Brittle

Brittle
Beloved angel's



...••••••••••••••••••••...


...Jika astronot membutuhkan roket untuk pergi ke luar angkasa, maka aku hanya butuh dua sayap orang tuaku agar aku dapat menuju surga......


...•••••••••••••••••••...


...***...


Reagan mengendarai mobilnya dengan ugal-ugalan. Untung sang mentari baru saja muncul, jadi jalanan belum terlalu dipadati dengan kesibukan manusia yang akan memulai aktivitasnya.


Sesekali Reagan melirik gelang manik-manik yang berada diatas dashboard mobilnya. Sebenarnya Reagan sudah terbangun ketika ia mendengar suara pintu mobilnya yang dibanting dengan keras. Saat ia ingin melihat siapa orang yang berani melakukan itu. Reagan malah mendapati sebuah punggung rapuh yang tengah berjalan sempoyongan dibawah guyuran hujan dan sepinya malam. Reagan ingin menghentikan orang tersebut, tapi setelah ia melihat keadaanya dan kondisi mobilnya. Reagan mengurungkan niatnya. Ia lebih memilih menatap punggung itu dalam diam sampai hilang ditelan jalan. Dirinya terlalu pengecut.


"Si*l", Reagan menghentikan mobilnya ditepi jalan. Pikirannya kacau dan itu sangat berbahaya untuknya mengendarai mobil. Cowok itu memukul setir dengan kuat lalu menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi.


Reagan mengambil gelang yang bergradasi hitam, putih dan pink tersebut lalu ia mengamatinya lekat-lekat. Ia tahu gelang itu, tapi masalahnya ia tidak tahu siapa pemiliki aslinya. Sebab gelang itu mempunyai tiga pemilik. Dan setahu Reagan, gelang tersebut adalah gelang yang dipakai Gina dan sahabat-sahabatnya. Jika begini siapa orang yang telah ia lukai tadi malam.


Reagan berusaha mencoba mengingat kembali wajah cewek tersebut, tapi semuanya samar-samar. Yang hanya Reagan ingat sekilas adalah nama seseorang yang ia sebut, dan nama yang ia sebut tadi malam adalah....


"Gobl*k", Reagan memukul kepalanya. lalu dengan gugup yang melanda, ia memberanikan diri untuk menghubungi Laily. Reagan menunggu deringan itu terangkat dengan perasaan yang campur aduk. Ia merasa bersalah dan sedikit rasa senang jika memang Laily orangnya.


"*H*alo?", suara lembut yang menyapa dari seberang sana mampu membuat Reagan ketar-ketir.


Reagan berdehem menetralkan kegugupannya, "Pagi", sapanya sebisa mungkin untuk normal.


"*P*agi, kamu kenapa nelfon aku jam segini?", tanya Laily bingung, karena jarang-jarang Reagan menghubunginya sepagi ini.


Reagan kembali melirik gelang tersebut, "Eum, aku cuma mau nanya, kamu tadi malam pergi kemana?", tanya Reagan dengan hati-hati.


"*Se*malam aku dirumah aja. Lagipula kan tadi malam hujan, papi mana bolehin aku keluar. Emangnya kenapa sih?."


Reagan terkejut. Jika bukan Laily, lalu siapa?. Tapi entah mengapa mendengar fakta tersebut, Reagan merasa sedikit tidak rela.


"Seriusan?", tanya Reagan memastikan. Mana tau gadis itu malu untuk mengungkapkan apa yang telah terjadi pada mereka berdua semalam.


"*Se*rius. Kalau nggak percaya kamu telpon aja Papi."


Reagan memejamkan matanya. Ini terasa semakin berat, "Yaudah aku percaya, kalau gitu aku tutup telpon nya ya."


"*Em*angnya kamu kenapa sih?", tanya Laily merasa cemas.


"Aku enggak apa-apa kok. Yadah aku tutup ya. Dah, sweetie", Reagan memutuskan sambungan setelah mendapatkan balasan lembut dari seberang sana.


Cowok itu menghela nafasnya. Tak putus asa, ia kembali mencoba menghubungi Gina. Sebenarnya Reagan takut jika orang itu Gina yang notabenenya adalah sepupunya. Bisa-bisa dikebiri ia dengan satu keluarga besar.


"Halo Sat", sapa Reagan terlebih dahulu ketika panggilan telah tersambung.


"Bangs*at-bangs*t. lo tu yang bangs*t", balas Gina sengit.


"Masih pagi udah darah tinggi aja. Stroke baru tau rasa lo", ujar Reagan sesantai mungkin.


"*Ka*lau gue mati, lo orang pertama yang gue seret ke neraka", sahut Gina yang membuat Reagan memiliki praduga sendiri. Apa mungkin orang itu Gina?.


"Bacot lo. Gue mau tanya, tadi malam lo ada keluar enggak?", Reagan berharap jika jawabannya adalah...


"Enggak. Kenapa lo?, digrebek polisi?."


"Sembarangan. Lo kira gue cowok apaan", Reagan menghela nafas lega ketika mendengar jawabannya adalah sesuai keinginannya.


"Lo itu bapak dari bajing*n, diatas bajing*n."


Reagan memutar bola matanya jengah, "Males gue denger bacotan lo pagi-pagi. Enggak ada gunanya", Reagan memutuskan sambungan sepihak. Ia yakin jika diseberang sana anak perempuan dari kembaran bundanya itu sedang mengabsen nama hewan dikebun binatang satu-persatu.


Jika bukan Laily dan Gina orangnya. Tinggal satu orang lagi, yaitu gadis cupu yang semalam menabrak dirinya dikoridor sekolah. tapi tidak mungkin dia orangnya. Karena yang Reagan tahu, cewek itu sangat anti dengan dunia luar. Bahkan ia melihat dengan mata kepalanya sendiri kemarin dikantin, dan itu dibenarkan oleh Laily dan Gina.


"Enggak mungkin dia", gumam Reagan. Tapi Reagan tahu jika gelang itu hanya dimiliki oleh Gina dan sahabat-sahabatnya. Sebab gelang itu dibeli Gina saat mereka sedang pergi liburan keluarga ke kampung halaman ayahnya Reagan, di Australia.


Reagan memasukkan gelang itu kedalam sakunya lalu ia kembali mengendarai mobilnya. Ia ingin cepat pulang, dan tidur dipangkuan Bundanya. Mumpung sang Ayah sedang tidak ada dirumah. Karena jika ada, mustahil untuk Reagan bermanja-manja dengan sang Bunda. Reagan ingin merasakan elusan sayang Ibundanya, berharap itu bisa mengurangi kegundahan hati yang sedang ia alami.


Arinta tersentak ketika mendapati dirinya terbangun dalam dekapan hangat sang Ayah. Sebab yang Arinta tahu, ia tadi tertidur didalam gendongan Saka.


Arinta mendongakkan kepalanya memandang mata Ayahnya yang terpejam. Melihat wajah damai pria yang menjadi cinta pertamanya itu, lantas membuat Arinta kembali mengeluarkan air mata. Ia menangis mengingat apa yang telah menimpa dirinya.


"Ssst, udah diam, jangan nangis lagi. Nanti rumah kita banjir kamu buat", Deri mengeratkan pelukannya pada tubuh sang putri. Ia tahu jika sekarang putri satu-satunya itu sangat membutuhkan sebuah pelukan.


Deri sebenarnya terkejut ketika melihat Arinta tertidur didalam gendongan Saka tadi. Deri sempat mengira jika putrinya itu pingsan, dan telah terjadi sesuatu padanya. Tetapi, saat Saka menjelaskan apa yang telah terjadi pada Arinta, membuat amarah Deri naik seketika.


Ternyata itulah alasan mengapa putrinya itu tidak pulang semalaman. Deri sudah mencarinya keseluruh tempat yang mungkin dikunjungi Arinta. Namun nihil, putri kecilnya itu tidak ada.


Dan sekarang rasanya Deri ingin sekali menghancurkan dengan tangannya sendiri pria yang telah berani menodai gadis kecilnya. Dan membuat Arintanya menangis hingga nekat bunuh diri.


Namun, bukan saatnya. Sebab hal yang terpenting sekarang adalah putrinya. Deri ingin menunjukkan jika Arinta tidak sendiri didunia ini, masih ada keluarga yang siap membuka tangan lebar-lebar untuk memeluknya.


"Hiks, Ayah jangan sentuh. Rinta kotor ayah, kotor", Arinta menangis tersedu-sedu sambil memberontak didalam dekapan sang Ayah.


Deri mengelus kepala Arinta mencoba menenangkannya, "Iya. Kamu kotor, belum mandi sih, bau", kelakar Deri mencoba mencairkan suasana.


Arinta terkesiap lalu mendongak melihat Ayahnya. Apa Ayahnya belum tahu. Tapi mustahil, adiknya saja dengan sekali lihat langsung tahu. Apalagi ayahnya yang sangat mengenal dirinya luar dalam, "Bukan itu maksud Rinta", Arinta menggelengkan kepalanya.


Deri merasa dadanya dihantam dengan palu godam, melihat wajah putrinya yang bersimbah air mata. Arinta tidak pernah semenyedihkan ini, kecuali ketika putrinya itu sedang sakit.


Deri tersenyum dengan lembut, "Ayah tahu", ia kembali memasukkan kepala Arinta kedalam dekapannya. Deri tidak ingin putrinya itu melihat air matanya yang telah siap meluncur.


"Maafkan Rinta Ayah. Rinta enggak bisa jaga diri dengan baik. Maafin Rinta", gumam Arinta membuat hati Deri terasa diremas dengan sesuatu yang tak kasat mata.


"Siapa bilang Arin nya Ayah kotor?. Arin nya Ayah itu yang paling tercantik dan terbaik sedunia. Ayah bangga punya putri kayak Arin", ujar Deri dengan air mata yang kembali menetes perlahan. Ia merasa gagal menjadi seorang ayah. Ia tak mampu menjaga putrinya. Arinta adalah kehormatannya, dan ia tak mampu menjaganya. Ia telah gagal.


"Yang seharusnya minta maaf itu Ayah. Karena Ayah enggak mampu menjaga Arin. Ayah enggak mampu melindungi Arin. Ayah ini adalah Ayah yang terburuk. Arin jangan benci Ayah ya", ujar Deri sambil menahan isakan yang ingin lolos dari tenggorokan.


Arinta menggeleng, "Ayah enggak salah. Yang salah Rinta dan yang seharusnya benci itu Ayah", Arinta menangis sekuat-kuatnya didepan dada sang ayah, "Tapi Ayah jangan benci dengan Rinta. Nanti siapa yang peluk Rinta, kalau Ayah benci sama Rinta", lanjutnya membuat Deri lagi-lagi tak bisa menahan air matanya. Anggaplah ia lemah. Tapi jujur, Deri memang lemah jika itu sudah menyangkut putrinya. Putrinya adalah hidupnya, dan ia rela jika harus menukarkan nyawanya untuk kebahagiaan sang putri.


Sinta yang berdiri diambang pintu kamar Arinta pun ikut turut menangis melihat hubungan Ayah dan putrinya itu. Sebab jarang sekali ia bisa melihat Deri menangis seperti itu. Suaminya itu dingin dan sedikit tegas kepada kedua anak laki-lakinya. Namun ia akan sangat lembut jika berhadapan dengan putrinya.


"Arin jangan nangis lagi. Ayah janji, Ayah enggak akan biarin orang lain lagi buat mata tuan putri Ayah ini menangis. Ayah juga enggak akan kemana-mana, Ayah akan peluk Arin terus disini sampai Ayah tua", Deri mencium lembut puncak kepala anaknya, "Tapi Arin juga jangan tinggalin Ayah ya. Ayah enggak sanggup hidup tanpa Arin. Arin itu jiwa raga Ayah. Kalau Arin mau pergi bawa Ayah juga ya", lanjutnya membuat Arinta menggelengkan kepala.


"Rinta udah buat Ayah malu. Jangan benci Rinta, jangan tinggalkan Rinta. Rinta takut Ayah", Arinta sudah mulai meracaukan hal yang tidak-tidak.


Sinta menghampiri mereka lalu ikut berbaring disamping kiri Arinta yang kosong. Ia mengelus kepala sang putri selembut bulu, "Enggak ada yang akan ninggalin Rinta. Kami semuanya sayang sama Rinta", ujarnya membuat Arinta berbalik menatapnya.


"Ibu?. Hiks, Ibu. maafin Rinta Bu", Arinta memeluk ibunya dengan erat.


"Semuanya yang sudah terjadi biarkan terjadi. Tidak ada yang perlu disesali. Allah itu enggak tidur nak. Dia melihat semuanya dan Dia nggak akan pernah tinggalin hamba-Nya. Mungkin ini sudah kehendak Allah. jadi Arinta harus menerima takdir-Nya ya", nasehat Sinta membuat kegundahan dihati Arinta perlahan menghilang.


Deri menghapus air matanya ketika melihat Istrinya itu mengejek dirinya. Ia melototkan matanya kepada Sinta. Merasa malu, sudah terciduk menangis.


"Iya Bu. Rinta akan berusaha berdamai dengan takdir. Tapi jangan tinggalin Rinta ya", ujar Arinta mulai tenang.


Deri tersenyum lalu memeluk kedua wanita yang sangat berharga dalam hidupnya itu, "Enggak akan ada yang ninggalin Arin. Ayah akan selalu berada digarda terdepan jika Arin butuh Ayah. Karena Ayah sangat-sangat sayang dengan Arin."


"Oh iya. Semalam Raka bawa asam jawa banyak banget. Katanya untuk Kakak tercantiknya", goda Sinta yang berhasil membuat tangisan menghilang dan diganti dengan sebuah lengkungan sabit.


"Tapi udah dihabisin Saka tadi", lanjut Sinta membuat Arinta membrengut sebal.


"Katanya kamu udah enggak suka lagi asam jawa. Kamu lebih suka dengan air sungai" , tambah Deri memprovokasi.


Seakan lupa dengan dirinya yang menangis meraung-raung tadi. Arinta berteriak memanggil nama adiknya yang sangat menyebalkan itu, "Saka......!"


Saka yang sedang mengemut asam Jawa diteras depan rumah langsung tersedak ketika mendengar teriakan maut sang kakak.


Saka melihat asam jawa yang ada diatas meja, "Mamp*s." gumamnya pelan. Lalu ia mendengar suara tertawa terbahak-bahak kembaran jahannam nya itu dari dalam rumah.


...~Rilansun🖤....