
...••••••••••••••••...
...Sedetik aja, coba ngertiin posisi gue......
...•••••••••••••••...
...***...
Kerlap kerlip lampu dan hingar bingar musik yang memekakkan telinga terdengar memenuhi club malam tersebut. Cewek-cewek dengan pakaian terbuka berlalu-lalang kesana kemari. Ditambah dengan yang meliuk-liukan badannya disebuah tiang dan mengenakan pakaian yang sangat minim. Benar-benar suatu ujian penggugah iman.
Jika orang-orang pergi kesana untuk mencari kesenangan duniawi. Beda halnya dengan Reagan, cowok itu datang ketempat seperti itu untuk melampiaskan amarahnya. Tidak ada yang menemaninya, sebab tidak ada yang mengetahui jika ia pergi ke club malam.
Reagan kembali menghabisi segelas wine yang ada dihadapannya. Itu adalah gelas ke-lima sejak ia datang. Untung saja ia masih bisa mentoleransi nya, jika tidak mungkin ia sudah teler seperti Riko yang minum dua gelas langsung terkapar tak sadarkan diri.
"Sialan", umpatnya seraya meletakkan kasar gelas tersebut. Pikirannya kembali melalang buana ke kejadian hari ini. Dimana Ardean yang tetap kekeuh mendekati Arinta, tanpa menghiraukan peringatannya. Satu kalimat yang Ardean ucapkan sangat menggangu pikirannya hingga detik ini. Bahkan lima gelas wine pun tidak mampu membuatnya melupakan hal tersebut.
"Kalau lo enggak mampu membuat keputusan. Biarin Arinta yang buat keputusan, gue atau lo yang pantas jadi Ayah untuk anaknya"
"Bangs*t lo Ardean!, sama bekas teman aja masih mau. Emang enggak laku lo!", Reagan kembali menegak segelas wine yang ia minta dari bartender. Awalnya bartender pria itu ragu-ragu memberikannya, melihat jika Reagan sudah menghabiskan lima gelas. Namun bukan Reagan nama nya jika tidak bisa merampas secara paksa.
"SIALAN!", umpat Reagan dengan keras sampai membuat urat lehernya tercetak dengan jelas. Lalu cowok itu menjatuhkan kepalanya dimeja. Menutup matanya seraya meracau, "Kenapa sih?, kenapa selalu gue yang disalahin. Gue juga sakit, cinta yang hilang dan akhirnya kembali harus kembali hilang untuk selamanya. Gue capek, gue tau gue salah. Tapi sedetik aja, tolong duduk disamping gue. Sedetik aja, jangan caci maki gue, dengerin semua keluh kesah gue. Sedetik aja ngertiin posisi gue."
Tanpa sadar setitik air mata Reagan turun. Walaupun tidak banyak, tapi itu sudah cukup untuk membuktikan bahwa saat ini ia juga sangat rapuh. Merasa tengah berada dititik terlemah didalam hidupnya tanpa ada satupun penopang.
Reagan menegakkan badannya yang tak seimbang. Lalu dengan keras ia kembali mengumpat seraya menunjuk salah satu wajah bartender yang berada didepannya.
"SEMUANYA BAJING*N!"
"Hai tampan", Reagan menoleh kearah seorang wanita cantik yang menyapa nya barusan. Wanita dengan pakaian yang sangat terbuka.
"Sendirian aja", wanita tersebut mencolek dagu Reagan namun cowok itu langsung menepisnya dengan pelan.
"Teman gue mati dimakan drakula", jawab Reagan asal seraya kembali menegak wine miliknya.
Wanita yang tampak berumur lima tahun lebih tua dari Reagan itu lantas tertawa pelan. Mendekat kearah cowok itu dan mengelus garis rahang Reagan dengan gerakan yang sensual. Berbisik manja seraya meniup telinga cowok yang telah mabuk tersebut, "Mau aku temanin enggak?."
Reagan menatap wanita itu dengan pandangan yang memburam. Menilai dari bawah sampai atas. Belum sempat menjawab, Reagan merasa perutnya bergejolak. Tanpa diduga cowok itu malah memuntahkan segala isi perutnya kearah wanita yang duduk disampingnya. Mengenai pundak atasnya yang terbuka.
"Brengs*k", wanita itupun berdiri sambil membersihkan pundaknya dengan jijik. Menatap murka Reagan yang juga tengah menatapnya dengan sayu.
"Lo–"
Reagan berdiri dan mendorong wanita tersebut untuk kembali duduk. Mengikis jarak antara dirinya dengan wanita yang berpakaian seksi tersebut. Membuat sang wanita bingung sekaligus takut, takut jika cowok yang mengukungnya itu kembali muntah.
"Dengerin gue", Reagan mengangkat dagu wanita itu dengan jari telunjuknya, "Gue bukan bajing*n yang biasa lo layani. Gue jijik disentuh sama cewek yang udah dipakai berkali-kali. Padahal lo itu cewek, masa mau dihargai sama sejumlah rupiah. Murahan lo", ketus Reagan membuat wanita itu terbungkam seribu bahasa. Lalu dengan langkah yang gontai, Reagan berjalan keluar dari club setelah membayar minuman yang telah ditegaknya tadi.
Setelah sampai didepan club. Reagan terjatuh duduk didepan pintu. Walaupun ia dalam keadaan setengah sadar. Tapi bermain wanita di tempat seperti ini adalah hal yang sangat menjijikkan. Cukup sekali ia merusak perempuan. Tidak ada untuk kedua dan ketiga kalinya. Sebab Renata mengajarkan nya untuk selalu menjaga dan menghormati perempuan. Tidak peduli siapapun itu. Tapi untuk wanita yang seperti tadi, bagaimana bisa dia dihormati oleh orang lain. Jika dia sendiri saja tidak bisa menghormati dirinya sendiri.
"Woi", panggil Reagan kepada seorang cowok yang melewatinya. Orang tersebut berhenti dan menatap kearah Reagan.
"Ah, Bang Reagan", cowok tersebut mendekati Reagan dan membantu kakak kelasnya itu untuk bangkit, "Sendirian Bang?."
Reagan mengangguk, "Anterin gue pulang", titahnya tiba-tiba yang dibalas anggukan siap oleh adik kelasnya tersebut. Untung saja ada orang yang mengenalnya. Jika tidak, berarti ia harus menghabiskan satu malam ini didepan pintu club. Berkendara disaat mabuk itu sangat membahayakan. Tidak hanya membahayakan diri sendiri, namun juga membahayakan orang lain. Dan Reagan tidak lagi ingin membuat dosa.
Mungkin gunung Sinabung kalah tinggi nya daripada gunung dosa yang telah dibuatnya. Dan Reagan menyadari itu.
...***...
"Thanks", Reagan membuka pintu mobil dan berniat untuk turun. Namun cowok disampingnya itu lebih dulu menginterupsi.
"Loh, udah pindah rumah Bang?", tanya adik kelasnya yang diketahui bernama Gaza tersebut. Sebab ia pernah pergi kerumah kakak kelasnya itu ketika Reagan mengadakan acara ulang tahun. Dan yang Gaza tahu rumahnya bukan itu. Bahkan pos satpamnya saja lebih besar daripada rumah yang ada dihadapannya sekarang.
Reagan mengangguk sekilas dan turun dari mobil. Setelah Gaza mengklakson satu kali, mobil cowok itu segera melesat pergi meninggalkan Reagan yang berdiri sendiri didepan sebuah rumah minimalis.
Lalu Reagan membuka pagar yang hanya sebatas pinggangnya itu. Memasuki pekarangan rumah tersebut dengan langkah yang tak teratur. Kemudian cowok itu mengetuk tak sabar pintu rumah tersebut. Tak memperdulikan pukul berapa sekarang.
Tok tok tok
...***...
Raka yang baru saja ingin meminum segelas air. Lantas mengumpat tatkala mendengar pintu rumahnya yang digedor dengan kuat dari luar.
"Setan?", Raka membelalakkan matanya ketika melihat orang yang berdiri didepan pintu rumahnya itu adalah orang yang telah membuat hidup Kakak tersayangnya muram.
Kemudian tanpa menunggu lama, Raka langsung membuka pintu sehingga membuat Reagan yang bersandar disana terjatuh. Untung saja Raka masih berbaik hati mau menompangnya.
"Kenapa lo kesini malam-malam bangs*t", Raka menggertakkan giginya. Menahan kekesalan ketika melihat wajah cowok itu, ditambah dengan diketahuinya kalau Reagan saat ini tengah mabuk. Membuat jiwa psycopath Raka meronta-ronta. Ingin menghabisi cowok itu dengan aroma kaos kakinya.
"Gue rindu anak gue", lirih Reagan sembari memejamkan matanya dipundak Raka.
Raka tertegun, apa ucapan Reagan itu benar adanya. Namun sedetik kemudian, Raka mendorong tubuh Reagan. Sehingga cowok itu terjatuh duduk dilantai.
"Tungguin anak lo datang sampai kiamat sana", tanpa rasa kasihan Raka kembali menutup pintu dengan keras.
"Kamu kenapa malam-malam berisik?, mau diusir tetangga?", Deri keluar bersama Sinta dan diikuti oleh Saka dan Arinta dari kamar masing-masing.
"Eh itu anu, Yah. Tadi ada kucing mabuk yang mau masuk", alibi Raka
"Kucing mabuk?, ngaco kamu ah", Sinta menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Hah?, mak-maksudnya kucing gila. Iya, kucing gila. Habisnya ngeong-ngeong terus, kan berisik", Raka memukul-mukul pintu rumahnya. Agar suara Reagan yang masih meminta bertemu anaknya itu tidak terdengar oleh keluarganya. Terutama Arinta.
Kenapa enggak bisa diam sih lo setan, umpat Raka untuk Reagan didalam hatinya.
"Terus kamu kenapa gedor-gedor pintu gitu. Berisik tau enggak sih Rak", sungut Arinta yang dibalas Raka dengan cengiran bodoh andalannya. Membuat Arinta memutar bola mata, jengah.
"Awas lo", Saka menyingkirkan Raka dari pintu. Kemudian cowok itu membuka pintu yang langsung membuat Deri, Sinta dan Arinta terbelalak terkejut. Saka merasa gelagat Raka itu aneh dan juga untung saja ia mempunyai telinga yang nyaring. Sehingga ia bisa mendengar jika ada seseorang didepan pintu rumahnya. Dan benar saja.
Arinta menutup mulutnya tak percaya, "Reagan?", cicitnya pelan menatap cowok yang tengah terkulai lemah duduk didepan pintu rumahnya itu. Seperti gelandangan, tidak mencerminkan dirinya yang merupakan anak orang kaya.
"Kamu kenapa kesini?", Deri bertanya kepada Reagan yang berusaha bangkit.
"Saya mau ketemu anak saya Om", jawab Reagan membuat semuanya terdiam.
Namun satu pukulan dari Saka melayang menghantam wajah Reagan. Sehingga cowok itu kembali tersungkur ke lantai.
Bugh
"SAKA!", teriak Arinta.
Saka mendekati Reagan. Sedikit membungkuk menyamakan posisi wajah mereka.
"Anak lo udah enggak ada disaat lo ninggalin Kakak gue!", bisik Saka sambil tersenyum miring.
"Bohong!, gue enggak pernah ninggalin anak gue!", Reagan mendorong wajah Saka dan berusaha bangkit. Lalu tatapan cowok itu jatuh kearah cewek yang berdiri menatapnya dengan mengenakan setelan baju tidur.
"Arin", panggil Reagan lirih. Arinta tersentak melihat ekspresi tak berdaya Reagan. Lalu sedetik kemudian cewek itu memalingkan wajahnya ke samping. Reagan memang pantas jika mendaftarkan diri menjadi seorang aktor.
"Pergi lo sana!", usir Raka sambil mendorong tubuh besar Reagan.
"Berhenti Raka!", Deri menginterupsi setelah lama terdiam.
"Ayah kita harus antar dia pulang", ujar Raka.
"Emang kamu tau rumahnya?", tanya Deri membuat Raka terdiam.
"Kak Rin", Raka berusaha mencari informasi dari Arinta. Namun Kakak nya itu malah menggelengkan kepala. Membuat Raka mendengus frustasi.
"Terus sekarang gimana?."
"Tanya Kakak kamu lah. Boleh enggak dia masuk", Deri menoleh menatap Arinta.
"Ayah!", Saka merasa tak terima dengan ucapan Deri. Sebab ia tahu betul bagaimana watak Kakak nya tersebut. Rasa kepedulian Arinta itu sangat tinggi walau sudah disakiti berkali-kali. Dan Saka yakin Kakak nya itu tidak tega membiarkan Reagan terus berada didepan rumah.
"Arin", Deri tak menggubris protes-an Saka. Ia menatap putrinya. Mengamati seluruh ekspresi wajah Arinta.
Arinta memejamkan matanya sejenak lalu membukanya kembali. Memandang lurus kearah Reagan yang juga tengah menatapnya.
"Biarin dia masuk", ujar Arinta. Lalu setelah itu ia berbalik hendak berniat kembali ke kamarnya.
...~Rilansun🖤....