangat sedih seperti itu. Tapi Arinta yakin, hal tersebut paling tidak jauh-jauh dari masalah nya dan Reagan.
Jika benar, maka Arinta akan sangat merasa bersalah. Tidak ada niatnya untuk mengkhianati sahabatnya itu. Ia hanya ingin menghabisi masa sekolahnya dengan tenang. Namun mengapa masa abu-abu nya sangat kacau.
Oh Tuhan, bukan ini yang Arinta inginkan.
"Ini Dek."
Arinta tersentak ketika merasakan tepukan dipundaknya. Lantas cewek itu membuka matanya dan menatap Pria paruh baya yang berdiri dihadapannya.
"Eh, udah ya pak", Arinta mengeluarkan sejumlah uang dari sakunya dan memberikan kepada Pria penjual martabak manis tersebut. Lalu ia mengambil alih bungkus martabak nya.
"Makasih", ujar Arinta sambil tersenyum ramah. Lalu cewek itu menyusuri jalanan dengan sesekali melirik bungkusan martabak yang dijinjing dengan mata yang berbinar. Entah kenapa saat ini ia sangat ingin memakan martabak manis dengan bawang goreng diatasnya. Memikirkannya saja sudah membuat air liur Arinta hampir menetes.
Martabak manis ditambah bawang goreng?, Aneh?. Biarin ia yang makan kok.
Awalnya Saka yang ingin pergi membelikannya. Tetapi Arinta menolak dengan alasan kalau ia ingin pergi jalan-jalan malam. Lagipula penjual martabak tersebut nangkring didepan gang rumahnya. Hal sepele begitu ia tak ingin merepotkan orang lain. Kaki nya masih utuh kok, belum lumpuh.
...***...
Sementara itu dilain tempat, Raka yang sedang menonton pertandingan sepak bola bersama Saka dan Ayah nya mengumpat keras ketika mendengar ketukan di pintu rumahnya.
Hal tersebut tentu saja mendapatkan pelototan tajam dari Saka dan Deri.
"Raka, mulutnya mau Ibu jahit", tegur Sinta yang tengah fokus menyelesaikan pesanan jahitan orang.
Raka cengengesan, "Hehehe maaf Bu, kelepasan."
"Udah cepat sana bukain", Saka mendorong Raka untuk segera membuka pintu. Membuat Cowok itu mengomel-ngomel tak jelas. Namun tak urung tetap berjalan kearah pintu.
Sebelum membuka pintu, Raka terlebih dahulu mengintip dari jendela. Ia takut jika Pak Mulyono yang datang kerumahnya, mengingat jika ia mencuri buah mangga Pria itu tadi pagi.
"Setan?", Raka terkejut sekaligus bersyukur ketika mendapati Reagan yang berdiri didepan rumahnya. Tapi satu hal yang membuatnya bingung, kenapa laki-laki itu mendatangi lagi rumahnya. Apa Reagan sudah diusir keluarganya sampai ia ingin menumpang tidur disini.
"Siapa?", tanya Saka.
"Setan", teriak Raka yang mendapatkan teguran dari Sinta, "Eh, maksudnya Reagan", ralat nya seraya tersenyum bodoh yang membuat Saka ingin sekali memukul wajahnya.
Deri yang mendengar itu lantas memanggil Sinta untuk mengikutinya ke dapur.
"Bukain Yah?", tanya Raka polos.
"Ya bukain lah bodo", Saka yang menjawab dengan nada juteknya.
"Santai dude. Tapi si setan, eh Reagan. Kenapa sih tuh cowok punya nama yang ribet banget", gerutu Raka yang tak dihiraukan Saka, "Dia enggak sendirian", tambahnya menarik atensi Saka.
"Hah?, maksud lo", Saka beranjak menghampiri Raka dan membuka pintu tanpa aba-aba. Sangat penasaran dengan maksud Raka yang tak jelas.
Saka menatap Reagan. Pandangan mereka berdua bertemu. Mengutarakan kebencian melalui tatapan. Lalu sebuah suara bernada halus menginterupsi mereka berdua.
Saka mengalihkan pandangannya kearah wanita paruh baya yang berdiri disamping Reagan. Lalu menatap seorang pria yang berdiri disamping wanita tersebut. Menatap bingung kearah mereka bertiga. Begitu pula dengan Raka yang berdiri disamping Saka.
"Waallaikumussallam", Raka yang menjawab seraya masuk kedalam rumahnya, "Ayah ada tamu", lalu cowok tersebut berteriak yang membuat Saka benar-benar ingin membunuh adik kembarnya tersebut. Raka itu seperti orang yang tidak pernah disekolahkan saja.
"Eum, boleh Tante masuk?", tanya Renata membuat Saka mengangguk dan menyingkir dari hadapan pintu. Mempersilahkan ketiga orang itu untuk masuk kedalam rumahnya.
Kemudian Deri keluar dari dapur bersama Raka dan Sinta yang membawa nampan berisi minuman dan camilan.
"Sinta?", histeris Renata membuat semua orang menatap kearah wanita tersebut.
"Re-renata?", ujar Sinta terbata-bata. Ia tak menyangka jika orang spesial yang dikatakan Deri adalah Renata. Terlebih lagi wanita itu adalah orang tua Reagan. Mengapa dunia terlalu sekecil itu.
"Bu siapa?, kenal?", tanya Raka.
Sinta menoleh, "Hah?", wanita itu tak menjawab. Ia justru berdiri dibelakang Deri. Seperti orang ketakutan, membuat Reagan, Saka dan Raka menatap kebingungan.
"Sinta, ka-kamu dan Leta—"
"Assalamualaikum", Arinta memasuki rumahnya dengan tatapan semua orang yang terarah kepadanya.
"Reagan", gumam Arinta saat melihat Reagan.
"L-leta", Renata berjalan kearah Arinta dan tanpa aba-aba langsung memeluk cewek tersebut. Membuat Arinta mematung. Mencerna, mengapa Renata selalu histeris bila bertemu dengannya.
"Yah?", Arinta menatap Deri yang terdiam melihatnya. Mencoba mencari tahu dari Ayahnya itu apa yang sebenarnya telah terjadi.
"Bunda sama Ayah kenal dengan orang tua Arinta?", tanya Reagan membuat Renata melepaskan pelukannya pada Arinta.
Bunda?, apa wanita itu adalah ibu nya Reagan?.
Deri tertawa pelan membuat semua orang menatapnya aneh. Lalu Ayah dari tiga orang anak tersebut menarik tangan Sinta untuk duduk berdampingan dengannya di sofa. Menggenggam tangan Istrinya yang berkeringat dingin.
"Kamu pikir kalau enggak karena Ayah kamu itu. Apa kamu masih bisa hidup sampai sekarang setelah memperkosa anak saya?", sarkas Deri yang membuat Arinta, Reagan, Raka dan Saka mengernyit heran. Tak paham dengan semua situasi yang terjadi.
"Maksud Om?", tanya Reagan.
Deri tak menggubris. Ia malah mempersilahkan Xavier dan Renata untuk duduk terlebih dahulu. Deri tak ingin dikecam karena tidak memperlakukan tamu nya dengan baik. Lalu diikuti dengan Saka dan Raka. Dan yang terakhir Arinta berdiri dibelakang sofa yang di duduki Deri dan Sinta. Setelah meletakkan martabak miliknya di dapur terlebih dahulu.
"Saya sangat beruntung karena Arinta mempunyai sahabat dan adik yang baik. Sehingga saya tidak harus mengotori tangan saya untuk menghabisi bajingan seperti kamu", sinis Deri membuat Reagan terdiam. Mungkin Deri tidak pernah menyerang nya secara fisik. Namun Pria itu selalu menyerangnya secara verbal. Dan setiap ucapan nya selalu mengena dihati.
"Ayah, apa maksudnya?", tanya Arinta. Ia masih tak paham mengapa Reagan bisa disini bersama dengan kedua orang tua cowok tersebut.
Arinta masih tak menyangka jika Renata adalah istri dari seorang Xavier Emerick Allandra. Pria yang arogan, yang dengan angkuh nya mengklaim Arinta sebagai menantunya.
Sekarang Arinta baru paham mengapa disaat pertemuan pertama mereka. Renata langsung memintanya untuk menjadi menantu. Ternyata wanita itu adalah Ibu dari bajing*n tersebut.
"Dia mau ngelamar kamu Arin", jawab Deri membuat Arinta, Sinta, Raka dan Saka menatap tak percaya kearahnya. Apakah otak Suami dan Ayah mereka itu masih berfungsi?.
"Me-melamar?", Arinta memundurkan langkahnya secara perlahan. Cewek itu hampir saja menabrak sebuah akuarium jika Saka tidak bergerak cepat merangkul Kakak nya.
"Iya, kami mau melamar kamu", Xavier yang sedari tadi diam membuka suaranya yang terkesan datar dan dingin.
Saka melirik sekilas Xavier lalu menatap datar kearah Deri, "Ayah?!, kenapa enggak mendiskusikannya terlebih dulu!", ujar Saka dengan suara yang sedikit meninggi.
"Karena saya Ayah nya", jawab Deri dingin tanpa menoleh kebelakang. Dimana Arinta dan Saka berada.
"Ayah", Arinta menatap tak percaya Deri. Ayah nya telah ingkar janji!.
...~Rilansun🖤....
Sorry kalau ngebosenin. kalau iya, boleh kok di skip aja. Enjoy it gaess💞