
...••••••••••••••...
...Maybe I'm not perfect, but I'll make sure that I can make your smile come out perfectly........
...•••••••••••••••...
...***...
Arinta memandang dengan seksama apartemen Reagan. Menatap keseluruh sudut ruangan yang terkesan sangat elegan dan mewah. Pantas saja, orang yang punya anaknya sultan Allandra. Tidak mungkin orang sekelas Reagan tinggal disebuah apartemen yang kecil.
Kemudian Arinta beralih menatap Reagan yang sibuk membawa tas dan koper miliknya. Cowok itu terlihat sangat kesusahan. Salah sendiri, dibantu enggak mau.
"Ada berapa kamar?", tanya Arinta yang membuat Reagan mendongak ke arahnya.
"Eum, tiga sih. Kenapa?."
Arinta tidak menjawab, cewek itu malah balik bertanya, "Kamar kamu yang mana?."
Reagan menunjuk kamarnya yang berada dilantai atas.
Arinta mengangguk, "Yaudah aku yang dibawah aja", ujarnya dan ketika ia ingin berjalan kearah kamar yang dimaksud, Reagan lebih dulu berseru.
"Tapi dua kamar yang lain kuncinya hilang, jadi kamu cuma bisa tinggal dikamar aku."
Arinta menyipitkan matanya menatap Reagan. Ia merasa curiga dengan kehilangan dua kunci kamar tersebut. Apakah itu benar atau hanya akal-akalan si setan semata.
Reagan balik menatap Arinta. Merasa dicurigai, Reagan lantas mengangkat kedua bahunya acuh. Membuat Arinta mendengus dan menghentakkan kakinya lalu berjalan kearah kamar yang tadi dimaksud olehnya. Memastikan jika apa yang dikatakan Reagan benar atau salah.
Berulang kali Arinta memutar knop pintu, namun pintu berwarna putih itu tetap tidak terbuka. Dan berulang kali juga Arinta mencoba mendobrak kecil pintu dengan tubuhnya. Tapi nihil, pintu itu tetap tidak terbuka sama sekali. Apakah yang Reagan katakan memang benar adanya kalau kunci pintu tersebut telah hilang. Namun mengapa harus kedua kamar itu yang kuncinya hilang. Mengapa tidak kunci kamar Reagan dan kunci lemari misalnya. Mengapa timing nya sangat pas sekali.
Argh, sial.
"Nanti badannya sakit", tegur Reagan yang melihat Arinta menubruk kan tubuh mungilnya ke pintu yang terkunci.
Arinta menoleh sinis kearah Reagan dan kemudian berjalan dengan malas kearah kamar cowok itu yang ada diatas. Pasti kuncinya tidak hilang, Arinta yakin ini semua pasti telah direncanakan oleh makhluk astral tersebut. Ya, pasti.
Sementara itu, Reagan tersenyum menatap punggung Arinta dari bawah. Mengapa istrinya itu sangat kekanak-kanakan. Entah bagaimana kelak Arinta mengurusi anak mereka, sementara cewek itu sendiri masih anak-anak.
"Untung dua kunci tuh kamar udah gue buang", gumam Reagan dan tersenyum puas. Merasa bangga dengan dirinya yang pintar. Lalu cowok itu berjalan kearah kamarnya dengan koper dan barang bawaan milik Arinta.
Setelah tinggal dua hari dirumah mertuanya. Reagan memutuskan untuk membopong Arinta ke apartemennya. Untuk saat ini tabungan yang Reagan miliki belum cukup untuk membeli sebuah rumah. Mungkin untuk sebuah rumah yang minimalis itu cukup, tetapi Reagan ingin membeli sebuah rumah yang besar. Kalau bisa besarnya mengalahkan GBK. Karena Reagan tidak hanya mau satu atau dua orang anak dari Arinta. Reagan ingin memiliki tim sepakbola nya sendiri. Oleh karena itu ia ingin membeli rumah yang besar.
Bisa saja ia meminta bantuan dari Ayah nya. Namun Reagan gengsi setelah mendengar ucapan Xavier beberapa hari yang lalu.
Laki-laki sejati itu tidak akan mau menerima uang orang lain untuk menafkahi keluarganya.
Dari situlah Reagan termotivasi untuk memberikan yang sempurna untuk keluarga kecilnya. Ya walaupun saat ini mereka harus tinggal untuk sementara waktu di apartemen Reagan. Dan apartemen tersebut juga adalah hadiah dari Xavier disaat dirinya berulang tahun yang ke lima belas tahun.
It's ok. Mulai kini Reagan akan berusaha sekeras mungkin untuk membahagiakan Arinta dan anak-anaknya kelak.
...***...
Arinta mengerjapkan matanya dan menatap kesisi ranjang disebelahnya. Dimana tempat Reagan tertidur tadi malam. Namun nihil, cowok itu tidak ada sama sekali. Tak ingin memusingkan hal tersebut Arinta lantas bangkit dan berjalan kearah kamar mandi yang ada didalam kamar. Membawa serta seragam sekolahnya. Setelah libur berhari-hari akhirnya Arinta kembali bersekolah. Hal itu tentu saja membuat cewek yang baru genap berusia tujuh belas tahun beberapa hari yang lalu sangat senang.
Setelah menghabiskan waktu setengah jam untuk mandi dan memakai pakaian. Arinta turun dengan tas yang dijinjing nya.
Sepertinya Reagan telah pergi ke sekolah terlebih dahulu. Terbukti dengan cowok itu yang tidak ada diruang tamu maupun ruang keluarga. Sudahlah, memikirkan Reagan hanya akan membuat mood bagus Arinta menjadi anjlok.
Kemudian cewek itu berjalan kearah dapur. Berniat membuat sarapan yang bisa dimakannya hari ini. Namun langkahnya terhenti setelah melihat sosok cowok berseragam putih abu-abu yang tengah membelakanginya. Sepertinya cowok itu sedang memotong sesuatu.
Pantesan aja anteng. Lagi sibuk masak rupanya.
Arinta tidak menghiraukan Reagan. Cewek itu berjalan kearah kulkas. Mengambil satu buah apel dan bersiap menggigitnya. Namun sebuah ringisan Reagan membuat Arinta segera berlari menghampirinya.
"Bodoh banget sih", Arinta mengambil tangan Reagan yang berdarah yang sepertinya terkena pisau. Lalu mengarahkan nya ke wastafel. Mencuci tangan cowok tersebut hingga darahnya berhenti menetes. Dan Arinta dengan telaten mengelap tangan Reagan yang basah.
"Kamu enggak usah segini nya buat dapetin anak kamu. Aku bakal kasih dia sukarela ke kamu", ujar Arinta yang membuat Reagan menatap istrinya dengan dingin.
Reagan menghela nafasnya melihat Arinta yang berlalu dari hadapannya. Memejamkan mata, menahan egonya. Reagan lantas bertanya kepada Arinta, "Apa aja yang kamu enggak suka?, atau kamu punya alergi dengan makanan apa?"
Arinta berbalik dan menoleh, "Aku enggak suka dibohongin, dikhianatin, aku juga enggak suka pas sakit gigi, sakit kepala, sakit hati dan yang paling aku enggak suka itu kamu", sarkasnya dan berjalan kearah kulkas. Mengambil apelnya yang tadi tidak jadi dimakannya. Itu semua karena si setan. Dimana Reagan berada, disitulah masalah tiba.
Reagan menggelengkan kepalanya dan tersenyum tipis, "Ngomong panjang lebar ujung-ujungnya tetap nyindir gue. Dasar bumil labil", gumamnya menatap lurus Arinta yang tengah memakan apel seraya bermain ponsel.
Reagan berbalik dan berniat melanjutkan kembali acara masaknya.
"Kamu tetap mau masak?, kamu mau motong tangan kamu sampai habis?."
Reagan menatap Arinta yang entah kapan sudah berdiri disampingnya. Dan Reagan merasa tak terima dengan ucapan cewek tersebut. Mengapa terdengar seperti dirinya tidak tau apa-apa. Jangan salah, Reagan sudah sering tinggal sendiri ketika dirinya membutuhkan waktu sendiri. Jadi ia juga bisa memasak walau hanya beberapa jenis makanan. Arinta terlalu menganggap sepele dirinya.
"Udah awas", Arinta melepaskan celemek yang dipakai Reagan dan mengenakannya sendiri. Mengusir Reagan untuk menjauh. Namun bukannya menjauh Reagan malah berdiri dibelakang Arinta sambil menyanggul rambut Arinta menggunakan sumpit.
Sebelum mendengar kan lagi kalimat sinis Arinta. Reagan memilih untuk menjauh dan duduk di mini bar seraya memperhatikan Arinta yang tengah menunjukkan kebolehannya.
Arinta sangat berbeda dengan Laily. Mungkin keduanya sama-sama baik. Namun Arinta itu lebih mandiri dibanding Laily. Mungkin juga hal itu karena Laily yang sudah terbiasa hidup dimanja sedari kecil.
Arinta itu memang berbeda dari yang lainnya. Dan sepertinya rumor yang beredar di Allandra mengatakan jika Arinta adalah cewek yang cupu itu adalah salah. Arinta itu memang pendiam, tetapi tidak sulit untuk berkomunikasi dengannya. Dan Arinta yang takut untuk keluar dan bersosialisasi dengan orang-orang lain, sepertinya itu hanya karena cewek tersebut terlalu memikirkan omongan orang-orang. Yang membuatnya kehilangan kepercayaan dirinya.
Tapi karena sekarang sudah ada Reagan didalam hidupnya. Cowok itu pastikan untuk mengembalikan kepercayaan diri Arinta dan berdiri disampingnya tanpa menunduk lagi.
"Gue akan berusaha sebisa gue buat lo bahagia", gumam Reagan dengan pandangan yang lurus kearah Arinta yang berjalan kearahnya dengan dua piring ditangan.
...~Rilansun🖤....
Like🍑