
...•••••••••••••...
...Arti dari bertaruh nyawa yang sesungguhnya.....
...•••••••••••••...
...***...
Tak tak tak
Iringan langkah kaki menyahuti memenuhi koridor rumah sakit. Membuat semua pasang mata melirik mengamati ketegangan yang ada.
Reagan menggenggam erat tangan Arinta yang berada di atas brankar rumah sakit. Raut kesakitan terlihat sangat jelas di wajah cantik istrinya. Ingin sekali rasanya Reagan menggantikan posisi Arinta sekarang. Hatinya ikut berdenyut sakit saat melihat air mata yang keluar dari telaga bening itu.
"Yang kuat ya sayang", ujar Reagan dengan mencium punggung tangan Arinta. Memberi semangat kepada bidadari hatinya itu. Yang sebentar lagi akan memberikannya sebuah kebahagiaan yang tiada tandingannya di dunia ini.
"Te-telpon Laily", suruh Arinta dengan suara yang terbata-bata menahan sakit.
Reagan menghela nafas. Dari awal Arinta dibawa ke dalam mobil, hanya kalimat itu terus lah yang keluar dari bibirnya. Cewek itu terus menerus meminta Reagan untuk segera menghubungi sahabatnya itu untuk segera datang. Padahal ada rasa sakit yang sedang dialaminya kini. Bahkan pertaruhan nyawa yang akan dialaminya beberapa jam ke depan.
"Gina udah hubungin Laily", balas Reagan seraya mengelap keringat dingin yang memenuhi wajah Arinta.
"A-aku mau Laily, ah. La-laily harus nemanin a-aku lahiran, ah", Arinta memegangi perutnya yang terasa bergejolak. Pusat tubuhnya tengah menjerit kesakitan.
"Pasti. Sekarang kamu fokus ke diri kamu dan anak kita aja ya. Yang lainnya serahin ke aku", sahut Reagan mencoba menjelaskan bahwa Arinta tidak perlu memikirkan apapun saat ini, selain keselamatannya dan kedua anaknya.
"Te a-amo Reagan", Arinta berujar lirih sebelum tubuhnya digiring masuk ke dalam UGD. Lalu pintu kaca tersebut tertutup rapat. Meninggalkan Reagan yang berdiri kebingungan di depannya.
Calon Ayah itu mengintip dari celah yang ada. Menatap Arinta yang tengah di kelilingi oleh beberapa suster. Entah apa yang dilakukan mereka kepada istrinya, Reagan pun tidak tahu.
"Te amo mucho Arin", gumamnya pelan dengan pandangan yang sayu namun tegas dalam waktu yang sama. Tak tega melihat Arinta yang kesakitan seperti itu.
...***...
Pintu UGD yang terbuka secara tiba-tiba membuat semua orang yang berada disana terkejut dan refleks menghampiri seorang dokter perempuan yang keluar dari dalam.
"Gimana keadaan menantu saya dok?", tanya Renata sarat dengan penuh kekhawatiran yang melingkupi.
"Suami pasien dimana?", Dokter Ayu tidak merespon Renata, ia malah menatap menyeluruh ke semua orang yang ada disana. Mencari sosok suami pasiennya. Namun nihil, batang hidung calon Ayah muda itu sama sekali tidak kelihatan.
"Reagan sedang-"
"Saya disini", ujar Reagan yang sontak membuat semua orang menoleh kearahnya. Ia baru saja selesai mengurus administrasi dan mengisi formulir pasien Arinta.
"Ibuk Arinta-"
"Kenapa dengan Arinta dok?, istrinya saya baik-baik aja kan?", sela Reagan cepat.
Dokter Ayu tersenyum simpul, paham dengan kekhawatiran Reagan.
"Mari masuk, istri kamu lagi nungguin di dalam", ujar Dokter Ayu mempersilahkan Reagan untuk masuk. Mendengar itu Reagan lantas langsung menerobos masuk. Tidak menghiraukan teguran Xavier. Kini dibenaknya hanya ada satu, keselamatan Arinta dan anak-anaknya.
Dengan sedikit berlari Reagan menghampiri Arinta yang berbaring di atas brankar.
"Arin", Reagan memanggil pelan Arinta yang tampak memejamkan mata.
Kemudian netra hitam itu terbuka dengan perlahan. Menatap lemah suaminya yang berdiri sangat dekat dengannya. Arinta tersenyum menenangkan, seolah mengisyaratkan kalau dirinya baik-baik saja.
"Ibuk Arinta ini memang wanita yang sangat kuat. Ibu sejati yang sesungguhnya. Dalam kebanyakan kasus seperti ini pasti Ibu nya sudah pingsan tak sadarkan diri", ujar Dokter Ayu menginterupsi.
Reagan menyetujui ucapan dokter tersebut. Arinta nya memang sangat tangguh dan kuat. Padahal sudah banyak darah yang mengalir keluar, tapi cewek itu tetap bertahan tanpa mengeluarkan kata sakit sedikit pun.
"Lalu sekarang gak bisa langsung melahirkan dok?", tanya Reagan penasaran. Entah apa yang ditunggu oleh dokter itu, padahal istrinya sudah kelihatan sangat kesakitan.
"Kami mau melakukan operasi, tapi tadi Mama nya tetap kekeuh normal dan siap menerima semua konsekuensinya nanti", Dokter Ayu tersenyum kearah Arinta. Menatap bangga perempuan belia yang ada diatas brankar itu.
Reagan lantas menatap tajam Arinta. Ia tau kalau istrinya itu wanita yang tangguh, tapi kalau ditunda-tunda dan anaknya kenapa-kenapa bagaimana. Dan apa tadi?, menerima konsekuensi?, Reagan tidak akan membiarkan apapun terjadi pada Arinta dan anak-anaknya.
"Kalau kamu gak kuat jangan dipaksakan Rin", Reagan mengelus lembut kepala Arinta. Mencoba menjelaskan kepada cewek yang keras kepala itu.
Arinta tersenyum, "Enggak apa-apa. Aku baik-baik aja kok", lirihnya membuat hati Reagan serasa ikut teriris. Senyuman tak berdaya itu seolah menampar pipinya. Reagan merasa tak bisa menjadi suami yang berguna.
"Tapi aku gak tega lihat kamu kayak gini. Operasi aja ya sayang", ujar Reagan sekali lagi coba mengubah pilihan Arinta itu.
"Dapat melahirkan itu bagai anugerah bagi setiap wanita Reagan. Aku ingin merasakan sakitnya karena melahirkan anak kita. Aku ingin merasakan apa yang dinamakan dengan bertaruh nyawa yang sesungguhnya. Mungkin aja ini kesempatan terakhir aku untuk dapat melahirkan", sahut Arinta dengan nafas yang tersengal-sengal. Sesekali matanya terpejam saat gelombang kesakitan itu muncul.
"Ngomong apa sih kamu", Reagan mengecup kelopak mata Arinta, "Aku yakin kamu mampu. Aku disini bakal nemanin kamu buat berperang."
Arinta terkekeh, "Sok", cibirnya.
Reagan mendengus namun tak urung ikut tersenyum. Jika saja Arinta dapat tersenyum lebar, lalu kenapa ia harus takut. Reagan sepenuhnya percaya dengan istrinya. Arinta pasti bisa melalui ini semua dengan selamat.
"Sudah sampai bukaan tujuh", beritahu dokter Ayu. Sebenarnya Arinta kaget saat mengetahui jika ia sudah mencapai bukaan kelima saat sampai ke rumah sakit. Lalu dokter Ayu mengatakan kalau Arinta mungkin saja tidak sadar jika ia sudah memasuki pembukaan dari rumah. Dan Arinta baru menyadarinya saat dari pagi hari tadi perutnya memang sedikit sakit, tetapi sakitnya hanya sebentar-sebentar. Jadi Arinta menganggap sepele hal tersebut.
"Aku sholat dulu ya Rin", ujarnya yang dibalas anggukan oleh Arinta, "Anak Papi jangan lahir dulu ya, tungguin Papi ya sayang", Reagan mengelus dan mencium perut buncit Arinta.
"Jangan lupa hubungi Laily", peringat Arinta.
Reagan mengangguk singkat dan mencium lama kening Arinta sebelum beranjak pergi dari ruangan tersebut. Melangkahkan kakinya menuju musholla yang ada didalam rumah sakit. Meminta kepada Allah agar memudahkan proses lahiran istrinya.
...***...
Reagan keluar dari musholla setelah menyelesaikan urusannya dengan Tuhan. Reagan sadar ia bukanlah umat yang sempurna, terkadang sholat masih bolong-bolong. Berdoa pun bisa dihitung dengan jari. Karena selama hidupnya, Reagan merasa tidak ada yang kurang. Namun kali ini Reagan berdoa dengan sungguh-sungguh, meminta keselamatan untuk istri dan kedua anaknya.
Semoga saja Tuhan mendengarkan keluh kesahnya.
Reagan merogoh saku celananya. Mengambil ponselnya yang bergetar. Lalu cowok itu mendekatkan benda tersebut ke telinganya setelah melihat nama si pemanggil.
"Hallo, Bun", sapa Reagan sambil berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang tampak sepi.
"Cepat balik, Arinta udah mau melahirkan. Dari tadi-"
Klik.
Reagan mematikan sepihak panggilan tersebut. Memotong ucapan Bunda nya. Mendengar Arinta akan melahirkan membuat Reagan bergegas berlari menuju ruangan Arinta. Setelah mengetahui Arinta memilih melahirkan secara normal. Reagan langsung meminta untuk memberikan Arinta sebuah kamar dengan sistem all-in-one. Sebagai tempat Arinta melahirkan dan menerima perawatan pasca persalinan. Dan kamar tersebut tentu saja lengkap dengan fasilitasnya.
"Reagan", Riko berceletuk saat melihat sahabatnya itu yang berlari membuat semua pasang mata tertuju kearah Reagan.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi Reagan langsung menerobos masuk kedalam ruangan.
"Reagan", Arinta mengulurkan tangannya yang langsung disambut oleh Reagan.
"Jangan takut sayang", gumam Reagan seraya mencium beberapa kali punggung tangan Arinta.
"Sakit?", tanya Reagan polos sambil mengelap peluh yang ada di kening Arinta. Tangannya memerah karena kuku Arinta yang menekan kulitnya. Bahkan sedikit berdarah. Tapi Reagan yakin kalau sakit yang dialami Arinta saat ini pasti sangat luar biasa dahsyatnya.
Di tengah-tengah perjuangannya, Arinta mengangguk.
"Maaf Rin", gumam Reagan lirih. Jantungnya merasa berdetak kencang saat melihat Arinta yang menjerit kesakitan. Air mata yang keluar seiring erangan panjang. Sungguh, Reagan menjadi menyesal karena sudah membuat cewek itu hamil.
"A-aku bisa", ujar Arinta dengan nafas yang terputus-putus. Mencoba menghibur Reagan yang tampak lebih takut daripada dirinya.
"Ya, kamu bisa", Reagan sempat-sempatnya mengecup singkat bibir merah Arinta yang tampak merekah.
Brak
Semua orang seketika menoleh kearah pintu yang baru saja dibuka dengan kasar. Kecuali dokter Ayu yang seakan menulikan telinganya pada sekitar.
"Arinta!", Laily berteriak panik dan berjalan menghampiri sahabatnya itu. Tak memperdulikan suster dan Reagan yang menatap dirinya. Sebenarnya Laily memang berniat pulang hari ini setelah mendapatkan kabar kalau Arinta akan melahirkan dalam waktu dekat. Tapi siapa sangka, baru saja pesawatnya selesai landas ponsel Laily langsung dihantui oleh spam telpon dari Gina. Cewek itu memberitahunya kalau Arinta akan melahirkan hari ini juga. Jadi Laily tergesa-gesa menuju ke rumah sakit, bahkan kopernya berdiri di luar pintu rawat Arinta. Tak sempat untuk mencari hotel maupun singgah ke rumah Gina.
"Laily", Arinta menggenggam tangan Laily.
"Lo kuat Rin, gue udah menuhin janji gue. Lo dan baby harus selamat titik gak pakai penawaran", cerocos Laily dengan bawel membuat bibir Arinta terangkat sedikit.
"Ka-kamu nemenin aku", lirih Arinta gagap membuat Laily lantas mengangguk cepat.
"Ayo, tarikk nafasnya, mulai!", dokter Ayu mengintruksi.
"Ahhhhhhh!. Ya Allah!", Arinta merasa tulang-tulang nya seakan ingin copot dari tubuhnya. Bahkan sakitnya sampai ke ubun-ubun. Inikah yang dinamakan dengan nikmatnya melahirkan?. Jika benar, maka Arinta akan mengucapkan syukur karena Tuhan telah memberikannya nikmat yang tiada tara ini.
"Kamu bisa sayang, sebentar lagi", Reagan mengecup kening Arinta berkali-kali. Berarti begini lah perjuangan Renata waktu melahirkannya. Kesakitan, air mata serta darah. Wanita itu keluarkan hanya untuk seonggok daging seperti dirinya. Tak mempedulikan nyawanya untuk manusia yang entah berbalas budi atau tidak nantinya. Reagan merasa berdosa karena sudah sering berdebat dengan Bunda nya.
"Satu...dua...tiga..."
"Ahhhhhh!", dengan masing-masing tangannya yang digenggam oleh Reagan dan Laily, Arinta lantas mengejan dengan sekuat tenaga. Merasakan kejanggalan yang ada di pusat inti tubuhnya, sebelum dokter Ayu menarik dan membuat semua orang yang ada disana menghela nafas lega. Mendengar suara tangis bayi yang nyaring memenuhi ruangan.
"Alhamdulillah, kamu hebat Rin, makasih banyak sayang", ujar Reagan mengucap syukur dan menciumi seluruh permukaan wajah Arinta.
Namun tak berselang lama, wajah Arinta kembali menampilkan raut kesakitan. Merasakan kembali gejolak kesakitan itu. Berjuang sekali lagi untuk anaknya yang terakhir. Keringat dan air mata bercampur menjadi satu. Kesakitan yang berubah menjadi rasa senang melingkupi Arinta setelah mendengar suara tangis anak keduanya. Merasa bebannya hilang saat telinganya mendengar suara tangisan yang bersaut-sautan satu sama lain.
"Alhamdulillah. Selamat, anaknya laki-laki dan perempuan", ujar dokter Ayu membuat Reagan tak henti-hentinya bersyukur. Tuhan memberinya dua sekaligus, dan itu pun sepasang. Benar-benar hadiah yang terindah.
"Lo benar-benar hebat Rin, gue bangga punya sahabat kayak lo. Tetap semangat, gue selalu ada di sisi lo", tangis Laily pecah setelah melihat perjuangan Arinta. Lalu cewek itu memeluk Arinta dari samping dengan mulut yang tak henti-hentinya memuji Arinta.
"Makasih udah mau datang", ujar Arinta parau yang dibalas anggukan kepala.
Kemudian bayi berjenis kelamin perempuan itu diletakkan keatas dada Arinta yang kelelahan. Air matanya jatuh saat melihat wajah anaknya yang masih merah. Matanya yang kecil, mulut yang mungil. Apakah itu anugerah Tuhan yang telah mendiami rahimnya selama sembilan bulan ini.
Melihat kedua malaikat kecilnya baik-baik saja membuat Arinta merasa kalau rasa sakitnya sudah terbalaskan. Jika saja ini kesempatan terakhirnya untuk hamil dan melahirkan, maka Arinta akan sangat berterima kasih pada Tuhan, sebab telah mengizinkannya untuk merasakannya.
"Rin, anak kita ganteng mirip aku", ujar Reagan setelah selesai meng-adzankan putra nya. Lalu ia menoleh ingin menatap istrinya itu. Tapi mata Reagan dibuat terbelalak saat melihat mata Arinta yang terpejam.
"Arin!, sayang!", Reagan menepuk pelan pipi Arinta setelah menyuruh para suster untuk mengambil alih anaknya.
"Rinta, bangun!. Jangan buat gue takut", Laily mengguncang pelan tangan Arinta. Ia tidak sadar jika mata Arinta telah terpejam, sebab fokusnya yang hanya terarah pada keponakan perempuannya itu.
"Dok, istri saya."
Dokter Ayu tampak mendekat kearah Arinta. Memeriksa denyut nadinya dan detak jantungnya.
"Sepertinya Ibuk Arinta kelelahan dan ditambah dengan banyaknya pendarahan yang terjadi selama proses lahiran. Dan umurnya yang juga masih sangat belia. Inilah konsekuensi yang saya bilang tadi", ujar Dokter Ayu seraya menyuruh suster untuk mengambil alat pacu jantung karena detak jantung Arinta yang melemah.
Reagan mundur selangkah. Menatap dada Arinta yang naik turun, seirama dengan gerakan tangan dokter Ayu pada alat pacu jantung.
"Arin, jangan buat aku gila", gumamnya dengan air mata yang jatuh setitik. Reagan seperti tersambar petir saat melihat mata Arinta yang terpejam tadinya. Sebagian dirinya seakan ikut hilang. Ia bingung, linglung. Suara tangisan bayi yang bercampur dengan suara alat-alat yang ada disana mengisi pendengarannya.
Satu kata untuk dirinya saat ini, kosong.
...~Rilansun🖤....
Huwaaa gak tau itu nulis apa, beneran. Intinya Arinta ngelahirin udah itu aja😭😭🤧. Harap maklum baru aja legal dua hari yang lalu:v
Dua or tiga hr ini maybe gk akn up, sbb mau crazy up ALSYA, tp ttp tungguin Brittle ya🤗😭
Bunda, jangan pergi😭