Brittle

Brittle
Merokok



...•••••••••••••...


...Kamu selalu menjadi suatu hal yang mengkhawatirkan......


...••••••••••••...


...***...


"Jadi lo ditolak nih?", tanya Revo setelah mendengarkan cerita soal lamaran Reagan yang ditolak oleh Arinta.


Reagan mendengus lalu mengambil minuman soda kaleng dan meminumnya dalam sekali tegak, "Kenapa sih semua cewek itu sok jual mahal", ujarnya ketika mengingat jika mendapatkan Laily dulu ia juga memerlukan sebuah perjuangan. Padahal Reagan yakin kalau cewek itu juga menyukainya pada saat itu. Tapi yang namanya cewek, selalu bisa membuat suatu hal menjadi sangat rumit.


"Lo sih masalah dicari sendiri", celetuk Zidan yang membuat Reagan melemparkan kaleng bekas miliknya tadi kearah cowok tersebut.


"Itu semua karena kalian, kalau kalian enggak paksa gue minum. Mungkin semuanya enggak bakal jadi kayak gini."


"Lo disuruh main dengan cewek disana juga enggak mau. Ya salah lo lah", Revo meringis ketika melihat Reagan yang melotot kearahnya.


Lalu Reagan mengusap wajahnya dengan frustasi. Salah apa ia hingga bisa bersahabat dengan para teman laknat nya tersebut.


Riko membanting ponselnya keatas meja ketika dirinya kalah dalam bermain game, membuat semuanya menatap tajam cowok tersebut.


"Hehehe, sorry", cengiran bodoh Riko yang membuat mereka semua memutar bola mata jengah.


"Eh Dean, bukan nya lo lagi ngejar si cupu juga. Kenapa kemarin malam lo enggak kerumah tuh cewek, gagalin lamaran Reagan", ujar Riko yang mendapatkan lirikan tajam dari Reagan.


"Sama aja. Ending nya juga batal ditolak."


Skak mat.


Ucapan Ardean sangat mengena dihati Reagan.


"Tapi lo seriusan sama Arinta?", tanya Zidan dengan serius.


Ardean menatap Zidan lalu menggelengkan kepalanya.


"Lah."


"Dari awal gue tuh cuma berusaha nyadarin Reagan. Kalau jadi cowok itu harus tegas dan jangan sampai dia nyesal karna udah lepasin sebuah berlian yang berharga", jelas Ardean membuat ketiga cowok itu berdecak kagum


Zidan menepuk pundak Ardean, "Whoaa Malaikat Ardean yang baik hati."


"Jadi lo enggak bakal saingan sama gue kan?", tanya Reagan memastikan yang membuat Revo, Riko dan Zidan menatap tak percaya Reagan. Apakah cowok itu sudah mulai menyukai Arinta, sehingga membuatnya takut untuk kehilangan.


"Kenapa?, emang nya lo udah cinta?", celetuk Revo membuat tubuh Reagan mematung. Dua kali sudah pertanyaan itu terlontar. Dan jawabannya pun masih sama, abu-abu. Reagan masih tak yakin dengan perasaan nya. Hatinya tak seyakin disaat ia menjalin hubungan dengan Laily dulu. Entahlah, memahami perasaan itu sangat sulit.


"Gue cuma peduli sama anak gue", jawab Reagan lugas membuat Riko, Revo, dan Zidan bersorak kegirangan. Lucu saja, mendengar cowok semuda Reagan menyebut perihal anak.


"Uwuuu yang bentar lagi bakal punya baby."


"Si Reagan jadi Papah muda."


"Acieee Papa muda."


Reagan memutar bola matanya malas melihat mereka yang heboh mengenai anaknya. Bahkan Revo yang biasanya lebih sedikit normal pun juga ikut-ikutan dengan Riko dan Zidan. Memikirkan siapa nama anaknya, jenis kelaminnya, bahkan pacar masa depan anaknya. Benar-benar enggak waras kan.


"Gila", gumam Reagan dan bangkit dari duduknya berniat keluar dari dalam kelas. Kelas mereka kosong saat ini, sebab jam istirahat sudah berbunyi dari beberapa menit yang lalu. Murid-murid yang ingin memakan bekalnya didalam kelas langsung diusir oleh Revo tadi. Jadi hanya ada mereka berlima yang menguasai kelas.


"Kalau suatu hari lo buat dia kecewa, dan gue udah suka sama dia. Gue enggak yakin kalau enggak rebut dia dari lo", celetuk Ardean ketika Reagan berjalan melewatinya.


Reagan berhenti. Menatap Ardean yang tidak menoleh kearahnya, "Gue enggak bakal kasih lo kesempatan untuk rebut dia dari gue", ujarnya dan melanjutkan langkahnya menuju pintu kelas.


Walaupun perasaan itu belum ada. Tapi Reagan yakin seiring berjalannya waktu cinta pasti bisa tumbuh diantara mereka berdua. Jika memang benar Arinta lah jodohnya.


Untuk Laily, apakah ia sudah melupakan cewek tersebut atau belum. Hanya Tuhan dan hati nya lah yang tahu. Sebab melupakan itu tidak semudah dan secepat jatuh cinta. Apalagi Reagan yang tipe nya setiable gitu.


"Hufft", Reagan menghela nafasnya dan meletakkan kedua tangannya diatas pagar pembatas yang berada didepan kelasnya. Menatap seluruh aktivitas yang berada dibawahnya. Hingga tatapannya berhenti pada seorang siswi yang memasuki gerbang sekolah dengan gerak-gerik yang mencurigakan.


Reagan menyipitkan matanya untuk melihat dengan lebih jelas siapa sosok tersebut. Lalu cowok itu membulatkan matanya ketika mengetahui siapa siswi itu, "Arinta."


"Tumbenan dia mau keluar pas jam istirahat", monolog Reagan. Mengingat jika Arinta itu adalah tipe orang yang introvert, ditambah dengan bullyan dari murid lain yang membuat cewek itu takut untuk keluar dari dalam kelas.


"Reagan, kalau anak ini enggak ada, kamu enggak bakal nikah sama aku kan."


Reagan tiba-tiba teringat dengan ucapan Arinta kemarin malam. Ketika ia bertanya apa maksudnya, cewek itu malah terdiam tanpa memberikannya jawaban yang jelas.


Cowok itu terus mengamati Arinta, hingga Arinta berbelok kearah koridor toilet kelas sepuluh. Merasa penasaran lantas Reagan turun dan menghampiri Arinta.


...***...


Arinta menggenggam sebuah benda berbentuk kotak itu dengan tangan gemetaran. Lalu ia melihat pantulan dirinya dicermin. Memejamkan mata, meyakini diri sebelum ia berbuat suatu hal yang tak pernah dilakukannya sama sekali.


Kemudian Arinta membuka matanya dan melihat sekitar. Memastikan jika tidak ada orang lain didekatnya. Untungnya hanya ia sendiri yang berada didalam toilet.


Ketika Arinta ingin membuka kotak tersebut suara pintu dibuka menghentikan gerakannya.


Sedangkan Reagan, cowok itu mengunci pintu toilet dari dalam dan menyandarkan tubuhnya di sisi pintu dengan tangan yang bersidekap di dada. Reagan terkejut ketika melihat sebuah kotak rokok yang dipegang oleh Arinta. Namun sedetik kemudian air muka cowok itu kembali datar seperti semula.


"Mau ngapain?", tanya Reagan membuat Arinta tersentak. Cewek itu hampir lupa dengan tujuan awalnya.


"Bukan urusan kamu", jawab Arinta jutek.


Reagan menggelengkan kepalanya pelan, "Mau ngerokok?", tanyanya lagi.


Arinta menatap sekilas Reagan dan menatap kotak rokok yang dipegangnya. Ternyata cowok itu telah melihatnya, "Menurut kamu aku mau ngapain?, pake nanya", sinis Arinta membuat Reagan terkekeh pelan.


"Ada korek enggak?", Reagan berjalan mendekat dan mengeluarkan sebuah korek api elektrik.


"Nih, kalau enggak ada."


Arinta mengambil korek api milik Reagan dengan canggung ketika sadar bahwa dirinya lupa membeli barang tersebut.


"Ma-makasih."


Reagan menganggukkan kepalanya, "Emang kamu bisa merokok?."


"Bi-bisa lah", jawab Arinta terbata-bata. Bohong, memegang rokok saja baru pertama kali ini selama ia hidup didunia. Tetapi kalau Arinta mengatakannya yang sebenarnya, mungkin cowok yang berdiri dihadapannya itu akan menertawakan dirinya.


"Kamu lagi hamil loh kalau kamu lupa."


"Ya terus?."


Reagan mendekat, sedikit merunduk kan badan nya, "Itu bahaya buat anak kita", bisik nya tepat ditelinga Arinta. Lalu cowok itu kembali menegakkan tubuhnya.


"E-emang itu yang diharapkan", Arinta memegang dadanya. Merasakan detak jantung nya yang abnormal.


Reagan tersenyum miring, "Oh. Kalau gitu kenapa belum mulai?."


Arinta memandang sebal Reagan, "Kan kamu yang ajak ngomong."


"Yaudah aku diem. Aku mau lihat kamu boleh kan?"


"Bo-boleh."


"Yaudah cepat mulai", Reagan menatap Arinta lekat membuat cewek itu risih ditatap seintens itu.


"Apaan sih. Kamu kira aku lagi atraksi", dumel Arinta.


Reagan mengangguk, "Loh iya kan, atraksi mau bunuh anak sendiri", ujarnya santai.


Arinta mendongak, "Kamu—"


"Ayo dong, aku mau lihat nih."


Arinta mendengus dan menatap kearah sebatang rokok dan korek api dalam genggamannya.


Dengan tangan yang menggigil Arinta mencoba menghidupkan korek api tersebut. Entah mengapa benda itu terasa susah sekali untuk dihidupkan.


"Pembunuh."


Arinta melempar asal sebatang rokok dan korek api tersebut ketika mengingat kembali kata pembunuh yang pernah diucapkan Reagan saat ia ingin mengaborsi kandungan.


"A-aku bukan pembunuh", Arinta luruh seraya menatap takut rokok yang barusan dipegangnya.


"Ke-kenapa aku enggak bisa. Kenapa!", teriak Arinta histeris. Cewek itu menjambak rambutnya frustasi. Membuat Reagan tertegun.


Sebesar itu ternyata kesalahan yang telah diperbuatnya.


Lalu Reagan jongkok dihadapan Arinta. Mendekap erat tubuh perempuan yang tengah menangis tersebut.


"Ssst, udah. Kalau Bundanya nangis, nanti debay nya bakal ikutan nangis juga. Kamu enggak boleh sedih", ujar Reagan mencoba menenangkan. Pertama kali ini ia membujuk seorang Ibu hamil. Entah mempan atau tidak.


"Aku enggak mau dia ada. Kenapa Reagan, kenapa harus aku?, kenapa harus aku yang kamu nodai", Arinta memukuli dada Reagan.


"Biarin dia ada Rin, setidaknya untuk aku. Enggak akan lama kok, biarin dia hidup didalam sini untuk beberapa bulan lagi. Jaga dia semampu kamu. Aku yakin kamu masih memiliki naluri seorang Ibu", ujar Reagan seraya mengelus lembut perut Arinta membuat cewek itu berhenti memberontak.


"Bukan nya kamu udah janji sama Ayah. Tetap pertahankan dia", keluar sudah pertanyaan yang sedari tadi dipendamnya. Bukan kah Arinta mengatakan tadi malam kalau anak itu masih ada karena Deri yang meminta nya. Lalu apa sebabnya sampai membuat cewek itu nekat melanggar janjinya.


"A-aku enggak mau bebankan Ayah dan Ibu dihari tua mereka", jawab Arinta menahan isakan tangis.


"Nikah sama aku kalau gitu."


Arinta mendongak lalu mendorong kuat tubuh Reagan, "Mau kamu itu apa sih Reagan. Ketika kamu mau nikah langsung nikahin aku. Kamu kira aku ini cewek apaan. Aku kayak enggak ada harga dirinya dimata kamu", Kemudian Arinta bangkit. Merapikan penampilan nya dan memandang sinis kearah Reagan ketika ia melewatinya.


"Bastard!", umpat Arinta.


Sementara itu Reagan hanya bisa duduk termenung menatap Arinta yang keluar dari toilet. Mengapa suasana hati cewek itu cepat sekali berubah. Bukannya tadi sangat ingin membunuh anaknya, dan sekarang malah menghujat dirinya. Apakah semua ibu hamil semoody-an itu.


...~Rilansun🖤....