Brittle

Brittle
Siapa Leta?



...•••••••••••••...


...Terkadang lelucon yang alam semesta berikan lebih mengerikan daripada yang lainnya......


...•••••••••••••...


...***...


Langit senja dengan kilauan jingga nya sekejap musnah dan berganti dengan awan kelabu dan suara gemuruh yang kentara. Hujan turun perlahan-lahan kemudian deras seketika. Memekakkan telinga yang mendengarnya. Bau basahnya yang khas menyebar ke seantero negeri. Ada yang menyukainya ada pula yang membencinya.


Begitupun dengan Arinta. Dulu ia sangat menyukai hujan. Menangis jika tidak diperbolehkan turun untuk bermain. Namun sekarang, mendengar suara petir yang lantang dilangit. Membuat tubuhnya bergetar ketakutan. Teringat kala kehormatannya yang direnggut paksa dibawah hujan yang deras.


Jdar


Arinta memejamkan matanya sambil memeluk tubuhnya sendiri dengan kuat. Tubuhnya bergetar hebat. Air matanya turun seraya terpejamnya mata. Biasanya sang Ayah lah yang memeluknya disaat seperti ini. Namun, kini ia duduk sendirian disini. Tanpa ada yang menemani.


"Hei, kamu kenapa sayang?"


Arinta membuka matanya ketika merasa ada yang menepuk pundaknya dan memanggil dirinya.


"Ma", cicitnya pelan sambil menatap Rihanna, Mamanya Gina. Wanita paruh baya itu memang sangat baik, ia bahkan menganggap Arinta seperti anaknya sendiri dan menyuruh gadis itu memanggilnya Mama seperti Gina.


"Kamu kenapa?", tanya Rihanna terdengar khawatir.


Arinta menggelengkan kepalanya dan memeluk Rihanna. Membenamkan wajahnya diperut wanita paruh baya itu.


Rihanna lantas mengelus dengan lembut kepala Arinta. Cewek itu memang selalu tertutup. Tidak pernah mengatakan apa yang dirasakannya. Bahkan masalah besar yang menimpa Arinta, Rihanna pun tahu dari mulut Gina.


"Nadia", Rihanna memanggil salah satu pegawai di tokonya.


Gadis yang dipanggil pun datang menghampiri bos nya dan terkejut ketika melihat Arinta yang memeluk Rihanna dengan erat.


"Loh, Rin?, kamu kenapa dek?", tanya Nadia kepada rekan kerjanya tersebut.


Rihanna mencolek lengan Nadia dan memberi isyarat agar tak banyak bertanya. Merasa paham, Nadia pun lantas mengangguk.


"Tolong ambil pancake yang saya buat tadi", titah Rihanna yang langsung dilaksanakan Nadia.


Setelah Nadia pergi, Arinta melepaskan pelukannya. Dan Rihanna pun langsung mengambil tempat duduk disamping Arinta.


Nana's Bread sangat sepi saat ini. Hanya ada dua sampai tiga pengunjung.


"Ini buk", Nadia meletakkan sepiring pancake dengan madu dan ditambah strawberry diatasnya serta segelas susu. Jika dulu Rihanna selalu memberikan susu biasa, tetapi sekarang berbeda. Arinta tidak seperti yang dulu, dan tentu saja susu nya juga harus berganti. Namun itu semua tanpa sepengetahuan Arinta. Jika tidak, cewek itu tidak akan mau meminumnya.


"Terima kasih", Rihanna tersenyum kepada Nadia dan menarik piring berisi pancake itu kehadapan Arinta.


"Dihabisin dek", setelah mengucapkan itu seraya mengelus sekilas kepala Arinta. Nadia pergi dari meja tersebut dan kembali ke pekerjaannya.


"Ayo, dimakan."


Arinta mendongak menatap Rihanna dengan lelehan air mata. Membuat wanita paruh baya itu tersenyum mengejek dan menghapus air mata Arinta.


"Udah besar sama petir aja masih takut", cibir Rihanna membuat Arinta kembali menunduk.


Sadar salah ngomong. Rihanna lantas mengganti topik, "Strawberry nya segar loh Rin. Baru Mama beli tadi khusus untuk kamu"


Arinta melirik pancake yang ada dihadapannya lalu menoleh kearah Rihanna.


"Ayo cobain."


Dengan perlahan Arinta mengambil sendok dan mencobanya. Cewek itu memejamkan matanya ketika merasakan kenikmatan yang hakiki tiada tara. Pancake memang selalu menjadi makanan favoritnya. Setelah asam jawa tentunya.


"Enak?", tanya Rihanna mencoba menahan tawa ketika melihat ekspresi Arinta yang segitunya. Kebahagiaan perempuan yang duduk disampingnya itu memang sangat sederhana.


Arinta menoleh dan mengangguk dengan semangat. Melupakan jika hujan masih turun diluar sana.


"Makasih Ma", ujar Arinta tulus.


Rihanna tersenyum dan mengelus lembut kepala Arinta. Benar kata Gina, jika melihat Arinta seperti melihat anak keduanya yang telah tiada. Ada sosok Salsa didalam diri seorang Arinta.


Namun ketenangan tersebut tak berlangsung lama ketika seseorang memanggilnya dari belakang.


"Rin."


Arinta menoleh kebelakang dan mendapati Gina dengan seorang wanita paruh baya disampingnya. Tapi tunggu sebentar, Arinta merasa familiar dengan orang tersebut. Lantas Arinta menoleh menatap Rihanna yang juga tengah menatapnya.


"Leta?"


"Ma", ujar Arinta bersamaan dengan wanita paruh baya yang wajahnya mirip dengan Rihanna itu.


Arinta menoleh kaget kearah wanita tersebut. Belum sempat berkata apapun. Wanita itu langsung memeluk erat Arinta. Membuat Rihanna dan Gina saling memandang bertanya satu sama lain.


"Leta?, Ya ampun sayang. Kamu kemana aja, kami semua udah susah payah cariin kamu. Ada rumor yang bilang kalau kamu udah meninggal, tapi Bunda enggak pernah percaya dengan semua itu. Bunda selalu yakin kalau kamu itu masih hidup. Alhamdulillah Ya Allah", ujar wanita tersebut dengan penuh syukur. Memeluk semakin erat Arinta, seolah tak ingin lagi kehilangan cewek itu. Bahkan wanita itu juga menangis.


Melihat Arinta yang tidak nyaman. Lantas Rihanna berujar, "Kamu peluknya ke-eratan Nat."


Mendengar hal itu pun, Renata melepaskan pelukannya dan menatap Arinta, "Maaf, Bunda kesenangan. Tapi kamu enggak apa-apa kan?", tanyanya seraya mengelus pelan pipi Arinta. Sontak cewek itu menggelengkan kepalanya dengan polos. Sungguh ia tak paham situasi saat ini. Siapa itu Leta?, dan siapa wanita yang berdiri dihadapannya ini?, ditambah wajah wanita tersebut yang mirip sekali dengan Rihanna.


"Kenapa kamu kesini Nat?", tanya Rihanna kepada Renata. Menambah benang kusut didalam otak Arinta. Apakah kedua orang itu kenal?.


"Tante mau ketemu calon mantu katanya", sahut Gina duluan sambil duduk dengan santainya didepan Arinta. Ya, Renata tadi mendesaknya untuk membawa wanita itu untuk datang menghampiri Arinta. Ketika Gina kerumahnya untuk mengambil ponsel Arinta yang masih ada bersama Reagan. Walau sudah menolak beberapa kali, karena takut Arinta shock. Tapi memang dasarnya Renata itu keras kepala seperti anak laki-lakinya. Tak pernah menyerah sebelum keinginannya terjadi. Dan, berakhir dengan Tante nya yang menang.


"Cepetan Nat, sebelum ada yang ngambil. Entar keduluan loh", kelakar Rihanna.


"Kamu jahat. Enggak pernah kasih tahu aku kalau kamu kenal Leta", sungut Renata membuat Rihanna tertawa dengan pelan.


Arinta memandang bergantian kearah Rihanna dan Renata yang masih mengobrol. Bahkan kedua wanita itu sudah duduk berdampingan.


Lalu tiba-tiba....


"Kapan kamu mau jadi menantu bunda Leta?", tanya Renata tiba-tiba yang membuat Arinta mematung seketika.


What?, Menantu?, Lelucon apa lagi ini Ya Tuhan.


...***...


"Woi, nyet", panggil Revo serata menjatuhkan tubuhnya diatas sofa yang ada diruang keluarga rumah Zidan.


"Apaan", sahut Zidan yang terdengar jutek. Cowok itu memang paling anti jika diganggu saat bermain game.


"Idih sok jutek", Revo melempari jaketnya kearah wajah Zidan membuat cowok itu mengumpat dengan keras. Untung saja si Mama lagi tidak ada dirumah. Kalau tidak auto dicancel buat beli mobil baru.


"Itu rumah yang ada didepan itu kok ada bendera kuningnya. Siapa yang meninggal?", tanya Revo sambil memakan camilan yang ada diatas meja.


"Enggak mau jawab", Zidan menutup mulutnya dengan menatap tajam kearah Revo. Karena cowok itulah ia kalah. Dan Zidan sedang bad mood sekarang. Sedang dalam senggol bacok mode on. Jadi jangan harap ada yang mendekatinya kalau tidak mau dibanting olehnya.


"Lah, dasar bocah", ejek Revo seraya menjulurkan lidahnya membuat Zidan mengacungkan jari tengahnya kearah Revo.


"Oh itu, gue tau. Yang meninggal itu masih seumuran kita. Katanya sih, kena serangan jantung. Karena enggak bisa serang balik, jadi ya gitu. Dia yang dead", celetuk Riko yang menjawab pertanyaan Revo tadi. Riko memang bertetangga dengan Zidan. Rumah cowok itu hanya berjarak tiga rumah dari kediaman Artharwa.


Revo menganggukkan kepalanya, "Kasihan ya dia. Masih muda udah dipanggil dengan Yang Maha Kuasa."


Riko juga turut menganggukkan kepalanya. Menyetujui apa yang dibilang oleh Revo, "Umur enggak ada yang tau. Kematian itu enggak pandang bulu. Merenggut siapa aja yang emang udah waktunya. Enggak peduli tua atau muda, sehat atau sakit, kaya atau miskin, pejabat atau pengemis. Semuanya setara. Makanya kita itu harus lebih menghargai semua orang yang ada didekat kita. Karna kita enggak tau berapa lama lagi kita bisa melihat mereka, atau berapa lama lagi mereka bisa melihat kita. Waktu itu singkat", ujar Riko panjang lebar dengan pandangan yang masih fokus kearah ponselnya.


Prok prok prok


Revo dan Ardean bertepuk tangan setelah Riko menyelesaikan ucapannya. Memberi applaus terhadap Riko yang otaknya masih berfungsi, sedikit.


"Apaan sih kalian. Lebay", ujar Riko yang berbanding terbalik dengan reaksi yang ditunjukkan oleh cowok itu. Buktinya wajah dan telinga Riko memerah kontras dengan kulitnya yang putih serta bibir cowok itu yang berkedut menahan senyum. Memang laki-laki penggila pujian.


Zidan yang masih dalam suasana bad mood, lantas memutar bola matanya jengah. Kemudian cowok itu bangkit dari duduknya dan menepuk pundak Reagan yang sedari tadi fokus diam bermain game di ponselnya.


"Tuh dengerin, hargai selagi masih ada. Entar udah enggak ada jangan nyesal. Karena orang baik lebih dulu diambil sama Tuhan", setelah mengucapkan itu Zidan melangkahkan kakinya kearah dapur. Nafsu makannya akan meningkat apabila suasana hatinya sedang buruk.


Reagan tersenyum sinis kearah ponselnya yang menampilkan tulisan Game over, "Orang baik matinya duluan?. Tapi enggak semua orang yang ada didunia ini benar-benar baik. Tidak ada noda yang bisa benar-benar hilang, pasti bakal tinggalin bekas. Hidup itu hanyalah lelucon takdir", ujar Reagan membuat semuanya terdiam.


...~Rilansun🖤....