
...•••••••••••••••••...
...Kebencian akan kalah bila dihadapkan dengan rasa kemanusiaan.........
...••••••••••••••••...
...***...
Reagan mengerjapkan matanya. Menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam netra. Lalu cowok itu menoleh kearah sampingnya. Matanya yang tadi masih sayup-sayup langsung terbuka lebar ketika mendapati Arinta yang sedang tertidur dalam posisi duduk disampingnya.
Reagan mengucek matanya. Meyakini diri jika perempuan tersebut adalah nyata. Bukan halusinasinya semata.
"Ugh", Arinta menggeliatkan tubuhnya dan membuka mata. Menatap kebawah dimana Reagan berada. Berniat mengecek suhu tubuh cowok tersebut.
Namun Arinta tiba-tiba berdiri dari duduknya, "Astagfirullah", kagetnya saat melihat Reagan yang menatap intens dirinya.
"Kenapa?."
"Huh?", Arinta melihat Reagan sebentar lalu menggelengkan kepalanya cepat. Sumpah, ia sangat terkejut saat mendapati cowok itu yang sudah terbangun dan menatap lekat dirinya.
"Haus?", tanya Arinta yang dijawab anggukan kecil Reagan. Kemudian cewek itu melihat kearah atas nakas disamping ranjang. Mengambil teko air yang ternyata kosong. Arinta lupa mengisinya tadi terlebih dahulu.
"Bentar", ujar Arinta dan berniat membuka pintu kamarnya. Namun suara bernada rendah itu lebih dulu menginterupsi.
"Enggak usah."
"Tapi haus", Arinta menatap polos Reagan yang juga tengah menatapnya.
"Letak", ujar Reagan singkat yang membuat Arinta mengernyitkan dahinya.
"Letak teko nya Arinta", ujar Reagan lagi setelah melihat Arinta yang mengernyit tak paham dengan ucapannya.
"Oh", Dengan masih dilanda kebingungan Arinta pun lantas menaruh kembali teko itu ketempat semula.
Setelah itu tanpa aba-aba Reagan langsung menarik Arinta kedalam pelukannya. Membaringkan tubuh cewek itu tepat disampingnya. Membuat Arinta membelalakkan matanya. Mencerna apa yang sedang terjadi.
"Re-reagan", Arinta berusaha mendorong tubuh Reagan. Namun cowok itu malah mengeratkan pelukannya.
"Dingin Arin", gumam Reagan seraya menyembunyikan wajahnya diceruk leher Arinta. Membuat cewek itu menggelinjang geli. Pelukan Reagan yang sangat intens ditambah dengan suhu tubuh cowok itu yang masih hangat.
"Dingin", cicit Reagan ketika merasa Arinta tidak membalas pelukannya.
"A-aku ambilin selimut lagi bentar", masih berusaha melepaskan lilitan tangan Reagan dipinggang nya.
Reagan menggeleng, "Kamu peluk aku", ujarnya membuat Arinta melototkan matanya.
"Selimut nya ad–"
"Dingin Arin", rengek Reagan yang membuat Arinta menghela nafas. Lalu dengan gerakan kaku membalas pelukannya. Dan secara perlahan Arinta mengusap punggung Reagan.
Kemudian selang beberapa menit. Arinta bisa merasakan hembusan nafas Reagan yang teratur di permukaan kulit lehernya. Yang menandakan kalau cowok itu telah kembali memasuki alam mimpinya. Namun masih dengan memeluk Arinta erat.
Arinta memejamkan matanya lelah. Sangat menakutkan bila harus mengurus Reagan yang sedang sakit. Manja nya melebihi sepupunya yang masih berusia tiga tahun.
Untung saja kedua adik kembarnya itu telah tertidur dibawah lantai samping ranjang. Jika tidak, Arinta yakin mereka sudah menyerang Reagan. Melihat cowok itu memeluknya erat.
...***...
Arinta membuka matanya secara perlahan ketika mendengar suara adzan yang berasal dari musholla disekitar rumahnya. Lalu menoleh sekilas kearah jam yang menggantung di dinding.
Kemudian cewek itu menghela nafas berat ketika melihat Reagan yang masih memeluknya erat. Dengan pelan-pelan Arinta melepaskan lilitan tangan Reagan di pinggangnya.
Arinta menghela nafas lega saat pelukannya berhasil dilepas. Dan segera mengambil bantal guling untuk dipeluk oleh Reagan. Sebagai ganti dirinya.
"Arin", racau Reagan dengan mata yang terpejam membuat Arinta mengumpat dalam hati.
Mengapa cowok itu rewel sekali.
Reagan kembali tenang setelah Arinta mengusap lembut rambut cowok itu.
"Manja", gumam Arinta pelan. Lalu ia berjalan kesamping kiri ranjang. Menghampiri twins yang masih tertidur dengan saling berpelukkan dilantai.
"Sak", Arinta mengguncangkan tubuh Saka sekali yang langsung membuat cowok itu terbangun. Membangunkan Saka itu tidak sesulit membangunkan Raka. Adiknya yang satu itu, tidurnya seperti orang mati. Dan hanya Saka yang tahu cara membangunkannya.
Saka mengucek matanya dan menatap Arinta yang berdiri dihadapannya.
"Bangunin Raka", suruh Arinta yang langsung dilakukan Saka.
Plak
"Anj–"
"Raka", pelotot Arinta yang membuat Raka meringis. Lalu cowok itu menatap sinis Saka yang tengah meregangkan otot-otot tubuhnya. Seperti tidak bersalah setelah memukul wajahnya. Bahkan hidungnya saja masih berdenyut.
"Cepetan", Arinta berjalan kearah Reagan. Mengecek kembali kondisi tubuh cowok tersebut.
"Dia enggak dibangunin?", tanya Raka
"Bangunin lah", jawab Arinta seraya membuka pintu kamarnya dengan pelan. Mengingat jika masih ada bayi besar yang tengah tertidur.
"Males."
"Yaudah biarin aja. Dosa dia yang tanggung kok", celetuk Saka sambil berjalan keluar dari kamar Arinta bersama Raka.
Arinta menggelengkan kepalanya. Dan menutup pintu kamarnya dari luar setelah mengintip sebentar apakah Reagan terbangun lagi.
Walau rasa benci itu masih ada didalam hatinya. Tapi rasa kemanusiaan telah menutupi itu semua.
Ya, Arinta menolong Reagan hanya karena sebatas rasa peduli sesama manusia. Bukan ada maksud lain. Lagipula Arinta masih ingat kalau cowok itu lah yang menghancurkan hidupnya.
"Lo bangunin nya gak pakai perasaan. Roh gue masih kaget nih", protes Raka kepada Saka yang tengah menegak segelas air.
"Emang roh lo habis jalan kemana?", tanya Saka ngawur.
"Beuh, gue tadi jalannya jauh. Jepang bro, ceweknya cakep-cakep. Gunungnya, jangan ditanya naudzubillah besarnya. Terus nih ya, body nya goals banget. Gila pasti man–", Raka menghentikan ucapannya ketika melihat tatapan horor Arinta.
"Kakak bilangin Ayah nih ya", ancam Arinta yang membuat Raka refleks menggelengkan kepalanya.
"Jangan diulangi", Raka mengangguk patuh.
Namun ketika Arinta berjalan hendak memasuki kamar mandi, cowok itu kembali melanjutkan menceritakan mimpinya kepada Saka.
"Ayah, Raka otaknya kotor!", teriak Arinta yang membuat Raka membatu.
...***...
Arinta mengikat rambutnya seraya melihat Reagan yang masih tertidur. Sesekali cowok itu mengerutkan keningnya seperti orang yang tengah berpikir keras.
Arinta tanpa sadar tersenyum melihatnya. Lalu cewek itu duduk disamping tubuh Reagan. Mengecek suhu tubuh cowok itu yang sudah sedikit mendingan.
Kemudian tatapan Arinta jatuh kearah hidung Reagan yang mancung. Arinta iri sekali melihatnya. Mengapa bajing*n seperti Reagan bisa dianugerahi wajah yang sesempurna itu. Tuhan benar-benar tidak adil.
Lantas dengan iseng Arinta mencubit hidung Reagan. Menyalurkan rasa iri dihatinya.
Tapi siapa sangka, hal tersebut membuat Reagan malah terbangun dari tidurnya.
"Arin", panggil cowok tersebut membuat Arinta kaget. Dan buru-buru melepaskan cubitannya.
"Ada nyamuk", alibi Arinta dan membuang pandangannya kesamping, malu.
"Mau kemana?", tanya Reagan setelah melihat pakaian olahraga yang dikenakan Arinta.
"Huh?, enggak kemana-mana", jawab Arinta bohong. Sebenarnya hari ini ia ada janji untuk pergi jogging bersama Saka dan Raka. Dan kalau Arinta beritahu Reagan, lalu cowok itu ingin ikut gimana. Kan rumit nanti urusannya.
Reagan menganggukkan kepalanya, "ngantuk", celetuknya sambil memejamkan mata.
"Yaudah tidur."
Reagan membuka matanya dan menatap Arinta, "Elusin", cowok itu mengambil tangan Arinta dan meletakkannya diatas kepalanya.
Arinta memutar bola matanya jengah. Namun tetap mengelus kepala Reagan sampai cowok itu tertidur lagi. Apakah ketika sakit Reagan berubah menjadi kerbau begini. Tidur terus.
"Ngerepotin", gumam Arinta menatap wajah Reagan. Cewek itu kini merasa tengah mengurus anaknya yang sedang sakit. Rewel dan manja.
Benar-benar big baby bukan.
...~Rilansun🖤....
...HAPPY NEW YEAR ALL🎉🎇🎊...