
...••••••••••••••••...
...Cara membunuh yang paling sadis adalah dengan menggunakan kata-kata......
...••••••••••••••••...
...***...
Arinta menghela nafas beratnya. Menatap sekeliling kelasnya yang gaduh. Menunggu Guru Sejarah yang seharusnya sudah hadir sedari 15 menit tadi. Tetapi nihil, Guru perempuan itu tetap tidak menunjukkan batang hidungnya sampai sekarang. Ditambah dengan Gina yang izin karena cewek itu tengah ikut serta dalam turnamen karate hari ini.
Berakhir dengan Arinta yang duduk sendirian dipojok kelas. Alya yang biasanya akrab dengannya pun tidak hadir hari ini. Arinta merasa hidup sendirian didunia ini. Tidak ada yang mengajaknya ngobrol dan tidak ada yang bersedia diajaknya ngobrol.
Arinta menutup bukunya yang telah penuh dengan coretan-coretan abstraknya. Hanya tiga hal itulah yang dari tadi dilakukannya. Nyoret buku, menghela nafas dan menatap sekeliling kelasnya. Berharap ada yang mengajaknya berbicara. Tapi itu sama saja dengan mengharapkan bulan menurunkan hujan.
Kemudian cewek itu mengalihkan tatapannya kearah jendela kelas yang langsung terhubung dengan lapangan outdoor Allandra.
Deg
Arinta menatap nanar kearah seorang siswi yang memakai baju olahraga dan tengah tertawa riang dengan kedua temannya. Ya, setelah perkelahian diantara mereka beberapa waktu lalu. Laily memutuskan untuk pindah kelas, dan memutuskan untuk memusuhi Arinta. Sakit?, tentu saja. Waktu dua tahun yang telah mereka habisi selesai begitu saja hanya karena masalah satu malam.
"Laily", gumam Arinta dengan pandangan lurus menatap cewek tersebut.
Arinta iri dengan kedua teman baru Laily itu. Dulu ia yang berada diposisi mereka. Dulu ia yang selalu menjadi tempat Laily untuk mencurahkan segalanya. Dan dulu hanya dirinya yang bisa membuat dan tertawa lepas dengan Laily. Sayang, itu semua dulu. Masa lampau yang sangat manis untuk disimpan di memorinya.
Tanpa sadar air mata itu lagi-lagi turun. Arinta dengan sigap menghapus air matanya. Ia masih tak percaya jika Laily saat ini sudah tak lagi menjadi pelindungnya. Jika saja kelasnya saat ini tidak ada orang lain selain dirinya, Arinta ingin sekali berteriak. Ia sungguh tak rela sahabatnya pergi.
Tapi apalah daya, takdir terlalu kejam terhadapnya.
Merenggut kesuciannya, merenggut kebahagiannya, dan merenggut sahabatnya.
Sungguh kejam bukan.
"DIPANGGIL ARINTA ZARVISYA DELTAVA KELAS XII MIPA 2 UNTUK DAPAT DATANG KE RUANG KOMITE SEKOLAH"
Arinta mengalihkan pandangannya ketika mendengar namanya disebut menggunakan pengeras suara sekolah. Cewek itu melirik keseluruh isi kelasnya. Menatap mereka yang juga tengah menatap dirinya dengan berbagai tatapan.
Lalu tanpa babibu Arinta lantas beranjak dari duduknya dan berjalan keluar kelas dengan pengeras suara yang masih memanggil-manggil namanya.
Koridor sekolah tampak sepi, karena saat ini KBM sedang berlangsung. Dan itu adalah satu hal yang Arinta syukuri.
...***...
Sementara itu, Reagan yang baru saja ingin memasuki alam mimpi setelah menyelesaikan tugas yang diberikan oleh gurunya, langsung menegakkan badannya seketika. Mendengar nama seseorang yang telah terlanjur masuk kedalam hidupnya, membuat Reagan bergegas mengambil jaketnya yang terletak diatas meja dan keluar dari dalam kelas. Tanpa pamit sedikitpun dengan guru yang sedang duduk didepan.
Reagan tak lagi menghiraukan semua panggilan teman-temannya. Yang terlintas dipikarannya saat ini adalah Arinta. Satu nama yang berhasil membuat seorang Reagan khawatir dan kelimpungan.
Entah karena apa, tapi yang penting Reagan tengah khawatir saat ini.
Ada apa dengan cewek itu, sampai-sampai dipanggil melalui pengeras suara begitu. Itulah pertanyaan yang muncul dibenaknya.
Reagan berlari dengan cepat menuju ruang komite sekolahnya. Melewati dua anak tangga sekaligus. Sambil mengumpati letak ruangan tersebut yang berada dilantai satu. Membuat cowok yang mengenakan jaket navy dan topi sekolah yang dibalikkan itu ngos-ngosan.
Lain kali ingatkan Reagan untuk meminta Ayahnya agar memindahkan ruang komite sekolah ke lantai tiga.
"Cupu", gumam Reagan ketika melihat Arinta yang berdiri didepan pintu ruang komite. Dengan langkah yang panjang Reagan menghampiri Arinta yang sialnya sudah masuk kedalam ruangan. Kemudian cowok itu mengintip melalui jendela dan mengamati apa yang terjadi didalam. Semuanya tampak normal. Sampai dimana seorang wanita paruh baya yang melempar gumpalan tisu kearah Arinta. Membuat darah Reagan terasa mendidih seketika.
...***...
"Ya, kami enggak mau anak kami ketularan sifat liar kayak kamu", sahut salah satu wali murid yang berada disitu. Diikuti dengan sorakan hina dari yang lainnya.
Tubuh Arinta bergetar. Ia memilin-milin jarinya, mencoba mengurangi rasa gugupnya. Namun, itu semua tidaklah berguna. Buktinya matanya telah kembali berkaca-kaca dengan bibir yang bergetar menahan tangis. Arinta takut, sangat takut.
Karena perkelahiannya kemarin dengan Laily hingga membuat rahasia kelamnya terbongkar. Dan berakhir dengan beasiswa nya yang terancam hilang.
"Sudah-sudah. Jangan membuat gelar sarjana ibuk dan bapak tercoreng hanya karna ucapan yang tak pantas kalian sebut. Ini masih disekolah, dan dia adalah siswi kami. Jika ingin menyampaikan aspirasi, tolong dengan cara yang pintar dan bijak", bela Bu Ira dengan tegas. Lalu guru tersebut mengalihkan atensinya kearah perempuan yang berdiri disampingnya. Dengan lembut Bu Ira merangkul bahu Arinta yang bergetar.
"Saya yakin kamu enggak salah. Anak didik saya mana pernah berbuat seperti itu", bisik Bu Ira membuat Arinta mendongak dan menatap wanita paruh baya yang tengah tersenyum kepadanya. Menyuntikkan sedikit rasa tenang bagi diri Arinta.
"Arinta. Apakah ada sesuatu yang kamu ingin sampaikan?, seperti pembelaan diri mungkin", suara lembut sekaligus tegas itu berasal dari wanita paruh baya yang duduk di kursi utama sebagai wakil kepala sekolah. Karena kepala sekolah sedang melakukan perjalanan dinas keluar kota saat ini.
Arinta memejamkan matanya sebelum menatap semua orang yang duduk didepannya. Dengan keberanian yang sedikit itu Arinta berbicara.
"Se-sebelumnya saya minta maaf sebesar-besarnya. Bukan niat saya untuk mencoreng nama sekolah. D-dan ini sebenarnya bukan mau saya", Arinta menundukkan kepalanya, "Mana ada cewek yang mau dirinya dinodai begitu saja. Saya bukan tipe cewek murahan. Ada masa depan yang telah saya rancang, ada keluarga yang ingin saya banggakan. Dan ada cita-cita yang ingin saya raih. Saya enggak mungkin lakuin hal bodoh sehingga mengorbankan beasiswa yang sudah susah payah saya dapatkan. Tetapi jalan Tuhan terlalu kejam untuk saya", ujar Arinta sambil sesekali menyeka air mata yang turun tanpa tau malu.
"Halah, alasan. Kalau bukan kamu yang goda, mana ada cowok yang mau merangkak keatas tubuh kamu. Dasar penggoda", teriak wali murid yang sama sambil melempari gumpalan tisu kearah Arinta. Dan seperti anak bebek yang mengikuti induknya. Wali murid yang lainnya pun ikut serta melempari Arinta dengan semua hal yang dapat dilempar.
Brak
"Berhenti. Apa kalian tidak menghargai saya yang duduk disini?", bentak wakil kepala sekolah membuat semuanya terdiam membisu.
"Sekarang kita langsung keintinya saja. Karena semuanya sudah terjadi. Dan hasil dari perundingan semua wali murid dan guru. Dengan berat hati saya mengatakan bahwa beasiswa yang dimiliki oleh Arinta akan dicabut. Dan siswi kami tersebut akan dikeluarkan dari sekolah", keputusan final wakil kepala sekolah tersebut membuat tubuh Arinta membeku. Cewek itu merasa tengah berada didalam jurang yang sangat dalam tanpa ada tangan yang bersedia terulur untuknya.
Hancur, benar-benar hancur.
Arinta memejamkan matanya meratapi nasibnya yang benar-benar sangat malang.
Brak
"Siapa yang berani mengeluarkan menantu saya dari sekolah?", ujar seorang pria bersamaan dengan pintu yang dibuka secara kasar. Membuat seluruh orang yang berada disana menatap kagum kearah seorang pria dengan setelan jas mahalnya yang berdiri gagah dan penuh wibawa. Dan jangan lupakan wajah bule dan mata abu-abunya yang sangat kontras tersebut.
Sedangkan Arinta, cewek itu terdiam dengan pandangan lurus kearah pria yang tidak dikenalinya itu. Tapi bukan itu yang menjadi masalahnya, yang menjadi pokok utamanya adalah ucapan yang disebut pria tersebut. Siapa menantu pria itu yang tidak diizinkan keluar dari sekolah ini.
Arinta menoleh kearah semua wali murid. menatap satu-persatu. Mana tau diantara wali murid ada seorang peserta didik yang merupakan menantu pria tersebut. Tapi nihil, semuanya hanya wali murid yang sudah tidak lagi mungkin bersekolah diusia mereka.
Lalu siapa?
Arinta kembali menoleh kearah pria tersebut dan terkejut menatap cowok yang berdiri dibelakang pria berwajah bule itu dengan senyuman tipisnya.
Sedetik, dua detik, dan
"APA!", Arinta berteriak lantang membuat semua orang menatap aneh kearahnya. Dengan kikuk Arinta membekap mulutnya dan menundukkan kepalanya. Menyadari hal bodoh yang telah dilakukannya. Tetapi ia berteriak bukan tanpa sebab, itu semua karena kedua laki-laki yang berdiri didepan pintu tersebut.
Jadi aku yang menantu bapak itu?.
Aku?, what the hell
...~Rilansun🖤....