
...••••••••••••••••••...
...Kalau kamu tak mau memilikinya, maka lepaskanlah. Jangan membuatnya terluka terus menerus dengan hubungan yang tak memiliki nama ini.........
...••••••••••••••••...
...***...
Nikahin dia
Ucapan Xavier itu selalu berputar-putar dikepala Reagan. Seperti kaset rusak yang menghantuinya dari semalam.
Reagan tahu jika dirinya memang sudah kelewatan. Berani berbuat namun tak berani bertanggung jawab. Tapi pernikahan adalah suatu hal yang sakral untuk dipermainkan. Bukan hanya setakat hitam diatas putih. Namun ada jiwa yang harus disatukan, ada suka duka yang harus dihadapi, dan ada sebuah tanggung jawab besar yang harus dipikul.
Reagan ingin menikah sekali seumur hidup, dan ia ingin menikah dengan orang yang dicintainya. Menurut Reagan, cinta adalah pokok utama dalam sebuah hubungan.
Dan cintanya telah hilang, mungkin untuk selamanya.
Cowok itu itu terus melangkah menyusuri koridor kelas dua belas tanpa ada satupun orang yang menemaninya. Revo, Riko dan Zidan. Ketiga manusia itu saat ini tengah dihukum karena tidak membuat PR. Mana ada waktu mereka untuk membuat pekerjaan rumah seperti itu. Orang kerjaannya tiap malam clubbing-an. Entah apa yang merasuki Reagan sehingga dulu bisa memilih mereka menjadi temannya.
Sedangkan Ardean, cowok yang digadang-gadang sebagai kembarannya itu entah berada dimana saat ini. Cowok itu langsung pergi setelah bel istirahat berbunyi. Tanpa berkata sepatah katapun. Maklum lah, mereka belum berbaikkan.
Kemudian langkah Reagan terhenti di didepan kelas XII MIPA 2. Cowok itu menatap dari jendela kelas. Mengamati seluruh orang yang ada didalam. Lalu Reagan melihat kearah sepupunya yang duduk sendirian sambil bermain ponsel. Merasa ada yang kurang Reagan pun memanggil Gina membuat seluruh atensi menatap kearahnya yang berdiri didepan pintu.
Gina bangkit dari duduknya dan menghampiri Reagan dengan wajah tak bersahabat.
Entah mengapa setiap melihat wajah cowok itu Gina merasa ingin muntah seketika.
"Kenapa?", tanya Gina dengan malas.
"Cupu mana?."
"Gue enggak tau siapa itu cupu", jawab Gina dengan sinis.
Reagan memutar bola matanya jengah, "Teman lo. Mana dia?"
"Gue enggak punya teman", Gina menjawab sambil melihat kearah kuku-kukunya.
Reagan memejamkan matanya. Berusaha sabar menghadapi sepupunya yang keras kepala itu.
"Arinta mana Gina?", tanya Reagan lagi yang berhasil membuat Gina menyunggingkan senyum tipisnya.
Suka banget ngerepotin diri sendiri. Tinggal nyebut namanya aja susah bener. batin Gina.
"Rinta pergi sama Ardean tadi. Mer–"
"Kemana?", potong Reagan terdengar kesal.
Gina yang melihat itu lantas menyeringai, "Kenapa gue harus kasih tau lo?."
Reagan menggertakkan giginya, "Karena gue....", cowok itu tampak memikirkan apa kalimat selanjutnya.
"Lo apa?", tanya Gina lagi membuat Reagan bungkam.
Gina membuang pandangannya sambil berdecih lalu kembali melirik Reagan, "Lo itu egois tau enggak. Lo enggak mau memiliki dia, tapi lo terus jebak dia didalam hubungan yang enggak jelas itu. Lo enggak mikir perasaan dia apa?."
"Oh ya gue lupa, lo kan enggak punya otak buat mikir", sinis Gina yang mendapat pelototan tajam dari Reagan.
Namun Reagan menghembuskan nafasnya pasrah. Berhadapan dengan Gina sama saja berhadapan dengan Ayahnya. Menjengkelkan, "Gue enggak mau denger ceramah lo hari ini. Mending lo kasih tau gue dimana tuh cewek sekarang."
Gina tak menjawab, justru ia berbalik melangkah menuju tempat duduknya. Membuat Reagan menggeram marah. Seandainya Gina itu bukan perempuan, sudah habis dari tadi Reagan buat. Ia tidak suka orang yang bertele-tele.
"Gin", panggil Reagan namun tak juga membuat cewek itu berbalik. Bahkan Gina sudah kembali duduk di bangkunya.
Merasa kesal Reagan pun menggebrak pintu yang ada disampingnya.
"Gina!", bentaknya membuat semua orang yang ada didalam terjengit kaget.
Namun Gina tidak menghiraukan, justru cewek itu memandang datar kearah Reagan.
"Perpustakaan", jawab Gina singkat yang langsung membuat cowok itu berlari meninggalkan MIPA 2.
Gina yang melihat itu lantas menggelengkan kepalanya. Heran melihat kenapa sepupunya itu suka sekali membuat masalah untuk diri sendiri. Katanya enggak suka. Tapi diambil orang sebentar aja langsung kalang kabut.
Dasar gengsian.
...***...
Reagan mengepalkan tangannya sebelum memasuki ruang pustaka. Berharap sesuatu didalam sana tidak sesuai dengan apa yang dipikirkannya.
Kemudian tanpa menunggu lama Reagan membuka pintu kaca itu dengan tak sabar. Menatap menyeluruh ke sekeliling perpustakaan.
Sedetik kemudian Reagan ingin sekali rasanya membunuh semua orang yang ada didalam perpustakaan. Diujung sana, tepatnya di bangku paling belakang dua anak cucu Adam itu tengah membaca buku dengan sesekali tertawa pelan. Membuat darahnya mendidih seketika.
Tanpa menghiraukan orang-orang yang menatap kearahnya. Reagan segera berjalan dengan langkah lebarnya kearah dua orang tersebut.
Namun Reagan berhenti tatkala cowok yang ada didepannya itu tiba-tiba menyelipkan anak rambut kebelakang telinga si cewek. Matanya melotot melihat hal itu. Lalu Reagan kembali berjalan dan menggebrak meja yang diduduki oleh mereka berdua. Membuat sepasang anak manusia itu terkejut sambil mengelus dada.
Arinta memejamkan matanya guna menetralisir rasa kagetnya. Untung saja ia tidak memiliki riwayat sakit jantung. Lalu cewek itu membuka matanya menoleh kesal kearah orang yang sudah menggebrak meja yang ia duduki bersama Arif.
"Ka-kamu", ujar Arinta terbata-bata. Ia bertambah kaget setelah melihat orang yang berdiri disampingnya itu adalah Reagan.
Reagan menyeringai, "Kenapa?", tanyanya dengan datar. Lalu beralih menatap Arif–yang terkenal kutu buku– dengan tatapan yang mampu membuat cowok berkacamata itu menunduk takut.
Arinta yang melihat Arif ketakutan lantas membuat cewek itu sontak berdiri. Bukan karna Arinta juga takut, tapi ia malas mencari keributan dengan cowok yang menatap tajam dirinya itu. Dan ketika Arinta ingin melangkah keluar untuk berniat kabur. Tak sengaja cewek itu memijak tali sepatunya yang terlepas. Membuat tubuhnya limbung dan hampir terjatuh kalau tidak ada sebuah tangan kekar yang menahan tubuhnya.
Arinta mendongak menatap Reagan yang juga tengah menatapnya. Lalu Arinta mendorong tubuh Reagan berusaha melepaskan tangan cowok itu yang masih setia bertengger dipinggang nya. Namun, bukannya melepaskan Reagan justru menarik Arinta untuk lebih dekat kepadanya.
"Lepas", ujar Arinta yang tak dihiraukan Reagan. Cowok itu meraba pinggang Arinta yang membuat siempunya melotot tak terima. Merasa ada yang salah, Reagan lantas menggertakkan giginya. Lalu menatap tajam Arinta yang mampu membuat cewek itu menciut.
"Ikut gue!", Reagan menarik sebelah tangan Arinta dengan paksa. Tapi cewek itu menahan tangan Reagan, menyuruhnya untuk berhenti.
"Tali sepatu", celetuk Arinta sambil melihat ketali sepatunya yang terlepas.
Reagan menoleh kearah Arinta sebentar lalu berjongkok dan mengikatkan kembali tali sepatu cewek itu dengan sempurna. Membuat Arinta mengerjapkan matanya tak percaya.
Reagan kembali berdiri dan menarik tangan Arinta untuk segera keluar dari perpustakaan.
"Pelan-pelan", protes Arinta tatkala Reagan menarik tangannya dan berjalan tergesa-gesa. Membuat mereka menjadi pusat perhatian disepanjang koridor.
Reagan tak menggubrisnya. Cowok itu berhenti tiba-tiba membuat Arinta yang berada dibelakangnya menabrak punggung lebarnya. Lantas Arinta meringis kesakitan sambil menatap kesal Reagan.
Sedangkan Reagan, cowok itu hanya menoleh sekilas kearah Arinta dan membuka pintu UKS yang ada dihadapannya. Ia masuk kedalam dan menatap orang-orang yang juga menatapnya.
"Keluar", titah Reagan kepada seluruh orang yang ada didalam ruangan tersebut. Tidak perduli jika ada orang yang sakit. Intinya semuanya keluar.
Setelah tidak ada lagi orang yang tersisa. Reagan menutup pintu dan memojokkan Arinta dipintu yang tertutup tersebut. Membuat cewek itu menelan salivanya susah payah.
"Ka-kamu kenapa?", tanya Arinta takut-takut. Bagaimana tidak, ia dikurung dengan dua lengan kekar yang berada disamping kiri-kanannya. Ditambah dengan ruangan yang hanya ada mereka berdua. Arinta bersumpah akan membunuh Reagan jika cowok itu kembali melakukan sesuatu kepada dirinya.
Reagan tak menjawab. Ia menatap kearah perut Arinta yang terbalut seragam. Lalu tanpa aba-aba, cowok itu membuka kancing seragam terbawah Arinta yang membuat cewek itu membelalakkan matanya.
"Reagan!", bentak Arinta dan berusaha menahan tangan Reagan yang ingin kembali membuka kancing seragamnya. Namun, langsung ditepis oleh cowok itu.
Mata Reagan menajam ketika melihat perut Arinta yang terlilit korset. Lalu cowok itu menatap Arinta yang juga menatap kesal dirinya.
"Sialan!", umpat Reagan dan mencium Arinta tanpa aba-aba. Membuat jantung Arinta merasa berhenti berdetak. Kakinya melemas, matanya kembali memerah. Akankah terjadi untuk yang kedua kalinya?.
...~Rilansun🖤...