
...••••••••••••••...
...Teruslah bertingkah seperti korban, sebab Tuhan lebih tau siapa yang banyak mengubur kesakitan......
...••••••••••••••...
...***...
Kali ini, untuk pertama kalinya Arinta tak menundukkan kepalanya sepanjang ia berjalan dikoridor sekolah. Dirinya tak lagi peduli dengan tatapan-tatapan menghina yang dilayangkan kepadanya. Sebab dunia saja sudah memandang rendah dirinya, jadi untuk apa ia memusingkan bullyan mereka. Hidupnya saja sudah cukup rumit, ia tak ingin menambahnya lagi dengan manusia-manusia yang hanya bisa mencela kekurangan orang lain.
Arinta memasuki kelasnya dan melangkah dengan cepat kearah kursinya yang berada dipojok kelas. Jujur, kakinya sudah tak sanggup lagi menapak, telinganya sudah terasa tuli mendengar bisikan-bisikan mereka yang sudah menyerupai teriakan yang memekakkan telinga.
Sebenarnya Arinta masih ingin bersembunyi didalam kamarnya. Menghindari dunia luar yang terasa sangat berbahaya untuknya kini. Tetapi, masih ada harapan orang tuanya yang harus ia wujudkan. Arinta juga tidak bisa terus-terusan menghindar. Seperti apa yang pernah dikatakan Gina. Ini hidupnya, dan hanya dengan kakinya sendirilah ia bisa menopang hidup yang keras ini.
Ya, Arinta sudah memutuskan jika tindakan konyolnya yang ingin menjemput kematian ditepi jembatan itu adalah untuk yang pertama dan terakhir. Tapi jika semesta tak kembali adil padanya, entahlah hanya Tuhan dan dirinya lah yang tau apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Hiks", Arinta memukul dadanya yang kembali sesak. Ia benci dengan ingatan buruk yang terus membuat air matanya turun. Sangat benci.
"Rinta....", teriakan nyaring tersebut membuat Arinta cepat-cepat menghapus air matanya. Tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa.
"Gina mana?", tanya Arinta yang tak melihat keberadaan Gina dibelakang Laily. Biasanya mereka berdua itu selalu berangkat dan pulang sekolah bersama.
"Gue disini", sahut Gina dan duduk dikursi nya yang berada disamping Arinta.
Arinta tersenyum dan mengerutkan dahinya ketika memandang wajah Gina yang tampak muram, "Kamu kenapa Gin?", tanyanya.
Gina menoleh, lalu memutar kedua bola matanya malas, "Tau tuh. Tanya aja sama sahabat alay lo itu", jawabnya sambil menggedikan kepala kearah Laily.
Laily yang tadinya tersenyum sumringah, lantas berubah saat mendengar Gina menyebut dirinya alay. Ia bukan alay, hanya sedikit ekspresif. Memangnya Gina, senyum saja bisa dihitung pakai jari.
"Kenapa gue?", tanya Laily balik.
"Ya kan gara-gara lo. Gue harus begadang semalaman suntuk. Ngantuk nih gue", keluh Gina dan menjatuhkan kepalanya kelipatan tangan diatas meja.
"Yee, salahin sepupu lo itulah. Siapa suruh buat keputusan mendadak. Ya mana gue tau", balas Laily dan kembali tersenyum mengingat kejadian tadi malam. Jika saja dada nya ini transparan, pasti orang-orang sudah bisa melihat bunga-bunga yang bermekaran.
"Sama aja kalian berdua. Sama-sama repotin", sinis Gina yang hanya ditanggapi dengan kedikkan bahu oleh Laily.
Arinta yang dari tadi hanya mendengarkan, lantas mengerutkan keningnya semakin dalam. Memangnya kejadian apa tadi malam yang sampai membuat seorang Gina rela membuang waktu istirahatnya, "Memangnya tadi malam ada acara apa?", tanya Arinta.
Gina menegakkan kembali badannya, dan memandang kesal kearah Laily.
"Apa lo?, mau gue santet mata lo?", sarkas Laily.
"Lo yang duluan gue santet", balas Gina.
Arinta menghela nafasnya jengah. Tidak dirumah, tidak disekolah. Mengapa ia harus selalu berada diantara dua orang yang mempunya hobi adu mulut. Dirumah ada kedua adik kembarnya, dan disekolah dia juga harus berhadapan dengan kedua sahabatnya. Tuhan apa dosanya, mengapa banyak sekali cobaan untuk dirinya.
"Stop!", Arinta menutup masing-masing mulut sahabatnya dengan kedua tangan mungilnya.
"Aku cuma nanya satu pertanyaan, kalian enggak harus jawabnya sampai mulut kalian berbusa", omel Arinta membuat kedua sahabatnya itu membuang pandangannya sambil mendengus.
"Tanya aja tuh sama mempelainya", tunjuk Gina kearah Laily.
*M*empelai?
"Laily?, kamu mau nikah?, seriusan?", kaget Arinta.
Laily masih dengan senyuman nya mengganguk membenarkan pernyataan tersebut.
Arinta membelalakkan matanya, "Hah, seriusan?. Aaaa aku turut bahagia ya", ujarnya sambil memeluk Laily dengan erat. Ia tak menyangka jika gadis yang suka ceplas-ceplos ini duluan yang melepas masa lajangnya. Menikah muda?, tak pernah terpikirkan sebelumnya. Tapi itu bukanlah masalah untuk Laily. Ia terlahir didalam keluarga yang bergelimangan harta dan tentu saja calon suaminya adalah seseorang yang mempunyai bibit, bebet dan bobot yang jelas.
Sangat berbeda dengan Arinta. Tapi jika saja ditanya apakah Arinta ingin bertukar keluarga dengan sahabat-sahabatnya yang notabenenya adalah anak konglomerat, maka Arinta akan menjawab tidak. Karena menurut Arinta tidak ada keluarga seperti keluarganya didunia ini. Keluarganya adalah yang terbaik dari segalanya.
Laily melepaskan pelukan mereka dan tersenyum, "Makasih ya. Gue juga enggak tau, dia nya aja yang secara mendadak datang melamar tadi malam. Gue aja kaget, kata gue sekampung datang kasih gue makan. Lah, taunya si babang ganteng sama keluarganya", ujar Laily yang malu-malu diakhir kalimatnya.
Arinta tersenyum dan beralih menatap Gina yang masih memasang tampang kesal sekaligus ngantuk, "Terus hubungannya dengan kamu apa?, kamu tadi malam nginap dirumah Laily ya?", tanyanya.
Gina kembali menjatuhkan kepalanya dilipatan tangan diatas meja, "Mana ada. gue tadi malam ikut nganterin cowoknya ngelamar si boneka mampang itu", jawab Gina datar membuat Laily cemberut tak terima dikatain boneka mampang. Dia kan cantik, kalau tidak bagaimana bisa es gunung itu mencair.
"Memangnya calon Laily itu ada hubungan sama kamu?", tanya Arinta semakin penasaran. Setahunya Gina tidak memiliki adik, dan Gina juga tidak pernah bercerita jika ia punya sepupu. Tapi itu masalah pribadi, sahabat tidak terlalu perlu mengetahuinya kan.
"Calon gue itu sepupunya si tembok. Babang es", celetuk Laily membuat rasa penasaran Arinta semakin bertambah. Arinta merasa sekarang ia sedang memainkan sebuah teka-teki.
"Babang es?, siapa sih?. Ngomong yang jelas dong", ujar Arinta kesal.
"Eh buset, santai mbak enggak usah ngegas", balas Laily.
"Calon dia itu ketua Osis kita", celetuk Gina membuat tubuh Arinta terkesiap seketika. Rasa penasaran yang besar tadi telah terjatuh kepalung yang terdalam dan semangat hidupnya telah terbang dibawa angin.
Deg
"Ke-ketua OSIS?", tanya Arinta terbata-bata. Tolong katakan apakah telinganya tersumbat?, atau takdir yang menghambat?.
Melihat Laily menganggukkan kepalanya dengan pasti, membuat hati Arinta terasa dihantam palu godam berulang kali. Hancur, semuanya hancur.
"Reagan?", tanya Arinta sekali memastikan. Mana tau jika ketua OSIS nya sudah berganti. Tapi lagi-lagi melihat anggukan itu, oksigen Arinta terasa habis seketika. Ia tersenyum miris. Ingin rasanya Arinta tertawa dengan keras, mentertawakan nasibnya yang terlalu muram. Berteriak dengan lantang, mengatakan jika ia sudah dihancurkan, sehancur-hancurnya oleh laki-laki yang banyak digilai kaum hawa itu. Dan kini dengan entengnya dia ingin menikah dengan wanita lain. Apakah sisi kemanusiaan nya telah musnah, atau memang dia tidak punya hati.
"*Ge*rak kamu cepat juga pecundang", lirih Arinta dalam hatinya.
Sekarang, kebencian itu semakin dalam. Jika saja jantungnya bisa dibuka, maka didalamnya hanya akan ada nama yang sudah disilang dengan darah. Dan nama itu adalah Reagan. Cowok yang paling ingin Arinta musnahkan dari muka bumi ini.
"Rin!, lo ngapa?", Laily menepuk pundak Arinta membuat lamunan panjang gadis itu buyar seketika.
"Ah, enggak kok. Enggak apa-apa", jawab Arinta gelagapan, "Aku ketoilet dulu ya. Kebelet nih", tambahnya sambil tersenyum sebisa mungkin. Lalu Arinta bergegas keluar dari kelas tanpa mempedulikan pandangan seseorang yang menatapnya penuh dengan rasa ingin tahu.
"Apa yang lo sembunyiin dari gue, Rin", gumam Gina. Setelah melihat air muka Arinta yang langsung berubah ketika mendengar nama calon Laily. Rasa kantuknya hilang sudah. Kini ia hanya ingin tahu, apa yang tengah disembunyikan oleh sahabatnya itu.
...~Rilansun🖤....