Brittle

Brittle
Why me?



...••••••••••••...


...Karena tanpa aku sadari, kamu sudah menjadi prioritas ku setelah Tuhan ku...........


...•••••••••••...


...***...


Reagan berdiri. Mengambil ponselnya yang ada didalam saku dan menghubungi Gina. Untuk meminta sebuah penjelasan.


"Apa!"


Setelah terhubung, terdengar suara Gina yang ngegas binti ketus diseberang sana. Untung saja Reagan sudah tahan banting.


"Lo dimana?."


"Lah, kok kepo. Kenapa lo?, mau sungkeman sama gue. Sadar diri kalau banyak dosa."


Reagan menghela napas panjang. Sepupunya itu sekali ngomong panjang, pasti isinya semua hujatan. Enggak ada satu kali pun pujian.


"Tinggal jawab aja, enggak usah bertele-tele bisa?", sewot Reagan. Mengapa dulu Tuhan tidak menjadikannya tanaman saja. Sehingga ia tidak harus menghadapi segalanya.


"Kalau ngomong sama setan itu enggak bisa baik-baik. Entar ngelunjak", balas Gina yang lagi-lagi membuat Reagan dongkol.


"Gara-gara lo, gue hampir kehilangan anak gue", ujar Reagan dengan amarah yang tersirat. Walau ia tenang berhadapan dengan Arinta tadi. Tapi tidak bisa dipungkiri didalam hati Reagan tengah menahan emosi. Satu alasan yang membuat Reagan tidak mengeluarkan amarahnya, yaitu karena ia takut Arinta akan semakin membenci dirinya.


Jika begitu, sudah pasti lamaran keduanya juga akan ditolak.


Ya, Reagan akan melamar Arinta sekali lagi. Tetapi kali ini ia tidak akan memaksa. Cowok itu akan berjuang. Tidak usah muluk-muluk. Enggak dapat hatinya, yang penting dapat raga nya. Lalu kemudian perlahan-lahan Reagan akan mengambil hatinya. Membuat Arinta jatuh sedalam-dalamnya kejurang cinta yang dibuatnya.


"Apa maksud lo setan?!"


Teriakan Gina yang menyadarkan Reagan dari kehaluan nya semata.


"Tadi Arinta mau ngerokok bego. Kemana aja lo yang katanya sebagai sahabat terbaik", sinis Reagan dengan menekan kata sahabat.


"Terus gimana?", tanya Gina yang tidak menghiraukan Reagan.


"Ya enggak berhasil lah", Reagan keluar dari dalam toilet ketika ada tiga orang cewek yang masuk dan menatap terkejut dirinya. Cowok itu lupa jika ia masih didalam toilet cewek.


"Kok nekat lagi sih dia. Pasti gara-gara lo kan setan", tuding Gina membuat Reagan jengah. Ada apa setan yang seganteng dirinya.


"Enggak tau. Sekarang mending lo cari dia. Jangan tinggalin dia sendirian, selalu ikuti dia kemana pun. Gue enggak mau anak gue kenapa-kenapa", titah Reagan dengan aura yang dominan. Cowok itu berjalan dengan satu tangan yang dimasukkan kedalam saku. Dan yang satunya memegang ponsel ditelinga. Ditambah pandangan yang lurus kedepan. Bergaya dengan cool. Membuat para adik kelas perempuan yang melihatnya menjerit tertahan.


"Berani bayar berapa lo?", sewot Gina.


"Sepuluh ribu cukup kan. Nambah-nambah uang jajan, gapapa lah ya. Soalnya gue enggak ada uang receh", sahut Reagan dan mematikan sambungan tersebut setelah mendengar umpatan keras dari seberang sana.


...***...


Reagan merapikan jas nya lalu mengambil sebuah paper bag yang ada dikursi samping nya. Kemudian cowok itu keluar dari mobil seraya menyugar rambutnya yang telah tertata rapi.


Tadi Reagan mendapatkan sebuah undangan sweet seventeen melalui via chat. Ia lupa jika hari ini adalah ulang tahun dari sang mantan. Awalnya Reagan ragu untuk datang, mengingat hubungan mereka yang sudah tidak seperti dulu. Ditambah dengan pertemuan terakhir mereka yang kurang mengenakkan.


Namun akhirnya Reagan memutuskan untuk datang. Sekedar menjaga tali silaturahmi. Dan tidak ingin dicap sebagai orang yang sombong.


Masa lalu itu memang harus dilupakan, tapi bukan berarti kita tidak boleh menoleh kebelakang.


"Eh, Om. Apa kabar?", Reagan dengan kikuk menyapa Papi nya Laily yang tidak sengaja berpapasan dengannya.


"Kenapa kamu disini?!"


Reagan menggaruk pelipisnya canggung. Sepertinya pria tersebut masih menyimpan dendam terhadap dirinya.


"Saya—"


"Eh, kamu udah datang", Laily berdiri diantara mereka berdua, "Aku yang undang Pih", ujarnya sambil menatap sang Papi yang tidak suka akan kehadiran Reagan.


"Kenapa setan kayak dia kamu undang juga", sarkas pria itu dan berlalu meninggalkan mereka berdua dengan suasana yang canggung.


Reagan memejamkan matanya. Sudah berapa kali ia dipanggil setan hari ini. Apa wajahnya memang mirip setan. Tapi mana ada setan yang mempunyai wajah bak dewa Yunani sepertinya.


"Maafin Papi ya", ujar Laily yang tak enak hati.


"Enggak apa-apa", Reagan menyodorkan paper bag berisi kado tersebut kearah Laily, "Selamat ulang tahun", ujarnya dengan datar.


Laily tersenyum manis, "Makasih."


Reagan mengangguk singkat.


"Aku kedalam sebentar ya. Kamu nikmati aja", seru Laily dan meninggalkan Reagan.


Cowok itu berjalan memandang orang-orang yang sebagian dikenalnya. Sebab mayoritas orang yang datang adalah warga Allandra.


"Reagan goblok!, sini!", Reagan menatap jengah Zidan yang memanggil dirinya dengan lambaian tangan dan suara yang keras. Reagan curiga kalau teman nya itu adalah titisan toa mesjid.


"Ternyata mantan diundang juga", celetuk Revo ketika Reagan mengambil duduk disamping Riko yang tengah asik menyantap kue.


"Bacot", balas Reagan datar.


"Bacot itu sejenis bekicot ya?", tanya Riko tiba-tiba. Membuat semuanya kompak menyibukkan diri masing-masing. Tidak ada yang berniat menjawab.


Riko mencebikkan bibirnya, "Jahat kalian!"


"Semerdeka lo aja kembaran anoa", sahut Zidan.


"Widih, si cupu cantik banget pakai kayak gitu", celetuk Revo menarik atensi Reagan yang semula sibuk berkutat dengan ponselnya.


Reagan mengikuti arah pandang Revo. Dalam satu detik ia langsung terperangkap dalam pesona Arinta. Cewek itu benar-benar cantik dalam balutan long dress seperti itu. Dipadukan dengan rambut yang tersanggul rapi. Dan anak rambut yang keluar dari ikatannya. Sangat simpel, namun memiliki keindahannya tersendiri.


"Ibu hamil emang punya pesonanya sendiri ya", Zidan berseru membuat Reagan tersentak.


"Kalian mau dikubur dimana?", tanya Reagan santai membuat mereka semua tersentak dan menatap takut Reagan.


"Ampun bos, ampun", cengir Zidan.


"Kok marah, kan enggak ada hak", sahut Revo yang selalu bisa menohok hati Reagan.


"Jangan marah, ingat bukan siapa-siapa", Ardean ikut-ikutan menistakan Reagan.


"Pacar bukan, istri juga bukan, tapi cemburu nya naudzubillah", tambah Zidan yang langsung mendapat pukulan dari Reagan dikepalanya.


"Bunuh teman sendiri dosa enggak sih", Reagan bergumam.


"Masih takut sama dosa?, kirain udah kebal sama dosa", sahut Riko membuat Reagan beristighfar banyak-banyak dalam hati. Mencegah tangannya yang ingin sekali memukul wajah-wajah teman nya yang suci tanpa dosa itu.


"Lo kasih kado enggak sama mantan?", tanya Zidan kemudian.


Reagan hendak membuka mulutnya menjawab. Namun terurung ketika mendengarkan suara debuman yang cukup keras. Dan pekikan histeris orang-orang.


Seperti ada magnet yang menariknya. Reagan bangkit dan berlari tanpa menghiraukan teman-temannya yang memanggil. Cowok itu mendekat kearah kolam renang. Menerobos kerumunan secara paksa.


Lalu mata Reagan melebar ketika melihat Arinta dan Laily yang jatuh kedalam kolam renang. Dengan gerakan cepat Reagan membuka jas nya dan menceburkan diri kedalam kolam. Menarik Arinta ketepi kolam. Tanpa menghiraukan orang-orang sekelilingnya.


"Arin", Reagan mengguncang tubuh Arinta yang bersandar padanya. Cewek itu terbatuk-batuk. Untung saja tidak sampai pingsan.


"Gimana, ada yang sakit?", tanya Reagan yang sangat khawatir.


Arinta menggeleng lemah, "Enggak."


"Perutnya gimana?, aku panggilin dokter ya."


"Enggak usah. Aku mau pulang Reagan", pinta Arinta dengan lirih.


Reagan mengangguk singkat dan mengambil jas hitam nya yang tergelatak dilantai. Lalu memakaikan nya ketubuh Arinta yang telah basah kuyup.


"Gue duluan", ujar Reagan kepada teman-teman nya. Cowok itu melenggang pergi dengan Arinta dalam gendongan nya. Meninggalkan seseorang yang menatap miris Reagan.


"Ternyata gue emang udah kalah. Selamat Arinta, lo yang menang", gumam Laily menertawakan dirinya sendiri. Ia tidak pernah melihat Reagan se-khawatir tadi. Cowok itu seperti menjelma menjadi orang yang sangat berbeda. Dan itu sudah cukup membuat Laily sadar akan posisinya.


"Semoga kalian bahagia. Gue minta maaf Rin, sebenarnya enggak ada niat buat nyakitin lo. Tapi hati gue yang tersakiti lah yang membuat gue berani jadi orang jahat."


...***...


Reagan duduk dikursi kemudi tanpa melepaskan Arinta dari pangkuannya.


"Perut kamu sakit enggak?", tanya Reagan lagi yang dijawab Arinta dengan gelengan kepalanya.


"Serius?, anak kita enggak apa-apa."


"Enggak Reagan", jawab Arinta lelah. Mengapa cowok itu bawel sekali.


"Kamu kenapa juga pakai high heels?, enggak sadar kalau lagi hamil", semprot Reagan marah seraya melihat sepatu berhak tinggi yang ada dibawah kaki nya.


"Ya enggak mungkin aku pakai sendal jepit. Bego kamu ya", balas Arinta sewot. Membuat Reagan memutar bola matanya. Dasar keras kepala.


"Aku bisa duduk sendiri", ujar Arinta yang tak digubris Reagan. Cowok itu malah asik menyentuh perut Arinta yang sudah sedikit membuncit itu sedari lima menit yang lalu. Mengecek kondisi anaknya, kata Reagan.


"Kok kamu tambah menggigil?", tanya Reagan heran. Padahal Reagan sudah mengelap sedikit badan Arinta dengan handuk yang ada didalam mobilnya. Dan ditambah membalut tubuh cewek itu dengan jas nya. Tapi mengapa Arinta masih merasa kedinginan juga.


"Enggak tau", Arinta menggelengkan kepalanya. Ia pun tidak tahu mengapa semenjak mengandung ini tubuhnya terasa sangat rentan dan sensitif.


Reagan sedikit menjauhkan tubuh Arinta yang menyandar padanya. Cowok itu tiba-tiba membuka kemeja hitam nya. Membuat Arinta menjerit histeris.


"Kamu mau ngapain?!"


Reagan tak merespon. Ia meletakkan kemejanya kesembarang arah dan menarik kepala Arinta untuk bersandar didada bidang nya yang terpampang jelas.


"Pakai baju kamu!"


"Malas, basah."


Arinta menghela napasnya, "Yaudah aku pulang sama Gina aja. Aku enggak mau digrebek ya Reagan."


Reagan menatap Arinta, "Bawel", ujarnya membuat Arinta melotot.


"Kamu itu yang–"


"Iya aku yang salah", potong Reagan. Lalu cowok itu menghidupkan mesin mobilnya dan meninggalkan pekarangan rumah orang tua Laily.


"Emang kamu yang salah", Arinta dengan kikuk akhirnya menyandarkan kepalanya di dada Reagan.


"Kenapa harus aku yang kamu tolong Reagan?", celetuk Arinta.


Reagan menatap sekilas Arinta yang memejamkan matanya, "Karena aku takut anak aku kenapa-kenapa."


Dan karena kamu udah menjadi salah satu prioritas dalam hidup aku. lanjut Reagan dalam hati.


Arinta tersenyum, senyuman yang tidak memiliki arti. Tampaknya Reagan sangat menyayangi anak yang sama sekali tidak diinginkan Arinta itu.


Lalu mereka berdua sama-sama terdiam tanpa ada yang bersuara. Menikmati keheningan dengan diiringi lagu Risalah hati dari tape mobilnya. Lagu yang pernah diejek Reagan saat Zidan menyanyikan lagu tersebut. Dan sekarang ia merasa lagu itu sangat pas untuk kondisinya.


...~Rilansun🖤....


•Ketika Reagan terpesona oleh kecantikan Arinta:



abaikan topi ya bund: