
...•••••••••••••...
...Kamu adalah pendamping, pasangan, teman, dan rumah buat aku........
...•••••••••••••...
...***...
Reagan menghentikan langkahnya saat mendapati Arinta yang asik memainkan ponselnya sambil menuruni tangga. Bahkan cewek itu tidak melihat langkahnya. Membuat Reagan geram ingin berteriak ditelinga Arinta. Apakah Arinta tidak tau jika itu sangat berbahaya.
"Rinta!, ponselnya mau aku sita", tegur Reagan dingin.
Arinta berhenti dan menatap Reagan yang berada dibawah. Lalu ia menghela nafas seraya memutar bola mata jengah. Keluar sudah jiwa bapak-bapak posesif terhadap anaknya.
"Enggak kepeleset juga", ujar Arinta dan kembali menuruni tangga sambil melihat video Oppa-oppa nya.
"Emangnya kamu mau kepeleset?", tanya Reagan lagi membuat Arinta menatap malas cowok tersebut.
"Maunya sih gitu", sahut Arinta santai.
Mendengar itu Reagan lantas menggertak kan giginya. Cowok itu meletakkan dengan kasar gelas berisi susu untuk Arinta ke nakas disamping tangga. Hingga menimbulkan suara, membuat Arinta menatap heran Reagan. Mengapa cowok itu terlihat sangat marah.
"Kyaaaaa", Arinta berteriak ketika Reagan dengan tiba-tiba menggendongnya. Lalu Arinta melototkan matanya menatap Reagan. Membuat cowok itu terkekeh pelan, dan tanpa diduga Reagan menciumi kedua kelopak mata Arinta hingga netra hitam itu tertutup dibuatnya.
Reagan semakin berani saja nampaknya. Sepertinya Arinta harus membuat peraturan setelah ini.
"Jangan cium-cium", Arinta mendorong wajah Reagan yang terasa sangat dekat, "Dasar playboy", tambah Arinta membuat Reagan berhenti melangkah dan menatap kaget istrinya tersebut.
"Playboy kata kamu?, enak aja. Aku enggak playboy ya", ujarnya dan melanjutkan langkahnya menuju kamar.
"Apa sebutan buat cowok yang suka nyentuh-nyentuh cewek sembarangan. Katanya belum move on. Oh iya aku lupa, selain playboy kamu kan juga bajin*n", balas Arinta ketus.
Reagan tersenyum tipis, "Up to you my wife."
Arinta mendengus dan memalingkan wajahnya yang terasa memanas. Kenapa cuaca malam ini sangat panas.
Reagan tersenyum geli saat melihat telinga Arinta yang memerah dalam gendongannya. Sepertinya apa yang dibilang Raka itu benar. Arinta itu aslinya soft, dan hanya bersama Reagan cewek itu akan berubah menjadi hard. Apakah seburuk itu pengaruh bila berdekatan dengannya.
Reagan memasuki kamarnya dan meletakkan Arinta diatas ranjang mereka. Dengan sangat hati-hati, seolah tubuh istrinya itu akan pecah kalau Reagan menghempasnya dengan kasar.
"Ka-kamu mau ngapain", Arinta menatap was-was Reagan yang mengukung tubuhnya diatas kasur.
Reagan tak menjawab, cowok itu memainkan rambut Arinta dan membelai wajah cantiknya. Membuat Arinta meneguk salivanya susah payah. Apakah Reagan dendam karena ia sudah mengatakan cowok itu bajin*an tadi. Tapi biasanya Arinta maki pun, suaminya itu tidak akan membalas. Hanya diam, atau terkekeh pelan. Ya, begitulah Reagan. Antara bodoh dan cuek.
"Aku enggak suka nyentuh cewek sembarangan, karena aku bukan cowok kayak gitu. Asal kamu tau aja, sama Laily aku bahkan belum pernah merasakan ini", Reagan membelai bibir bawah Arinta. Selama berpacaran dengan Laily, Reagan tidak pernah melampaui batasnya. Ia tidak mau merusak perempuan lain, sebab ia juga terlahir dari seorang perempuan. Dan jika Laily ingin berinisiatif duluan pun Reagan langsung mencegahnya. Kecuali cewek itu menciumnya secepat kilat dan kabur begitu saja.
Cup
Reagan mengecup singkat bibir Arinta. Membuat Arinta mengerjapkan matanya.
"Aku berani ngelakuin itu, karena kamu adalah istri aku. Kamu bukan cewek lain. Kamu adalah pendamping, pasangan, teman, dan rumah buat aku", ujar Reagan lembut yang membuat Arinta tertegun, "You are my wife, only one and only you", bisik Reagan sensual ditelinga Arinta sambil mencium sekilas pipi istrinya.
Arinta bergidik ngeri dan mendorong tubuh Reagan untuk menjauh, "Ka-kamu jangan lupa kalau kita nikah hanya untuk status anak ini", ujar Arinta terbata-bata.
Reagan menyeringai dan kembali mendekat kearah Arinta. Mengendus leher jenjang istrinya tersebut. Reagan sangat menyukai aroma mawar yang menguar dari tubuh Arinta. Bahkan setiap malam ketika Arinta sudah tertidur Reagan kadang suka mengendus lehernya sebelum tidur.
"Aku enggak tau kalau kamu suka mempermainkan Tuhan", gumam Reagan.
"A-aku enggak ada mempermainkan Tuhan", Arinta memejamkan matanya saat benda basah dan kenyal itu mendarat di lehernya. Arinta ingin sekali memukul wajah cowok tersebut, namun sayang kedua tangannya sudah dikunci diatas kepalanya.
"Oh ya?, tapi pernikahan itu adalah ibadah. Dan kamu udah menganggap sepele pernikahan kita. Kamu kira setelah kamu masuk kedalam hidup aku, kamu bisa pergi seenaknya aja?. Maaf, aku bukan hotel yang bisa kamu singgahi dan kamu tinggali begitu aja", sahut Reagan tanpa mengalihkan dirinya dari leher Arinta. Tentu saja Reagan tak akan melewatkan favoritnya tersebut. Terlebih sekarang Reagan sudah bisa terang-terangan tanpa mencurinya dengan diam-diam dimalam hari.
"Ta-tapi kamu udah janji", Arinta memejamkan matanya takut saat merasakan tangan Reagan yang hendak masuk kedalam piyama tidurnya.
Reagan mendongak ketika merasa suara istrinya itu bergetar. Dan benar saja, kedua mata bulat yang indah itu telah berkaca-kaca. Siap menumpahkan air mata yang ada dibalik kelopaknya.
Reagan tersenyum miris, sepertinya Arinta masih trauma akan kejadian malam itu. Untung saja Reagan tidak kehilangan kendalinya.
"Aku enggak pernah janji. Waktu itu kamu buat janji sama Ayah dan Bunda. Dan yang nikah sama kamu itu aku, bukan mereka", Reagan mengecup kedua mata Arinta membuat air mata mengalir seiring dengan tertutup nya netra hitam tersebut.
Setelah menghapus air mata istrinya. Reagan keluar dari kamar, berniat mengambil susu Arinta yang ditaruh nya diatas nakas tadi.
Sementara Arinta, cewek itu menghela nafas lega. Arinta benar-benar takut akan kejadian barusan. Saat ia melihat mata Reagan tadi, Arinta merasa tengah melihat sosok Reagan pada malam itu. Benar-benar tak kasih ampun dan tak terkendali.
"Makasih ya Allah", Arinta memejamkan matanya seraya memegangi dadanya yang masih berdebar.
Kemudian Arinta beranjak dan berjalan kearah pintu kamarnya yang tertutup. Ingin me-refreshing dirinya terlebih dahulu. Sekaligus mengamankan dirinya dari macam yang siap menerkamnya. Namun umpatan keluar dari mulut Arinta saat pintu kamarnya tak dapat terbuka. Alias terkunci dari luar.
"Berengsek!", umpat Arinta dan menendang keras pintu tersebut. Namun sedetik kemudian cewek itu meringis kesakitan.
"Siapa yang berengsek sayang", Reagan membuka pintu dan masuk dengan segelas susu ditangannya. Jangan lupakan seringai mengerikan diwajah cowok tersebut. Seperti senyuman om-om pedofil.
Arinta mengalihkan pandangannya sambil mendengus, "Awas, aku mau keluar", ujarnya seraya mendorong tubuh Reagan yang menghalangi jalan.
"Kemana?", Reagan menyodorkan segelas susu tersebut yang langsung diambil Arinta dan dihabiskannya dalam sekali teguk.
"Nonton tv", jawab Arinta dengan mengembalikan gelas itu kepada Reagan.
"Disini aja, tuh ada tv", sahut Reagan menunjukkan sebuah televisi yang ada didalam kamarnya.
"Enggak mau", tolak Arinta.
"Kenapa?."
Namun bukannya menjauh, Reagan justru mengunci kembali pintu kamar.
Membuat Arinta geram ingin memiting kepala Reagan. Lalu Arinta menghentakkan kakinya dan berjalan kearah sofa yang ada didalam kamar.
Reagan yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dan berjalan mendekat kearah Arinta. Duduk disamping istrinya tersebut.
"Ponsel kamu mana?", Reagan mengulurkan tangannya kearah Arinta.
Arinta mengernyitkan keningnya bingung, "Buat apa?."
"Lihat kamu yang enggak hati-hati barusan, dan hampir nyelakain anak kita. Aku enggak kasih kamu pegang ponsel kecuali dekat aku", balas Reagan santai.
Arinta memukul keras tangan Reagan yang terulur, "Aku bukan orang yang bisa kamu perintah sesuka hati kamu", ketusnya dan bangkit dari duduknya.
Reagan hanya bisa menghela nafas panjang dengan memejamkan matanya letih. Mengapa menjadi laki-laki itu berat sekali
...***...
Arinta menggigiti kukunya seraya berjalan bolak balik. Matanya menatap kearah jam yang menunjukkan pukul 02:00 dini hari. Arinta tak sengaja kebangun saat ia bermimpi tentang dirinya yang mencium Reagan. Entah mengapa mimpinya bisa memilih Reagan sebagai partner nya. Mengapa tidak Manu Rios atau Shawn Mendes, misalnya.
Dan sialnya sekarang Arinta ingin sekali mencium Reagan. Eits, jangan salah paham dulu. Arinta hanya ingin mencium sekilas keningnya, bukan yang lainnya.
Entahlah, mengapa keinginannya itu kuat sekali sekarang. Arinta paham jika ibu hamil itu banyak maunya, tapi biasanya tidak sekuat ini. Sudah berulang kali Arinta untuk mencoba tidur, dan berusaha melupakan keinginannya itu. Tapi saat matanya terpejam malah bayangan ia mencium Reagan didalam mimpi yang muncul.
Argh, baby nya sangat menyusahkan sekali.
Lalu dengan keberanian yang tinggal sedikit itu, Arinta berjalan pelan kearah Reagan yang tertidur telungkup tanpa menggunakan baju. Arinta sudah menyuruh Reagan untuk mengenakan bajunya ketika tidur. Namun cowok itu lagi-lagi ngeyel. Ngajarin anak Bunda itu susah emang.
Arinta memejamkan matanya saat sudah sampai didepan Reagan. Arinta tak ingin berdosa karena sudah melihat punggung yang lebar tersebut.
Kemudian dengan gerakan yang pelan Arinta membungkukkan sedikit tubuhnya. Mengapa cowok itu harus tidur dengan posisi telungkup coba. Kan Arinta jadi susah mau ciumnya.
Arinta sedikit menyibak rambut Reagan yang menutupi keningnya. Namun itu malah membuat Reagan terusik. Dan cowok itu membalikkan posisinya menjadi terlentang.
Arinta menghela nafas lega. Ia takut ketahuan oleh makhluk astral tersebut. Sebab cowok itu memiliki level kenarsis-an yang sangat tinggi.
Tetapi itu menguntungkan Arinta. Karena ia bisa dengan mudah mencium Reagan.
Namun....
"Sial!", umpat Arinta saat matanya tak sengaja menangkap roti sobek yang ada dibawah sana.
Tak ingin menambah dosanya. Arinta lantas memejamkan matanya bersiap ingin mencium Reagan.
"Kenapa?."
Arinta membuka matanya kaget. Dan menatap horor Reagan yang tersenyum kearahnya. Sial, sial, sial. Mengapa cowok itu harus bangun disaat seperti ini. Padahal tinggal sedikit lagi Arinta akan berhasil.
"Eng-enggak ad-, kyaaaa", Arinta berteriak ketika Reagan dengan tiba-tiba menariknya mendekat kearah cowok tersebut.
"Bunda ngapain enggak tidur?, hm?", Reagan tersenyum miring melihat Arinta yang mendadak mematung. Ya pada hari pernikahan, mereka telah menyepakati panggilan. Reagan tetap keukeuh dengan sebutan Papi nya. Dan Arinta dengan sebutan Bunda nya. Walau sebenarnya itu tidaklah berpengaruh untuk Arinta.
"Mau cosplay jadi kelelawar?", Reagan menaik turunkan alisnya menggoda Arinta.
Arinta menggigit bibir bagian dalamnya. Perasaannya campur aduk sekarang, antara takut, malu, dan tak sabar ingin mencium kening Reagan yang sudah terpampang didepan mata.
"Ta-tadi ada nya-"
"Nyamuk?", Reagan menggulingkan Arinta agar berbaring disampingnya. Memeluk Istrinya itu dengan erat. Membuat Arinta lagi-lagi memekik. Berhadapan dengan Reagan harus siap-siap jantung. Sebab cowok itu selalu melakukan sesuatu dengan mendadak.
"Coba cium nyamuknya."
Arinta mencebikkan bibirnya. Gagal sudah rencananya. Dan mengapa pula Reagan harus tersenyum seperti om-om pedofil begitu.
"Jangan senyum kayak gitu."
Reagan tertawa pelan, "Kiss me", ujarnya sambil mendekatkan keningnya kearah Arinta.
Arinta tak bergeming membuat Reagan mendongak, "Kenapa?, enggak mau yang ini?, atau yang ini aja", goda Reagan dengan menunjukkan bibirnya.
"Enggak mau keduanya", ketus Arinta.
Reagan tersenyum geli, dasar gengsian, "Yaudah tidur", ujarnya sambil menarik kepala Arinta untuk dibenamkan di dada bidangnya.
Arinta memberontak dan menatap sengit Reagan. Apakah cowok itu tidak tau jika jantungnya sudah berdisko didalam sana. Ditambah dengan Reagan tidak mengenakan baju. Arinta bahkan bisa melihat tato yang ada dipundak kiri cowok tersebut. Yang bertuliskan Be a gentleman.
Argh, Arinta hanya cewek akhir zaman yang lemah iman.
"Kenapa?", tanya Reagan sambil menatap wajah Arinta yang terlihat bingung. Seperti tengah mempertimbangkan sesuatu.
Arinta menatap sebentar Reagan lalu dengan secepat kilat ia mencium kening suaminya tersebut. Lalu setelah itu menyembunyikan wajahnya di dada bidang Reagan.
Arinta berharap jika kini ia masih berada didalam mimpi.
...~Rilansun🖤....
Argh, help arwah jomblokuuu melayang😵🌫️
Bab terpanjang selama sejarah
Like dong😪