
...••••••••••••••...
...Hati perempuan itu layaknya spons, mudah menyerap setiap perasaan yang ada......
...•••••••••••••...
...***...
"KENAPA KAMU ITU HOBINYA KELAHI?."
Reagan memejamkan matanya ketika mendengar suara Bu Deliana yang menggelegar. Seperti petir yang siap menyambar. Untung saja yang berdiri didalam bukan dirinya. Kalau iya, entah bagaimana lagi nasib telinga nya.
Reagan dulu sama seperti Zidan dan Revo, ia sering mengikuti tawuran dan balap liar. Tapi semua itu berhenti disaat ia duduk dikelas sebelas. Disaat Xavier menyuruhnya untuk mempelajari bisnis. Sehingga semua kebebasan nya menjadi terbatas.
"Hobi kan enggak bisa dipilih-pilih Buk. Mungkin udah takdir saya kali. Saya itu orang nya rendah hati plus ganteng, jadi saya menerima semua yang Tuhan berikan kepada saya. Ibuk jangan sampai naksir sama saya ya. Soalnya pacar saya banyak."
Reagan kontak merutuki kebodohan Zidan. Mengapa disaat seperti ini cowok itu malah menjawab. Tapi Reagan paham jika itu lah Zidan. Selalu saja ada balasan dari setiap ucapan. Sebelas dua belas lah dengan Riko. Tipe-tipe cowok yang banyak bicara, cerewet.
"Zidan, enggak boleh jawab ibuk guru atuh. Entar masuk tv main film azab baru tau", Riko berteriak membuat Reagan, Revo, dan Ardean menatap horor cowok tersebut.
"Hehehe, enggak jadi film azab. Drama Korea aja", cengir Riko.
"Teman kamu tuh", tunjuk Bu Deliana kearah pintu kaca yang tertutup. Terlihat bayangan Riko yang bersandar disana.
"Enggak Buk, itu fans saya. Buktinya rela-relain temani saya disini", sahut Zidan. Bu Deliana hanya bisa menghela nafasnya dan menggelengkan kepalanya. Pusing dia tuh, mana gajian belum keluar lagi.
"Jadi mau sampai kapan kamu ikut tawuran kayak gini lagi?", tanya guru tersebut seraya melihat wajah babak belur Zidan.
"Sampai saya lelah. Sampai kaki saya tidak bisa digerakkan lagi, sampai mata saya tidak bisa dibuka lagi, sampai detik terakhir dari detak jantung saya. Sampai situ lah saya akan mencintai Ibuk, eh salah maksudnya tawuran", Zidan menyengir melihat tatapan datar Bu Deliana. Guru tersebut memang terkenal masih muda dan cantik. Namun ia janda beranak satu.
"Saya serius Zidan!, saya udah enggak punya stok kesabaran untuk kamu!."
"Jangan serius-serius Buk, tabungan saya belum cukup."
"Zidan!", bentak Bu Deliana membuat Zidan mengacungkan jarinya berbentuk V, tanda damai.
Bu Deliana mengurut pelipisnya yang terasa sakit, "Kamu itu udah kelas dua belas, bentar lagi banyak ujian yang bakal kamu hadapin. Saat ini itu waktunya kamu nabung buat ujian nanti. Bukan nya malah tawuran. Emang seminggu enggak tawuran kamu bakalan mati?."
"Saya enggak perlu nabung Buk, Mama saya rajin kok ngisi tabungan saya. Jadi saya enggak perlu susah-susah nabung. Dan kalau saya enggak babak belur, saya enggak dibelai pacar Buk", jawab Zidan enteng. Bahkan cowok itu dengan santai nya mencoret-coret meja Bu Deliana.
Melihat itu, Bu Deliana hanya bisa menghela napas pasrah.
"Berarti pacar kamu itu enggak perhatian. Putusin lah, kok bodoh."
Zidan mendongak, "Kalau gitu Ibuk mau jadi pacar saya", celetuk Zidan yang membuat Bu Deliana memukul kepala cowok itu dengan sebuah buku tebal.
"Auhh, santai Buk. Saya ini orang nya setia kok ."
"Setiap tikungan ada maksud kamu?", sindir Bu Deliana membuat Zidan tersenyum lebar.
"Nah itu Ibuk tau."
Bu Deliana menggelengkan kepalanya, "Udah lah, capek saya ngomong sama kamu. Enggak bakal didengarin juga."
"Belum saya apa-apain masa udah capek aja", gumam Zidan yang masih bisa didengar Bu Deliana.
"Sebaiknya kamu keluar Zidan, sebelum saya mengabsen nama-nama binatang", ujar Bu Deliana menyerah.
"Eh Ibuk punya kebun binatang dirumah?, kebetulan saya belum pernah melihat apa itu burung papilo."
"Keluar Zidan!", Bu Deliana berdiri dari duduknya. Terlihat guru itu sangat murka. Zidan yang masih menginginkan wajahnya tetap utuh lantas bangkit dan berjalan kearah pintu.
Namun sebelum pintu benar-benar tertutup, Zidan berseru, "Tawaran saya untuk jadi papi nya Athalla tadi serius Buk", godanya membuat Bu Deliana siap-siap melempar sepatu nya jika Zidan tidak dengan sigap menutup pintu terlebih dahulu.
Lalu kelima cowok itu pergi dari ruangan BK dengan Riko, Revo dan Zidan tertawa terbahak-bahak. Membahana, sehingga membuat mereka semua menjadi pusat perhatian.
"Hahaha huanjir, enggak nyangka gue si Zidan suka yang janda", ujar Revo sambil tertawa. Tapi cowok itu berhenti, ketika melihat para siswi yang menatap mereka. Revo lalu berdehem dan memasukkan kedua tangan nya kedalam saku. Mencoba untuk stay cool.
"Lo jahat bener, suka banget gangguin tuh guru. Entar dia baper baru tau rasa", tambah Riko.
"Papa muda Zidan", celetuk Revo.
Zidan tertawa, "Tuh guru sok jual mahal. Nampak nya aja garang, pas gue godain merah juga tuh pipi."
Zidan mengangguk, "Nggih gusti prabu."
Reagan yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Zidan dengan segala tingkah lakunya. Pantas saja Tante Mawar sering mengeluh kepada mereka, orang anaknya modelan Zidan. Hanya orang yang kuat iman, yang bisa berdekatan dengan seorang Zidan Avarel Artharwa.
...***...
"Udah lah Rin. Kalau lo emang rindu banget, kan bisa videocall- an. Jangan kayak hidup dijaman batu deh", Gina jengah melihat Arinta yang satu harian ini hanya bermurung diri. Sebab Laily yang sudah tak lagi bersekolah disini. Dan cewek itu telah pindah keluar kota.
"Tapi kalau videocall-an enggak bisa peluk Gina", sahut Arinta lesu.
"Sini gue aja yang meluk lo."
"Tapi aku mau nya Lai-", ucapan Arinta menggantung disaat netra nya menangkap Reagan yang berjalan kearahnya bersama keempat orang temannya yang lain. Berjalan bersisian ditengah-tengah koridor. Benar-benar sangat mencolok.
Ketika Arinta melihat Reagan juga tengah menatapnya. Cewek itu lantas berjalan mundur dan membalikkan badan. Berlari sekencang mungkin. Secepatnya menjauhi Reagan.
Entah mengapa disaat melihat Reagan, Arinta selalu ingin mengajak cowok tersebut untuk terus berdebat. Emosinya seketika memuncak hanya karena menatap wajah Reagan.
"Rin, Rinta lo mau kemana?", teriak Gina yang tak digubris Arinta. Kemudian Gina menoleh kedepan, melihat sesuatu yang membuat Arinta berlari seperti itu. Namun belum sempat ia melihat dengan jelas, sekelebat bayangan melaluinya secepat kilat.
Membuat Gina mengumpat. Lantas cewek itu menoleh, menatap seseorang yang berlari kearah dimana Arinta pergi tadi.
"Reagan?", gumam Gina melihat punggung seseorang yang berlari tersebut.
...***...
"Arin!, berhenti!", teriak Reagan terhadap Arinta yang berlari didepan nya.
Hell, apakah cewek itu tidak mengingat jika ia tengah mengandung. Sepertinya Arinta memiliki bakat terpendam untuk menjadi seorang atlet lari.
Merasa lelah, Reagan pun lantas berseru, "Arinta, dirambut kamu ada kecoak!", teriak Reagan membuat Arinta berhenti berlari dan mengibas-ngibas kan rambutnya cemas. Hal itu tentu saja membuat Reagan tersenyum miring, mengapa Arinta itu mudah sekali ditipu. Reagan bersyukur sekaligus takut, sebab itu akan sangat berbahaya jika Reagan tidak berada disampingnya, dan kalau cewek itu ditipu oleh hidung belang gimana.
"Mana kecoak nya, mana", Arinta berteriak histeris sambil memegangi kepalanya.
"Ini kecoak nya", Reagan menarik Arinta masuk kedalam ruang musik yang sepi. Membuat cewek itu terpekik kaget.
"Lepas-Ah", Arinta membelalakkan matanya ketika Reagan mendudukkan nya diatas meja. Dengan cowok itu meletakkan kedua tangan nya disetiap sisi paha Arinta. Membuat Arinta merasa terkurung.
Setelah menatap datar Arinta, lalu dengan perlahan Reagan membungkukkan tubuh nya. Memposisikan wajah nya tepat didepan perut Arinta.
Arinta melotot, "Kamu mau ngapain?!"
"Aku mau tanya anak aku. Dia capek enggak habis kamu bawa lari kayak tadi. Kasihan banget dia, dalam kandungan udah jadi atlet lari", sindir Reagan halus.
Arinta terdiam. Antara kesal dan malas meladeni.
"Rin", panggil Reagan pelan sambil mengelus perut Arinta, "Perut kamu makin lama makin besar, kamu enggak takut kalau-"
"Bukan nya Ayah kamu udah akuin aku sebagai menantu nya, jadi aku enggak perlu takut bukan kalau orang-orang bully aku", potong Arinta. Ya, semenjak Xavier mengklaim dirinya sebagai menantu pria tersebut. Sudah tidak banyak lagi orang yang membully-nya secara terang-terangan. Tapi Arinta tidak tau bagaimana dibelakang nya. Karena rambut boleh sama hitam, tapi hati manusia siapa yang tahu.
"Tapi Rin-"
"Reagan, kamu serius?", tanya Arinta pelan "Jangan sering tarik ulur hati Reagan, karna jika terlanjur tertarik, kamu bakal susah buat melepaskan nya."
Reagan menegakkan badan nya. Menyamakan posisi wajahnya dengan wajah Arinta. Mengikis jarak diantara mereka berdua.
"Kamu percaya enggak kalau aku bilang, aku serius Arinta?!", seru Reagan.
Arinta mendorong sedikit tubuh Reagan. Memberi jarak, "Kamu beneran udah lupain Laily?", tanya Arinta balik yang membuat Reagan terdiam seraya menatap lamat Arinta.
Arinta terkekeh pelan, "Gimana aku mau percaya, kalau kamu aja masih hidup dalam bayang-bayang masa lalu. Kamu enggak bakal bisa buka lembaran baru, kalau kamu masih terpaku pada masa lalu", ujar Arinta yang lagi-lagi berhasil membuat Reagan bungkam.
Skak mat.
...~Rilansun🖤....
Skak mat kan lo, mampus🤣