
...•••••••••••••••...
...Bahkan kisahnya belum dimulai, tapi sudah harus berhenti diawal jalan......
...•••••••••••••••...
...***...
Arinta meletakkan sepiring nasi goreng ke atas meja makan dan menatap kesal Reagan yang berjalan menghampirinya.
Setelah sampai dihadapan istrinya itu, Reagan tersenyum dan mengacak-acak rambut Arinta yang membuat cewek itu misuh-misuh ditempat.
"Makasih Bunda", ujar Reagan dan menatap dengan mata yang berbinar kearah nasi goreng dihadapan nya.
"Hm", Arinta bergumam dan hendak berjalan meninggalkan Reagan. Namun cowok itu lebih dulu mencekal tangannya dan menyuruh Arinta untuk duduk disampingnya.
"Ck, males. Ngantuk", Arinta melepaskan tangan Reagan dan menatap tak bersahabat suaminya itu. Bagaimana tidak, Arinta yang baru saja ingin menjemput alam mimpinya. Harus tertunda sebab Reagan memintanya untuk membuatkan nasi goreng.
Arinta sudah menyuruh Reagan agar minta dibuatkan oleh Bi Ina, pembantu baru yang direkomendasikan oleh Renata. Namun cowok itu mengatakan jika ia menginginkan Arinta yang membuatnya.
Dan berakhir Arinta dengan pasrah rela melakukannya.
"Udah dimasakin syukur, malah minta ditemenin. Ngelunjak ya kamu", ujar Arinta ketus namun tak urung mendudukkan dirinya disamping Reagan.
"Aku mau komen kan mudah kalau kamu ada disini", sahut Reagan setelah menegak segelas air.
"Besok aja komen nya", balas Arinta dan membaringkan kepalanya ke lipatan tangan diatas meja. Kepalanya menjadi sakit karena tidurnya yang terganggu.
Reagan menggelengkan kepalanya. Sebenarnya Reagan masih kesal terhadap ucapan cewek itu yang menyuruhnya untuk mencari ibu yang lebih baik untuk anak mereka. Tapi Reagan segera menepis amarahnya bila mengingat janjinya yang akan terus berjuang untuk Arinta dan anaknya.
Sepertinya hanya Arinta yang menyarankan suaminya untuk mencari wanita lain.
"Kok asin?", Reagan mengerutkan keningnya ketika merasa nasi goreng tersebut sedikit asin di lidahnya.
"Siapa yang buat?", tanya Reagan lagi.
"Aku lah", Arinta mendongak dan menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.
"Terus kok asin?, kamu mau nikah lagi?", tanya Reagan asal dan melanjutkan makanan nya. Walau asin, tapi setidaknya ia harus menghargai perjuangan Arinta bukan.
"Kalau boleh", jawab Arinta enteng.
Reagan mendongak dan melotot menatap istrinya tersebut, "Kamu anggap aku apa?. Aku masih hidup loh Rin", ujarnya yang berusaha untuk sesantai mungkin.
"Siapa kamu larang-larang aku?", tanya Arinta menantang.
Reagan menyeringai, "Siapa aku?, kalau enggak salah aku ini suami kamu", jawabnya dan kembali melanjutkan makannya.
"Calon mantan suami tepatnya", balas Arinta yang langsung membuat Reagan berhenti mengunyah. Setelah mengatakan itu, Arinta berdiri dari duduknya dan berjalan menuju kamarnya tanpa menghiraukan Reagan.
Sementara Reagan, cowok itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Secepat itukah Arinta ingin mengakhiri hubungan mereka. Mengapa istrinya itu keras kepala sekali.
Sepertinya Reagan telah benar-benar mengubah Arinta. Dari gadis lugu nan polos menjadi wanita keras kepala dan tak berperasaan.
Apakah hubungan mereka harus benar-benar berakhir nantinya. Reagan tahu jika mereka memulainya dengan suatu kesalahan. Tapi benarkah jika hubungan ini adalah sebuah kesalahan.
Bisakah Reagan bosan dan jenuh suatu saat nanti. Tapi Reagan berharap jika itu tidak akan terjadi padanya. Ia harus bertahan untuk anaknya.
...***...
Reagan memijit pelan bahunya yang terasa pegal. Ia baru saja pulang dari rumah orang tuanya karena Xavier mengajaknya ke kantor Ayah nya itu hari ini. Dan ia sangat lelah untuk saat ini. Dari pulang sekolah Reagan langsung diseret paksa Ayah nya untuk ke Allndr's Group.
Cowok itu menegak segelas air yang dituang nya sendiri seraya menggulirkan matanya mencari sosok mungil yang telah mendiami apartemennya satu bulan lebih ini.
Namun nihil, sosok itu tidak didapatinya. Tumben, biasanya Arinta sudah stand by didepan televisi sambil memakan cemilan.
Atau mungkin istri mungilnya itu sudah tertidur.
Tanpa pikir panjang lagi, Reagan mengayunkan langkah nya kearah kamarnya berada. Membuka pelan pintu, takut jika Arinta terbangun karena tindakan nya.
Tapi ternyata Reagan salah. Arinta tidak tidur, cewek itu tengah duduk di sofa dan asik dengan ponselnya sendiri. Reagan paham sekarang mengapa Arinta memilih bermain ponsel di dalam kamar, karena ucapan nya beberapa waktu yang lalu. Melarang cewek itu untuk bermain ponsel kalau tidak ada didekatnya.
"Chat-an sama siapa?", Reagan duduk disamping Arinta. Membuat cewek itu yang tadinya tersenyum langsung memasang wajah bete nya.
"Orang lah", jawab Arinta ketus.
"Iya siapa?."
"Ya orang Reagan. Astagfirullah enggak ngerti ya kamu, oh iya aku lupa kan kamu bukan orang", sahut Arinta santai sambil memainkan ponselnya.
Reagan menghela nafasnya, mengapa semakin terasa berat saja, "Terus aku apa?."
"Setan", jawab Arinta singkat.
Reagan membelalakkan matanya tak percaya, itu mulut atau pisau, tajam banget, "Dosa loh suami sendiri dibilang setan."
"Emang kamu suami aku?", tanya Arinta sambil menoleh kearah Reagan.
"Aku suami kamu yang sah dimata hukum maupun agama."
"Kamu cuma Ayah biologis dari anak yang aku kandung. Enggak lebih", balas Arinta datar dan kembali mengalihkan pandangannya kearah ponselnya.
Reagan menghela nafasnya, "Kapan kamu bisa nerima aku?", lirihnya seraya menatap wajah ayu Arinta dari samping.
Arinta bungkam, tidak menghiraukan Reagan yang duduk di sebelahnya. Melihat itu lagi-lagi Reagan hanya bisa menghela nafasnya. Reagan bukan tipe orang yang penyabar, tapi disaat berhadapan dengan Arinta. Reagan harus menjadi orang yang ekstra sabar.
"Siniin ponsel kamu", Reagan mengulurkan tangannya kedepan Arinta.
"Apaan, kan aku main nya disamping kamu", protes Arinta tak terima.
"Minjem bentar, kuota aku habis."
Arinta memicingkan matanya menatap Reagan, gelagat cowok itu terlihat sedikit aneh. Lalu Arinta memberikan ponselnya sambil berujar, "Jangan habisin, aku mau download game."
"Oh iya, yaudah siniin ponsel aku. WiFi kan ada."
Mulut sialan, umpat Reagan dalam hati.
"Tapi aku tetap mau pinjem", keukeuh Reagan tak ingin mengembalikan ponsel milik Arinta.
"Emang kamu mau ngapain?."
"Ngecek siapa yang kamu chat tadi lah", gumam Reagan pelan.
"Apa?", tanya Arinta yang tak mendengar jelas ucapan Reagan.
"Enggak ada."
"Yaudah siniin ponsel aku cepet", pinta Arinta tak sabaran.
"Aku mau pinjem, ngerti enggak sih."
"Enggak."
Reagan mendengus pelan, "Sandinya apa?", tanyanya setelah melihat jika ponsel cewek itu terkunci.
"Lupa", jawab Arinta sambil mengunyah keripik kentang yang sudah disediakan nya tadi.
"Jadi kamu tadi buka ponselnya gimana?", Reagan mengerutkan keningnya heran.
Arinta memandang polos Reagan, "Ya tekan sandinya."
"Ya terus sandinya apa?."
"Lupa Reagan. Astagfirullah, selain bajing*n kamu budeg juga rupanya", sahut Arinta mulai merasa jengkel.
"Terserah kamu. Ini sandinya apa Arinta?."
"Ck, aku bilang sandinya lupa Reagan", decak Arinta kesal. Kemudian cewek itu hendak bangkit keluar dari kamarnya. Mengambil beberapa cemilan lagi. Ngomong sama Reagan itu membuat mulut capek.
Reagan yang kehabisan kesabaran pun tanpa aba-aba langsung membanting ponsel Arinta ke lantai. Membuat Arinta membelalak serta menatap Reagan dan ponselnya secara bergantian. Tak percaya dengan apa yang dilakukan oleh suaminya itu.
"Po-ponsel aku", ujar Arinta terbata-bata. Lalu ia menghampiri ponselnya yang telah hancur berkeping-keping dilantai.
Lalu Arinta mendongak dan menatap nyalang Reagan yang tengah duduk di sofa dengan wajah yang tak berekspresi.
"Apa-apaan sih kamu!, mentang-mentang kamu anak orang kaya jadi kamu bisa nge-hancurin barang seenaknya. Kamu pikir kamu siapa?!", bentak Arinta murka. Menatap nanar ponselnya yang ia beli dari hasil uangnya bekerja di toko roti Tante Rihanna.
"Itu semua karena kamu!", Reagan berdiri dan berujar dengan intonasi yang sedikit tinggi. Tersulut emosi.
"Aku apa?, kamu yang hancurin, semua milik aku kamu yang hancurin. Kamu punya dendam apa sama aku Reagan. Sampai kamu enggak bisa lihat aku bahagia?", Arinta memegang kerah baju Reagan.
"Sejauh ini pernah enggak sedikit aja kamu bahagia dengan aku?", tanya Reagan dengan memandang netra hitam yang telah berkaca-kaca itu.
Arinta terdiam. Ia melepaskan cengkeramannya dari kerah baju Reagan dan hendak memungut pecahan tersebut. Tidak berniat menggubris ucapan Reagan.
Namun Reagan menarik tangan Arinta untuk tetap berdiri menghadapnya. Membuat Arinta kaget.
"Selama ini pernah enggak kamu hargai aku, sedikit aja?, anggap aku itu ada walau sebentar, perlakuin aku kayak layaknya manusia sedetik aja", Reagan memalingkan wajahnya sambil tertawa miris, "Enggak. Jawabannya enggak pernah. Kamu enggak pernah anggap aku ada, kamu juga enggak pernah anggap aku ini suami kamu. Padahal pernikahan kita ini sakral. Kita menikah didepan orang ramai, bukan menikah secara diam-diam. Tapi kamu, kamu enggak pernah bisa terima dengan pernikahan ini. Kamu enggak pernah mau berdamai dengan semua yang udah terjadi."
"Kamu cuma hidup didunia kamu sendiri. Enggak pernah mikirin orang yang ada disekitar. Kamu itu egois asal kamu tau!", murka Reagan dengan suara yang tinggi.
"Itu semua karena kamu!, kamu yang buat hidup aku kayak gini!, kamu yang nge-berantakin semuanya!. Kenapa aku harus ketemu dengan orang seperti kamu!", balas Arinta dengan intonasi yang tinggi pula.
"Aku tau aku salah, tapi aku udah beribu kali minta maaf sama kamu. Mencoba memperbaiki segalanya. Tapi kamu enggak ada respon. Percuma, percuma kalau hanya aku yang berjuang disini. Tuhan aja maha pemaaf, tapi kamu yang hanya umatnya sangat pendendam!."
Arinta terkekeh pelan lalu memandang sinis Reagan, "Itu karena aku bukan Tuhan. Dan aku juga bukan orang yang terlalu baik. Aku enggak punya hati selapang itu."
Reagan menganggukkan kepalanya singkat, "Okey. Aku juga bukan orang baik, dan aku enggak punya kesabaran lebih. Aku capek, terserah kamu mau ngapain. Lakuin hal yang buat kamu bahagia", ujarnya dan pergi meninggalkan Arinta sendiri didalam kamar. Sebelum ia lepas kendali dan melakukan hal yang lebih jauh terhadap Arinta.
"Maafin Papi sayang, Papi belum bisa kasih Bunda buat kamu", gumam Reagan dan melangkahkan kakinya menjauh dari kamar. Membuka pintu apartemennya sambil merogoh ponsel disaku celananya.
"Halo", sapa Reagan saat sambungan itu sudah terhubung.
"Apaan!", jawab orang dari seberang dengan malas.
"Tolong lo ke apart gue, temenin sahabat lo untuk malam ini aja", ujar Reagan datar dan langsung mematikan panggilan tersebut sebelum lawan bicaranya menyahut. Lalu cowok itu mencari kontak lain di ponselnya. Menghubungi nya dan menunggu panggilan itu tersambung.
"Uncle, can you give me two bodyguards to guard my apartment?", ujar Reagan setelah tersambung.
"Thanks", tutupnya kemudian setelah orang tersebut menyetujui permintaan nya.
"Gue gagal menuhin janji gue. Sorry my baby." Reagan tertawa miris melihat pantulannya di pintu lift. Ia gagal. Reagan gagal untuk memberikan Bunda buat anaknya, dan ia gagal menuhin janjinya untuk membuat Arinta menerimanya.
...***...
Sementara itu, Arinta yang ditinggal begitu saja hanya bisa menatap nanar pintu kamarnya. Terduduk di lantai seraya tertawa miris.
"Kamu bilang capek, disaat aku udah mulai buka hati?. Kamu pikir aku sukarela buatin kamu nasi goreng ditengah malam?, Kamu pikir aku rela disentuh-sentuh gitu aja?. Itu karena aku udah mulai buka hati. Tapi kamu benar, aku memang orang yang egois. Aku enggak berani ungkapin apa yang aku rasakan. Aku hanya hidup di dunia aku sendiri", ujar Arinta lirih dengan air mata yang bersimbah.
"Kata kamu enggak bakal nyerah. Tapi kamu nyerah secepat ini", Arinta terkekeh pelan, "Maaf Reagan, maaf", tambahnya.
Entah sejak kapan pastinya, Arinta sudah memutuskan untuk mulai membuka hatinya sedikit. Setelah melihat betapa tulusnya Reagan memperlakukan nya. Tapi Arinta telah mengacaukan segalanya.
Bahkan kisahnya belum dimulai, tapi sudah harus berhenti diawal jalan. Dan itu hanya karena masalah sepele.
Begini lah jadinya jika menikah diusia dini. Emosi dari masing-masing mereka belum terkontrol, masih sangat labil.
...~Rilansun🖤....
Hayuuuk hujat mereka
lelah weh