
...••••••••••••••••••••...
...Seseorang itu berubah karena dua hal, pikirannya yang terbuka atau hatinya yang terluka.........
...••••••••••••••••••••...
...***...
Arinta mengeratkan pelukannya dipinggang Saka yang tengah melajukan motornya dengan kecepatan maksimum. Cewek itu tersenyum tatkala mengingat kembali kejadian malam Minggu kemarin. Dimana dirinya yang tidak lagi mual ketika berdekatan dengan cowok selain Reagan. Dan bonusnya, Arinta sangat senang karena ia bisa kembali memeluk Saka, Raka dan Ayahnya. Rasanya hidup Arinta sangat hampa tanpa ketiga pelindungnya itu. Tidak ada pelukan hangat Saka, celotehan Raka dan kecupan sayang dari Ayahnya. Sungguh menyiksa.
"Sekolah yang bener", ujar Saka ketika motornya telah sampai di pelataran parkir SMA Allandra.
Arinta mencebikkan bibirnya lalu memberikan helm yang ia gunakan kepada Saka, "Seharusnya yang bilang kayak gitu kakak", sahut Arinta.
Saka menaikkan sebelah alisnya, "Kenapa gitu?."
"Kan disini Rinta yang jadi kakaknya. Saka itu adiknya. Jadi adik harus ngikutin apa kata kakaknya", ujar Arinta membuat Saka terkekeh pelan. Sudah lama Arinta tidak berceloteh seperti ini kepadanya. Semenjak kejadian yang menimpa cewek itu, Saka merasakan telah kehilangan kakaknya. Dan pagi ini kakaknya yang cantik plus cerewet itu telah kembali.
"Mana ada seorang kakak yang badannya lebih kecil dan pendek dari adiknya", Arinta melototkan matanya. Teori konyol dari mana itu. Sepertinya mulut Saka itu memang memiliki kebun cabai tersendiri. Setiap ucapannya sangat pedas dan tajam.
"Udah ah. Kamu cepat berangkat sekolahnya, entar telat. Emang kamu enggak ada pr kayak Raka?", tanya Arinta. Raka pagi ini memang tidak ikut mengantarnya sekolah. Walaupun jatah mengantarnya hari ini itu Saka, tapi biasanya Raka akan ikut mengekori mereka dari belakang. Tapi hari ini Raka ada PR yang belum ia siapkan, jadi ia berangkat pagi-pagi sekali untuk menyontek dari temannya.
"Aku enggak bodoh kayak Raka"
Jleb
Singkat tapi sangat menusuk.
Bagaimana jika Raka, adik kecilnya itu mendengar ucapan pedas Saka barusan. Membayangkan wajah tertekuk Raka saja sudah membuat Arinta kasihan.
"Yaudah, kamu cepat berangkat sana!"
Saka mengabaikan Arinta yang terus saja mendorong tubuhnya. Cowok itu mendekat kearah wajah Arinta dan mencium keningnya lembut. Lalu Saka kembali menghidupkan motornya meninggalkan pekarangan SMA Allandra.
Arinta melambaikan tangannya kepada Saka yang sudah keluar dari gerbang sekolah. Tak lama kemudian tangannya yang melambai, Arinta turunkan perlahan dengan senyum yang memudar dibibirnya. Seseorang yang baru saja masuk kedalam gerbang mampu membuat Arinta mendadak terdiam.
Cowok itu. Cowok yang telah menjungkir balikkan hidupnya. Cowok yang mampu membuat Arinta tak berkutik bila didekatnya. Dan cowok yang membuat Arinta yakin jika manusia berjiwa iblis itu ada nyatanya.
Reagan melepas helm full face yang dikenakannya lalu meletakkan helm itu asal diatas motornya. Kemudian Reagan berjalan memasuki kawasan sekolahnya. Cowok itu berjalan dengan pandangan yang fokus kedepan tanpa melirik siapa pun. Membuat Arinta merasa....sedikit kesal.
What the hell
Arinta membalikkan badannya dan menatap punggung Reagan yang telah menjauh. Cowok itu mengenakan hoodie berwarna navy yang terdapat tulisan Allndr's dibelakang nya. Sepertinya Reagan memiliki banyak hoodie dengan tulisan seperti itu tetapi beragam warna.
Seperti yang pernah Arinta kenakan.
Tetapi bukan itu yang menarik perhatian Arinta. Cewek itu merasa Reagan sedikit berbeda. Semenjak kejadian naas itu, Reagan sudah mau meliriknya jika mereka berpapasan walaupun tidak menyapa. Tetapi tadi Reagan sama sekali tidak menoleh kearahnya.
Ada apa dengan cowok itu?.
Bukan, bukan karena Arinta suka kepada cowok itu. Hanya saja ia merasa ada yang hilang. Entah apa itu, Arinta pun tak tahu.
Arinta mengangkat bahunya acuh. Ia tak ingin karena Reagan mood nya yang bagus pagi ini harus berantakan. Arinta berjalan menyusuri koridor sekolah nya. Melangkah mantap tanpa menghiraukan tatapan dan bisikkan yang mampu merusak mentalnya.
Arinta melangkah masuk kedalam kelasnya dan menatap Gina yang berdiri sambil menelpon membelakanginya. Arinta menyeringai jahil dan berjalan mengendap-endap kearah Gina.
"Gue minta maaf Lai. Pertunangan lo harus gagal karna gue. Tapi kasihan Arinta kalau kalian tetap bertunangan."
Deg
Jantung Arinta terasa berhenti berdetak seketika. Oksigen disekitarnya terasa menipis membuat dadanya kembang kempis. Kakinya mendadak kaku seolah telah terpaku dengan kuat.
Kasihan Arinta kalau kalian tetap bertunangan.
Kasihan.
Semuanya hanya sebatas rasa kasihan. Sesedih itukah Arinta, hingga membuat dirinya harus diberi welas asih?.
Gina menutup ponselnya setelah Laily memutuskan sambungan telepon sepihak. Sepertinya sahabatnya satu itu tengah marah kepadanya. Dan Gina bisa memaklumi semua itu. Setelah itu ia berbalik dan menatap terkejut kearah Arinta yang menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
Arinta tersenyum miris. Senyuman tak berdaya yang sangat dibenci Gina.
"Rin–"
Arinta mendongak, "Segitu menyedihkannya aku sampai harus dikasihani sama kamu?", selama ini Arinta merasa jika Gina dan Laily adalah dua orang yang sangat berarti dalam hidupnya. Yang mau berteman padanya tanpa memandang status, "Aku sangat berterima kasih sama kamu karna udah mau jadi teman aku, dan mau melakukan apapun untukku. Kamu itu orang yang berarti bagi aku setelah Ayah, Ibu dan Twins. Tapi aku enggak perlu dikasihani. Aku enggak mau jadi beban Gin", ujar Arinta panjang lebar. Cewek itu tersenyum tulus kepada Gina sebelum beranjak meninggalkan kelasnya yang masih sepi. Hanya ada beberapa murid yang sudah datang dan sudah pergi ke kantin. Lagipula siapa yang mau pagi-pagi begini duduk berdiam diri didalam kelas.
Gina ingin mencegah Arinta pergi. Tapi ia paham jika cewek itu membutuhkan waktunya sendiri. Gina bukan ingin membuat Arinta merasa dirinya tak berdaya, hanya saja ia ingin mengangkat sedikit beban yang ada dipundak rapuh sahabatnya itu.
"Asal lo tau Rin, mungkin gue adalah orang pertama yang enggak mau lihat air mata lo turun", gumam Gina pelan menatap punggung Arinta yang telah melangkah menjauh dari kelas.
Gina sudah menyelesaikan tugasnya. Sekarang ia membiarkan Tuhan dan takdir mereka yang berperan.
...***...
"Lo sakit apaan, tumben banget", ujar Zidan yang sedang berjalan bersisian disamping Ardean.
Bel istirahat telah berbunyi dan kelima cowok itu tengah melangkah menuju kantin bawah dengan berbagai bisikan dan tatapan memuja. Riko yang memang dasarnya suka menjadi pusat perhatian tentu saja tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut untuk tebar pesona kepada siswi-siswi Allandra. Bahkan cowok itu sudah meminta nomor-nomor adik kelas yang menurutnya cocok untuk menjadi dedek gemesnya.
Ardean memasukkan tangannya kedalam saku, "Demam biasa", jawabnya kalem.
Zidan mengangguk dan beralih menatap Riko yang tengah senyum-senyum menatap ponselnya.
"Lo kenapa?, Gila?"
Riko tersentak dan dengan refleks menutup layar ponselnya dengan tangan. Zidan itu tipe teman yang suka merebut gebetan temannya. Dan Riko sudah mengalami itu lebih dari enam kali. Untuk kali ini ia tak ingin lagi kecolongan.
"Sana. Enggak boleh lihat, entar lo tikung lagi", ujar Riko sambil mendorong tubuh besar Zidan yang sama sekali tidak berhasil.
Zidan memutar bola matanya malas "Bucin sinting!"
"Terserah", balas Riko acuh dan kembali fokus menge-chat calon-calon degemnya .
Ketika mereka telah sampai ditikungan antara kantin dan lapangan basket sekolah. Reagan memelankan langkahnya dan berbelok kearah lapangan. Moodnya buruk untuk makan sesuatu hari ini.
Ardean, Revo, Zidan dan Riko sontak berhenti dan melihat kearah Reagan yang tengah mengenakan headband berwarna hitam dikepalanya serta mendribble bola basket.
"Dia kenapa?", tanya Ardean bingung. Setahunya, Reagan akan sering banyak diam dan memilih memain basket ketika cowok itu memiliki masalah yang sangat sulit dipecahkan. Kebiasaan Reagan itu tidak pernah berubah semenjak mereka telah duduk dibangku SD.
Revo menghela nafas berat. Walaupun ia begajulan, tetapi ia paham bagaimana sulitnya posisi Reagan saat ini.
"Dia yang salah sih. Berani main tapi nggak berani tanggung jawab."
Mereka bertiga refleks menoleh kearah Riko yang baru saja berkata bijak. Tumben otak cowok itu bisa digunakan. Biasanya yang terpikir oleh cowok itu hanya ada perempuan, perempuan dan perempuan. Girls are my priority. Itulah slogan hidup dari seorang Riko Surya Ibram.
"Masih guna juga tuh otak", celetuk Revo yang dapat pelototan tajam dari Riko.
Ardean menoleh ke kanan ketika melihat seseorang yang mampu membuatnya tersenyum. Ia memfokuskan pandangannya kearah cewek itu. Merasa tak rela jika objeknya itu hilang dari pandangan, walau sedetik.
Zidan yang sedari tadi memperhatikan Reagan yang bermain bola basket, mengalihkan pandangannya ketemannya yang dinginnya sebelas dua belas dengan Reagan. Lalu cowok itu membulatkan matanya setelah mengikuti arah pandang Ardean.
"Wah parah lo sob. Jangan main api lah", bisik Zidan sambil menepuk sebelah pundak Ardean.
Ardean menoleh dengan ekspresi yang kembali dingin. Setelah itu ia kembali memandangi cewek manis tersebut sambil tersenyum. Entah mengapa, senyumannya dapat terbit jika ia melihat cewek itu.
"Gue enggak main api, Dan. Gue cuma berusaha memadamkan api yang udah dimulai sama kawan lo", ujar Ardean dengan pandangan yang lurus kearah objek yang sangat menyenangkan baginya untuk dilihat.
"Gue cuma nggak mau kita retak hanya karna satu cewek."
Ardean menoleh kearah Zidan ketika cewek itu telah pergi dari pandangannya, "Kalau itu bisa buat dia senyum lagi, kenapa enggak", balas Ardean dan kembali menatap kearah Reagan. Sepertinya mereka tidak jadi kekantin. Solidaritas mereka itu tinggi, dan tidak mungkin mereka meninggalkan Reagan yang tengah kalut hanya demi sebuah makanan.
Zidan dan Ardean mengabaikan dua orang yang sedari tadi menatap mereka dengan heran. Revo dan Riko saling pandang satu sama lain. Tak mengerti mengapa Zidan dan Ardean harus berbisik.
"Dean impoten kali ya. Tapi dia malu bilang sama kita dan cuma sama Zidan beraninya. Tapi kan mulut gue nggak ember. Yang ember itu kan elo Rev."
Pletak
Riko mengelus kepalanya yang habis dipukul Revo. Membuatnya meringis, tetapi bukan karena sakit dikepalanya. Namun, tatapan tajam Ardean yang menghunus kearahnya. Sepertinya cowok itu mendengar ucapannya tadi. Tamatlah Riko.
...~Rilansun🖤....