Brittle

Brittle
Keciduk selingkuh?



...•••••••••••••••...


...Jangan berharap banyak kepada manusia, jika kau tak ingin disakiti......


...•••••••••••••••...


...***...


Resepsionis perempuan itu memandang hormat kearah wanita yang ia yakini umurnya masih sangat muda. Mungkin seumuran dengan adiknya. Ia mengenalnya sebagai istri dari General Manager baru mereka dan menantu dari Direktur Allandra Group.


"Ada yang bisa saya bantu, Buk?", tanyanya sopan dengan senyuman profesional.


Arinta mengangguk canggung, tak menyangka jika resepsionis itu mengenalnya. Apa karena Arinta hadir di dalam perayaan Reagan yang dilantik sebagai General Manager seminggu yang lalu.


"Saya mau ketemu dengan Reagan, apa dia ada ditempat hari ini?", tanya Arinta dengan keringat dingin yang mengucur. Selalu begitu jika ia berbicara dengan orang yang tak dikenal. Gugup tak menentu.


Resepsionis perempuan itu kemudian mengangguk singkat dan langsung melihat kearah komputernya. Entah apa yang tengah dilihatnya, Arinta pun tidak tau. Lalu setelah itu resepsionis tersebut terlihat menelpon seseorang.


Untuk menghilangkan rasa suntuknya, Arinta lantas menoleh dan memainkan tali paper bag yang ada di pegangannya. Arinta datang hari ini tanpa sepengetahuan Reagan. Ia ingin memberikan kejutan kecil untuk suaminya itu dengan makan siang bersama. Arinta yakin kalau Reagan saat ini pasti belum makan siang. Cowok itu akan berubah menjadi monster jika sudah bekerja.


"Sekretaris GM kayaknya lagi gak ada di tempat karena dari tadi enggak ada yang angkat telpon saya. Tapi saya pastikan kalau saat ini GM sedang ada di dalam ruangan nya", celetuk Resepsionis itu membuat Arinta mendongak menatapnya.


"Huh?, kalau gitu saya bisa langsung ke sana?", tanya Arinta lagi.


Resepsionis perempuan yang ber-name tage Novi itu keluar dari meja kerjanya dan berdiri dihadapan Arinta, "Mari, silahkan saya antar menuju lift", ujarnya dengan tangan yang terulur mempersilahkan.


Arinta mengangguk dan berjalan mengekori resepsionis itu dari belakang. Cewek itu hari ini tampil dengan mengenakan gaun selutut berwarna navy dan ditambah rambut hitamnya yang dibiarkan tergerai indah. Sangat sederhana dan cantik.


"Silahkan", ujar Novi saat pintu lift khusus petinggi perusahaan sudah terbuka dengan lebar.


Arinta tersenyum tipis, "Terima kasih."


"Sama-sama, Buk."


Setelah berpamitan singkat Arinta lantas memasuki lift. Menekan angka 10 pada kombinasi tombol pada dinding lift. Mengelus perutnya seraya menunggu pintu lift itu terbuka. Sebenarnya Arinta memiliki trauma tersendiri dengan elevator berlapis kaca tersebut. Ia pernah terjebak di dalam lift pada saat bepergian ke rumah sakit. Tapi mau bagaimana lagi, tidak mungkin Arinta menaiki tangga menuju lantai sepuluh. Bisa-bisa anaknya lahir sebelum waktunya.


Kemudian Arinta keluar saat pintu lift terbuka tepat di lantai sepuluh. Melangkahkan kakinya keluar sambil memandang ke sekeliling nya.


Lantai sepuluh terasa lebih luas, namun terlihat tidak hidup. Orang-orang sibuk berkutat dengan layar komputer dihadapannya. Hanya terdengar suara ketukan pada keyboard yang mendominasi.


Lalu Arinta berjalan tergesa namun pelan kearah ujung koridor, dimana ruangan Reagan berada. Ia takut mengganggu mereka yang sedang sibuk bekerja saat ini. Padahal sudah jam makan siang, tapi mereka tetap tidak beranjak dari kursi masing-masing. Apakah cacing di perut mereka tidak melakukan unjuk rasa?.


Sepertinya apa yang dibilang resepsionis tadi itu benar adanya. Meja sekretaris GM sedang kosong tidak berpenghuni. Mungkin sedang makan siang.


Lalu Arinta menoleh kearah pintu kayu dengan plakat yang bertuliskan Reagan Zarvio Allandra, General Manager room. Arinta tersenyum melihatnya, ia bangga memiliki seorang suami seperti Reagan. Baru lulus beberapa Minggu yang lalu, tapi sudah mendapatkan kedudukan yang tinggi seperti itu. Diusia yang masih sangat muda pula.


Dan Reagan saat ini tengah berencana untuk mengambil jurusan master of business administration agar dapat menduduki posisi CEO kelak. Membuat Arinta semakin jatuh ke dalam pesona calon Ayah tersebut.


Bagi Arinta Reagan adalah definisi tampan yang sesungguhnya. Tidak hanya baik dalam fisik, namun cowok itu juga memiliki otak yang sangat brilian.


Hanya satu kekurangannya, terlalu bucin.


"Enggak denger kali ya", gumam Arinta saat tidak ada sautan dari dalam ketika dirinya mengetuk pintu, "Langsung masuk aja deh", lanjutnya dan menekan knop pintu dengan sangat pelan. Berusaha tidak menimbulkan suara apapun. Agar suprise kecilnya tidak gagal.


Lalu mata Arinta melebar bersamaan dengan pintu yang terbuka. Apakah ia salah memasuki ruangan?. Tapi tidak mungkin salah, jelas-jelas nama Reagan terpampang jelas di depan pintu. Lalu apakah Arinta datang di waktu yang salah.


Arinta memejamkan matanya seraya menarik nafas dalam-dalam. Mengelus dadanya yang terasa berdenyut. Seperti ada belati yang tertancap di dalam sana. Sangat sakit ya Tuhan. Apakah hatinya sudah salah memilih Reagan sebagai dermaga terakhirnya. Atau memang Reagan tidak pernah menjadi dermaganya.


Itulah kenapa Arinta tidak ingin berharap banyak pada manusia, karena hanya akan ada luka setelah itu.


Dengan satu tarikan napas panjang, Arinta membuka matanya dan berjalan kearah dua orang yang sepertinya tidak menyadari kehadirannya.


"Lihat sayang, kayaknya Papi kamu udah punya calon untuk jadi ibu tiri kamu", ujar Arinta sambil duduk di kursi depan meja kerja Reagan.


Membuat cewek yang duduk dipangkuan Reagan itu tersentak dan refleks langsung berdiri.


"Say-"


"Jangan panggil sayang-sayang, kamu gak takut kalau pacar kamu cemburu?", sela Arinta santai, berbanding terbalik dengan hatinya yang tengah menangis saat ini. Vina berpesan kepadanya agar jangan takut dengan orang yang merebut milik kita. Jadi Arinta tidak ingin melihat mereka meremehkannya karena menangis.


"Saya sekretaris GM, Buk", cewek berpenampilan modis itu menatap takut Arinta.


"Oh", Arinta mengangguk paham. Pantas saja kata Resepsionis itu kalau Sekretaris tadi tidak mengangkat telponnya. Orang lagi sibuk bermesraan.


Arinta tersenyum miris, sepertinya ia memang hadir di waktu yang salah, "Kenapa?, kamu enggak nyangka kan kalau bakal keciduk hari ini", balasnya sambil mengepalkan tangannya. Tak percaya jika cowok yang beberapa jam lalu masih tidur di dalam pelukannya kini tengah memangku cewek lain. Entah apa yang sudah mereka perbuat sebelum Arinta datang.


"Kamu sal-"


Arinta menghentikan ucapan Reagan dengan menunjukkan kelima jarinya. Lalu bumil satu itu berjalan kearah sekretaris Reagan yang sedari tadi menunduk diam.


"Perkenalkan, saya Arinta, calon mantan istrinya Reagan."


Arinta memiliki prinsip sendiri dalam suatu hubungan. Pertama, ia paling benci di bohongin. Kedua, Arinta tidak suka dengan laki-laki yang ringan tangan. Dan poin pentingnya, Arinta benci dengan laki-laki yang berselingkuh. Dan Reagan sudah melanggar poin penting tersebut. Jadi tidak akan ada lagi alasan untuk pernikahan ini dipertahankan.


Miris, janji seumur hidup yang mereka ucapkan sepertinya harus berakhir di usia tiga bulan pernikahan mereka.


"Arinta!", bentak Reagan setelah mendengar perkataan Arinta.


"Tenang Reagan, aku gak akan nuntut apapun dari kamu. Karena dari awal aku memang udah bilangkan kalau pernikahan kita enggak bakal bertahan lama. Tapi satu yang aku minta dari kamu, jangan ambil anak aku", desis Arinta sambil menatap tajam Reagan.


"Rin, dia anak aku juga loh", protes Reagan tak terima.


"Yang bilang anak pak Yanto siapa?, belum juga pernah tidur sama pak Yanto", sahut Arinta membawa-bawa nama tetangga apartemen mereka yang cukup ganteng. Walau sudah berumur, bagi Arinta pak Yanto tetap terlihat ganteng dengan wajah oriental nya. Apalagi pria tersebut masih lajang.


Reagan membelalakkan matanya, "Jadi kamu berharap tidur sama pak Yanto?."


"Ngidamnya sih gitu", sahut Arinta enteng.


"Enggak boleh!."


Arinta tersenyum menyeringai kearah Reagan, "Kenapa?, kamu aja boleh sama cewek lain, kenapa aku enggak?."


"Buk, sebenarnya-"


"Kamu boleh pergi sekarang", sela Reagan mengusir sekretaris nya tersebut.


"Kenapa dia harus pergi?. Dia tetap disini buat silaturahmi sama aku. Seharusnya kamu seneng dong Reagan lihat istri dan pacar akur", seru Arinta membuat Reagan menggelengkan kepalanya.


Arinta menelisik tampilan perempuan yang berdiri dihadapannya itu. Sangat cantik dan sedikit seksi dengan belahan dada yang terlihat. Pantas saja Reagan tidak mendengar ketukannya di pintu, sedangkan dipangkuan nya ada hal yang terindah di dunia.


"Kayla", gumam Arinta membaca name tage sekretaris tersebut.


"Saya dulu pernah ikut olimpiade sains internasional", ujar Arinta tiba-tiba yang membuat Kayla, sekretaris GM itu mendongak kearahnya.


"Juara, Buk?", tanyanya sekedar berbasa-basi.


"Enggak", jawab Arinta singkat sambil memandang flat Kayla, "Ya juara lah. Kamu pikir saya bodoh", tambah Arinta dengan ketus.


Reagan yang melihat itu lantas tersenyum geli. Arinta memang beda dari yang lain. Reagan kira Arinta akan melabrak sekretarisnya itu. Tapi tak disangka jika istrinya tersebut bisa menghadapinya dengan sangat tenang.


"Setahu saya perempuan yang pintar itu tidak akan pernah mau mengambil yang bukan miliknya. Untuk mendapatkan sebuah penghargaan itu butuh perjuangan yang keras. Makanya perempuan yang pintar pasti akan berpikir dua kali untuk merampas milik seseorang. Kenapa?, sebab perempuan yang pintar memiliki logika dan rasa...malu", ujar Arinta panjang lebar dengan mimik wajah yang serius.


Membuat Reagan beserta Kayla tertegun.


Untuk beberapa saat suasana menjadi sangat menegangkan sebelum Arinta tertawa sumbang, "Satu lagi, kamu tau gak hewan apa yang paling buat saya jijik?."


Kayla yang menunduk terlihat menggelengkan kepalanya dengan pelan.


"Hewan yang paling saya benci itu, pelakor dan tukang selingkuh", ujar Arinta kemudian seraya menatap sinis Reagan yang bungkam.


"Rin, aku-"


"Aku bawain makan buat kamu, pas untuk kalian berdua. Kalau gak mau, enggak usah dimakan", Arinta meletakkan paper bag yang dibawanya keatas meja kerja Reagan.


"Aku pergi dulu, kalian boleh lanjutin sesuatu yang belum selesai tadi", seru Arinta lalu berlari keluar dari dalam ruangan yang terasa sesak tersebut. Mengapa Arinta tak mengizinkan Reagan buat menjelaskan, karena Arinta terlalu takut untuk mendengarkan kemungkinan yang akan membuat hatinya sakit. Mungkin ini kunjungan terakhirnya ke Allandra Group sebagai istri dan menantu dari pemilik dan penerusnya.


"Pak, saya-"


"Keluar!", usir Reagan dengan suara yang lantang membuat sekretarisnya itu langsung berjalan keluar.


...~Rilansun🖤....


Yang udh muak dgn uwu", tuh tak kasih konfliknya 😪. Duh, jurus Arinta buat ngadepin pelakor kyknya bkl aku jadikan panutan buat nanti. gk dosakn ank 16 thn ngimpiin nikah muda dgn bos" tmpn😭🤧. gk dosa klo blm punya istri?, tenang, santet online sedang naik daun skrg😌. canda santet online:v


...Janlup laik dan komen😉......