Brittle

Brittle
Murid baru



...••••••••••••...


...Ketika cinta sudah membodohi manusia, meninggal lah sudah akal sehatnya......


...••••••••••••...


...***...


"Ck, lama banget sih itu guru."


Arinta mengalihkan pandangannya dari buku yang telah dicoret-coretnya kearah Gina. Melihat sahabatnya itu yang menggerutu sedari tadi.


Lalu Arinta tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya. Gina memang selalu saja begitu, tidak sabaran.


Setelah mengatakan kalau ada seorang anak murid baru yang akan datang. Bu Neli, selaku wali kelas mereka pergi menjemput orang tersebut. Sudah sepuluh menit berlalu, guru dan anak baru itu juga tidak menunjukkan batang hidungnya.


Pada awalnya Arinta kaget. Karena sebentar lagi mereka akan mengikuti ujian kelulusan. Dan Allandra masih menerima murid baru di penghujung tahun ajaran. Apakah Allandra sebebas itu.


Ya, walaupun Allandra sudah sedikit bebas sekarang dengan memperbolehkan wanita hamil sepertinya untuk tetap bersekolah.


Tapi Arinta yakin, sangat yakin jika murid baru tersebut adalah orang yang sangat kaya. Pasti dia sudah menyogok kepala sekolah dengan uang yang banyak. Sehingga membolehkan dia untuk bersekolah disini.


Ah, sudahlah. Yang penting orang baru itu tidak menambah daftar nama hatters nya saja sudah lebih dari cukup.


"Kamu tau enggak orangnya siapa?", tanya Arinta tanpa menatap Gina. Ia masih fokus mencoret-coret abstrak halaman bagian belakang bukunya.


"Enggak, males banget nge-poin hal gituan. Enggak guna", sahut Gina dan menjatuhkan kepalanya pada lipatan tangan diatas meja.


Arinta tebak ,karena bosan Gina pasti memilih untuk tidur.


"Iya sih, enggak guna. Lagipul-"


Arinta menghentikan kalimatnya setelah melihat siapa yang berdiri didepan sana. Dengan wajah tanpa ekspresi dan kedua tangan yang dimasukkan kedalam saku celana. Orang tersebut mampu membuat perempuan-perempuan yang ada di MIPA-2 menjerit histeris.


Seperti pasar malam, heboh.


"Gue tebak, pasti cowok", celetuk Gina setelah mendengarkan jeritan-jeritan nek lampir yang memekakkan telinga. Apalagi kalau bukan cowok ganteng yang mampu menghipnotis anak perempuan orang. Pasti itu. Perempuan dan cogan, tidak bisa dilepaskan.


"Re-reagan", ujar Arinta terbata-bata. Membuat Gina langsung menegakkan kembali tubuhnya. Dan menatap horor cowok yang tengah memperkenalkan dirinya didepan.


"D-dia kok ada disini", Arinta menatap bingung kearah Gina yang menggelengkan kepalanya pelan, tanda tak tahu.


Pantas saja bisa seenaknya, ternyata anak yang punya sekolah. Kalau begitu, anak baru tersebut tidak akan menjadi hatters nya. Ya, setidaknya begitu.


Namun, anak baru itu akan sangat menggangu fokus Arinta. Bagaimana tidak, disaat Arinta berdekatan dengan Reagan. Entah kenapa jantungnya akan berdetak dengan cepat. Seperti ia tengah habis lari maraton. Lalu bagaimana bisa Arinta belajar dengan benar kalau cowok itu satu ruangan dengannya.


Apakah cowok itu belum puas menghantuinya dirumah. Disekolah pun, Reagan ingin mengambil kebebasannya. Cowok itu benar-benar keterlaluan.


"Kamu boleh duduk dibelakang Arinta, Reagan", ujar Bu Neli setelah Reagan selesai memperkenalkan dirinya yang sebenarnya tidak lah perlu. Siapa yang tidak mengenal Reagan Zarvio Allandra. Seorang most wanted dan prince charming nya sekolah. Ditambah dengan cowok itu anak dari pemilik sekolah. Mendengar namanya saja sudah tahu kalau dia adalah penerusnya Allandra.


Reagan menganggukkan kepalanya singkat dan berjalan kearah Arinta. Cewek yang mampu menarik perhatiannya dari awal Reagan masuk. Matanya tidak pernah putus memandangi istrinya tersebut.


Reagan dibuat tersenyum ketika melihat bola mata Arinta yang melebar saat melihatnya. Dan mulutnya yang sedikit terbuka. Benar-benar menggemaskan.


"Ketika cinta sudah membodohi manusia, meninggal lah sudah akal sehatnya", celetuk Gina setelah Reagan menduduki tubuhnya di kursi belakang Arinta. Tepatnya itu adalah tempat duduknya Laily dulu.


"Ketika seseorang sudah menemukan prioritas nya, maka apapun akan dilakukannya", sahut Reagan yang merasa jika ucapan Gina tadi ditujukan untuknya. Reagan memilih pindah ke kelas Arinta, karena cewek itu terlalu bandel. Arinta tidak menuruti perkataannya agar tidak terus berolahraga. Tapi cewek yang sudah berstatus sebagai istrinya itu tidak menurutinya sama sekali. Membuat Reagan geram, dan memutuskan untuk satu kelas dengan Arinta.


Walau Reagan harus berjuang keras agar Xavier dan kepala sekolah mengizinkan nya.


Gina mendengus keras dan beralih menatap Arinta yang terlihat bungkam. Namun pipi Arinta yang terlihat memerah membuat Gina tak mampu menahan senyumnya.


Apakah sahabatnya itu tengah merona sekarang. Gina berdoa semoga hubungan antara Reagan dan Arinta segera membaik. Dan berharap jika hubungan itu bisa awet hingga maut yang memisahkan. Gina tidak ingin lagi melihat sahabat sekaligus adik kecilnya itu menderita untuk kesekian kalinya.


...***...


Arinta menatap malas sekeliling kelasnya yang sudah sepi. Bel pulang sekolah telah berbunyi sepuluh menit yang lalu. Dan sialnya hari ini adalah hari dimana Arinta kebagian piket kelas.


Alhasil hanya ada mereka berdua kini dikelas. Dan itulah yang membuat Arinta malas untuk melakukan tugasnya.


Arinta memejamkan matanya sebelum berjalan kearah bangku Reagan. Cowok itu masih duduk disana dengan mata yang terpejam. Entah cowok itu tengah tidur atau tidak sekarang.


"Awas", usir Arinta ketika ia kesulitan menyapu lantai bagian bawah kursi.


Reagan membuka matanya dan menatap tanpa ekspresi Arinta yang berdiri disampingnya.


Ketika Reagan hendak berdiri dari duduknya dan Arinta yang menunduk ingin menyapu lantai. Tanpa sengaja wajah mereka berdekatan, dan membuat bibir mereka tersentuh satu sama lain. Untuk beberapa detik keduanya larut dalam pandangan masing-masing. Hening, hanya terdengar suara angin yang masuk. Dan aktivitas diluar kelas.


Reagan yang merasa mendapatkan setetes air ditengah gurun pun. Tentu saja tidak menyia-nyiakan kesempatan langka yang telah diberi Tuhan untuknya. Dengan secepat kilat Reagan langsung mencium bibir Arinta. Membuat Arinta mengerjapkan matanya pelan. Berusaha mencerna situasi yang ada.


Reagan yang melihat itu pun lantas menyeringai, "Kenapa?, mau lebih?."


Arinta melototkan matanya. Menatap horor Reagan. Kemudian dengan refleks, Arinta memukul kepala Reagan dengan menggunakan tangkai sapu, "Berengsek."


"Ouch", Reagan memegang kepalanya yang terasa berdenyut. Lalu ia menatap sekilas Arinta yang terlihat khawatir. Dengan menahan senyumnya Reagan melanjutkan aktingnya tersebut. Sebenarnya kepalanya tidak lah begitu sakit. Tapi kesempatan emas seperti ini tidak boleh dilewatkan begitu saja bukan.


"Duh, otaknya kayak geser nih", ujar Reagan melebih-lebihkan.


Arinta yang merasa bersalah pun lantas memegang kepala Reagan yang tadi dipukulnya.


"S-sakit?", tanya Arinta sambil mengelus lembut kepala Reagan. Tanpa sadar cewek itu telah duduk dipangkuan Reagan.


Reagan mengangguk dan menjatuhkan kepalanya keatas pundak Arinta. Bersandar seraya menikmati sapuan lembut Arinta dirambutnya.


"Kamu tunggu disini, aku mau ngambil es batu buat ngompres."


"Enggak usah", Reagan memeluk erat pinggang Arinta, "Sikap kamu ke aku itu lebih dingin daripada es batu. Cukup kamu peluk aku pasti langsung sembuh", ujarnya dan menyusupkan wajahnya keceruk leher Arinta. Mencari posisi yang nyaman dengan tangan yang aktif mengelus anaknya.


Arinta mematung. Ia tertegun. Sebenarnya Arinta tidak bermaksud untuk ketus dan galak kepada Reagan selama ini. Dari hatinya yang paling dalam Arinta sudah memaafkan Reagan, walau pun setengah. Dan Arinta bersikap seperti itu hanya untuk mengantisipasi dirinya sendiri. Ia tidak ingin terbuai oleh pernikahan yang hanya sementara ini. Dan jatuh kedalam pesona suaminya sendiri.


Lalu Arinta berdehem pelan dan melepaskan tangan Reagan yang memeluk pinggangnya. Cewek itu berdiri, mengambil sapu dan melanjutkan tugasnya. Tanpa menghiraukan Reagan tentunya. Seolah-olah tidak ada yang terjadi barusan.


Sementara itu Reagan hanya bisa menghela nafas panjang. Mengapa hati Arinta sangat sulit sekali untuk digapai. Tembok apa yang dipakai cewek itu, hingga pertahanannya sangat kuat dan kokoh.


Arinta benar-benar berbeda. Jika cewek lain, Reagan mengedipkan matanya sekilas saja sudah mampu membuat mereka menjerit histeris. Seperti melihat uang turun dari langit.


Namun Arinta, sudah dicium pun tidak luluh sama sekali.


Kemudian Reagan mengeluarkan ponselnya. Menelpon Riko yang Reagan yakini masih berada didalam kelas. Temannya itu selalu saja begitu, ketiduran hingga tidak tau jika ia sudah ditinggalkan oleh yang lainnya.


"Riko, lo sekarang juga kesini. Lanjutin piket Arinta. Gue mau pulang dulu", Reagan mematikan sambungannya sebelum Riko sempat menjawab.


Lalu Reagan berjalan menghampiri Arinta. Mengambil alih sapu dan membuangnya kelantai. Arinta yang melihat itu tentu saja murka. Namun, belum sempat Arinta memarahi Reagan. Cowok itu lebih dulu menggendongnya. Membuat Arinta terpekik tertahan.


"Kamu apa-apaan sih. Turunin cepat!", bentak Arinta yang tidak digubris Reagan. Cowok itu malah berjalan kearah keluar kelas.


"Reagan-"


"Kita pulang", potong Reagan singkat.


"Tapi aku lagi piket."


"Ada Riko yang gantiin", balas Reagan yang membuat Arinta memutarkan bola matanya malas. Cowok itu selalu saja memaksa.


Tak ingin berdebat, Arinta pun memilih bungkam. Menyembunyikan wajahnya di dada bidang Reagan saat orang-orang yang masih berada disekolah melihat kearah mereka.


Arinta merasa dejavu.


...~Rilansun🖤....