Brittle

Brittle
Suka duka wanita



...•••••••••••••••...


...Sampai detik dimana nafas terakhir kita berhembus di udara lepas......


...•••••••••••••••...


...***...


Arinta beringsut duduk dan menyenderkan tubuhnya pada kepala ranjang. Matanya menoleh kearah jam digital yang ada diatas nakas. Waktu sudah menunjukkan pukul 3:30 dini hari. Tiga puluh menit berlalu setelah mereka melaksanakan Tahajjud, tapi mata Arinta tidak ingin lagi terpejam.


Sementara Reagan yang ada disampingnya tengah tertidur dengan sangat pulas. Siap melaksanakan kegiatan malam itu, Reagan langsung kembali melanjutkan mimpinya. Arinta bisa maklum, sebab cowok itu yang baru pulang kerja pada pukul 23:00. Dan harus bangun untuk mengimami Arinta pada pukul 03:00 dini hari. Ditambah dengan Reagan yang sudah mulai masuk dunia perkuliahan. Jadwalnya memang sangat-sangat padat. Terkadang Arinta merasa kasihan, ia takut Reagan tak sanggup dan mulai jenuh dengan semuanya.


"Tidur yang nyenyak, Papi", gumam Arinta sambil mengelus sayang rambut coklat gelap milik Reagan. Suaminya itu berusaha untuk menyelesaikan semua tugasnya, baik pekerjaan dan kuliahan nya. Sebelum menemani Arinta untuk menjalani proses melahirkan dalam waktu dekat ini.


Reagan terlalu memforsir dirinya sendiri. Jadi untuk saat ini yang bisa Arinta lakukan adalah menjadi seorang istri yang pengertian dan mendukung apapun yang dilakukan oleh suaminya. Selagi itu hal positif tentunya.


Lalu Arinta memejamkan matanya saat merasakan nyeri di punggungnya. Ini sudah sering terjadi semenjak Arinta memasuki sembilan bulan usia kandungannya. Waktu berjalan dengan sangat cepat. Tanpa sadar sebentar lagi mereka akan segera bertemu dengan dua bayi mungil tersebut. Arinta dan Reagan memang sengaja tidak ingin mengetahui jenis kelamin anaknya. Karena bagi mereka selama kedua anaknya itu sehat-sehat saja sudah sangat Alhamdulillah. Biarlah jenis kelamin menjadi bonus dari Tuhan.


"Sehat-sehat ya sayang", Arinta mengusap perutnya seraya beranjak dari ranjang. Mendudukkan tubuhnya diatas kursi yang langsung menghadap kearah halaman belakang rumahnya. Rumah kaca yang dihiasi dengan lampu-lampu yang berkelap-kelip itu mampu membuat mata Arinta merasa takjub. Dikelilingi dengan taman bunga mawar disekitarnya. Dan beberapa meter dari situ juga terdapat sebuah danau buatan yang berukuran sedang. Arinta merasa benar-benar tengah hidup di dalam sebuah istana yang dibangun oleh Reagan.


Kemudian Arinta menundukkan kepalanya. Menjatuhkan pandangannya pada kakinya yang sedikit membengkak. Arinta pernah tertawa saat melihat kakinya itu. Ia mengatakan pada Reagan kalau tubuhnya sudah seperti raksasa. Dari atas sampai bawah semuanya serba membesar. Dari pipi yang chubby, perut yang buncit dan kakinya yang bengkak.


"Squishy", ujar Arinta seraya terkekeh kecil dengan menekan punggung kakinya menggunakan jempol kaki kirinya.


Lalu tanpa aba-aba air mata Arinta jatuh secara perlahan. Bukan tanpa sebab, Arinta merasa sensitif setelah melihat kondisinya kini. Berarti inilah yang dirasakan oleh Mommy nya saat mengandung dirinya dulu. Begitu banyak suka dan duka yang hanya bisa dialami oleh ibu hamil itu sendiri.


Arinta akui jika tidak mudah menjadi seorang ibu, terlebih diusianya yang masih begitu muda.


"Maafin Rinta Mom", lirihnya dengan mata yang terpejam. Membayangkan betapa sulitnya Vina mengandungnya, sakitnya dari setiap proses yang dijalankan. Ditambah Mommy nya itu dihantui dengan teror-teror yang merusak mentalnya. Serta wanita itu yang tidak bisa hidup lebih lama dengan putrinya. Jika Arinta yang diposisi Vina, mungkin ia memilih untuk mengakhiri hidupnya.


Anak yang telah kita jaga dengan susah payah, harus diberikan begitu saja untuk dirawat oleh orang lain. Untung saja Arinta cepat sadar, dan tidak jadi memberikan anaknya kepada orang lain.


Jika tidak entah penyesalan seperti apa yang akan dialaminya kelak.


"Maafin Rinta belum bisa membalas semua yang udah Mommy lakuin untuk Rinta. Maafin Rinta juga Bu, belum bisa membalas budi Ibu selama ini. Kalian berdua benar-benar wanita terhebat yang ada dalam hidup Rinta. Nanti doakan Rinta juga, semoga bisa menjadi seperti kalian berdua", ujarnya lagi dengan lirih. Benar-benar berterima kasih kepada Mommy dan Ibu nya itu. Dua malaikat yang sangat berharga dalam hidupnya. Berilah surga untuk mereka Tuhan.


Cup


"Kenapa nangis?."


Arinta sontak membuka matanya saat merasakan sebuah kecupan singkat di pipi sebelah kanan.


"Kok bangun?", Arinta malah bertanya balik.


Reagan memutari tubuh Arinta dan mendudukkan tubuhnya dilantai. Menjatuhkan kepalanya diatas pangkuan istrinya itu.


"Gak ada kamu yang mau dipeluk", jawab Reagan dengan memejamkan matanya.


Arinta mendengus dan menghapus air matanya.


"Kamu kenapa bangun?, twins berulah lagi, iya?", Reagan mendongak seraya mengelus perut buncit Arinta.


"Enggak, punggung aku sakit", sahut Arinta.


Mendengar itu Reagan sontak berdiri dan menatap khawatir istrinya itu.


"Kamu mau lahiran?", pertanyaan yang membuat Arinta meninju pelan perut Reagan.


"Ngaco, masih dua minggu lagi", cetus Arinta.


Reagan menghela nafas lega. Lalu menggendong Arinta ala bridal style. Membuat istrinya itu menjerit tertahan seraya memukul pelan dada Reagan. Yang dibalas dengan kekehan dan sebuah kecupan di kening Arinta.


"Lebih berat rindu aku ke kamu", timpal Reagan dengan senyuman om-om pedofil andalannya.


"Gembel", Arinta memutarkan bola matanya jengah.


"Gemes", sahut Reagan dengan mengusak puncak kepala istrinya.


"Kamu kenapa bangun?, besok ada meeting kan?", tanya Arinta kemudian.


"Enggak apa-apa. Kaki kamu sakit ya?", Reagan memijat pelan kaki Arinta yang membengkak. Sebenarnya Reagan sangat kasihan melihatnya. Arinta itu sering terbangun di tengah malam seperti ini hanya karena kakinya sakit atau tidak punggungnya yang sakit. Melihat guratan kesakitan yang terpeta di wajah istrinya itu membuat hati Reagan merasa nyeri. Tapi bumil satu itu tidak pernah membangunkan nya sama sekali. Selalu tidak tega yang menjadi alasannya.


"Enggak sakit banget", sahut Arinta seraya tersenyum menatap Reagan yang fokus memijat kakinya. Jika saja Arinta benar-benar melepaskan Reagan seperti dengan rencananya, mungkin saja Arinta tidak akan pernah lagi menemukan pria sebaik dan setulus Reagan dimuka bumi ini.


Syukurlah Tuhan menyadarkan nya pada waktu yang tepat.


"Kalau sakit itu bilang ke aku Rin, jangan dipendam. Karena yang ngerasain itu semua cuma kamu. Aku gak akan tau, kalau kamu sembunyikan", ujar Reagan yang dibalas anggukan kecil oleh Arinta.


Lalu mereka terdiam beberapa saat. Larut dalam hening nya malam. Menyatu dalam pikiran yang ada di dalam kepala mereka masing-masing. Sebelum Arinta berujar, merobek keheningan yang ada.


"Tambien te amo, anaknya Bunda Renata", gumam Arinta pelan namun masih bisa didengar. Ya, kini giliran Arinta untuk mengungkapkan perasaan nya. Walau sebenarnya itu tidaklah perlu, sebab mereka sendiri pun tau bagaimana perasaan masing-masing. Tapi setidaknya dengan ucapan itulah Reagan tau jika Arinta serius ingin menua bersamanya. Dan Arinta juga serius dalam mencintai suaminya itu.


Pergerakan tangan Reagan memijat kaki Arinta terhenti seketika. Cowok itu refleks mendongak setelah mendengar kalimat yang tidak pernah terduga itu. Sudah berulang kali Reagan mengucap kata-kata seperti itu. Namun Arinta sama sekali enggan membalasnya. Membuat Reagan pernah berspekulasi kalau Arinta tidak benar-benar mencintainya.


"Kamu bilang apa tadi?", tanya Reagan untuk memastikan kalau telinganya tidak salah mendengar.


Arinta memalingkan wajahnya merasa malu, "Enggak ada pengulangan. Salah sendiri, siapa suruh budeg."


Reagan tak menggubris, cowok itu duduk lebih dekat kearah Arinta, "Ulang sekali lagi!", pintanya.


Arinta menoleh, "Eng-"


"Ulang atau aku cium", ancam Reagan membuat Arinta mendengus.


"Cium aja."


Reagan menampilkan smirk di wajahnya, "Yakin?", bisiknya sensual.


"Ya-ya udah, iya-iya", Arinta mengalah. Reagan itu gila, akan bertambah gila kalau Arinta melanjutkannya.


"Cepat ulang!", ujar Reagan yang terdengar tak sabaran.


Arinta melirik sekilas Reagan sebelum menunduk, "Ta-tambien te amo, Reagan", ujarnya gugup. Sial, waktunya untuk mengumpulkan keberanian rasanya menjadi sia-sia. Mengapa Reagan harus menyuruhnya ulang. Untuk menyebutkan sekali saja, Arinta membutuhkan waktu hampir satu bulan.


"Lihat mata aku, dan bilang sekali lagi!", Reagan mengangkat dagu Arinta dengan jari telunjuknya.


"Malas", sahut Arinta jengah. Merasa suasana sudah tidak menjadi romantis lagi.


"Bilang atau aku-"


"TAMBIEN TE AMO, PAPI!", teriak Arinta merasa kesal dengan permintaan Reagan yang terus menyuruhnya ulang.


Merasa puas, Reagan lantas tersenyum lebar. Menarik Arinta ke dalam pelukannya. Merengkuh tubuh mungil itu ke dalam dekapan hangatnya, "Te amo mucho, Arinta Zarvisya Deltava. Aku berharap semoga aku selalu bisa mengucapkan kalimat itu kepada kamu setiap harinya, sampai tubuh kita sama-sama membungkuk nantinya. Menggenggam satu sama lain, walau tangan tidak lagi kuat untuk memegang", tulus Reagan yang membuat Arinta tersentuh.


"Sampai detik dimana nafas terakhir kita berhembus di udara lepas", tambah Arinta dan mengeratkan pelukannya pada tubuh besar Reagan.


...~Rilansun🖤....


...Happy Kartini Day🙆...