
...••••••••••••••...
...Seseorang tidak harus merasakan cinta untuk dapat mengartikan apa itu cinta......
...••••••••••••••...
...***...
Keheningan terjadi diantara dua anak manusia tersebut. Hanya terdengar suara dentingan sendok dan piring yang beradu. Keduanya sama-sama diam menikmati makan malam mereka. Tanpa ada yang berniat membuka obrolan.
Padahal ini bukan pertama kali nya mereka makan satu meja. Tapi tetap saja rasanya sangat canggung.
Arinta melirik sedikit Reagan yang tengah bermain ponselnya. Cowok itu seperti larut dalam dunianya sendiri. Terlalu fokus dan serius.
Dan Arinta dibuat gelagapan ketika Reagan tiba-tiba menoleh kearahnya. Lalu Arinta memilih meminum air sebagai pengalihannya.
Reagan menyeringai tipis, "Jangan suka ngintip-ngintip, udah halal juga", ujarnya seraya bangkit dari duduknya dan berjalan kearah pintu apartemennya.
Arinta memandang sinis Reagan dan melanjutkan kembali acara makan nya. Dirinya merasa menyesal karena sudah melirik Reagan tadi. Seharusnya Arinta tidak boleh lupa kalau Reagan itu memiliki tingkat kenarsis-an yang telah overdosis.
"Yo what's up sis. Yo yo, apa kabar sis. Gimana rumah tangganya?, aman-aman wae enggak sis?, Gimana first night nya?, nik-"
Tuk
Raka berhenti berceloteh saat Arinta memukul kepalanya dengan gelas yang kosong.
"Berisik Rak", Raka mengelus kepalanya dengan ekspresi yang dibuat semenyedihkan mungkin.
"Disuruh jahit mulutnya enggak mau sih. Jadi kepala lo terus yang dijadiin sasaran", sahut Saka yang sudah duduk disamping Reagan.
"Kak Rinta...", Raka memanggil Arinta dengan nada yang memelas serta puppy eyes andalannya. Seperti anak anjing yang meminta makanan. Membuat Arinta menghela nafas lelah. Arinta tidak bisa mengabaikan adik bungsunya tersebut.
"Duduk", Arinta menarik kursi sebelahnya dan menyuruh Raka untuk duduk disana. Dengan senyuman sumringahnya Raka menuruti apa kata Kakak nya.
Arinta berdiri dan berjalan masuk kedalam dapur. Mengambil dua alat set makan. Dan meletakkannya masing-masing dihadapan Twins.
"Payah-payah lah. Kami kesini padahal cuma mau nganterin asam jawa pesanan Kak Rinta", ujar Raka sok malu-malu padahal tangannya aktif mengambil nasi beserta lauk.
Tiga orang yang berada disana hanya bisa menggelengkan kepala takjub. Setebal apakah muka dari seorang Raka Elbara Navendra. Cowok itu seperti hidup tanpa beban dan rasa malu. Raka seolah hidup hanya untuk dirinya sendiri. Hanya ada dirinya sendiri didalam dunianya.
Arinta bangkit dan mengambil piring bekas makan nya. Lalu ketika Arinta hendak menarik piring Reagan. Cowok itu menahan tangannya dan berujar, "Habisin makanan kamu."
Arinta mengernyit heran dan menatap kearah piringnya yang masih tersisa sedikit makanan. Bukan nya mau mubadzir, tapi Arinta sudah tidak lagi memiliki selera untuk menghabisinya.
Arinta tidak menggubris dan menepis tangan Reagan.
"Enggak boleh mubadzir. Nanti rezekinya ditarik lagi sama Allah", Reagan meletakkan piring Arinta ke atas meja dan menarik cewek tersebut untuk duduk dipangkuan nya. Membuat Arinta terpekik dan menatap horor Reagan.
Raka dan Saka hanya bisa menatap keduanya tanpa membuka suara. Sepertinya mereka datang diwaktu yang salah.
"Reagan lepasin", Arinta berusaha melepaskan tangan Reagan yang memeluk erat pinggangnya.
Tidak menghiraukannya, Reagan justru menyodorkan satu sendok berisi makanan kearah Arinta. Membuat cewek itu mengatupkan bibirnya rapat.
Arinta melirik Raka dan Saka yang menyantap makanannya dengan santai. Tapi Arinta yakin kedua adiknya itu saat ini pasti tengah merasa canggung.
Arinta menjauhkan tangan Reagan dan melepaskan paksa tangan cowok itu yang memeluk pinggangnya, "Kamu gila!."
Arinta berdiri dan menumpukkan piringnya dan punya Reagan. Lalu membawanya ke wastafel untuk dicuci. Untuk saat ini mereka masih belum punya pembantu. Karena bagi Arinta ia masih mampu melakukan pekerjaan rumah yang ringan. Selebihnya Arinta serahkan ke Reagan.
Raka mendongak menatap Reagan yang memandang nanar punggung Arinta yang telah menjauh.
"Kak Rinta emang gitu Tan. Dia orangnya enggak suka dipaksa. Sebenarnya Kak Rinta itu orangnya soft banget. Tapi pas sama lo aja deh kayak nya berubah jadi hard gitu", ujar Raka yang ujung-ujungnya menyindir Reagan.
"Kakak lo keras kepala banget", sahut Reagan dan kembali memainkan ponselnya.
"Lo aja yang enggak bisa menangin hatinya. Payah", tambah Saka datar seraya meneguk segelas air.
Reagan terhenyak. Ia menatap kearah Saka yang duduk tepat disampingnya.
"Gimana cara menangin hatinya?", tanya Reagan yang membuat Saka memandangnya.
"Lo tanya gue?", Saka menatap remeh Reagan. Lalu ia kembali fokus pada makanan nya, "Seharusnya lo tau. Buat hati dia hancur aja lo pandai. Masa buat menangin nya lo enggak bisa", lanjut Saka dengan sarkas.
Reagan bisa maklum. Karena bagi Saka dan Raka, Arinta adalah suatu hal yang berharga. Dan Reagan telah menggores hal berharga tersebut. Walau masih utuh, tapi tentu saja nilainya tidak sebagus dulu.
...***...
"Kenapa lumba-lumba berenang nya barengan?."
"Karena kalau sendiri namanya jomblo."
"Wah adik hebat", Raka bertepuk tangan dengan heboh. Membuat Saka memandangnya malas. Sebenarnya Saka tak ada niat untuk menyahuti ucapan gila Raka barusan. Namun Raka mengancamnya akan mengatakan kepada Deri dan Sinta kalau semalam Saka kepergok pacaran.
Dan berakhir Saka yang mengikuti skenario yang telah disusun oleh Raka.
Reagan datang dengan segelas susu ditangannya. Menyodorkannya kearah Arinta yang langsung diambil oleh cewek tersebut.
"Makasih", ujar Arinta dan meminumnya secara perlahan.
Reagan bergumam dan duduk disamping istrinya.
"Saka", Raka mendekat kearah Saka yang sudah merasakan hawa-hawa tak enak. Jika cowok itu sudah memanggilnya dengan nama tanpa embel-embel monyet dan kembaran tembok. Maka itu bukan pertanda yang baik.
"Hmm"
"Saka, cinta itu buta ya?", tanya Raka yang membuat Saka menghela nafas berat.
"Gue enggak tau soal cinta-cintaan", jawab Saka datar.
"Alah jangan banyak bacot lo. Jadi siapa semalam yang telponan sam-"
"Mulut lo mau gue jahit beneran", Saka menutup mulut Raka dengan tangannya sambil menatap intimidasi adiknya itu.
Raka menunjukkan cengiran bodoh andalannya ketika Saka sudah menjauhkan tangannya.
"Tapi gue seriusan deh. Katanya cinta itu buta, tapi semalam pas gue kerumah Cinta. Dia bisa ngelihat kok, matanya ada dua kok, bisa bergerak lagi", Raka memasang wajah seriusnya. Membuat Arinta terkekeh pelan. Raka dan segala pemikirannya, memang tidak bisa dipahami.
"Bukan gitu maksudnya", ujar Arinta yang menarik perhatian Raka. Cowok itu berpindah duduk ke depan Arinta. Setelah mengatai Saka bodoh karena tidak mengetahui apakah cinta itu buta atau tidak.
"Jadi kayak gimana?", tanya Raka antusias.
Arinta tersenyum, "Cinta itu enggak buta, karena sesungguhnya cinta itu enggak punya mata. Cinta hanya perasaan yang diciptakan manusia. Terkadang dia bisa dikendalikan, namun terkadang dia juga selalu ingin memberontak. Tapi jika kita salah melangkah, bukan cinta yang salah. Justru kita lah yang salah, karena tidak bisa mengendalikan cinta itu dengan baik", ujarnya panjang lebar.
"Jadi kalau cinta memberontak. Tetap kita yang salah?", tanya Raka lagi.
"Itu bukan cinta namanya, itu obsesi. Karena ketika kamu mencintai seseorang dengan tulus. Kamu tidak akan mengharapkan dia untuk menyukaimu balik. Cukup melihatnya tersenyum saja sudah bisa membuat kamu bahagia. Walau bukan kamu alasan dia tersenyum. Sebenarnya konsep cinta itu sangat sederhana, hanya saja manusia membuatnya terlihat sangat rumit."
"Pengalaman banget kayak nya", celetuk Reagan dengan mata yang fokus kearah tv.
"Seseorang tidak harus merasakan cinta untuk dapat mengartikan apa itu cinta. Seperti kamu tidak perlu menjadi pilot untuk dapat merasakan naik pesawat", sahut Arinta
"Beruntung banget lo Tan, punya bini secantik dan sepintar kak Rinta. Andai aja gue yang jadi suaminya kak Rinta. Beuh, bahagia dunia akhirat", seru Raka yang membuat Arinta memukul pelan kepalanya.
"Ngawur."
Reagan tersenyum, "Sayangnya itu semua hanya lah angan-angan lo semata."
Arinta menoleh kearah Reagan yang tersenyum menatapnya. Untuk beberapa saat mereka terjebak dalam dimensi yang mereka buat sendiri. Sebelum Arinta memutuskan pandangannya dan bangkit dari duduknya.
"Loh, ini asam jawa nya enggak dimakan?", tanya Raka bingung. Jadi untuk apa mereka membawa itu kesini kalau tidak dimakan.
"Kalian bertiga yang makan. Terus kalau ada sisa kasih ke Rely. Dan habis itu fotoin muka kalian bertiga bareng Reli makan asam jawa", ujar Arinta sambil berlalu menaiki anak tangga.
Rely, itu adalah kucing milik Reagan dan Laily. Awalnya Arinta kaget saat mendapati kucing tersebut berada dibawah kolong kasurnya. Arinta yang notabenenya takut pada kucing langsung berteriak histeris pada waktu itu. Dan Reagan mengatakan kalau itu adalah hadiah dari Laily pada waktu hari anniversary mereka.
Lalu Arinta meminta kepada Reagan untuk menjauhkan kucing itu darinya, kalau tidak ia akan pindah kembali kerumah Deri. Reagan menyetujuinya, sebab pada waktu itu usia pernikahan mereka bahkan belum sampai seminggu. Dan Arinta tiba-tiba pulang kerumah orang tuanya, sudah pasti Reagan auto dikebiri oleh Deri dan Zhein.
"Rely", gumam Arinta menyebutkan nama kucing tersebut, "Gabungan nama yang sangat indah", lanjutnya seraya tersenyum. Rely, Reagan dan Laily.
...~Rilansun🖤....
Savage twins