
...•••••••••••••••...
...Aku yang luruh kala mendengar suara detak jantung mu yang keras.......
...•••••••••••••••...
...***...
Atmosfer yang ada di dalam mobil sangat menegangkan. Kedua anak manusia itu diam seribu bahasa. Tanpa ada yang berniat membuka obrolan terlebih dahulu. Ego mereka sama-sama tengah menguasai. Sehingga membuat mereka enggan untuk mengalah satu sama lain.
Hingga mobil milik Reagan memasuki pelataran parkir sebuah rumah sakit. Mereka di desak oleh Renata untuk mengecek kandungan. Setelah mengetahui jika selama hamil Arinta sama sekali belum pernah memeriksa kandungan nya. Bunda nya itu memarahi mereka berdua karena tidak becus menjadi orang tua.
Ya mau gimana, bocah yang bahkan ngurus dirinya sendiri belum bisa dibilang sempurna. Malah bentar lagi mau memiliki anak sendiri. Mana mereka ngerti tentang ***** bengek menjadi orang tua.
Setelah turun dari mobil, Arinta lantas berjalan mengekor dibelakang Reagan sambil menautkan kedua tangannya cemas. Entah apa yang membuat Arinta merasa gugup sekarang. Bahkan rasa ini lebih besar daripada menunggu hasil ujian nya.
Arinta menunduk menatap langkah kaki Reagan yang entah mengarah kemana. Sepertinya cowok itu telah membuat janji dengan salah satu dokter kandungan.
"Auww", Arinta meringis seraya mengelus keningnya yang terasa berdenyut karena Reagan tiba-tiba berhenti berjalan. Lalu cewek itu mendongak dan ingin menyemprot Reagan dengan segala kata-kata mutiaranya. Namun Reagan lebih dulu berceletuk.
"Salah sendiri. Ngapain jalan di belakang."
Arinta mendengus dan mencebik kan bibir bawahnya. Lalu ia kembali mengikuti Reagan yang melanjutkan langkahnya. Masih tetap di posisi yang sama, di belakang dengan kepala yang tertunduk. Mengapa menunduk?, mungkin karena Arinta sudah terbiasa berjalan seperti itu.
"Suka banget ngitung semut", Reagan menarik Arinta untuk berjalan disampingnya. Risih karena pandangan orang-orang menatap mereka. Bahkan Reagan mendengar bisik-bisik orang tadi yang sempat membuat darahnya mendidih. Mereka mengatakan kasihan melihat Arinta yang seperti habis dimarahi oleh kakak nya. What the hell, kakak?. Reagan merasa terlalu muda untuk dipanggil sebagai kakak Arinta. Kalau saja orang tadi mengatakan Reagan seperti adiknya Arinta. Reagan masih bisa maklum.
Tok tok tok
Reagan mengetuk pintu kaca tersebut hingga seseorang menyahut menyuruh mereka untuk masuk. Arinta yang belum sempat protes karena Reagan menariknya paksa malah ditarik dengan cepat untuk masuk kedalam ruangan yang serba putih itu. Dengan dindingnya yang dihiasi berbagai macam foto-foto bayi. Sangat menggemaskan.
"Silahkan duduk", instruksi dokter perempuan itu membuat mereka mengangguk canggung dan duduk di kursi yang telah disediakan.
"Eum, boleh saya tau nama Ibu nya siapa?", tanya dokter tersebut dengan sedikit kikuk. Ia tidak pernah mengira jika pasiennya itu adalah pasangan yang masih sangat muda. Bahkan umurnya saja masih muda dari anak pertamanya. Disaat muda mudi itu masuk keruangan nya pikiran negatif langsung menghantuinya. Berpikir jika mereka mengalami marriage by accident. Namun ia langsung menepis, mungkin saja mereka memang menikah di usia muda.
Tapi apakah nikah muda memang sangat trend saat ini.
Arinta mendongak dan menatap polos dokter, "Ibu saya?", tanyanya seraya menunjuk dirinya sendiri, "Nama ibu saya Sinta dan Vina."
Reagan yang duduk di samping Arinta langsung memejamkan matanya. Mengapa telmi nya harus muncul sekarang. Tapi Reagan gemas ingin mencubit pipi yang sedikit tembem itu. Apalagi melihat mata Arinta yang mengerjap lucu. Rasanya Reagan ingin membutakan mata dokter itu lalu mencium Arinta saat ini juga.
Wanita paruh baya itu tertawa pelan, "Bukan ibu kamu, tapi ibu yang sedang mengandung anak dari pria ini", tunjuk nya kearah Reagan yang menatap datar Arinta.
Lantas Arinta mengikuti arah jari telunjuk dokter tersebut. Kemudian ia menundukkan kepalanya saat tau jika dirinya lah yang ditanya. Arinta merasa sangat malu sekarang. Tolong benamkan saja ia ke segitiga bermuda sana.
"Nama saya Arinta dokter", jawab Arinta dengan pelan sambil melihat papan nama yang bertuliskan dr. Ayu Lestari, Sp.O.G.
"Umurnya berapa?", tanya dokter Ayu dengan suara lembutnya. Sangat keibuan dan sangat menenangkan lawan bicaranya.
"17 tahun", sahut Arinta merasa malu mengakui kalau dirinya hamil di usia begitu muda.
Dokter Ayu membelalakkan matanya. Apakah perdugaan nya benar. Namun dokter itu langsung mengubah ekspresi nya seperti sedia kala. Itu bukan lah urusannya.
Lalu setelah berbincang dengan dokter tersebut untuk beberapa waktu. Dari menyampaikan keluhan dan kesulitannya selama masa kehamilan. Pasangan suami istri itu langsung dituntun ke arah brankar.
Arinta dibantu naik ke atas brankar oleh Reagan. Dan membaringkan tubuhnya dengan nyaman. Lalu Arinta dibuat kaget oleh dokter Ayu yang mengangkat sedikit baju yang dikenakan nya keatas.
Arinta langsung menoleh kearah Reagan yang membuang pandangannya. Sial, walaupun Reagan sudah sering mengelus dan mencium anaknya secara langsung. Tapi jika dipampang jelas seperti itu. Membuat keduanya malu.
Deg
Arinta refleks langsung menoleh kearah layar yang berada dihadapannya saat mendengar suara detak jantung yang sangat nyaring. Suara detak jantung malaikat kecil yang mendiami rahimnya. Anak nya.
"Woah baby kayaknya seneng banget jumpa dengan Mama, Papa nya", seru dokter Ayu dengan pandangan fokus ke layar dan tangan yang aktif menggerakkan alat uji diagnostik tersebut.
"Tapi yang satu lagi pemalu kayaknya. Susah banget mau dengerin suara detak jantungnya", celetuk dokter Ayu membuat Reagan dan Arinta serempak berseru.
"Dua?."
"Iya dua, kembar ini baby nya. Loh kok kayak kaget gitu, ini pertama kali periksa ya."
Arinta dan Reagan kontan diam. Mencerna kata-kata dokter tersebut. Dua, anak mereka kembar. Wow, sangat menakjubkan.
Lagi-lagi dokter Ayu mengulum senyumnya. Sepertinya hubungan pasangan muda dihadapannya itu sangat rumit.
"Untuk saat ini baby twins nya tumbuh dengan baik dan sehat. Kayaknya mereka aktif banget, pasti Mama nya sering dibuat capek ini."
Arinta tidak menggubris dokter tersebut yang asik berujar memberitahu. Matanya sedari tadi hanya fokus kearah layar yang menampilkan gambar yang sedikit Arinta tidak mengerti. Tapi satu yang Arinta tau, yang menggeliat kecil disana itu pasti adalah anaknya. Makhluk hidup yang telah berada di dalam perutnya selama lima bulan ini.
Mendengar suara gemuruh yang membuat jantung Arinta berdebar dibuatnya. Tanpa sadar sebulir air mata itu jatuh membasahi pipinya. Ini pertama kalinya Arinta melihat makhluk hidup kecil tersebut. Bahkan tidak satu, Tuhan sekaligus memberinya dua. Arinta tidak tau harus berkata apa lagi. Bibir nya seperti diberi lem yang rapat.
"Loh Mama nya kenapa, terharu ya", ujar dokter Ayu sambil membersihkan gel tersebut dari perut Arinta.
Arinta sontak memalingkan wajahnya dan dengan gerakan cepat menghapus air mata nya yang turun.
"Mari kita duduk dulu."
Arinta turun dibantu oleh Reagan. Lalu duduk kembali di kursi yang berhadapan dengan sang dokter.
"Mama harus jaga kesehatan nya ya, jangan melakukan hal-hal yang mudah membuat lelah. Papa nya juga harus siap siaga jagain Mama dan baby twins nya. Sama bantuin jaga emosinya si Mama ya. Kalau Mama nya lagi meledak, Papa diam aja. Jangan disahuti, nanti panjang urusannya. Dan itu berdampak terhadap baby twins", dokter Ayu memandang kedua pasangan itu dengan penuh arti. Ia paham jika diusia segitu emosi masih sangat labil dan tak terkontrol.
"Anak pertama itu pasti sangat berkesan. Karena dari dia lah kita menjadi orang tua untuk pertama kalinya. Mengajari kita apa arti orang tua yang sesungguhnya. Dan memanggil kita dengan sebutan Mama, Papa pertama kalinya."
Arinta menatap kosong dokter Ayu. Anak pertama itu sangat dinantikan. Benarkah Arinta sangat menantikan kehadirannya.
"Nih saya kasih beberapa vitamin. Diminum ya, dan jaga selalu kandungan nya. Semoga lancar sampai lahiran", tambah dokter Ayu seraya menyerahkan kertas yang bertuliskan resep vitamin dan sebuah amplop yang berisikan foto hasil USG tadi.
"Baik dok, makasih. Kalau gitu saya dan istri saya permisi dulu. Mari dok", pamit Reagan sopan yang dibalas anggukan ramah dokter Ayu.
Lalu Reagan segera menarik tangan Arinta untuk keluar dari ruangan tersebut. Cewek itu terlihat bungkam. Seperti orang yang tidak memiliki semangat hidup. Apakah Arinta tidak senang setelah melihat anak mereka.
Reagan juga sempat kaget saat pertama kalinya melihat anak mereka. Ia masih dibuat tak percaya jika sebentar lagi akan menjadi seorang Ayah dari dua orang anak sekaligus. Entah seperti apa reaksi orang tua mereka jika mengetahui akan memiliki sepasang cucu kembar. Reagan yakin Bunda nya pasti akan langsung pingsan seperti pertama kali mengetahui Reagan menghamili Arinta.
Sementara Arinta berjalan dengan kepala yang menunduk dan tatapan yang kosong. Untuk saja Reagan menggenggam tangan istrinya tersebut. Kalau tidak entah kemana Arinta akan berjalan.
Pikirannya berkecamuk setelah melihat rupa anaknya. Walau belum terbentuk jelas. Tapi Arinta yakin jika makhluk kecil tersebut sudah memiliki perasaan. Apakah anaknya akan membenci Arinta, mengingat jika dirinya tidak pernah sama sekali perhatian terhadap malaikat kecil itu. Bahkan nyaris membencinya.
Arinta merasa sangat bersalah dan berdosa. Langkahnya goyah, ia tak tau harus menentukan kearah mana ia harus berjalan.
...~Rilansun🖤....
Sorry kalau ada yg slh, soalnya blm prnh hamil dan gk prnh masuk kdlm ruangan dokter kandungan samsek😪, cuma prnh liat di tipi dn nopel".