
...•••••••••••••••••••...
...Hati ini hanya ingin didengar, ia ingin bercerita betapa banyak luka yang ditahannya.......
...•••••••••••••••••••...
...***...
Arinta memandang hujan diluar sana yang masih sangat deras. Ia ingin seperti hujan yang setelah jatuh lalu menghilang pergi tanpa meninggalkan jejak. Dirinya tak ingin lagi menyusahkan orang-orang disekitarnya setelah ini.
Arinta mengalihkan pandangannya kesamping kanan, dimana laki-laki yang sudah mengubah hidupnya itu tengah terlelap pulas setelah menjadikan ia sebagai bahan pelampiasan nafsu bejat nya.
Arinta memejamkan matanya mengingat pergulatan panas yang tidak ia harapkan sama sekali itu. Air matanya turun ketika kilasan balik yang mengerikan itu kembali berputar bagaikan kaset rusak.
"Aku mohon berhenti", mohon Arinta dengan nafas yang memburu. Ia meraup oksigen sebanyak-banyaknya sebelum Reagan kembali memagut bibirnya.
Reagan tidak menghiraukan sama sekali. Cowok itu terus berusaha mencapai sesuatu yang ia inginkan. Tanpa sadar ia menyebutkan satu nama yang membuat jantung Arinta terasa lepas seketika, "Laily", lirih Reagan dengan terengah-engah.
Arinta memukul kepalanya agar ingatan buruk itu dapat hilang dari kepalanya. Ia ingin semuanya hilang, dan lenyap seolah tidak terjadi apa-apa. Namun sayang, ia bukan Tuhan yang dapat merubah takdir seseorang.
Arinta hanya gadis biasa dan lemah yang sudah mencoba untuk tegar selama ini. Sebenarnya ia rapuh. Didalam sana ia hancur, tanpa ada yang mengetahuinya.
"Laily, maaf. Maafin aku", gumam Arinta pelan.
Lagi dan lagi, buliran air mata itu tidak dapat Arinta bendung. Isakan nya yang lirih dapat menyayat hati siapa saja yang mendengarnya. Tapi sialnya, tidak ada satu pun yang bisa mendengar tangisannya. Ia sendiri, ditemani hujan dan malam yang begitu dingin. Sekedar untuk menerangi malamnya yang begitu gelap ,bahkan bulan dan bintang pun enggan untuk menampakkan diri. Arinta merasa jijik dengan dirinya sendiri.
Arinta memakai kembali seragam sekolahnya yang telah robek dibagian lengan dan kancing yang tinggal dua itu. Untung masih ada cardigan nya yang dapat tertolong dari kebuasan Reagan. Tapi sekali lagi Arinta tegaskan, tidak ada kata beruntung untuknya malam ini, dan mungkin selamanya.
Arinta memungut tas dan sepatunya, lalu keluar dari mobil terkutuk yang telah menjadi saksi bisu apa yang sudah dilakukan Reagan terhadap dirinya. Ia berjalan sempoyongan dibawah rintik hujan yang masih berlomba untuk turun. Selama perjalanan hanya satu yang ia pikirkan, kenapa harus ia?, kenapa harus dirinya yang mengalami semua ini. Ini tidak adil Tuhan.
Tak terasa Arinta sudah berjalan memasuki kawasan gang rumahnya. Sepi. Itulah satu kata yang menggambarkan keadaan malam ini dan suasana hatinya. Tidak ada siapa pun, mereka semua bergelung nyaman dibawah selimutnya menikmati dinginnya hujan untuk mencapai alam mimpi. Hanya Arinta yang berani berdiri dibawah semua suasana dingin ini. Hanya dirinya.
Arinta menatap bantaran sungai yang mengalir sangat deras dibawahnya kini. Lantas ia memilih untuk duduk ditepi jembatan. E tah halusinasinya atau bukan, yang jelas Arinta melihat gambaran keluarganya yang tengah tersenyum didalam air. Arinta menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Sekali lagi ia kembali meraung, meratapi takdir yang digariskan Tuhan untuknya.
"Hiks, Rinta punya banyak dosa ya?, makanya Rinta diperlakukan kayak gini. Hiks, tapi Rinta enggak terima kalau hukumannya kayak gini ya Allah, hiks. Rinta enggak terima." Arinta memandang jijik dirinya didalam pantulan air. Lalu dengan sekuat tenaga Arinta mencoba menghapus bercak merah yang telah menodai sekujur tubuhnya itu, "Aku gagal. Maafin Rinta ayah, Rinta gagal jadi putri yang membanggakan", Arinta meraung sekuat-kuatnya, tanpa mempedulikan hujan yang tadinya reda, kini kembali meradang.
Setelah menyerah untuk menghilangkan noda yang mustahil hilang dalam waktu dekat itu. Arinta memandang kosong kedalam air. Andaikan ia dapat hanyut bersama derasnya air dibawah sana. Andaikan ia menghilang setelah itu. Andaikan malam ini tidak pernah terjadi. Andai....,itu semua hanya angan-angan Arinta.
Tapi jika kita mampu untuk melakukannya maka angan-angan itu bisa menjadi kenyataan.
Arinta menatap dirinya yang rapuh dan air sungai secara bergantian. Ia ingin menghilang. Hilang dari dunia ini dan kehidupan orang-orang yang takkan lagi susah karena dirinya.
"Selamat tinggal Ayah. Maafin Rinta yang belum bisa wujudkan mimpi-mimpi Ayah. Maafkan Rinta", lirihnya dan berjalan semakin mendekat kearah tepi jembatan. Tinggal selangkah lagi ia akan menghilang dari dunia ini. Namun sebuah tangan lebih dulu memeluknya dari belakang.
"Apa yang kak Rinta lakuin!, Kakak bodoh atau apa?, kakak mau mati?!", bentakan yang Arinta dapatkan dari Saka, salah satu adik kembarnya. Membuat Arinta membuka lebar matanya.
"Sa-saka?", panggil Arinta terbata-bata. Lalu cewek itu menjatuhkan badannya ke aspal jembatan yang keras untuk tubuh rapuhnya. Sekali lagi ia gagal.
"Hiks, jangan dekati kakak. Pergi dari sini Saka. Pergi!", teriak Arinta sambil menangis.
Saka yang tidak mengerti mengapa kakak perempuannya itu menangis. Lantas langsung memeluk erat Kakaknya sebagai tindakan utama untuk menenangkannya. Saka tidaklah bodoh, ia tau jika hati Arinta saat ini tergores sangat dalam dan terluka sangat parah. Karena baru kali ini ia melihat Kakaknya begitu sangat terpuruk.
"Lepasin kakak Sak. Jangan sentuh Kakak, nanti kamu jijik. Kakak kotor Sak, Kakak kotor", racau Arinta didalam dekapan sang Adik.
Saka yang mendengar racauan tersebut. langsung melepaskan pelukannya, ia memandang penampilan Kakaknya yang sangat kacau. Dari ujung kepala sampai ke ujung kaki tidak ada yang rapi, tidak seperti penampilan Arinta biasanya. Dengan bercak merah yang terpampang jelas dileher sang Kakak pun sudah cukup menjelaskan apa yang telah terjadi. Saka kembali memeluk Arinta, lebih erat dari sebelumnya.
"Siapa kak?, siapa?", ujar Saka dengan suara yang ditekan. Membuat Arinta menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
"Jangan jijik sama Kakak Sak, jangan", pinta Arinta lirih. Saka yang mendengar permintaan yang menyayat hati itu langsung mempererat pelukannya pada tubuh rapuh Kakaknya. Saka ingin menunjukkan jika masih ada dirinta disini. Arinta tak perlu takut, ia tak akan kemana-mana.
"Aku enggak jijik sama kakak. Aku juga enggak akan ninggalin kakak. Kakak juga jangan ninggalin aku ya. Aku sayang sama kakak", Saka mendongakkan kepalanya, ia mencoba menghalau buliran air mata yang mencoba untuk turun dari persembunyiannya.
"Kakak kotor Sak, kakak kotor."
"Enggak. Menurut aku kakak itu yang terbaik, kakak selalu menjadi motivasi aku disaat aku terpuruk. Aku bangga punya kakak kayak kak Arinta. Aku bangga", ujar Saka parau mencoba menahan tangisannya. Jika ia juga turut menangis, maka siapa yang akan menghapus air mata dari pipi kakaknya.
"Saka!", panggil seseorang yang berada dibelakangnya. Orang tersebut berlari dan menghampiri dua orang yang sedang berpelukan itu.
"Kak Rinta kenapa?", tanya Raka, kembaran Saka.
Saka memberi kode kepada Raka untuk tidak bertanya terlebih dahulu. Raka menaikkan alisnya penasaran. Tapi itu tidaklah penting dari tangisan kakak perempuannya. Raka memandang tas dan sepatu Arinta yang berada ditepi sungai dan itu semakin menambah rasa keingintahuannya.
Tapi Raka masih sayang nyawanya, ia tahu betul bagaimana sifat dari kembarannya itu. Saka itu tidak suka dibantah, jika ia sudah mengatakan itu maka jangan coba-coba untuk membantahnya. Jika membantah maka akan dapat dooprize dari seorang Saka Algara Navendra.
Raka mengelus kedua bahu Arinta dengan lembut. Mencoba menyalurkan kekuatan untuk kakaknya yang sedang menangis didalam pelukan kembarannya itu. Lalu ia juga ikut turut memeluk Arinta, ia ingin melindungi kakaknya dari dinginnya hujan.
Dan dibawah rintikan hujan yang masih setia menemani langit malam. Kedua laki-laki itu memeluk Arinta, menunjukan betapa sayangnya mereka dengan sang kakak. kasih sayang mereka, membuat penghuni alam semesta iri.
...~Rilansun🖤....