
...•••••••••••••...
...Bumi tidak hanya berputar untuk diri kita sendiri, jadi jangan egois.......
...••••••••••••...
...***...
Setelah mengusir semua laki-laki untuk menjauh dari kamar Arinta. Ketiga perempuan itu duduk termenung dengan segala pikiran masing-masing. Keheningan terjadi diantara mereka selama beberapa menit, hingga suara lembut Vina mengalun merdu di udara.
"Apa rencana kamu untuk kedepannya?."
Arinta menoleh kearah Vina ketika merasa pertanyaan itu ditujukan untuknya. Masa depan?, entahlah Arinta pun tidak tau apa yang ingin dilakukannya untuk masa depan.
"Kuliah?, kerja?, sukses", jawab Arinta dengan pandangan yang lurus kedepan. Menerawang ke kehidupannya dimasa depan kelak.
"Terus baby kamu?", Vina mengucapkannya dengan hati-hati. Takut jika putrinya akan tersinggung.
Arinta terdiam sejenak, sebelum menjawab, "Ayah dan Ibu katanya mau jagain", menoleh kearah Sinta yang tersenyum lembut. Sangat menenangkan.
"Sampai dia besar?."
"Ayah bilang, mau urus dia. Iya kan Bu?", tanya Arinta kepada Sinta yang hanya terus tersenyum.
Vina menghela napasnya. Arinta memang sangat dimanja, "Mommy tau kamu pasti didalam kesulitan beberapa bulan ini. Seberapa detailnya kamu menceritakan masalah itu. Mommy tetap enggak akan bisa merasakan apa yang kamu rasakan. Karna kamu yang mengalaminya. Kamu yang merasakan kesedihannya. Mommy sebagai Ibu hanya bisa mendoakan kamu. Mungkin kita baru ketemu hari ini, tapi mommy udah kenal kamu dari bayi. Mommy memang enggak melihat tumbuh kembang kamu. Tapi sebagai Ibu, mommy yakin kamu enggak akan tega memberikan dia kepada orang lain", ujarnya panjang lebar.
"Kamu sayang dia kan Arinta?."
Deg
Arinta tertegun. Matanya fokus kedepan. Nafasnya seakan tercekat di tenggorokan. Sudah sayang kah ia kepada makhluk kecil yang tengah meringkuk nyaman diperutnya kini.
Arinta tidak mampu menjawab pertanyaan Vina, karena sampai sekarang menyentuh perutnya saja Arinta masih enggan. Arinta paham, jika anak itu tidaklah bersalah. Tapi ketika menyebut soal anak itu, entah mengapa Arinta Selalu diingatkan kembali dengan kejadian itu. Kejadian yang membuat nyawa lain hadir didalam hidupnya, dan kejadian yang memporak-porandakan seluruh impiannya. Bohong, jika Arinta tidak benci.
Arinta marah, sangat marah. Ia marah terhadap dirinya dan seluruh dunia. Tapi apalah daya, semesta saja enggan untuk menerima jasadnya.
"Rinta enggak tau mom", balas Arinta datar.
Vina tersenyum nanar. Sedalam apakah luka dihati Arinta, sehingga membuat putrinya itu sangat menolak kehadiran darah dagingnya sendiri.
"Mommy percaya kamu itu orang baik. Jangan jadi kayak mommy Arinta. Mommy enggak mau kamu menyesal nantinya. Melewatkan masa-masa indah dimana anak kamu pertama kali pandai berbicara dan dia mengucapkan kata ibu untuk pertama kalinya. Tapi sayang, bukan kamu yang dipanggil Ibu. Itu sangat sakit Arinta, sakitnya melebihi dari apapun yang ada didunia. Melihat anak kamu menggenggam tangan orang lain dan terlelap didalam gendongannya. Sementara kamu hanya bisa menangis merindukan nya dari kejauhan", Vina kembali menitikkan air matanya. Membuat Arinta langsung mendekap ibu kandungnya itu. Arinta mengerti jika Vina masih belum bisa melupakan apa yang telah terjadi padanya beberapa tahun lalu. Tapi mau dikata apa lagi, semuanya sudah tertulis digaris takdir Tuhan.
"Mommy jangan gitu dong. Semuanya udah direncanain takdir. Kalau itu enggak terjadi, mungkin Rinta enggak akan bisa ketemu Ibu dan Ayah", ujarnya mencoba menghibur.
Vina mengurai pelukannya, "Karena takdir lah kamu bisa kembali bertemu mommy. Dan karena takdir pula dia hadir dalam hidup kamu. Dia itu anugerah Arinta."
Dia bukan kesalahan, dia itu anugerah.
Arinta mengingat kembali ucapan yang pernah Reagan lontarkan. Cowok itu juga mengatakan jika anak itu adalah sebuab anugerah. Benarkah dia sebuah anugerah untuk hidup Arinta. Namun mengapa anugerah itu hadir dengan cara yang menyakitkan.
"Tapi Mom-"
"Arinta, mau enggak mau, suka enggak suka, dia tetap anak kamu. Darah daging kamu. Suatu saat dia yang bakal panggil kamu Ibu. Sebentar lagi kamu akan menjadi seorang Ibu", ujar Vina dengan sedih bila mengingat bayi yang digendongnya tujuh belas tahun silam. Sebentar lagi akan menggendong bayi nya sendiri. Vina belum rela melepaskan putrinya yang belum puas ia peluk, tapi cucunya juga butuh status yang jelas.
Arinta termenung. Ia tahu jika bayi ini akan menjadi beban untuk orang tuanya suata hari nanti jika Arinta memberikannya. Karena itulah ia nekad waktu itu untuk kembali menggugurkan bayinya. Namun lagi-lagi gagal.
"Mommy kamu benar sayang. Walaupun Ibu dan Ayah enggak keberatan. Tapi anak ini juga butuh status yang jelas. Dia butuh keluarga, dia butuh kasih sayang Ibu dan Ayahnya. Coba kamu posisikan diri kamu menjadi dia. Bisakah kamu bertahan hidup dengan label anak haram?. Bisakah kamu hidup didalam kegelapan tanpa ada orang yang mau menolong. Semuanya mencaci maki kamu, membenci kamu, padahal kamu enggak tau kesalahan apa yang udah kamu perbuat. Dia masih kecil sayang, jangan terlalu keras", Sinta melepaskan tangan Arinta yang mencengkram erat perutnya sendiri.
"Argh", Arinta menjambak rambutnya frustasi. Memikirkan apa yang dibilang Sinta, membuat Arinta merasa telah menjadi orang yang terjahat di dunia.
"Rinta tetap enggak mau dia Ibu. Rinta enggak mau dia ada hanya untuk jadi beban. Rinta ingin bahagia dengan semua rencana yang udah Rinta siapkan. Tapi mengapa itu sulit sekali Ibu", Arinta menangis dengan kepala yang tenggelam diantara lipatan kakinya yang ditekuk. Mengapa semuanya terasa sangat susah.
"Terima Reagan sayang", sahut Vina seraya mengelus lembut kepala Arinta. Ia juga ikut menangis melihat kondisi putrinya. Hati Ibu mana yang tak sakit bila anaknya dilecehkan orang lain. Terlebih oleh orang yang dikenal dekat dengannya.
Arinta mendongak menatap Vina, "Menikah dengan dia?."
Vina mengangguk, "Kamu boleh coba sayang. Kalau kamu enggak sanggup, tangan kami semua terbuka lebar untuk memeluk kamu."
"Tapi pernikahan bukan mainan."
"Nyawa juga bukan suatu mainan sayang", celetuk Sinta membuat kegundahan dihati Arinta bertambah. Benar nyawa bukan suatu mainan, tapi pernikahan juga bukan sebuah lelucon.
Tanpa menghiraukan kedua Ibu nya. Arinta bangkit dari kasurnya. Melangkahkan kakinya keluar kamar, dan mendekati Deri yang tengah berbicara dengan Zhein. Lalu tanpa aba-aba Arinta menjatuhkan dirinya kepangkuan Deri lalu memeluknya erat. Mencari ketenangan didalam pelukan hangat sang Ayah. Ketika Arinta gelisah, hanya pelukan Deri lah yang bisa menjadi obatnya.
"Ayah, apakah selama ini Rinta udah nyusahin Ayah?, apakah nanti kalau dia udah lahir dia juga bakal jadi beban untuk Ayah?, hidup Rinta sebuah beban Ayah", celoteh Arinta didalam pelukan Deri.
Deri tersenyum simpul sambil mengelus punggung putrinya yang rapuh, "Siapa yang bilang Arin itu beban. Arin itu sebuah anugerah untuk Ayah."
Arinta menatap Deri lamat, "Kayak dia?", tunjuk nya kearah perut.
Deri terdiam sejenak, namun sedetik kemudian pria paruh baya itu mengangguk dan tersenyum, "Iya. Semua anak itu anugerah untuk orang tuanya. Enggak ada yang namanya beban. Tapi itu akan jadi beban untuk anak yang tidak memiliki keluarga yang lengkap. Anak-anak yang tidak memiliki orang tua yang lengkap akan jadi orang yang pemberontak, susah diatur, dan bangkang. Pada saat itu orang-orang tidak berhak mencacinya, karena bukan mau mereka untuk menjadi seperti itu. Tapi karena takdir lah yang tak mengizinkan mereka untuk merasakan hangatnya sebuah keluarga yang lengkap. Anak-anak seperti mereka pasti memiliki masalah mental, menjadi sosok yang pendendam, anti sosial dan urak-urakan", ujar Deri mencoba menjelaskan kepada Arinta untuk lebih menghargai anaknya sendiri.
Arinta tercenung, menatap kosong kearah perutnya. Haruskah ia memberi anak itu sebuah keluarga yang lengkap. Haruskah Arinta mengizinkan Reagan untuk bertanggung jawab atas dirinya dan juga si jabang bayi. Tapi satu masalahnya, bisakah Arinta melakukan itu.
"Kamu tidak akan tahu apabila belum mencobanya. Apapun keputusan kamu, kami akan selalu ada dibelakang kamu", celetuk Zhein setelah paham apa arti maksud pertanyaan Arinta kepada Deri. Sebenarnya ia iri melihat Arinta yang begitu dekat dengan Deri. Tapi Zhein bisa mengerti kalau figur Ayah didalam hidup Arinta adalah Deri, sebab putrinya itu tumbuh kembang bersama sahabatnya tersebut.
Arinta menoleh, menatap semua orang yang berada disana. Tatapan mereka semua adalah tatapan penuh cinta. Betapa beruntungnya Arinta bisa mendapatkan sebuah keluarga seperti mereka.
Lalu dengan menarik napas panjang Arinta melontarkan keputusan yang entah disesalinya atau tidak nantinya.
"Reagan boleh bertanggung jawab atas Rinta dan anaknya", ujar Arinta yang membuat para orang tua tersenyum simpul. Melegakan bila melihat putrinya dapat tumbuh dewasa. Jika Arinta ingin berpisah nantinya, mereka akan dengan lapang dada menerima nya. Sebab memang bukan seharusnya Arinta menikah diusia sedini itu.
Mereka bukan keluarga yang tak mampu sehingga menikahkan seorang anak hanya untuk duit.
"Ck, kalau gitu tau gue aja yang buntingin kak Rinta", gumam Raka yang berdiri disamping Saka.
Saka menoleh, "Kalau mulut lo udah enggak guna lagi, mending minta Ibu jahitkan. Biar baunya enggak nyebar", sahut nya dan sedikit menjauhkan diri dari Raka. Membuat cowok itu menatap nyalang Saka.
"Kembaran sialan!."
...~Rilansun🖤....
Uwuuu bakal ada makan"😋