Brittle

Brittle
Kecelakaan



...••••••••••••••...


...Kita adalah dua orang asing yang bertemu karena sebuah luka......


...••••••••••••••...


...***...


"Reagan Zarvio Allandra."


Arinta menggumam kan nama suaminya dengan menatap polos langit malam yang terpampang jelas di atas sana.


"Kamu ngerasa gak sih, kalau nama tengah kita itu hampir sama?", tanya Arinta kemudian seraya menoleh kearah Reagan yang berbaring disampingnya. Lantas dengusan kasar keluar dari hidung Arinta ketika matanya mendapati cowok itu yang mendusel-dusel lehernya.


Sekali saja, bisa tidak Reagan menemaninya berbicara dengan serius.


Merasa hening karena tidak lagi mendengar celotehan Arinta. Reagan lantas mendongak dan menyengir saat melihat mata Arinta yang menatap flat dirinya.


"Bunda ngomong apa barusan?", Reagan mencoba meluluhkan Arinta yang tampak kesal.


"Enggak ada!", ketus Arinta dan menjauhkan tubuh Reagan yang memeluknya dari samping. Lalu cewek itu membalikkan badannya membelakangi Reagan.


Arinta tiba-tiba tidak memiliki mood untuk berbicara dengan Reagan lagi.


Melihat itu Reagan kontan menghela nafas. Ia tau jika itu salahnya karena tidak menanggapi dengan serius ucapan istrinya. Tapi mau bagaimana lagi, Arinta itu terlalu sempurna untuk diabaikan. Saat berdekatan dengan Arinta, Reagan merasa iman nya sangat diuji. Membuatnya harus bisa mengendalikan dirinya sendiri dengan sekuat mungkin.


"Maaf", gumam Reagan dan mendekatkan kembali tubuhnya memeluk Arinta.


"Kamu ngomong apa tadi?, nama belakang kita?, iya sih emang agak mirip", ujar Reagan menambahi setelah Arinta tidak merespon permintaan maafnya barusan.


Lagi-lagi Arinta tidak bergeming. Moodnya sudah terlanjur hancur.


"Kata Bunda, kita emang udah dijodohin dari kecil, dan nama itu pasti mahakarya Bunda dan Mommy", ujar Reagan sambil mencium surai hitam milik Arinta. Bakal susah di pujuk kalau gini ceritanya. Tapi siapa sangka, mendengar itu Arinta langsung berbalik menghadap ke arah Reagan. Ia merasa tertarik dengan perjodohan dini tersebut.


"Seriusan?", tanya Arinta dengan menatap penuh antusias kearah Reagan.


Reagan akhirnya menghela nafas lega. Bersyukur dengan nama mereka yang hampir mirip, "Iya", jawabnya dengan anggukan singkat.


"Kok Mommy enggak kasih tau aku?", tanya Arinta lagi dengan cemberut. Membuat Reagan menahan nafasnya, takut jika bumil satu itu kembali bad mood.


"Buat apa di kasih tau, kalau ujung-ujungnya emang kamu yang jadi jodoh aku", jawab Reagan dengan sebisa mungkin mengatur kata-katanya agar tidak membuat Arinta tersinggung.


"Berarti dari dulu kamu udah suka dengan anak kecil dong. Kan aku sama kamu beda setahun. Ternyata bakat pedofil kamu udah terindikasi dari dini ya", Reagan melotot mendengar ucapan Arinta. Selisih umur mereka hanya setahun. Dan Arinta mengatakannya sudah menjadi pedofil sejak dini. Yang benar saja. Dari segi mana Reagan terlihat seperti pedofilia.


"Cuma beda setahun doang", protes Reagan tak terima dikatakan pedofil.


"Saka sama Raka cuma beda lima menit, tapi tetap Saka yang jadi kakak nya", skak mat. Reagan bungkam. Ternyata apa yang dibilang orang itu benar adanya, kalau kita tidak akan bisa menang bila harus berdebat dengan kaum hawa.


"Berarti kamu emang jodoh aku", celetuk Arinta membuat Reagan tersenyum.


"Dari situ aku percaya dengan kata-kata 'kalau jodoh itu gak akan kemana', padahal aku udah jauh banget dari kamu. Baik jarak maupun hati. Pada waktu itu di hati aku udah ada yang lain. Dan Tuhan membolak kan hati aku secepat mungkin agar dapat menerima kamu. Rencana serta takdir Tuhan itu emang enggak bisa diganggu gugat", ujar Reagan panjang lebar sambil memainkan rambut Arinta.


"Mungkin kita adalah dua orang asing yang bertemu karena sebuah luka. Tapi siapa sangka kalau sejak dulu udah ada tali yang mengikat tangan kita berdua. Sejauh mana pun kamu melangkah, pasti akan kembali ke aku karena tali nya udah gak mampu lagi ditarik. Dan berakhir dengan kamu yang balik ke aku. Begitu pula dengan aku", sahut Arinta seraya memegang dan memainkan daun telinga Reagan.


"Jadi kamu gak akan pernah bisa cerai dengan aku. Sebab Tuhan enggak mungkin mengizinkan itu terjadi", Reagan menyeringai menatap Arinta. Membahas kembali perihal Arinta yang dulu pernah bersikukuh ingin meninggalkannya.


Arinta memutar bola matanya malas, "Siapa yang mau cerai. Aku itu perempuan yang berkomitmen, sekalipun kamu ninggalin aku. Aku gak bakal nikah lagi. Cukup satu laki-laki untuk seumur hidup. Sebab aku ini perempuan, bukan piala bergilir."


Mendengar itu Reagan tersenyum. Beruntungnya ia bisa memiliki istri yang pasti akan setia dengannya dalam kondisi apapun.


"Kamu tau enggak apa arti nama aku?", tanya Arinta kemudian menatap Reagan dengan berbinar. Seolah bangga dengan arti namanya.


"Apa?, pasti cewek keras kepala", Reagan menarik hidung Reagan dengan usil.


Arinta menepis tangan Reagan dan menatap suaminya itu dengan sinis.


"Enggak ya. Kata Ayah, Arinta itu artinya gadis yang peduli sesama, dermawan dan patuh terhadap kewajiban", ujar Arinta dengan senyuman lebarnya. Ia bangga memakai nama yang dipilih oleh Deri dan Sinta. Bukan berarti Arinta tidak suka dengan nama Arleta yang diberikan orang tua kandungnya. Hanya saja Arinta sudah terbiasa dipanggil dengan nama itu dari kecil.


"Kayaknya yang patuh terhadap kewajiban itu salah. Kamu aja aku mohon-mohon dulu baru dikasih", ujar Reagan ambigu.


Arinta melotot, "Ya, kamu pikir aja. Aku ini hamil loh Reagan, kamu mau buat anak kita kenapa-kenapa "


"Katanya bisa membantu untuk proses lahiran nanti", Reagan menatap polos Arinta.


Reagan tertawa pelan dan mengusak gemas puncak kepala Arinta.


"Kamu mau tau gak apa arti nama aku?", Reagan bertanya kemudian. Mengalihkan topik. Jika dilanjutkan, ujung-ujungnya mungkin Arinta akan kembali merajuk.


"Apa emang?."


"Arti nama aku itu-"


"Laki-laki tak bermoral dari keluarga Allandra", Arinta menyela ucapan Reagan. Membuat cowok itu menatap datar istrinya.


Melihat tatapan mata Reagan, Arinta lantas menyengir, "Canda ganteng", kekeh nya sambil mengelus alis mata suaminya itu.


Reagan mendengus, "Candaannya bikin sakit hati cantik", sahutnya dengan nada pelan.


"Maaf", Arinta mencium sekilas pipi kanan Reagan.


"Pemimpin yang baik hati dari keluarga Allandra. Iya kan?", ujar Arinta, "Arti nama kamu itu kan?."


Reagan menatap kaget Arinta, dari mana cewek itu.


"Dari mana kamu-"


"Kamu itu suami aku, apa yang aku gak tau tentang kamu", lirih Arinta dengan senyuman manis membingkai bibir cerahnya. Membuat Reagan tak bisa mengalihkan pandangannya untuk sesaat. Tak bisa mengendalikan diri, Reagan lantas mengecup singkat bibir Arinta.


"Dasar", dengus Arinta.


Reagan terkekeh kecil, "Kamu pernah ikut kemah gak?", tanyanya kemudian.


"Enggak. Karena Ayah gak ngizinin dan aku juga takut dengan hutan", jawab Arinta.


"Ya udah karena kamu takut, kita tetap di dalam aja", Reagan memeluk erat tubuh Arinta yang menghadapnya.


"Enggak boleh gitu. Gak sopan tau", Arinta memang meminta seluruh keluarga dan para sahabat untuk berkemah dengannya di belakang rumah baru mereka. Di dekat danau buatan yang ada di sana. Alasan Arinta meminta hal tersebut, tak lain dan tak bukan adalah karena sebentar lagi ia akan melahirkan. Perkiraannya tiga hari lagi. Jadi Arinta ingin ketika ia mengalami proses bertaruh nyawa itu, semua orang hadir dan dapat memberikannya doa selamat. Tapi sayang, tidak semua teman Reagan bisa berkumpul bersama mereka. Sebab Ardean dan Revo sudah pergi ke Inggris beberapa Minggu yang lalu untuk berkuliah disana.


"Mereka juga ngerti kali kalau kita-"


"Kita apa?. Enggak ada jatah ya Reagan", potong Arinta seraya menatap tajam suaminya itu.


"Katanya kamu patuh dengan kewajiban, penuhin lah kewajiban kamu."


Arinta menatap flat Reagan, "Gila!", umpatnya dan melepaskan diri dari pelukan cowok itu.


Lalu Arinta menarik resleting tenda nya. Berniat membantu mereka yang tengah menyiapkan makanan untuk duduk di depan api unggun.


"Rin", panggil Reagan masih berbaring menatap Arinta yang sama sekali tidak merespon ucapannya.


"Ya udah kal-"


Arinta menatap Reagan sambil berujar, "Aku mau bantuin Bunda, kalau kamu masih-"


"Aaaaaaaa...."


Bruk


"Arinta!"


"Arin...!"


"Rinta..."


Arinta terjatuh karena kakinya yang tersandung saat ingin melangkah keluar dari tenda. Ditambah dengan pandangannya yang fokus menatap Reagan. Jadi Arinta tidak melihat kemana kakinya melangkah.


"Reagann...", lirih Arinta menatap Reagan yang berdiri melihatnya. Dengan tangan yang memegangi perutnya seolah tengah melindungi anaknya yang ada di dalam sana. Sungguh, Arinta berharap semoga kedua malaikat kecilnya itu baik-baik saja.


...~Rilansun🖤....


Buat yang setia nungguin up, solly bngt krna telat. Smlm gk buka hp, krna lg ngerayain pengurangan usia😂💞💞💞


Te amo all🖤