Brittle

Brittle
Berusaha menjauh



...•••••••••••••••••...


...I need a break from my own thoughts.......


...•••••••••••••••••...


...***...


Renata meringis menatap Suami dan Anaknya yang saling berpandangan satu sama lain. Tatapan yang sangat mematikan membuat suasana mencekam diruang keluarga tersebut.


Ibu dari satu anak itu lantas mengelus tengkuknya yang terasa meremang. Sepertinya Renata bisa membangun rumah hantu tersendiri dirumahnya. Dengan Reagan dan Xavier yang menjadi pemeran utamanya.


Reagan menghela nafasnya ketika melihat kode yang dilemparkan Renata untuknya. Kode yang menyuruhnya untuk mengalah. Bundanya selalu begitu, suka berpihak pada suaminya daripada anaknya. Pilih kasih. Not fair.


"Ayah mau ngomong apa?", Reagan melirik sekilas kearah jam tangannya lalu menatap penuh kearah pria yang duduk dihadapannya.


Beberapa jam lalu Reagan yang baru saja turun dari tangga untuk pergi bersama teman-temannya terkejut melihat Xavier yang duduk di sofa dengan mata yang menyorot dirinya.


Tentu saja Reagan terkejut. Setahunya, Ayahnya itu akan pulang empat hari lagi dari perjalanan bisnisnya. Namun, ini lebih cepat dari yang Reagan perkirakan. Bukan ia tak senang melihat Ayahnya pulang. Tetapi jika sudah ada Ayahnya itu dirumah. Maka, jangan harap ia dapat keluar berkumpul bersama teman-temannya. Apalagi malam hari begini.


Tanpa berkata apa-apa Xavier menyuruhnya untuk duduk dengan isyarat mata. Dan berakhir dengan mereka yang hanya diam sambil duduk berhadapan selama 2 jam.


"Nikahin dia!", suara berat dan datar itu mampu membuat atsmofer disekitar terasa semakin menipis.


Reagan menatap horor kearah Ayahnya yang baru saja melontarkan perintah tiba-tiba yang membuat emosi Reagan naik seketika.


Apaan. Reagan saja baru membatalkan pertunangannya belum lama ini. Dan Xavier dengan seenaknya menyuruh dirinya untuk langsung menikah. Dengan orang yang tidak ia suka pula. Apa Ayahnya itu sama sekali tidak mengerti perasaannya?.


Renata yang merasa suasana semakin tidak baik. Lantas menyentuh lengan kekar suaminya membuat Xavier langsung menatapnya. Renata menggelengkan kepala, mengisyaratkan jika ini bukan waktunya untuk membicarakan perihal itu.


Namun, Xavier yang dengan keras kepalanya menggeleng juga. Menolak jika mereka harus menghindari masalah ini lagi.


Nanti ataupun sekarang tidak ada bedanya. Yang jelas masalah itu pasti akan dibicarakan, entah sekarang ataupun nanti.


Tapi Xavier bukanlah orang yang suka menunda-nunda masalah. Dan masalah yang sedang menimpa mereka saat ini bukan lah suatu masalah yang sepele. Ini mengenai kehidupan seseorang. Bagaimana bisa Xavier duduk diam saja melihat anaknya merusak hidup orang lain.


Reagan sudah mencoreng gelarnya sebagai seorang Ayah yang baik.


"Tapi Yah–"


"Enggak ada alasan", sergah Xavier, "Kamu itu laki-laki, harus punya pendirian dan rasa tanggung jawab. Jangan jadi pengecut yang suka lari dari masalah. Saya enggak pernah ngajarin kamu untuk seperti itu", tambahnya yang membuat Reagan dan Renata terdiam.


Jika seorang Xavier sudah menggunakan kata ganti saya. Maka itu menandakan jika pria tersebut sedang marah besar.


"Reagan takut kalau Reagan bakal nyakitin hatinya. Pernikahan bukan dijalankan untuk sehari dua hari, tetapi seumur hidup. Bagaimana bisa bertahan kalau enggak ada cinta sama sekali", ujar Reagan datar. Cowok itu menunduk menatap lantai. Menerawang hidupnya jika ia memang benar menikah dengan Arinta. Betapa mengerikannya kehidupan yang Reagan jalankan nantinya. Bagi seorang Reagan cinta dan rasa nyaman adalah alasan utama untuk membangun sebuah hubungan.


"Jadi kamu mau kayak kucing yang nabur benih sembarangan?", sinis Xavier yang membuat Reagan meneguk saliva-nya. Perkataan Xavier sangat menusuk hatinya.


"Tapi pernikahan bukan jalan satu-satunya", protes Reagan.


Xavier menaikkan sebelah alisnya menyuruh Reagan untuk melanjutkan kalimatnya.


"Kita bisa biayai hidupnya. Reagan juga bakal tanggung jawab dengan anaknya. Tetapi untuk menikah Reagan enggak bisa. Itu sulit."


Buk


Sebuah bantal sofa melayang menimpa wajah Reagan, "Bunda baru tau kalau anak bunda memang sangat bajing*n", sarkas Renata. Matanya berkaca-kaca setelah mendengar penuturan Reagan. Seperti yang dibilang Gina, Renata mencoba untuk memposisikan dirinya sebagai Arinta. Betapa sulitnya hidup yang dijalani gadis itu sekarang. Hamil diluar nikah tanpa ada yang mau bertanggung jawab. Anaknya itu memang sangat brengs*k. Apakah itu anak yang ia lahirkan?.


"Bun–"


"Kamu enggak bakal ngerti Reagan. Gimana sakitnya melahirkan. Nyawa yang dipertaruhkan untuk seonggok daging yang entah balas budi atau tidak nantinya", Renata mengusap air matanya. Ia mendadak emosional mengingat Arinta yang hamil tanpa sosok suami.


"Kamu enggak ngerasain gimana susahnya menjadi seorang ibu. Mengandung selama sembilan bulan. Proses lahiran yang tak mudah. Tugas sebagai ibu yang harus diemban seumur hidup. Apa kamu enggak bayangin gimana tersiksanya cewek yang udah kamu nodai itu?, Hamil tanpa sosok suami disampingnya?, Meringis kesakitan sendiri?, Kalau dia ngidam, siapa yang bakal penuhin?, Siapa yang akan menemani kalau dia tiba-tiba terbangun ditengah malam?, Siapa yang merawat kalau dia mual dipagi hari?, Siapa?!.


"Itu anak kamu. Darah daging kamu. Apa hati kamu enggak kasihan sedikitpun. Hati kamu terbuat dari apa Reagan?!", Renata menutup wajahnya dengan kedua tangan. Menangis tersedu mengingat ia telah gagal total menjadi seorang Ibu. Renata merasa menyesal telah pernah mendukung Reagan untuk terus melanjutkan hubungannya dengan Laily dan meninggalkan Arinta begitu saja.


Cowok itu mengusap wajahnya gusar. Lalu ia berdiri dari duduknya, "Reagan minta maaf udah buat bunda nangis", ujarnya merasa bersalah.


Reagan mengambil kunci mobil yang ada diatas meja dan beranjak meninggalkan ruang keluarga rumahnya. Namun belum sempat ia melangkah suara sang Ayah lebih dulu menginterupsi.


"Mau kemana kamu?."


Tanpa menatap Xavier Reagan menjawab, "i need a break from my own thoughts", kemudian cowok itu berlenggang meninggalkan kedua orang tuanya. Pikirannya kacau, sangat kacau. Dan Reagan tak ingin mengambil keputusan salah disaat-saat seperti ini.


"We fail to be parents", ujar Xavier dengan pandangan lurus menatap punggung putranya yang telah menjauh. Membuat Renata mendongak dan menubruk kan tubuhnya kedalam pelukan hangat sang suami. Ya, mereka telah gagal menjadi orang tua.


...***...


Reagan memegang kepalanya yang sedikit pusing. Padahal ia tidak minum terlalu banyak tadi. Mungkin karena pikirannya yang terlalu banyak.


Reagan mengajak teman-temannya untuk pergi ke club. Mengubah rencana mereka yang awalnya ingin bermain dirumah Riko. Membuat Revo, Zidan, Riko dan Ardean yang diajak pun sontak terkejut. Karena jarang-jarang sekali Reagan berinisiatif duluan. Biasanya cowok itu akan ikut jika diajak oleh Revo ataupun Zidan.


Reagan memijit pelipisnya sambil melirik sekilas jam dipergelangan tangannya.


Pukul 02:00 dini hari.


Reagan membelalakkan matanya. Ia tidak menyangka jika hari sudah sangat larut. Cowok itu menoleh kebelakang menatap kedalam club yang masih berisik dan ramai. Lalu Reagan kembali menatap kedepan yang lebih sepi daripada didalam. Padahal Reagan berdiri disatu tempat yang sama, tetapi ia merasa ada dua dunia yang berbeda.


"Huek"


Reagan menatap malas kearah Riko yang mual disampingnya. Mereka saat ini duduk didepan pintu utama club. Menunggu Revo dan Ardean yang mengambil mobil diparkiran. Sementara Zidan, cowok itu telah terkapar disamping Riko. Mereka saat ini seperti anak gelandangan yang tak punya orang tua dan rumah. Sangat menyedihkan.


"Brengs*k", Riko mengumpat tatkala ada orang yang mendorongnya dari belakang membuat ia tersungkur kedepan menghantam aspal.


Reagan menahan tawanya dan membantu Riko. Benjol dah tuh kepala.


"Pengkhianat kalian pengkhianat", teriak seseorang membuat Reagan menoleh kebelakang dan tanpa sadar kembali menjatuhkan tubuh Riko yang limbung.


"Akh, bangs*t", umpat Riko merasakan nyeri dikepalanya.


Sementara itu Reagan tercekat menatap seorang perempuan yang tampak kacau duduk didepan pintu club. Perempuan yang telah mematahkan hatinya sepatah-patahnya.


"Kalian berdua udah khianatin gue. Sialan. Gue kutuk lo berdua jadi batu. Hahahha", Laily tertawa seperti orang gila membuat Reagan terhenyak.


"Kalian udah khianatin gue. Sakit, hati gue sakit", racau Laily dengan menunjuk dadanya.


Tin tin tin


Bersamaan dengan itu klakson mobil Revo menghampiri mereka disusul dengan mobil Reagan yang dibawa oleh Ardean. Kedua cowok itu turun dari mobil dan menghampiri Reagan.


"Lo kenapa njir?", Revo tertawa melihat kening Riko yang memerah dan sedikit mengeluarkan darah.


"Sakit, huwaaaa", Riko menjerit namun sedetik kemudian cowok itu kembali muntah membuat Revo terbahak sekaligus kasihan. Udah tau enggak bisa minum sok-sokan nantang Revo yang notabenenya udah kebal dengan minuman.


Sedangkan Ardean, cowok itu menatap Reagan dengan penuh tanda tanya, "Kenapa dia ada disini?"


Reagan menggelengkan kepala. Ia pun tak tau bagaimana Laily bisa ada disini. Setahunya orang tua Laily itu adalah tipe orang tua yang terlalu mengekang anaknya. Lalu bagaimana bisa cewek itu dengan nekad datang ketempat seperti ini. Sendirian pula.


"Lo antar dia pulang", titah Reagan kepada Ardean. Membuat ice bear satu itu mendengus tak terima. Ingin protes tak ada gunanya juga.


Dengan terpaksa Ardean membopong tubuh Laily dan membawanya kemobil. Sementara itu Reagan dan Revo memapah tubuh Zidan dan Riko yang sudah terkapar.


Reagan menatap sendu kearah mobilnya yang telah dibawa Ardean. Bisa saja ia yang mengantar Laily pulang. Namun, jika ia terus mendekati cewek itu sama saja dengan ia menyakiti Laily. Dan Reagan tak ingin terus-menerus menyakiti hati perempuan yang ia sayang.


Sekarang cara yang terbaik adalah dengan menatap gadis pujaannya dari kejauhan.


Reagan tahu jika mereka tak mungkin bersama lagi. Tapi perasaan ini, Reagan pastikan tidak akan berpindah kelain hati. Pemiliknya hanya satu, yaitu Lailydynia Saira Kundari.


...~Rilansun🖤....