Brittle

Brittle
Setia?



...••••••••••••••...


...Karena pada hakikatnya cowok itu tidak akan pernah puas dengan satu hati......


...•••••••••••••...


...***...


Reagan memutar bola matanya malas. Mendengar sorak sorai heboh karena ucapan guru Bahasa Indonesia tersebut.


Sudah enam puluh menit berlalu dan bukannya mengajar, guru laki-laki itu malah menghabiskan waktu dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang menurut Reagan sangat tidak berbobot.


Reagan berpikir hanya ada Zidan dan Riko sebagai makhluk aneh dan terheboh dikelasnya. Namun ternyata di dalam kelas Arinta lebih banyak makhluk seperti itu. Mengapa Reagan merasa sedikit menyesal karena sudah pindah kelas.


"Pak, saya mau tanya."


Reagan menghela nafasnya. Kapan kebodohan ini segera berakhir. Merasa bosan pun lantas Reagan menjatuhkan kepalanya kelipatan tangan diatas meja. Sambil memainkan ujung rambut Arinta, cowok itu memejamkan matanya. Lebih baik ia tidur daripada harus mendengar segala sesuatu yang tidak bermanfaat itu.


"Ya, Zidan silakan", sila pak Arvin. Guru laki-laki tersebut merupakan salah satu guru termuda yang ada di Allandra. Dan sifatnya yang humble membuat para anak didiknya tidak sungkan untuk menganggap pak Arvin sebagai teman.


Tapi menurut Reagan guru itu terlalu humble.


"Kenapa jodoh saya juga belum kunjung tiba?", tanya Zidan sambil melihat kearah Gina. Membuat cewek itu mendengus dan memalingkan wajahnya.


Sementara Reagan yang mendengar itu lantas bergumam, "Goblok", temannya yang satu itu datang ke MIPA 2 dengan alasan kelas tidak seru sebab Reagan tidak ada disana. Namun Reagan tau jika itu hanya lah sebuah alibi Zidan semata. Alasan utama cowok itu datang ke MIPA 2 tak lain dan tak bukan adalah untuk melihat sepupunya.


Hanya Zidan yang datang, teman-temannya yang lain tetap berada di MIPA 1 dan saat ini mereka tengah mengikuti ulangan matematika. Dan alasan kedua Zidan mampir adalah untuk menghindari ulangan tersebut.


Cowok itu memang sangat anti dengan pelajaran yang ada hitung-hitungan nya. Yang paling disukainya adalah pelajaran bahasa Indonesia. Dan alasannya sangat simpel, karena guru nya mudah dikibulin.


"Itu karena wajah mu yang tidak rupawan", jawab pak Arvin santai.


"Apakah saya harus melakukan operasi plastik untuk membuat wajah seperti Lee min ho?", tanya Zidan lagi yang langsung mendapatkan sorakan dari penghuni kelas lainnya.


Kecuali Reagan, Gina dan Arinta. Ketiga manusia itu tidak menghiraukan apa yang terjadi. Mereka seperti hidup di dalam dunianya masing-masing.


"Jangan, enggak cocok. Nanti jatuhnya kayak So lee hin", jawaban pak Arvin yang sukses membuat semuanya ngakak berjamaah. Ditambah muka ngenes nya Zidan yang membuat prihatin.


"Saya aduin pak Soleh nih pak", ujar Zidan menyebut nama guru agama Allandra tersebut.


"Aduin, saya juga bakal aduin kamu ke Bu Nana karena udah nyeleweng kemari", sahut pak Arvin membuat Zidan menyengir bodoh.


"Jangan dong pak, kita kan best friend."


Pak Arvin mengedipkan matanya seraya menjentikkan jarinya kearah Zidan. Membuat cowok itu mengelus dada sambil mengucap syukur.


"Pak, pak saya mau tanya juga dong", seru Suci sambil mengacungkan telunjuknya.


"Ya, silahkan."


"Hidup sekali, mati sekali, tapi sekarang kenapa banyak laki-laki yang istrinya banyak. Seharusnya nikah juga sekali dong. Kan sakral", pertanyaan Suci yang lebih mirip sebuah pernyataan. Atau lebih terdengar seperti curhatan.


"Yee bodoh lo. Justru karena hidup sekali, kita harus nikah berkali-kali untuk dapat merasakan setiap rasa yang berbeda", celetuk Zidan yang langsung disoraki kaum hawa yang ada di dalam kelas. Namun disetujui oleh para kaum Adam.


"Lo kucing atau manusia?, setiap anak bapaknya berbeda. Kasihan cewek kalau gitu. Cowok itu emang enggak punya hati", sahut Suci yang tak terima dengan ucapan Zidan. Apakah semua laki-laki seperti itu. Jika benar, maka tidak akan ada perempuan yang mau menikah kedepannya.


"Bukan nya enggak punya hati. Tapi terkadang cewek itu sendiri yang mudah baperan. Padahal nge-chat karena gabut, tapi cewek nganggap kalau kita seriusan. Habis itu dibilang cowok yang salah, karena udah nge-ghosting", balas Zidan.


"Makanya tuh hati jangan mudah baper yang mudah dihancurin kayak lemper", tambah Farhan menambahi. Membuat suasana semakin heboh dan tak terkendali. Peperangan antara laper (laki-laki dan perempuan) pun terjadi hanya karena kata baper.


"Bukannya enggak punya perasaan. Namun pada hakikatnya cowok itu tidak akan pernah puas dengan satu hati. Hanya sedikit laki-laki yang bisa bertahan dengan satu wanita selama hidupnya. Bukankah laki-laki yang baik hanya untuk perempuan yang baik. Dan begitu pula sebaliknya. Lagian ngapain kamu takut. Selagi dia jodoh kamu, seberapa banyak pun wanita disekelilingnya, dia pasti bakal balik ke kamu", jawab pak Arvin menengahi keributan yang ada.


"Kalau gitu saya udah enggak mau pak. Emang laki-laki aja yang bisa buat kayak gitu. Perempuan juga bisa. Kan sekarang lebih banyak laki-laki daripada perempuan. Berarti seharusnya perempuan yang punya lebih banyak suami", sahut Azzura menambahi.


"Kucing aja suaminya beda-beda pak."


"Berarti lo binatang", ujar Zidan yang membuat semuanya bungkam. Lalu cowok itu mengedipkan matanya seraya menjentikkan jarinya kearah pak Arvin.


"Tuh dengerin, enggak ada laki-laki yang benar-benar setia", ujar Gina kepada Arinta.


Arinta menoleh, belum sempat cewek itu menyahut. Reagan lebih dulu menyela.


"Berarti lo raguin kesetiaan bokap lo sendiri", Reagan menegakkan kembali tubuhnya dan menatap malas orang-orang yang masih berdebat. Sungguh sangat tidak bermutu.


"Cowok itu yang-"


"Pak", suara bariton Reagan yang menyela membuat semua mata menatapnya.


"Ya apa Reagan?."


"Kapan mulai belajarnya?."


Krik krik krik


Pertanyaan yang Reagan ajukan membuat semua para penghuni kelas menjadi diam tak berkutik. Dan membuat suasananya menjadi terasa awkward.


"Hahaha, oh iya. Kita mulai sekarang. Kawan kamu nih, yang ngerecok", ujar pak Arvin canggung.


"Biarin aja dia. Sekarang kita mulai, buka halaman 98 ten-"


Kring kring kring


"Horeeee makan."


"Udah pak tutup aja buku nya."


"Isi perut nomor satu."


"Kalau takdir nya udah jadi gelandangan, pelajaran apapun enggak ada gunanya pak."


"Ayo makan, ngapain belajar."


Seru para murid heboh dan berjalan keluar dari dalam kelas satu persatu. Meninggalkan pak Arvin yang menganga lebar. Benarkah itu anak didiknya.


Kemudian guru tersebut menoleh kearah pintu. Dan mendapati Zidan yang mengedipkan matanya seraya menjentikkan jarinya kearahnya.


"Makasih pak ilmu dan waktunya", ujar Reagan saat melewati pak Arvin.


...***...


Arinta memasuki ruang kelas X MIPA 3 dengan canggung. Menatap dua orang adik kelasnya yang menyoroti setiap langkahnya.


Tadi sebelum bel pulang berbunyi. Bu Ria selaku guru pembimbing anak Olimpiade Fisika menghampirinya dan meminta Arinta agar dapat membantunya menjadi tutor untuk sementara setelah pulang sekolah. Sebab hari ini Bu Ria harus menemani suaminya yang akan menjalani operasi.


Selain tak dapat menolak dan merasa kasihan. Arinta pun lantas menyetujuinya. Lagipula karena sudah duduk di semester akhir, Arinta tidak bisa lagi mengikuti olimpiade. Dan ia merasa sedikit sedih.


"Selamat siang, perkenalkan saya Arinta Zarvisya Deltava dari kelas XII MIPA-2. Hari ini saya yang akan menggantikan Bu Ria. Mohon kerja samanya", ujar Arinta berusaha sebisa mungkin untuk tidak gugup. Sebab ini pertama kalinya Arinta berbicara di depan adik-adik kelasnya. Sedikit berbeda bila presentasi di hadapan teman-teman sekelasnya


Kemudian Arinta membuka perhalaman buku cetak tebal yang diberikan oleh Bu Ria tadi, "Buka halaman 140", titahnya.


"Tapi kak katanya ada dua orang tutor", ujar salah satu adik kelas tersebut.


Arinta mendongak dan menatap bingung adik kelasnya itu. Bu Ria tidak mengatakan jika ada orang selainnya.


"Tapi kata Bu Ria-"


"Selamat siang."


Ketiga orang itu menatap kearah sosok jangkung yang memasuki kelas. Menatap lurus tanpa mengalihkan pandangan nya. Memasukkan sebelah tangannya kedalam saku. Sedangkan tangan yang lainnya menjinjing buku yang sama seperti milik Arinta.


"Buka halaman 140", ujar Reagan yang membuat ketiga orang itu tersadar dari lamunannya.


Tanpa susah-susah memperkenalkan dirinya. Reagan langsung menyuruh kedua adik kelas itu untuk membuka buku. Memulai materi dengan serius dan khidmat.


Arinta mengernyitkan dahinya bingung. Bukankah cowok itu saat ini tengah sibuk mengurusi proposal terakhirnya sebagai ketua OSIS. Lalu bagaimana bisa Reagan menyempatkan dirinya untuk mengajari peserta Olim. Ah, sudahlah. Pindah kelas saja Reagan bisa melakukannya, apalagi hal kecil seperti ini bukan.


"Kenapa?, hm?", Reagan berdiri dibelakang Arinta dan berbisik tepat di telinganya. Setelah melihat istrinya itu hanya diam.


Arinta kaget dan menoleh kebelakang. Hampir saja ia memukul wajah tersebut dengan buku tebal ditangannya. Jika Reagan tidak lebih dulu mencekal tangannya.


"Makin agresif", goda Reagan dan menghirup rakus aroma rambut Arinta.


"Tangan kamu Reagan", geram Arinta dan memandang kearah dua orang adik kelasnya yang tengah sibuk mengerjakan soal.


"Loh kenapa?, kan lagi nyapa anak aku juga", sahut Reagan dengan tersenyum miring.


Arinta memejamkan matanya. Kalau saja tidak ada adik kelasnya itu. Sudah Arinta pukul wajah sok tampan Reagan itu dengan buku sampai bonyok sekaligus.


"Kamu percaya kalau di dunia ini enggak ada laki-laki yang setia?", tanya Reagan. Termotivasi karena obrolan heboh dikelas tadi.


Apakah Arinta memiliki pandangan yang sama dengan murid-murid perempuan yang ada dikelasnya tentang laki-laki.


"Kalau kamu aku enggak percaya bakal bisa setia", jawab Arinta sinis.


"Loh kenapa aku harus setia?, kan kamu bakal cerain aku. Jadi aku berhak dong untuk mencari pengganti kamu mulai sekarang. Dan anak aku juga butuh seorang Ibu", Reagan tersenyum ketika melihat Arinta yang mematung setelah mendengar ucapan nya.


Tanpa sadar, bulir air mata jatuh dari pelupuk matanya. Mengalir begitu saja. Membuat Reagan kalang kabut.


Lalu cowok itu membalikkan tubuh Arinta menghadapnya. Menghapus jejak air mata yang menghiasi pipi mulus istrinya.


"Kenapa nangis?, aku cuma canda", ujar Reagan sambil mencium lembut kening Arinta.


Arinta mendongak dan menatap tepat dimanik coklat terang milik Reagan. Arinta sendiri pun tidak tahu mengapa ia bisa menangis. Entahlah, perasaan nya untuk saat ini sedang sangat sensitif.


"Kamu benar, dia butuh seorang Ibu yang bisa menyayangi dan mencintainya dengan tulus. Cari Ibu yang baik dan tepat buat dia", sahut Arinta dan berbalik berjalan menghampiri adik kelasnya tersebut.


"Kamu egois", gumam Reagan pelan dengan pandangan yang lurus kearah punggung Arinta yang tengah membelakanginya. Lalu cowok itu tertawa miris. Betapa malang nasib anaknya yang belum lahir.


...~Rilansun🖤....



Mau promosi boleh👉👈. Kalau mau mampir juga ya keceritaku yang lainnya. Itu adalah cerita kedua ku di dunia Oren. Tapi krna disana pnggmrnya sedikit, dan aku yang notabenenya paranoid jd lngsung aku unpub😭😪. Didunia Oren aku nulisnya udh 20 eps dgn jngka waktu 8 buln dan pnggmrnya cuma 800-an lbih😭. So, aku brhrp disini bisa lbih rame. Mohon bantuannya para manusia Budiman 😭🤗. smoga kalian semua jadi ahli waris, eh slh mksdnya ahli surga😭.