
...•••••••••••••••...
...Kamu cuma satu, tapi bisa memberikan beribu warna dalam hidup ku.......
...•••••••••••••••...
...***...
Reagan tersenyum menatap Arinta yang tengah sibuk mematut dirinya di depan sebuah cermin besar. Wanita nya itu sangat cantik dalam balutan kebaya modern berwarna navy.
Lalu cowok itu berjalan menghampiri Arinta yang kelihatannya tidak sadar akan kehadirannya. Tanpa aba-aba Reagan memeluk Arinta dari belakang. Dan langsung menyusupkan wajahnya ke ceruk leher istrinya yang terpampang jelas. Karena Arinta yang menyanggul cantik rambutnya ke atas.
"Reagan!", pekik Arinta kaget.
"Kamu cantik banget hari ini", ujar Reagan tak menghiraukan pekikan Arinta. Cowok itu asik menghirup aroma khas dari istrinya itu.
"Cuma hari ini doang?", balas Arinta sambil mengenakan jam tangan.
"No, my angel always looks beautiful every day and every time", sahut Reagan sambil mengecup pelan kulit leher Arinta.
"Tapi hari ini lebih cantik berkali-kali lipat", tambahnya yang sukses membuat telinga Arinta terasa memanas seketika.
Reagan yang melihat telinga Arinta memerah lantas tersenyum tipis, "Udah punya dua anak juga, masih malu-malu", ejeknya.
"Si-siapa yang malu", protes Arinta dengan gagap. Sudah lima tahun lebih bersama, Arinta masih belum bisa mengatasi kata-kata Reagan yang berpotensi membuatnya serangan jantung.
"Yakin?", Reagan gencar menggoda Arinta dengan tangan yang aktif bergerilya kesana-kemari.
"Reagan awas!, aku udah rapi loh ini", tukas Arinta seraya menghentikan tangan Reagan yang terlalu aktif.
Ayah dua anak itu lantas tersenyum dan meletakkan dagunya diatas pundak Arinta yang terbuka sebab baju yang dikenakan cewek itu memiliki konsep off shoulder. Sebenarnya Reagan tak suka saat saat melihat Arinta memamerkan tubuhnya seperti itu. Kalau bisa ia ingin Arinta memakai jubah panjang, agar tidak ada yang bisa melihat tubuh indah istrinya, se-inchi pun. Namun Reagan bukan suami yang berpikiran kolot, ia tidak ingin mengekang istrinya. Tapi bukan berarti Reagan terlalu melepaskan Arinta. Sebab jika sudah longgar dalam genggaman, bakal mudah buat direbut dengan orang lain.
Arinta menatap Reagan dalam pantulan cermin, "Kenapa?, mau punya baby lagi?", tanyanya dengan asal saat tangan Reagan mengelus lembut perut rampingnya.
"Enggak", jawab Reagan tegas. Ya, setahun setelah twins lahir, Reagan langsung melakukan vasektomi. Guna mensterilkan dirinya. Bukannya menolak rezeki yang diberikan Tuhan, namun Reagan tak mau melihat Arinta yang tak sadarkan diri seperti dulu. Walau Reagan tau kalau itu sudah kodrat Arinta sebagai wanita. Tapi Reagan tetap tak tega melihat air mata dan darah yang dikeluarkan oleh istrinya itu. Sudah cukup ia memiliki Argan dan Rea dalam hidupnya. Lagipula Tuhan sudah berbaik hati dengan mengirimkannya sepasang anak sekaligus.
Dan jika saja Tuhan tidak memberikan mereka keturunan satu orang pun, maka Reagan akan rela menghabiskan hidupnya berdua dengan Arinta.
"Tapi kalau proses buatnya aku mau", lanjut Reagan yang membuat Arinta mendengus.
"Dasar. Tapi kalau Argan minta adek suatu saat nanti, gimana?", tanya Arinta lagi. Sebenarnya Arinta sudah menjelaskan kepada Reagan sampai mulutnya berbusa, kalau ia sudah tidak apa-apa. Mungkin saja pada masanya twins itu dikarenakan faktor umurnya yang masih begitu muda. Ditambah kecelakaan yang didapat Arinta sebelumnya.
Namun emang pada dasarnya kepala batu, Reagan jadi tidak mau mendengarkannya sama sekali. Tapi bagi Arinta twins sudah cukup untuk menghiasi hidup mereka. Walau tak bisa dipungkiri jika Arinta masih ingin merasakan nikmatnya melahirkan. Sebab itulah kebahagiaan wanita sesungguhnya. Hamil, melahirkan, menyusui, dan merawat hingga besar.
"Aku jamin gak bakal mau dia, itu aja kalau harus dibagi dengan Rea dia selalu nangis. Padahal dia abangnya, tapi Rea yang selalu ngalah", sahut Reagan.
Arinta menyetujui itu, Argan memang sedikit egois, "Mirip siapa sih anak kamu itu?."
Reagan mendengus mendengar ucapan Arinta. Kalau anaknya buruk, maka itu anak Ayah. Kalau aja anaknya pintar dan membanggakan pasti dibilang itu hasil didikan Ibu nya. Dasar cewek.
"Mirip kita lah, orang anak kita kok", cetus Reagan dan mengecup pelan pundak Arinta.
"Reagan!", bentak Arinta ketika Reagan menghisap kulitnya. Jika meninggalkan bekas bagaimana. Sepertinya Reagan ingin membalas dendam karena Arinta tetap nekat memakai kebaya tersebut.
Reagan mendongak menatap Arinta dalam pantulan cermin. Lalu cowok itu tersenyum miring.
"Kalau kita gak pergi gimana?", tanyanya dan langsung menggendong Arinta ala bridal style. Menghempas pelan tubuh Arinta keatas ranjang.
"Reagan, awas!", Arinta mendorong badan besar Reagan yang mengukungnya di bawah. Namun cowok itu malah meletakkan tangannya di kedua sisi tubuh Arinta. Mengunci istrinya agar tidak bisa pergi kemana-mana.
"Kamu cantik banget hari ini, sampai mau aku kurung di dalam kamar buat aku sendiri", bisik Reagan tepat di samping telinga Arinta yang kontan membuat wajah cewek itu kembali memerah. Untung saja pipinya sudah tertutupi oleh blush on.
"Reagan, ih. Sanggul aku rusak kamu buat!", gerutu Arinta sambil menyentuh sanggulnya, "Sampai rusak, enggak ada jatah buat tiga bulan ke depan!", tambahnya dengan ancaman penuh. Membuat Reagan berhenti menjelajahi kesukaannya.
"Kalau gitu jatahnya sekarang aja", ujar Reagan yang tak pernah di duga Arinta. Sebab jika ia sudah mengancam seperti itu, maka Reagan akan dengan cepat melepaskannya. Tapi kali ini, sepertinya cowok itu tidak berniat untuk melepaskannya.
Sekarang, Arinta hanya berharap agar ada suatu keajaiban yang datang menolongnya.
"Reagan", cicit Arinta saat Reagan meraba dua asetnya.
"Jangan ditahan, Bunda", Reagan mencium bibir Arinta. Menyesapnya pelan dan mengacak-acak isi dalamnya. Membuat lipstik yang dipakai Arinta menjadi sedikit berantakan.
"Ah, Reagan jang-"
Ucapan Reagan terpotong oleh teriakan cadel yang menginterupsi. Membuat dua sejoli tersebut refleks memandang ke arah pintu kamar yang terbuka lebar. Terdapat kedua anaknya yang berdiri dengan tangan yang bersidekap di dada.
"Kalau mau belkembang biak, tutup pintunya", celetuk Rea dengan cadel. Jika Argan belum terlalu fasih dalam pengucapannya. Beda halnya dengan Rea yang hanya tidak bisa mengatakan huruf r.
"Bunda, Papi jahat ngan Bunda?. Iya?, kita cali Papi balu aja gimana?", cerocos Argan sambil mendekat kearah orang tuanya yang masih mematung. Lalu kaki pendeknya memanjat tempat tidur dengan susah payah. Setelah berhasil naik, Argan langsung mendorong pelan dada Reagan yang masih mengurung Arinta.
"Oom Liko lebih baik dari Papi. Cemalam, Algan di kasih pecawat balu. Kalau Bunda minta tas pasti dibeliin om Liko. Nikah cama Om Liko aja Bunda."
Reagan membelalakkan matanya tak percaya saat mendengar ucapan Argan. Sepertinya mulai sekarang Reagan harus membatasi anaknya untuk bermain dengan Riko. Cowok itu terlalu toxic untuk Argan yang masih unyu.
Arinta mengerjapkan matanya pelan lalu mendorong Reagan untuk lebih menjauh. Kemudian ia segera meraih Argan dan di dudukkan di atas pangkuannya.
"Enggak boleh ngomong gitu. Nanti Tante Viona nya nangis karena Argan ambil Om Riko nya gimana?", Arinta sedikit merapikan rambut putranya yang agak berantakan.
"Kan cowok boleh punya anyak istli", sahut Argan dengan menunjukkan sepuluh jarinya.
"Bibit unggul Revo ini", celetuk Reagan yang mendapatkan pelototan tajam dari Arinta.
"Udah kita gak usah bahas itu. Sekarang kita pergi ya, kasihan Tante Gina nungguin", ujar Arinta mencoba menyudahi itu semua. Jika dilanjutkan, maka si beo kecil itu akan bertanya yang tidak-tidak kepadanya.
Lalu Argan mengangguk dan tersenyum sumringah dalam gendongan Bunda nya. Saat ia menatap kembarannya yang berdiri di depan pintu, Argan lantas menoleh kearah Arinta, "Bunda, kata Lea Bunda cama Papi mau belkembang biak. Belkembang biak itu apa Bunda?", pertanyaan si kecil yang membuat langkah Arinta terhenti.
"Itu...", Arinta memandang Reagan yang tampak menggaruk pelipisnya. Sepertinya cowok itu pun enggan untuk menjawab pertanyaan Argan.
"Ayo, Princess Papi, kita pergi ke pernikahan Aunty", Reagan kabur dengan membawa Rea bersamanya. Meninggalkan Arinta dengan Argan yang masih menatapnya penuh harap. Menunggu Bunda nya itu untuk menjawab pertanyaannya.
"Nanti kita beli pesawat yang besar ya sayang", Arinta mencoba mengalihkan perhatian Argan. Dan ternyata sukses membuat si kecil melupakan pertanyaannya.
"Plomise, Bunda?", Argan menunjukkan jari kelingkingnya yang mungil ke arah Arinta.
Arinta mengangguk dan menerima janji jari kelingking Argan, "Promise."
...***...
Arinta tersenyum menatap kedua pengantin yang berdiri di atas sana. Menyalami para tamu yang hadir. Tampak dengan jelas rona kebahagiaan yang terpancar dari keduanya. Membuat siapapun yang melihatnya ikut tersenyum bahagia.
Sudah empat tahun berlalu dan banyak hal yang telah terjadi.
Dari hubungan Zidan dan Gina yang berlanjut ke pelaminan karena ngidam nyeleneh nya Arinta. Ardean yang sudah menjalin kasih dengan pacar bulenya, tapi sayang hubungan mereka berdua belum mendapatkan restu dari orang tua Alexa, pacarnya.
Laily yang sudah kembali berpacaran dengan teman kuliahnya. Revo yang sebentar lagi bakal meneruskan bisnis orang tuanya. Dan cowok itu pun juga akan menyusul Zidan menuju pelaminan sebentar lagi. Serta Riko yang sudah berpacaran dengan Viona, adik kelas yang pernah dipermalukannya di koridor sekolah waktu itu. Ternyata jika jodoh memang tidak kemana.
Dan untuk kedua adik kembarnya itu kini tengah menjalankan beasiswanya berkuliah di Ankara, Turki. Arinta merasa benar-benar bangga terhadap Saka dan Raka.
Dan ia turut bahagia akan kesuksesan yang telah dicapai semua sahabatnya. Arinta selalu berharap jika mereka dapat hidup dengan lebih baik.
"Bunda", Argan memanggil Arinta dengan mulutnya yang belepotan es krim, "Papi genit", ujarnya sambil menunjuk Reagan yang tampak sedang berbicara dengan seorang wanita yang Arinta yakini jika itu adalah salah satu relasi bisnisnya.
"Itu cuma teman Pap-"
"Papi dipeluk", sela Rea datar yang membuat mata Arinta membelalak.
Di depan sana, seorang cewek tengah bergelayut manja di lengan suaminya. Terlihat Reagan yang berusaha melepaskan, tapi cabe busuk itu tetap menggenggam mesra tangan Reagan.
Arinta sontak berdiri dan berjalan menghampiri Reagan dengan amarah yang berapi-api. Suaminya itu memang semakin tampan saja selama empat tahun ini. Dari tubuhnya yang bertambah kekar, dengan otot-otot yang terlihat sana sini. Serta perawakannya yang daddyable banget. Membuat Arinta harus ekstra hati-hati dengan para perempuan jahannam yang ada diluar sana.
Pernah suatu saat Argan yang tengah lari pagi dengan Reagan. Pulang-pulang langsung melapor kepadanya kalau ada Tante-tante yang mencoba untuk mencium Papi nya. Bahkan menawarkan diri untuk menjadi ibu tiri anak-anaknya. Hell, apakah perempuan gila itu menganggap Arinta sudah meninggal.
"Permisi, sorry ya mbak, suami saya dia alergi dengan susu palsu", sarkas Arinta lalu menarik tangan Reagan untuk segera menjauh.
Melihat itu, Reagan lantas tersenyum menyeringai, "Yang asli kayak mana Bunda?", bisiknya lirih.
Arinta menoleh dan menatap tajam suaminya itu, "Kayak gini", balasnya sambil mencubit pedas perut Reagan yang terbalut kemeja putih dan jas berwarna navy. Serasi dengan miliknya dan anak-anak.
"Galak", gumam Reagan seraya mengelus perutnya yang terasa perih.
"Biarin!", ketus Arinta dan kembali menarik tangan Reagan menghampiri twins yang tengah sibuk menyantap es krim.
...~Rilansun🖤....
Semoga suka🤗💞