
...•••••••••••••...
...Dua kata yang mampu membuat saraf tubuhku melumpuh tak berdaya......
...•••••••••••••...
...***...
"Dasar tukang bohong", gerutu Arinta dengan pandangan kesal menatap ponselnya. Sambil mendengus kasar Arinta membaringkan tubuhnya di ranjang. Menutup wajahnya dengan bantal guling yang ada.
Untuk beberapa saat kemudian Arinta melempar asal bantal tersebut. Mendudukkan dirinya dan menatap penuh harap kearah pons ituelnya yang mati.
Dari pagi tadi Arinta menunggu kejutan yang dikatakan oleh Reagan. Arinta mengira mungkin saja kejutan itu dapat berupa bunga, perhiasan atau semacamnya. Tapi dari tadi pagi hingga malam ini pun tidak ada kurir atau orang yang mengantarkan sesuatu.
Arinta coba menghubungi pun suaminya itu tidak mengangkat. Chat pun tidak di balas. Membuat pikiran-pikiran negatif menghantui otaknya. Tapi seperti yang Vina katakan, harus tetap saling percaya apapun yang terjadi. Jadi Arinta berusaha menepis hasutan-hasutan setan tersebut.
"Kenapa?, gak diangkat lagi?."
Arinta sontak menoleh kearah Renata yang berjalan menghampirinya dengan segelas susu ditangan. Malam ini Ibu mertuanya itu yang gantian menemaninya. Sebab Vina menemani Zhein yang akan kembali ke Belanda, untuk mengurus perusahaannya yang ada disana. Dan untuk Sinta, Ibu nya itu Arinta suruh pulang karena ia kasihan dengan Saka yang sedang sakit. Jika Raka yang mengurusnya, Arinta tidak yakin kalau Saka bisa sembuh.
"Males nelpon kalau gak diangkat", sahut Arinta lemah dengan menatap sedih benda persegi panjang itu.
Renata mengelus rambut menantunya, "Kalau Reagan pulang bakal Bunda kebiri karena udah berani ngasih kamu harapan palsu."
Arinta memang memberitahu Renata kalau Reagan akan memberikannya suatu kejutan. Sebab wanita itu melihat dirinya yang berdiri di depan pintu rumah. Renata mengira jika menantunya itu sedang menghirup udara segar. Tapi anehnya setiap tiga jam sekali Arinta akan kembali berdiri didepan pintu rumah dengan sambil menatap gerbang. Alhasil membuat Renata tidak tahan untuk bertanya.
Arinta meringis mendengar ucapan Renata. Mudah sekali wanita itu mengatakan untuk mengebiri anaknya sendiri, "Enggak usah Bun, pecat jadi anak aja", ujarnya sambil meminum susu yang dibawakan oleh Renata.
"Kalau Bunda pecat jadi anak, kamu bakal mungut dia jadi suami kan."
Uhuk
Arinta menatap ibu mertuanya dengan telinga yang terasa memanas. Sepertinya bakat Reagan yang bisa membuat jantungnya berdetak lebih kencang berasal dari Renata. Ibu dan anak itu sama-sama memiliki mulut yang tajam namun manis sewaktu-waktu.
Renata terkekeh pelan lalu ia mengambil gelas kosong itu dari tangan Arinta.
"Udah, ayo tidur", Renata membantu Arinta berbaring dan menyelimutinya dengan benar. Kemudian ia ikut berbaring disebelah Arinta setelah meletakkan gelas itu keatas nakas.
"Malam, Bun", ujar Arinta dan membalikkan badannya menghadap kanan.
"Selamat malam menantu Bunda yang cantik", balas Renata yang lagi-lagi membuat bibir Arinta berkedut menahan senyum.
Lalu setelah itu Arinta menatap ponselnya sebentar sebelum memejamkan matanya. Menikmati elusan tangan Renata di kepalanya.
Hari ini Arinta merasa menjadi seorang cewek yang udah di baperin sebaper-bapernya tapi kemudiannya ia di ghosting setelah diberi sebuah harapan palsu.
Emang bakat alami dari seorang cowok.
...***...
Reagan memasuki rumahnya sambil melihat ponselnya yang ia matikan sedari tadi. Lalu langkahnya terhenti saat membaca chat-an dari istrinya.
My angel
Baru tau kalau kamu itu tukang PHP
tingkat dewa.
Pulang nanti kamu tinggal di kamar tamu aja!
Aku gak mau hidup sama pembohong.
Reagan menelan saliva nya susah payah. Lupa kalau Arinta itu orangnya anti banget disuruh nunggu. Tapi jika Reagan memberitahukan kepada istrinya itu, berarti namanya bukan suprise lagi dong. Ah, kenapa suprise nya selalu saja bermasalah.
Setelah itu dengan kakinya yang panjang Reagan langsung melangkah lebar kearah kamarnya berada. Ia tidak ingin tinggal di kamar tamu. Sungguh itu seperti sebuah hukuman yang sangat berat untuknya.
Krieett
Reagan membuka pelan pintu kamarnya. Supaya tidak menggangu bidadari nya yang tengah tertidur pulas di atas ranjang sana. Setelah melihat Arinta yang terlelap dengan ditemani oleh Bunda nya. Reagan kontan menutup kembali pintu itu dan berjalan kearah kamar dimana orang tuanya tinggal belakangan ini. Bukan, bukan ia ingin membiarkan Arinta tidur dengan Renata. Tapi cowok itu malah ingin menyuruh Xavier untuk membawa Bunda nya pergi dari dalam kamarnya.
"Yah."
Reagan memanggil Xavier yang tampak sibuk dengan laptop di pangkuannya. Ia yakin jika Ayahnya itu pasti tidak bisa tidur, karena tidak ada Bunda nya yang menemani. Kalau udah bucin payah emang. Mau tidur aja harus ada yang menemani.
Xavier melepaskan kacamatanya dan menatap lurus kearah Reagan, "Kok udah pulang?", tanyanya yang membuat calon Ayah itu memutar bola matanya. Sepertinya Xavier tidak senang dengan kepulangan dirinya. Bukannya menanyakan apakah perjalanannya aman-aman saja?. Apakah ia sehat-sehat saja di kota orang?. Tapi tidak, Ayahnya itu memang tidak pengertian sama sekali.
"Udah selesai", jawab Reagan singkat.
Xavier menganggukkan kepalanya, merasa puasa dengan hasil kerja anaknya.
"Terus kenapa kesini?, walaupun Bunda kamu gak tidur disini, tapi kamu gak boleh tidur disini, karena cuma Bunda yang boleh", cerocos Xavier.
Reagan lantas mendengus kasar. Siapa juga yang mau tidur dengan pria tua seperti itu.
"Bapak Xavier yang terhormat, saya juga tidak ingin tidur dengan anda. Saya tidak ingin bangun di pagi hari dengan anggota tubuh yang tidak lengkap", balas Reagan yang mendapatkan pelototan dari Xavier. Mengapa ucapan cowok itu terdengar seperti dirinya seorang psycopath.
"Bawa Bunda pindah kesini", tambah Reagan kemudian. Lalu tanpa berkata sepatah katapun lagi, Xavier segera pergi keluar dari kamarnya. Membuat Reagan mendengus, dengan anak sendiri aja cuek nya nauzubillah. Kayaknya cuma Renata seorang yang manusia di mata Xavier.
Kemudian Reagan mengikuti Xavier yang berjalan kearah kamarnya. Dua laki-laki beda generasi itu lantas masuk kedalam kamar tanpa menimbulkan suara apapun. Takut para istrinya itu terbangun.
Reagan hanya bisa mengelus dadanya sabar. Lalu matanya beralih menatap Arinta yang masih damai dalam tidurnya. Ingin sekali Reagan langsung merengkuh tubuh mungil itu kedalam pelukannya. Tapi Reagan harus menahannya karena ia belum bersih-bersih.
Tak ingin membuang waktu, Reagan langsung memasuki kamar mandi. Menyegarkan dirinya terlebih dulu sebelum melepaskan rindunya.
Dengan mandi sekenanya, Reagan lantas keluar dari dalam kamar mandi setelah menghabiskan waktu lima menit.
Setelah menutup kembali pintu kamarnya, Reagan langsung beranjak menaiki ranjang. Membaringkan tubuhnya di samping Arinta yang tidur membelakanginya.
Memeluk tubuh istrinya dengan hidung mancungnya yang aktif menghirup aroma mawar yang menguar dari tubuh Arinta. Aroma yang sangat Reagan rindukan tiga hari belakangan ini.
Arinta yang merasa ada benda kenyal dan basah yang hinggap diarea leher dan pundaknya pun seketika bangun dari tidurnya. Mengerjap pelan sebelum membalikkan badannya perlahan.
"Sayang", Reagan langsung mencium bibir Arinta yang sepertinya masih setengah sadar.
"Rindu banget."
Arinta langsung tersadar ketika Reagan menciumnya dengan dalam. Apa benar itu suaminya?. Bukankah cowok itu saat ini masih berada di Manado.
"Kenapa pulang?."
Pertanyaan Arinta yang membuat Reagan membelalakkan matanya tak percaya. Apakah istrinya itu tidak merindukan nya sama sekali?.
"Kamu gak senang aku pulang?."
Reagan menatap Arinta dengan puppy eyes andalannya. Membuat cewek itu merasa bersalah. Bukan itu maksudnya, tapi bukankah seharusnya Reagan pulang dua hari lagi.
"Bukan gitu-"
"Kamu udah buat aku terluka", ujar Reagan mendramatisir lalu cowok itu memalingkan wajahnya menatap langit-langit kamar.
"Aku begadang supaya kerjanya cepat selesai biar bisa pulang lebih cepat. Tapi gak nyangka-"
Cup
Arinta mencium pipi Reagan sebelah kiri yang membuat cowok itu seketika tertegun menatap istrinya.
"Maaf", lirih Arinta pelan sambil mengelus lembut kantung mata Reagan yang tampak besar dan menghitam. Tapi tidak menghilangkan ketampanan yang dimilik seorang Reagan Zarvio Allandra.
Reagan tersenyum, "Rindu gak?", tanyanya sambil mencium sekilas bibir istrinya itu.
Arinta lantas menganggukkan kepalanya pelan.
"Kamu-"
"Tunggu dulu", Arinta menghentikan ucapan Reagan saat tersadar akan sesuatu, "Aku lagi marah sama kamu ya Reagan", ujarnya.
Reagan menatap cengo Arinta. Mengapa emosi ibu hamil itu cepat sekali berubah. Baru beberapa detik yang lalu Arinta menatap memuja dirinya. Tapi di detik berikutnya cewek itu langsung memelototinya, seperti siap melahapnya hidup-hidup.
"Kenapa?", tanya Reagan dengan wajah tanpa dosa.
"Kata kamu mau kasih aku suprise, dari pagi aku nungguin tapi gak ada satupun yang datang. Kamu bohongin aku, iya kan?!", tuding Arinta dengan menatap garang Reagan.
"Udah aku bilang kan jangan pernah bohongin aku. Tapi kamu enggak dengar aku. Kamu udah gak mau ngelanjutin pernikahan ini. Kalau kamu gak sanggup penuhin apa yang kamu bilang, seharusnya kamu gak usah ngasih aku harapan. Sakit tau gak, saat tau sesuatu yang kita harapkan itu sebenarnya gak pernah benar-benar ada. Kamu-"
Reagan menatap gemas bibir mungil Arinta yang bergerak-gerak mengomeli dirinya. Niat tadinya yang ingin menjelaskan suprise itu kepada Arinta, malah membuat Reagan jadi salah fokus dengan bibir yang merah bak delima itu.
"Te amo, Bunda", ujar Reagan tiba-tiba dengan menatap lurus kearah netra hitam itu.
"Hah?."
"Te amo, Arinta Zarvisya Deltava", ujar Reagan lagi.
"Kamu mau teh?, kita gak ada teh amo, yang ada teh sari wangi", sahut Arinta polos dan melupakan kekesalannya tadi.
Reagan antara kesal dan ingin ngakak. Kesal karena Arinta merusak suasana romantis yang sudah susah payah dibuatnya. Dan ingin ngakak saat mendengar plesetan Arinta dari kata Te amo.
"Te amo, sayang. Bukan teh amo. Artinya itu i love you", ujar Reagan memperjelas maksudnya.
Blush
Arinta merasa wajahnya memanas seketika. Perasaan malu dan senang bercampur aduk didalam hatinya. Mengapa Reagan harus memakai kata yang sulit hanya untuk mengatakan hal itu.
Untuk menutupi kegugupannya, Arinta berusaha mengalihkan topik, "Mana suprise yang kamu bilang itu?."
"Di depan kamu", jawab Reagan membuat Arinta mengernyitkan keningnya.
"Iya, suprise nya aku. Dan aku gak bohong kok, aku kasih kamu suprise tetap di hari ini, pukul sebelas lewat empat puluh lima menit", tambahnya lagi.
Sial, lagi-lagi jantungnya berdetak dengan sangat kencang. Siapapun tolong Arinta untuk mengamankan jantungnya.
"Males lah kalau suprise nya kamu", ujar Arinta dengan mata yang menggulir kesana-kemari. Tak kuat menatap mata Reagan yang menatapnya intens.
"Yakin?", Reagan menarik pinggang Arinta untuk lebih mendekat kearahnya. Membuat Arinta membelalakkan matanya. Lalu cowok itu menelusup kan hidungnya kearah lekukan leher Arinta. Mengecup pelan kulit putih mulus itu. Membuat si empunya mengerang pelan.
"Balasan dari te amo itu tambien te amo, Arin", bisik Reagan tepat ditelinga Arinta. Membuat cewek itu tidak bisa berkutik dengan pipi yang memerah. Dua kata yang mampu membuat saraf tubuh Arinta terasa melemah seketika.
...~Rilansun🖤....