Brittle

Brittle
Emosi



...••••••••••••••••...


...Gue emang egois, baru tau lo?.......


...•••••••••••••••...


...***...


Arinta membuka pintu apartemen setelah menekan beberapa digit sandi. Lalu meletakkan sepatunya di rak dan berjalan memasuki apartemennya yang terlihat sepi. Mungkin pemilik aslinya belum juga pulang.


Langkah Arinta yang hendak menaiki anak tangga menuju kamarnya. Langsung terhenti saat mendengar suara berat yang dikenalinya.


"Habis dari mana?."


Arinta menoleh dan menatap sosok jangkung dengan seragam sekolah yang membalut tubuh atletisnya itu yang tengah fokus bermain ponsel di sofa ruang keluarga. Arinta tidak melihat keberadaan cowok itu tadi. Sejak kapan Reagan duduk disitu.


"Toko buku", jawab Arinta kemudian berbalik hendak melanjutkan langkahnya.


"Siapa yang nyuruh kamu pergi. Enggak sopan banget, orang masih ngomong juga", Reagan meletakkan kasar ponselnya ke atas meja dan menatap dengan datar Arinta yang berdiri beberapa meter dihadapannya.


Arinta mendengus namun tak urung berjalan menghampiri Reagan. Mengapa cowok itu memasang wajah seperti itu. Ralat, Reagan memang selalu memiliki pandangan datar tersebut bukan. Mengingat julukannya yang ice boy. Namun, Arinta merasa sedikit asing dengan tatapan itu.


Tatapan itu seperti yang pertama Arinta lihat. Waktu mereka dalam masa orientasi siswa dulu.


"Ada apa?", Arinta menatap lelah suaminya itu. Jujur Arinta sangat letih sekarang. Energinya terkuras habis dalam memilih buku tadi.


"Pergi sama siapa?", Reagan malah balik bertanya dengan tangan yang bersidekap di dada. Auranya sangat mengintimidasi.


"Arif", jawab Arinta singkat yang membuat Reagan tertawa mengejek. Kenapa, apakah ada yang salah dengan jawaban Arinta.


"Gak sabar banget kayaknya mau cerai, sampai nyari mangsa baru lebih dulu", ujar Reagan.


Arinta mengernyitkan keningnya. Ada apa dengan Reagan. Mengapa ucapan cowok itu terdengar aneh.


"Kami cuma ke toko buku buat beli bahan ujian nanti", jelas Arinta. Hari ini Arinta memang memiliki rencana untuk ke toko buku selepas pulang sekolah. Mencari beberapa buku untuk menambah buku yang diberikan Renata kemarin. Arinta pergi dengan Arif karena Reagan sudah pergi setelah mereka menyelesaikan try out. Entah kemana, Arinta pun tidak tahu. Dan Gina, cewek itu sedang sakit, bahkan Gina menguatkan dirinya untuk sekolah karena ingin mengikuti try out. Arinta pun tidak tega untuk meminta Gina buat menemaninya ke toko buku.


Jadi alhasil Arinta pergi dengan Arif yang kebetulan berjumpa dengannya di gerbang sekolah. Dan Arinta langsung pergi saat mengetahui tujuan cowok itu yang sama dengannya.


"Aku udah nyuruh Ardean buat nganterin kamu pulang", sahut Reagan. Sebenarnya tadi ia ditelpon oleh Xavier untuk menggantikan Ayah nya itu buat menemui klien. Dan Reagan tidak sempat untuk memberitahu Arinta. Lantas Reagan meminta Ardean untuk menjemput istrinya itu. Walau Ardean mengatakan pernah memiliki rasa kepada Arinta. Namun Reagan seratus persen yakin dengan temannya itu. Ardean tidak akan mau mengambil sesuatu yang bukan miliknya. Terlebih itu sudah dimiliki oleh orang terdekatnya. Reagan sangat mengenal Ardean, begitu pula sebaliknya.


Tapi Reagan sangat terkejut saat Ardean menelponnya dan bilang kalau Arinta sudah pulang dengan orang lain. Oleh karena itu Reagan langsung bergegas menyelesaikan urusannya agar dapat segera pulang.


Namun apa yang didapatnya. Setelah menunggu lebih dari satu jam seperti orang bodoh. Arinta baru menunjukkan batang hidungnya. Apakah harus selama itu hanya untuk membeli buku.


"A-aku enggak tau kalau kamu nyuruh Ardean", balas Arinta gagap. Ia merasa bersalah kalau Reagan menyuruh Ardean menunggunya pulang. Tapi tadi Arinta tidak melihat cowok itu dan ia juga tidak tau.


"Karena kamu enggak mau dianterin Ardean, iya kan", Reagan tersenyum menyeringai.


Arinta memutar bola matanya malas. Reagan sudah ngelantur, "Aku enggak ada tenaga buat ngeladenin kamu", ujarnya dan berbalik. Namun Reagan segara menarik tangan Arinta. Membuat cewek itu kembali menghadap nya.


"Kenapa?, tenaga kamu habis karena si Arif?."


Arinta melotot kan matanya. Mengapa ucapan Reagan terdengar ambigu. Kemudian Arinta menghempaskan dengan kasar tangan Reagan.


"Kamu kenapa sih Reagan?, kamu ada masalah apa?!", ujar Arinta dengan suara yang meninggi.


Arinta menghela nafas panjang, "Kamu marah aku pergi dengan Arif?", tanya Arinta dengan nada yang lebih lembut dari sebelumnya. Tapi kenapa Reagan harus marah. Bukankah cowok itu masih belum bisa melupakan Laily. Mungkin ego nya sebagai seorang suami tergores?, entahlah.


"Kamu seharusnya tau kalau kamu itu udah nikah!. Dan sebagai wanita yang udah menikah, apa pantas kamu nge-date sama cowok lain?!", bentak Reagan dengan intonasi yang tinggi. Membuat Arinta pun ikut tersulut emosi.


"Nge-date apaan!. Kami cuma pergi buat beli buku?. Dan itu hanya dua jam."


Reagan menyeringai, "Dua jam?, jadi kamu berharap lebih lama?."


"Aku enggak ngerti ngomong kayak gimana lagi sama kamu. Aku capek."


"Lo bilang capek?, jadi lo pikir gue enggak capek duduk sendirian kayak orang bodoh nungguin lo selama dua jam?!", bentak Reagan dengan mengubah gaya bicaranya.


Arinta tertegun. Reagan terlihat sangat murka dan mengerikan jika seperti itu.


"Aku enggak ada nyuruh kamu buat nungguin aku", cicit Arinta pelan.


Reagan terkekeh, "Gue nungguin lo karena gue itu suami lo!, berharap pulang ada orang di rumah. Tapi enggak ada siapa-siapa sama sekali."


"Kamu juga enggak ngasih tau aku pas kamu pergi tadi. Oh, iya aku lupa. Kamu kan enggak pernah anggap aku itu istri kamu", sarkas Arinta membuat Reagan mengepalkan tangannya.


"Apa maksud lo?."


"Kenapa kamu marah aku pergi sama cowok lain?, kamu cemburu?", Arinta malah balik bertanya seraya tersenyum tipis.


Reagan bungkam. Walau sudah yakin perasaan itu telah ada untuk Arinta. Namun Reagan belum bisa mengartikan segala rasanya.


Melihat Reagan yang tidak menjawab, Arinta pun lantas tertawa sumbang, "Kamu itu egois tau enggak. Kamu gak bolehin aku buat ketemu cowok lain. Sementara kamu masih berada dibawah bayang-bayang masa lalu. Kamu pikir aku ini apa?, pajangan?, atau pelampiasan disaat kamu lagi kalut", ketus Arinta.


"Gue emang egois, baru tau lo?. Dan bukannya lo yang bilang sendiri kalau pernikahan ini cuma sementara. Kita bakal ceraikan", smirk Reagan.


"Mudah kamu bilang cerai setelah aku udah ada rasa buat kamu?. Hebat ya kamu Reagan", Arinta menatap Reagan tepat di manik cokelat terang itu, "Kamu bilang enggak bakal nyerah untuk aku. Kamu janji gak akan pernah lepasin aku. Dan kamu juga janji akan ngasih bahagia dalam hidup aku. Tapi sayang, aku lupa kalau janji laki-laki itu enggak akan pernah bisa dipegang. Apalagi laki-laki bajing*n seperti kamu."


"Semuanya hanya bualan semata. Begitu juga pernikahan ini, kamu enggak pernah serius dengan hubungan ini. Aku akui kalau awalnya aku enggak pernah tulus dengan pernikahan ini. Tapi aku mau berubah demi kamu. Aku mau terima semuanya setelah lihat ketulusan kamu", ujar Arinta panjang lebar. Keluar sudah kata-kata yang selama ini cewek itu pendam.


Lalu Arinta menghapus air matanya yang dengan lancangnya turun begitu saja, "Walau aku masih belum sayang sama dia. Tapi aku yakin kamu bisa bimbing aku buat terima dia. Aku percaya kamu mampu untuk meruntuhkan ego yang aku punya. Tapi sekarang apa, baru sebulan kita nikah. Dan cekcok udah sering terjadi. Aku udah benar-benar enggak berharap banyak dengan hubungan ini. Sekarang terserah sama kamu. Seperti yang kamu bilang, kita bakalan cerai dan aku juga berhak dong nyari sosok baru buat pendamping aku kelak", tambah Arinta.


Reagan hanya bisa berdiri terdiam memandang dan mendengarkan segala uneg-uneg Arinta. Pengakuan yang selama ini Reagan tunggu-tunggu akhirnya tiba. Namun sayang, suasananya tidak terlalu mendukung. Sepertinya Reagan belum benar-benar ahli dalam mengendalikan emosinya.


Reagan terbakar api amarah saat mengetahui Arinta berjalan dengan cowok lain. Dan membuatnya lepas kendali seperti ini. Untung saja Bi Ina sudah Reagan suruh untuk tetap di dalam kamarnya apapun yang beliau dengar nantinya.


"Satu lagi Reagan, aku cuma mau bilang kalau aku enggak suka dikekang. Aku bukan peliharaan yang bisa kamu kurung dan kontrol sesuka hati kamu. Aku juga manusia, dan aku juga butuh dengan apa yang namanya privasi", Arinta menatap datar Reagan yang masih berdiri mematung. Lalu setelah menatap sebentar Reagan, cewek itu lantas membalikkan badannya dan berjalan menaiki undakan anak tangga.


Arinta mengusap telinga nya yang terasa memanas. Antara amarah yang membuncah dan malu karena sudah mengakui perasaannya.


"Aku itu pasif Reagan. Dan kalau kamu enggak aktif, aku enggak bisa yakin dengan hubungan kita", gumam Arinta sambil membuka pintu kamarnya.


...~Rilansun🖤....


Makin ribet mereka euy kyk rubik, yg tim uwu"an mending di skip aja. drpd bosan entar. mksih so much buat yg udh mo bc dn like. smoga hidupnya lancar:v