Brittle

Brittle
Dilamar



...••••••••••••••...


...Enggak akan ada yang namanya cinta. Kalau pada dasarnya tanah yang ditanami tidaklah subur.........


...••••••••••••••...


...***...


"Bye bye Arinta."


Arinta tersenyum dan membalas lambaian tangan Laily. Setelah memutuskan panggilan video tersebut Arinta lantas menutup laptop nya. Dengan senyuman sumringah cewek itu bangkit dari meja belajar nya.


Puas, Arinta sangat puas setelah kembali melepas rindunya. Sebenarnya Arinta masih tidak menyangka jika dirinya dan Laily sudah kembali akur seperti dulu. Benar kata orang, nikmati saja alurnya karena Tuhan itu tidak tidur. Sebab Tuhan adalah sutradara yang terbaik.


Ceklek


Arinta membuka pintu kamarnya dan mendapati Raka yang berdiri dihadapan nya dengan sebelah tangan yang menggantung.


"Kenapa?, mau ngetuk kepala kakak?", tanya Arinta dengan tangan yang bersidekap di dada.


Raka menyengir dan menurunkan tangan nya, "Mana ada", jawabnya sambil mencium kening Arinta.


"Udah ah sana. Kakak laper", Arinta menyingkirkan tubuh Raka yang menghalangi jalannya.


"Eh jangan, jangan", Raka merentangkan kedua tangannya.


"Kenapa?", tanya Arinta bingung.


"Kakak didalam kamar aja."


"Kenapa?, ih kamu marah ya kalau kakak makan nya banyak", Arinta mencebikkan bibirnya bersiap untuk menangis.


Raka dibuat gelagapan ketika nelihat mata Arinta yang berkaca-kaca. Mengapa bumil satu itu sangat sensitif.


"Enggak kok, enggak marah. Kalau kakak minta segerobak bakso pun siap aku beliin", ujar Raka mendramatisir.


"Emang punya duit?."


Raka menggeleng seraya menyengir, "Enggak."


Arinta mendengus dan menghapus setitik air matanya yang terjatuh. Entahlah mengapa ia sangat sentimental.


"Awas Raka", Arinta mencoba menyingkirkan Raka, tapi lagi-lagi cowok itu menghalangi nya.


"Kenapa sih?, kakak udah laper nih", gerutu Arinta kesal. Pasalnya cacing-cacing yang ada di perutnya sudah demo minta makan.


"Duh kakak didalam aja bentar", Raka menggaruk belakang kepalanya bingung.


"Kamu kenapa sih Raka?", tanya Arinta melihat gelagat Raka yang aneh.


"Itu-"


"Itu apa?!."


"Itu-"


"Si Albert Einstein mau ngelamar katanya", sahut Saka sambil melewati mereka berdua.


Arinta membelalakkan matanya seraya menatap cengo Saka yang telah memasuki dapur. Lalu ia beralih menatap Raka yang lagi-lagi menyengir menyebalkan.


"A-apa maksudnya Raka?", tanya Arinta terbata-bata. Ia masih berusaha mencerna semua ucapan Saka barusan.


"I-itu, didepan Albert datang sama orang tuanya", jawab Raka kikuk.


"Albert anak nya Pak Mulyono?", tanya Arinta memastikan. Sebab Albert yang dibilang tersebut adalah seorang duda beranak satu. Bukan apa-apa, tapi masa iya diumur belia seperti ini Arinta harus mengasuh dua orang anak nantinya. Menerima si kecil yang didalam perut saja ia belum bisa. Apalagi ditambah dengan anak orang lain.


Raka mengangguk, "Iya."


Arinta memandang lekat mata Raka, mencoba mencari kebohongan disana. Tapi nihil, sepertinya adiknya itu memang mengatakan yang sebenarnya. Lalu Arinta mendorong tubuh Raka yang menghalangi jalannya. Cewek itu menghampiri Deri dan Sinta yang hanya berdiri menatap pintu yang terus diketuk dari luar.


"Kenapa enggak dibuka?", tanya Arinta sambil berbisik.


"Emang kamu mau?", tanya Sinta to the point.


Arinta refleks menggeleng. Kemudian ia mengintip dari celah jendela. Matanya melotot saat melihat ramai nya orang didepan pintu rumah. Lalu Arinta menoleh kearah Deri yang menatapnya. Seakan tahu jika Arinta sedang menuduh dirinya, Deri lantas mengangkat kedua bahunya. Menandakan jika dirinya juga tidak tahu apa-apa.


Kemudian Arinta kembali berjalan memasuki kamarnya. Saat membuka pintu ia mendapati Raka yang tengah duduk diatas kasurnya sambil memakan camilan.


"Kok dia tiba-tiba datang melamar", Arinta mengambil camilan tersebut dari tangan Raka dan duduk dikursi dekat meja belajarnya.


"Enggak tau, mungkin karena dia tau bentar lagi kakak bakal lulus, enggak mau keduluan orang lain jadi dia cepat-cepat datang kesini", sahut Raka. Sebab ia tahu jika Albert sudah menyukai Arinta dari kakak nya itu masih duduk di bangku SMP. Cowok itu pun menikah karena suatu kecelakaan. Maka nya Raka sangat tidak setuju jika Arinta menikah dengan Albert. Jangan sampai ya Tuhan.


"Udah keduluan orang lain kali", gumam Arinta mengingat jika Reagan lebih dulu yang melamar nya. Kemudian Arinta menoleh kearah Raka, ketika merasa kamarnya sangat hening. Pantas saja telinga Arinta tidak mendengar celotehan Raka, sebab orang nya aja udah molor.


Arinta menggelengkan kepalanya takjub, Raka itu kena bantal sedikit aja bawaan nya pasti mau tidur. Dasar kebo.


Drrt drrt


Arinta terkesiap ketika mendengar suara dering telepon. Lalu ia menoleh kearah ponselnya yang berada diatas nakas. Arinta mengambilnya dan melihat nama si penelpon.


Arinta mengernyitkan dahinya ketika melihat nama kontak tersebut.


"My future?, siapa?", monolog Arinta saat merasa dirinya tidak pernah menamai kontak orang lain dengan nama alay seperti itu.


Dengan ragu-ragu Arinta meletakkan ponselnya ke telinga. Ia takut jika itu adalah orang iseng yang mencoba menipu nya.


"Ha-halo?."


"Arin!, awas aja kamu nekat terima lamaran dia. Aku bakal nyulik kamu, terus aku bawa kabur keluar negeri."


Arinta menjauhkan ponselnya dari telinga ketika mendengar suara seseorang yang terdengar sangat marah diseberang sana. Tapi tunggu, sepertinya Arinta mengenal suara berat tersebut.


Arinta membelalakkan matanya ketika sudah tau siapa orang yang menelpon nya. Reagan. Pasti cowok itu jugalah yang mengatur kontak nama nya diponsel Arinta. Reagan juga pernah membuat Arinta kaget saat mendapati foto selfie cowok tersebut digaleri ponselnya.


"Siapa yang kasih tau kamu?", tanya Arinta.


"Kenapa?, kalau enggak Raka yang kasih tau aku, mungkin kamu terima lamaran dia kan?", tuding Reagan dengan amarah yang meledak-ledak.


Arinta menatap tajam Raka yang tengah tertidur pulas diatas kasur. Sejak kapan adik nya itu bisa dekat dengan Reagan. Padahal setahunya twins sangat memusuhi Reagan.


"Tau enggak nya kamu, enggak ada sangkut pautnya dengan keputusan aku. Kalau aku mau menerima dia, apa hak kamu buat larang aku?!"


"Kamu nantang aku Arin?", tanya Reagan seraya terkekeh pelan. Membuat Arinta merinding, mengapa suasana nya seperti di film-film psycho yang sering ditonton Saka.


"Ka-kalau iya gimana?."


"Oke, kalau kamu terima dia, besok pagi aku pastiin kalau kamu udah enggak ada di Indonesia lagi. Ingat Arin, kamu dan anak kita hanya milik aku. Only mine", ancam Reagan yang terdengar sangat mengerikan ditelinga Arinta.


"Ka-kamu mau bunuh aku?, hiks, jahat kamu Reagan. Aku laporin Ayah nih", ujar Arinta yang tiba-tiba menangis.


"Eh kok nangis?, aku cuma canda say-, eh jangan ngadu ke Ayah kamu dong", sahut Reagan gelagapan. Kalau calon Ayah mertua nya tidak mau menerima dirinya lagi bagaimana. Alamat enggak jadi nikah kalau gitu.


"Ka-kamu jahat. Hiks, pacar bukan, suami bukan, tapi posesif nya minta ampun. Belum jadi apa-apa aja kamu udah berani ngancam aku. Gimana nanti kalau jadi suami aku, mungkin kamu bakal bunuh aku. Hiks, aku enggak mau nikah sama kamu Reagan!", cerocos Arinta panjang lebar dengan sambil sesegukkan.


Diseberang sana Reagan tertegun, apakah ia terlalu berlebihan tadi.


"Maaf, aku enggak ada niat buat kamu takut. Justru disini aku yang takut Rin, aku takut kamu direbut sama cowok lain. Entah mengapa, aku takut kehilangan. Aku takut Rin", ujar Reagan datar tapi terselip nada khawatir disana. Dan itu sukses membuat Arinta berhenti menangis.


"Ke-kenapa kamu takut kehilangan aku. Kita baru kenal beberapa bulan. Dan itu tanpa disengaja. Apa yang membuat kamu takut sampai kayak gitu."


Tidak ada sahutan dari seberang, hanya terdengar helaan napas panjang sebelum Reagan berujar, "Aku takut tanggung jawab yang seharusnya milik aku, tapi direnggut sama orang lain. Aku enggak mau hidup dalam bayang-bayang rasa bersalah."


Arinta menaikkan sebelah sudut bibirnya, "Kalau pun kita nikah suatu saat nanti. Bukankah kehidupan kita tetap bakal dihantui sama rasa bersalah. Kamu merasa bersalah karena udah nodai aku. Dan aku merasa bersalah karena enggak bisa jaga diri", enggak akan ada yang namanya cinta. Kalau pada dasarnya tanah yang ditanami tidaklah subur. lanjut Arinta dalam hati.


"Pada awalnya pertemuan kita memang sebuah kesalahan Reagan", gumam Arinta lalu menutup sepihak panggilan tersebut.


Melempar asal ponselnya diatas kasur, tidak mempedulikan jika hal itu bisa membangunkan Raka.


Arinta berdiri didekat jendelanya yang dibiarkan terbuka. Menatap langit malam yang sangat indah diatas sana. Taburan jutaan bintang dan cahaya bulan yang sangat terang menemani sang malam. Dari dulu Arinta memang sangat menyukai malam. Dan pilihan nya itu tidaklah salah. Ada dan tidak adanya bintang yang menemani langit malam, tidak membuatnya menjadi buruk. Bagi Arinta, satu bulan saja sudah cukup jika itu mampu menerangi. Bukankah terlalu berlebihan itu tidak baik.


"Dari dulu aku memang tidak pernah menyukai sesuatu yang disukai oleh banyak orang. Seperti hal nya kamu Reagan, kamu itu terlalu terang untuk aku yang gelap", gumam Arinta.


...~Rilansun🖤....



Arinta Zarvisya Deltava