Brittle

Brittle
Keputusan



...•••••••••••••••••...


...Emosi itu wajar, tapi jangan sampai emosi mu itu mengambil sebuah keputusan yang akan kau sesali pada akhirnya.......


...•••••••••••••••••...


...***...


Reagan menatap tanpa minat kearah teman-temannya yang sedang berjoget ria untuk diunggah disalah satu aplikasi buatan China yang kini sangat disukai oleh banyak kalangan. Baik anak muda, pejabat-pejabat, hingga lansia.


Ini sudah hari kedua setelah peristiwa hangat ditengah hujan itu terjadi, dan Reagan masih belum menemukan perempuan yang telah ia lukai baik fisik dan batin. Mungkin, bukan belum menemukan. Teapi ia sedang menyangkal jika orang itu adalah gadis cupu yang banyak dibully oleh siswi-siswi di Allandra. Reagan ingin menolak, tapi ia yakin jika tidak ada yang memiliki gelang itu selain Gina dan sahabat-sahabatnya.


Reagan menjatuhkan kepalanya ke lipatan tangannya diatas meja. Ia menyesal telah menyetujui permintaan Revo yang mengajaknya ke bar. Jika Reagan menolak, pasti semua ini tidak terjadi. Tidak akan ada penyesalan dan rasa bersalah yang menghantui pikirannya. Ini semua karena kawan-kawan laknat nya itu.


Brakk


Reagan terlonjak kaget ketika mendengar suara meja yang digebrak. Ia menegakkan kembali badannya. Lalu mengernyitkan dahi melihat Riko yang berdiri dihadapannya sambil mendumel sendiri.


"Woi bambank lo ngapain?. Baca jampi-jampi lo ya?", Revo menuding dengan telunjuk yang mengarah ke Riko.


"Apaan. Justru gue yang dijampi-jampi", Riko menepis telunjuk Revo lalu ia memutar kursi yang ada dihadapan Reagan dan duduk.


"Emang gila sih tuh cewek. Masa dia guna-guna gue. Kan enggak ada akhlaknya itu", ujar Riko membuat mereka semua terkejut dengan ekspresinya masing-masing. Kecuali Reagan dan Ardean yang masih setia dengan tampang datarnya.


"Hah. Guna-guna?, apaan sih lo ngawur", Zidan menabok kepala Riko dengan tak berperasaan. Mana tau ada kabel yang korslet didalamnya.


"Setan", Riko membalas dengan melayangkan satu pukulan diperut Zidan, yang membuat sang empu meringis kesakitan.


"Kalian enggak percaya kan. Tapi ini bener, masa ya tadi malem ada suara aneh diatas genteng kamar gue. Las gue bilang siapa?. Eh malah dijawab meong-meong. Kan gue nanya siapa, bukan lo kucing siapa. Serem kan", Riko bergidik ngeri mengingat kejadian tadi malam diatas genteng kamarnya.


Kawan-kawannya yang mendengar dan melihat itu sontak menepuk jidat masing-masing. Riko dan segala pemikirannya.


"Terus lo mau ngapain?", tanya Zidan yang bersedia meladeni Riko.


"Gue mau nyari orang pintar lah", jawab Riko dengan santainya.


"Umtuk?. Lo percaya sama gituan", sahut Ardean dengan kalemnya.


"Percaya enggak percaya sih. Tapi, daripada gue diteror terus kan tiap malam. Gue jadi nggak nyenyak mimpiin tubuh bahenol nya Anggi", ujar Riko sambil mengingat wajah cantik salah satu pentolan Allandra itu, "Dah ah gue cabut", tambah Riko lalu berjalan menuju ke pintu kelas.


"Woi, mau kemana lo?", teriak Revo.


Tanpa menoleh Riko menjawab, "Nyari orang pintar."


"Dasar gobl*k", umpat Ardean untuk temannya yang absurd itu.


Reagan menghela nafasnya. Setidaknya berkumpul dengan mereka dapat menghilangkan kegundahannya walau sedikit. Mereka juga yang membuat ia harus berada dalam situasi ini.


Belum sempat lima menit mereka menghirup udara bebas. Riko datang kembali dengan pintu yang menjadi korbannya kali ini.


"Gimana?, udah dapat orang pintarnya?", tanya Revo sambil mengelus dada melihat kebar-baran Riko yang menendang pintu.


"Udah lah", jawab Riko santai sambil duduk diatas meja Ardean yang notabenenya adalah teman sebangku Reagan. Melihat itu Reagan langsung mendorong Riko hingga jatuh tersungkur.


"Bangs*t", Riko berdiri dengan tangan yang mengelus bokongnya yang sakit. Saat ia ingin memarahi orang yang berani mendorongnya itu. Seketika Riko langsung menciut ketika melihat mata Reagan yang tajam terarah kepadanya.


"Lah cepat banget lo dapat orang pintarnya. Emang didekat sekolah kita ada dukun?", Zidan tertawa dalam hati melihat muka Riko yang nestapa.


"Bukan lah bego. Dekat kok dari sini. Tapi ya, gue aneh sama orang pintar itu", Riko duduk di kursinya semula dengan menahan sakit dibokongnya. Kawan-kawannya yang lain lantas tertawa dalam hati melihat Riko yang menahan sakit tapi tak mampu mengutarakannya. Mereka pun tak berani tertawa setelah mengamati suasana hati Reagan saat ini.


"Kenapa?", Ardean menaikkan sebelah alisnya bertanya.


"Masa ya, dia nyuruh gue ngapalin rumus gaya apung supaya gue bisa mengapung kelangit-langit kamar gue. Kan aneh", jelas Riko.


Mendengar itu lantas semuanya mengernyit bingung.


"Lah, gimana ceritanya?", tanya Revo.


"Emang siapa sih, orang pintarnya", tambah Zidan penasaran. Selama Riko menceritakan kejadian aneh yang ia alami itu. Hanya Zidan lah yang serius mendengarkan.


"Itu, si Arif kutu buku", ujar Riko.


"Lah katanya nyari orang pinter", Ardean merasa baru kali ini otaknya lambat memahami sesuatu.


"Kan si kubu emang pinter. Bukan nya dia dapat juara 3 paralel?", ujar Riko polos yang langsung mendapatkan hadiah pukulan satu-persatu dari kawan-kawannya. Kecuali Reagan yang dari tadi hanya menjadi pengamat.


"Gobl*k. Kalau gitu lo enggak usah nyari si kubu. Temen lo kan ada yang juara", Revo menunjuk Reagan dan Ardean yang merupakan juara 1 dan 2 paralel di Allandra.


"Luar biasa emang", Ardean menggelengkan kepalanya geram melihat keabsurd-an Riko. Ia menjadi menyesal karena telah menanggapi dengan serius bualan Riko barusan.


"Eh iya ya gue lupa. Maap ya manteman", Riko menyengir tak berdosa.


"Pantesan gue heran, kok cepet banget dia ketemu sama orang pintarnya. Rupanya si kubu. Dasar bego, orang pinter yg dimaksud bukan kayak gitu. Tapi orang yang bisa melihat atau meramal hal-hal yang diluar nalar", sekali lagi kepala Riko menjadi sasaran empuk kekesalan Zidan.


"Pinter-pinter", gumam Revo sambil menggelengkan kepalanya.


"Hehehe mana gue tau. Yang gue tau kan orang pinter. Kalau maksud dari orang pintar itu apa ya gue nggak tau", Riko mengelus kepalanya yang sakit sambil menunjukkan jari telunjuk dan tengahnya sebagai tanda damai.


"Iya-iya gue milaf."


"Khilaf gobl*k", Zidan menempeleng kepala Riko, "Ah capek gue ngomong sama lo. Mati muda lama-lama gue dekat sama orang kayak lo", keluhnya lalu mengajak Reagan dan yang lainnya keluar dari kelas. Bel istirahat telah berbunyi dari tadi, dan guru mata pelajaran selanjutnya tidak hadir. Jadi mereka bebas.


"Eh?. Woi, gue dipenggal?", Riko berdiri sambil melihat kawan-kawannya yang berjalan keluar kelas.


"Ditinggal", koreksi Revo sambil berteriak.


Mereka berjalan sepanjang koridor dengan tatapan-tatapan siswi-siswi yang tak pernah lepas dari mereka.


"Kya, kak Reagan tambah ganteng banget"


"kak Ardean juga. eh, kak Revo juga guys. Ah, gue bingung"


"Kak zidan juga tambah manis banget."


"Wooo itu kak Riko juga tambah cute"


Riko berlari dibelakang sambil meneriaki nama mereka satu-persatu teman nya membuat Zidan mengumpat,"Perusak."


"Kok gue ditinggal sih", Riko mengeluh dengan nafas yang ngos-ngosan.


"Hai degemnya babang Iko", Riko melambaikan tangannya kepada siswi-siswi yang menatap mereka.


"Itu degemnya gue ya", Zidan menyingkirkan Riko dan memberikan kecupan udara kepada para penggemarnya.


"Muka lo mana ada ganteng-gantengnya", sinis Riko


"Muka lo tu—"


Ucapan Zidan terpotong dengan teriakan melengking yang memanggil nama Reagan dari arah belakang mereka, membuat para most wanted itu berbalik.


Laily menghampiri Reagan dengan senyum yang cerah mengalahkan mentari, dan itu mampu menghantarkan kehangatan dalam hati Reagan yang hampa.


"Nih, Mami buatin pudding coklat kesukaan kamu", Laily memberikan bingkisan yang berisi sekotak pudding dan langsung diambil Reagan dengan senyuman yang mengembang walau sedikit, "Makasih."


"Eh ada Gigi", Zidan menyapa Gina yang berada dibelakang Laily.


"Gigi pala lo. Nama gue Gina. Gi-na", eja Gina dengan wajah sangarnya. Tapi dimata Zidan itu malah sangat menggemaskan.


"Dikepala gue emang nggak ada gigi, yang ada otak", jawab Zidan dengan tampang sok polos.


"Enggak guna", Ardean melanjutkan ucapan Zidan.


"Diam lo kutil beruang kutub", sarkas Zidan menatap sinis Ardean.


Reagan memutar bola matanya malas melihat kelakuan kawan-kawan laknatnya itu. Terkadang ia malu untuk berjalan berdampingan dengan mereka.


Reagan mengernyitkan dahi melihat hanya ada Gina dan Laily, bukannya mereka bertiga, "Kok berdua aja. Si cupu mana?", tanya Reagan dengan hati-hati. Ia takut jika mereka dapat mengetahui kegelisahan yang sedang ia alami saat ini.


"Tumben lo nanyain si Rinta. Kenapa?", tanya Gina yang membuat Reagan gugup seketika.


"Rinta sakit. Udah dua hari ini enggak datang", Laily dengan lembutnya menjelaskan kepada Reagan.


Tubuh Reagan menegang terkesiap mendengar Arinta yang sudah dua hari ini tidak datang sekolah. Apa mungkin gadis cupu itu orangnya?. Tapi, bukankah alasannya tadi sakit. Bisa saja hanya kebetulan. Ya, hanya kebetulan.


"Kamu semalam kenapa tanyain aku?", Reagan tersentak mendengar pertanyaan Laily.


Reagan tersenyum tipis lalu dengan lembut ia mengelus kepala Laily, "Aku cuma cemas sama kamu. Enggak boleh aku cemasin kamu?",


Pipi Laily bersemu merah seketika, " Ta boleh", jawabnya dengan malu-malu.


"Cih, najis gue lihat kalian berdua", cibir Gina


"Gigi mau dielus?, sini babang Zidan elus", belum sempat Zidan menyentuh kepala Gina. Gadis itu terlebih dahulu memberikan pukulan dibahu Zidan.


"Elus-elus. Gigi lo yang gue rontokin", gertak Gina membuat Revo dan Riko tertawa terbahak-bahak. Sementara Ardean hanya tersenyum tipis.


Zidan cemberut seperti anak umur lima tahun yang tak diberi mainan, "Sadis amat. Sadisnya nanti diranjang aja", godanya dengan menaik turunkan alisnya.


"Mau gue hancurin masa depan lo", Gina menunjukkan kepalan tangannya kepada Zidan.


Tetapi tidak Zidan namanya jika pantang menyerah untuk menggoda Gina, "Janganlah. Entar kita enggak punya anak loh."


"Amit-amit", jijik Gina sambil memandang sinis Zidan.


"Amin-Amin", Zidan mengusap wajahnya seperti orang yang siap berdoa.


Gina yang melihat itu bertambah kesal, "Ayo ah. Darah tinggi gue naik dekat-dekat sama orang abnormal", ujarnya sambil memandang sinis kearah Reagan dan kawan-kawan. Tapi hanya Zidan yang paling mendapatkan tampang tersadis dari Gina. Entah sejak kapan ia sangat membenci seorang Zidan Avarel Artharwa itu. Bukan nya takut, Zidan malah melemparkan kecupan udaranya kepada Gina yang telah pergi.


Reagan menghela nafasnya melihat punggung Laily yang telah menjauh. Apa ia harus mengambil sebuah keputusan?.


...~Rilansun🖤....