Brittle

Brittle
Pregnant?



...•••••••••••••••••...


...Jika kamu ingin pergi, maka pergilah tanpa meninggalkan jejak, sebab aku tak yakin jika aku tak akan mencari mu suatu hari nanti.....


...•••••••••••••••••...


...***...


Gina menoleh kearah Arinta yang sedang menatap keluar jendela. Ia merasa jika sahabatnya itu perlahan-lahan berubah dari biasanya. Gina tau jika Arinta tersiksa dan menderita dengan apa yang dialaminya. Tapi Arinta tetaplah Arinta, gadis keras kepala yang tak ingin memberitahu Gina siapa laki-laki bejat yang telah merusaknya.


Penyelidikannya pun harus tertunda dalam seminggu kemarin, sebab mama nya yang demam dan tak ingin Gina jauh-jauh dari sisinya.


Sebenarnya Gina bisa saja meminta bantuan koneksi Ayah nya, tapi rasanya kurang seru jika bukan dirinya yang menangkap bajing*n tersebut. Gina ingin, ia yang pertama menangkap dan memberi pelajaran kepada laki-laki itu. Jika bisa ia akan membunuh sumber dari segala penderitaan Arinta tersebut.


"Oke. Sampai disini dulu perjumpaan kita hari ini. see you next time."


"See you to mam", seru seluruh penghuni kelas.


Arinta mengamati kegiatan Mam Yose yang merapikan alat-alat tulisnya sampai guru bahasa Inggris itu keluar dari kelasnya.


"Woi Dugong, bangun. Molor terus", sentak Gina membangunkan Laily yang tidur. Tempat duduk Laily yang berada dipojok kelas memang sangat bermanfaat untuk dirinya tidur atau bermain ponsel. Ditambah teman sebangkunya itu sejenis Alya yang tidak banyak bicara, damai lah sudah kegiatannya tak kan terganggu.


Laily bangun dan memandang sinis kearah Gina, "Makanya pacaran, biar tau rasanya begadang karena telponan sama pacar", ujarnya dan memoles sedikit wajahnya dengan bedak, lalu merapikan rambutnya dengan sisir. Sudah Arinta bilangkan jika tas Laily itu sangatlah ringan, dan isinya hanya kotak pensil, buku tulis, dan satu dompet untuk meletakkan alat-alat rias nya.


Gina mencibir, "Alay lo. Pacaran ya pacaran, tapi sekolah tetap prioritas. Jangan karena pacaran sekolah putus dijalan, kasihan uang bokap lo terbuang gitu aja."


"Iya-iya, bawel lo ah."


Arinta hanya tersenyum miris mendengar celotehan mereka berdua. Pertama kali Arinta tidak paham mengapa Reagan menembak Laily untuk menjadi pacarnya, padahal cewek itu sudah menjadi calon tunangannya. Tapi setelah Arinta memikirkan itu lagi, baru ia paham. Reagan melakukan itu semata ingin menunjukkan pada semua orang jika ia sudah mempunyai pacar, dan cowok itu seolah menegaskan kepada Arinta jika gadis yang dicintainya adalah Laily, hanya Lailydynia Saira Kundari.


Kini hubungan mereka sudah terpublish, seluruh Allandra sudah mengetahuinya. Bahkan hari dimana Reagan menembak Laily, digadang-gadang menjadi hari patah hati nasional.


Arinta memejamkan matanya dan menghela nafas. Sudah cukup ia memikirkan itu selama seminggu. Jika dipikirkan lagi, maka ia akan menangis dan itu akan melanggar janjinya. kalau bisa tangisan nya kemarin adalah air mata terakhir yang ia buang sia-sia untuk cowok tersebut. Reagan adalah satu hal yang tak patut untuk Arinta tangisi apalagi disyukuri.


"Yok kekantin", ajak Laily yang sudah berdiri dan tentunya sudah rapi dan cantik.


"Lo aja, gue mager", Gina langsung meletakkan kepalanya diatas meja, dan memejamkan matanya bersiap untuk tidur.


Laily mendengus lalu beralih menatap Arinta dengan penuh harap. Ia tau jika sahabatnya itu tidak akan mau diajak kekantin, tapi siapa tau jika Arinta akan luluh dengan wajah memelasnya.


"Maaf ya Lai, aku bawa bekal", ujar Arinta sambil menunjuk kotak bekal yang ada diatas mejanya.


"Yah", seru Laily kecewa. Lantas cewek itu cemberut sambil menghentak- hentakan kakinya sebelum keluar dari dalam kelas.


Arinta tersenyum tipis, padahal gadis tersebut sudah memiliki pacar. Mengapa tidak mengajak pacar nya saja, Arinta yakin seratus persen jika Reagan tak akan menolaknya. Melihat betapa sayang dan cintanya cowok itu kepada Laily. Arinta menggelengkan kepalanya, mengapa juga ia harus memikirkan mereka. Buang-buang waktunya dan tidak berguna.


"Kenapa lo?."


Arinta berhenti mengunyah makanan nya dan melihat kearah Gina yang belum mengubah posisinya. Arinta menggeleng dan kembali melanjutkan makannya.


Gina mendengus kasar dan menegakkan badannya kembali.


"Lo masih enggak mau ngasih tau gue?", tanya Gina.


"Aku udah lupain semuanya, enggak ada lagi yang perlu dibahas", jawab Arinta tanpa menoleh.


Gina menganggukkan kepalanya paham, ia tau jika Arinta itu tipe orang yang keras dan tidak suka dipaksa.


"Nih", Gina menyodorkan asam jawa yang baru saja diambilnya dari dalam tas bersama sekotak bekal.


Arinta mengambilnya dan menutup kembali kotak bekalnya, "Aku rasa kamu sering banget bawain aku asam jawa. Dirumah kamu ada pohonnya?", tanyanya sambil membuka kulit buah berwarna coklat tersebut.


"Makasih, bilang ya sama Tante Hanna", Gina mengangguk dan mengacungkan jempolnya sebagai jawaban untuk Arinta.


Huek huek


Arinta membekap mulutnya saat asam Jawa itu baru saja ingin dimakannya. Entah mengapa perutnya terasa bergejolak disaat ia mencium bau dari buah tersebut. Padahal asam Jawa itu tidak memiliki bau yang menyengat, dan lagipula ia sudah terbiasa memakannya. Mengapa sekarang ia bisa mendadak mual hanya bau dari asam Jawa.


Gina yang panik langsung memberikan air minumnya kepada Arinta. Namun langsung ditolak oleh gadis itu, Arinta mengambil minyak kayu putih dari sakunya dan mengoleskan itu ketengkuk dan perutnya.


"Lo kenapa Rin?", tanya Gina membantu mengurut tengkuk Arinta.


Arinta menggelengkan kepalanya, ia juga tak tau apa yang terjadi dengannya. Ini bukan pertama kali terjadi, belakangan ini ia juga sudah sering mengalaminya, dan itu hanya karena hal sepele. seperti ketika ia mencium parfum milik Saka, padahal parfum itu Arinta yang merekomendasikan nya kepada Saka, karena baunya yang sangat wangi dan menenangkan. Dan satu lagi, disaat Arinta memakan bawang goreng. Entah mengapa semua hal yang disukainya membuat perutnya terasa tidak nyaman.


Keanehan itu berlanjut ketika Raka membawa pulang sebungkus coklat pemberian dari penggemarnya. Pada saat itu entah dorongan dari mana Arinta memintanya dari Raka dan menghabiskannya sendirian. Tentu saja tingkahnya itu menjadi pertanyaan setiap anggota keluarganya, sebab mereka tau Arinta itu anti dengan yang namanya coklat. Dan disaat ia memakan makanan sejuta umat itu, Arinta merasa perutnya nyaman.


"Woi", teriak Laily sambil memasuki kelasnya,"Eh, Rinta kenapa?", tanyanya cemas dan duduk didepan Arinta dengan memutar kursi sehingga bisa menghadap kearah kedua sahabatnya itu.


"Enggak tau aku tiba-tiba mu– huek", Arinta kembali menutup mulutnya setelah mencium parfum yang menguar dari tubuh Laily. Oke, sepertinya Laily masuk kedalam list yang harus dihindarinya agar perutnya nyaman.


"Eh lo kenapa Rin?", Laily mencoba memegang dahi Arinta, namun langsung ditepis oleh gadis itu.


Arinta berdiri dan dengan secepat kilat ia berlari keluar tanpa menghiraukan teriakan-teriakan kedua sahabatnya yang memanggil. Ia berlari disepanjang koridor dengan masih menahan mual, dan aksinya tersebut tentu saja menjadi pusat perhatian dari siswa-siswi yang berada dikoridor.


Arinta membuka kasar pintu toilet sehingga membuat siswi-siswi yang berada didalam menatap kearahnya. Tak ingin banyak fikir, Arinta langsung masuk kedalam salah satu bilik toilet. Kemudian Arinta memuntahkan isi perutnya kedalam kloset. Setelah merasa cukup, ia keluar dan menatap kearah mereka yang memandangnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Arinta tak ingin memusingkannya, ia berjalan kearah wastafel yang ada disudut, kemudian ia membasuh wajahnya dan berkumur-kumur.


Brak


Seluruh orang yang ada didalam toilet tersebut memandang kearah pintu yang dibuka dengan kasar. Untung saja pintu itu tahan banting.


Gina masuk dan memandang kearah Arinta, lalu mengalihkan atensinya kesemua orang, "Keluar", titahnya membuat semua orang tadi keluar. Mereka tak berani dengan Gina yang telah terkenal pintar dengan bela dirinya, sebab gadis itu selalu menyumbang piala untuk Allandra dalam seni bela diri. Lagipula Gina itu keponakan pemilik sekolah ini, siapa yang berani dengannya.


Arinta tak menghiraukan dan kembali menatap dirinya di cermin. Segala prasangka telah ada didalam pikirannya, tapi Arinta tak terlalu berani untuk menyimpulkannya. Cewek itu takut jika apa yang dipikirkannya adalah suatu kenyataan.


"Rin", Gina menepuk bahu Arinta membuat lamunan Arinta buyar seketika.


Arinta melirik Gina sambil menaikkan sebelah alisnya. Bukan nya menjawab, Gina malah memeluk Arinta dengan erat. Hal itu sukses membuat Arinta mengerutkan keningnya. Ada apa dengan sahabatnya satu ini.


"Rin, kalau lo mau nangis jangan sendirian, gue ada disini. Pundak gue cukup untuk menampung beban lo", ujar Gina membuat lipatan dikening Arinta bertambah.


"Aku enggak ada nangis Gin", Arinta melepaskan pelukannya, "Kamu kenapa?", tanyanya memegang kedua pundak Gina.


Gina tersentak, apa yang dipikirkannya itu salah?, "L-lo nggak hamil?", tanyanya terbata-bata.


Tubuh Arinta menegang kaku lalu seperkian detik ia memejamkan matanya. Itulah yang ia takuti. Arinta sadar jika belakangan ini ia sudah berubah drastis, dan ia juga pernah belajar tentang reproduksi dan perkembang biakkan manusia. Arinta tidak sebodoh itu untuk menyadarinya, tapi ia berharap sangat berharap jika itu hanyalah sebuah pemikirannya saja.


Hamil?, jangan membuatku sulit ya Tuhan.


Gina kembali memeluk tubuh Arinta, "Jangan takut Rin, gue ada dan gue disini", ujarnya pelan sambil mengelus lembut punggung Arinta.


Arinta membalas pelukan hangat tersebut, "Itu enggak mungkin Gin, dan itu enggak akan terjadi."


Semoga ini salah dan semoga ini hanya mimpi


...~Rilansun🖤....


Gina Taniara Atmaja