Brittle

Brittle
Papi ngambek



...••••••••••••••...


...Aku gak butuh yang sempurna, yang aku butuhkan itu kamu......


...••••••••••••••...


...***...


"Duluan", ujar Reagan datar dan bangkit dari duduknya setelah menghabiskan makan malamnya. Semua orang yang ada di meja makan berwarna putih panjang itu lantas menoleh secara bersamaan kearah Reagan yang sudah berjalan keluar dari ruang makan.


Arinta yang juga melihat itu kontan menghela nafasnya. Ia sadar jika cowok itu sedang marah terhadapnya kini. Bukannya Arinta tidak suka dengan hadiah yang diberikan Reagan untuknya, tapi Arinta tidak suka dengan Reagan yang tidak ingin berdiskusi dengannya terlebih dulu.


Apa susahnya ngomong sih. Jika Reagan memang ingin membeli sebuah rumah, maka Arinta bisa merekomendasikan nya. Lalu setelah itu Arinta akan berpura-pura tidak tahu. Jadi suprise Reagan tetap terlaksanakan.


"Bakal susah dipujuk", celetuk Xavier yang membuat Arinta refleks menoleh. Cewek itu terkejut saat mendapati semua mata tertuju menatapnya. Jika saja Raka ada disini, Arinta yakin adiknya itu akan berseru,


"Si setan sok-sokan merajuk, minta dicium bilang aja."


Tapi sayang, si mulut besar itu tidak ada ditengah-tengah mereka. Karena Raka menemani Saka yang sedang sakit malam ini. Awalnya Sinta ingin tetap tinggal untuk merawat putranya. Tapi kembaran balok es itu menolak dan mengatakan kalau Arinta lebih membutuhkan Ibu nya.


Ah, Arinta jadi merindukan kedua adik laki-lakinya itu.


"Dipeluk langsung luluhnya tuh bocah", sahut Gina yang mendapat persetujuan dari Renata.


"Kamu kuat-kuat iman ya sama Reagan, dia itu keras kepala banget", tambah ibu mertuanya.


Arinta menunduk seraya menipiskan bibirnya. Bagi Arinta, Reagan lah yang banyak sabar terhadapnya selama ini. Sebab Arinta sadar jika dirinya itu keras kepala dan susah dibilangin. Tapi kali ini, sepertinya karena kepala batunya itu Arinta harus berperang dingin dengan Reagan.


"Bicarain baik-baik."


Arinta mendongak dan menatap kearah Deri yang ingin beranjak dari duduknya, "Iya, Yah."


"Udah, habisin dulu. Daddy gak mau kalau cucu Daddy kelaparan", Zhein yang duduk tepat di samping Arinta lantas menyodorkan sesendok nasi beserta lauknya kearah putrinya itu. Entah mengapa, tadi Arinta sangat ingin makan dari suapan Ayah kandungnya itu. Membuat pria paruh baya itu sempat menitikkan air matanya.


Arinta jadi merasa bersalah, bukannya ia tak ingin dekat dengan Zhein. Namun karena sudah tidak lama jumpa, dan Arinta masih merasa asing dengan sosok itu. Tapi Arinta akan berusaha sekuat mungkin untuk menyamaratakan kasih sayangnya, sebab Tuhan telah memberikan banyak orang tua untuknya.


"Udah kenyang."


"Belum, gak boleh mubadzir", protes Zhein saat Arinta tidak ingin lagi makan.


"Tapi perutnya udah penuh", Arinta mempautkan bibirnya menatap Zhein. Membuat Zhein tidak tahan untuk terkekeh pelan.


"Ya penuh lah, orang isinya dua", sahut Zhein tambah membuat Arinta mengerucutkan bibirnya.


"Nanti anaknya lahir duluan gara-gara ke dorong sama makanan gimana?", gerutu Arinta membuat semuanya tertawa. Teori dari mana itu. Melahirkan karena kebanyakan makan.


"Ya udah deh", Zhein mengalah dan kembali meletakkan sendok tersebut keatas piring.


Arinta tersenyum lebar dan mencium sebelah pipi Daddy nya sebelum kabur sambil membawa sekotak pudding coklat. Katanya udah kenyang.


"Jangan lari-lari!"


"Nanti anaknya lahir beneran, kalau kamu ajak maraton gitu!."


"Pelan-pelan!"


Teriak para ibu-ibu saat melihat Arinta berlari keluar dari ruang makan. Sepertinya terkadang Arinta lupa kalau ia tengah mengandung.


Sementara itu, Arinta yang sudah sampai di depan pintu kamarnya lantas berhenti sejenak. Mengatur nafasnya yang ngos-ngosan. Padahal dekat doang, tapi jauhnya kayak bermil-mil.


"Ayok bantu Bunda buat bujuk Papi", gumam Arinta seraya mengelus perutnya. Tanpa membuang waktu lagi, ibu hamil itu lantas membuka pelan pintu kamarnya. Mata Arinta membelalak kaget saat melihat kamarnya yang sangat luas. Tiga kali lipat daripada yang ada di apartemen. Itu kamar, apa lapangan.


Reagan menoleh kearah Arinta yang berdiri diambang pintu. Lalu cowok itu berjalan menghampiri istrinya itu. Membuat Arinta tersentak dari kekagumannya.


"Minggir", ujar Reagan tanpa melihat Arinta. Membuat cewek itu menatap sedih Reagan. Apakah Arinta sudah sangat keterlaluan, sampai Reagan segitu marahnya kepada dirinya.


"Mau kemana?", lirih Arinta mendongak menatap wajah Reagan. Karena tinggi Arinta yang hanya sebahu cowok tersebut.


Reagan bergeming, tidak menjawab pertanyaan Arinta. Membuat calon ibu itu mendengus sebal.


"Awas", Reagan menggeser tubuh Arinta kesamping. Dan berjalan keluar dari kamar.


"Kamu marah sama aku?", Arinta menatap punggung lebar Reagan yang membelakanginya. Cowok itu berhenti sejenak, dan kembali melanjutkan langkahnya tanpa mengatakan apapun kepada Arinta.


Melihat itu, Arinta lantas menghela nafasnya. Betul kata Xavier, bakal susah dipujuk kayaknya.


...***...


Arinta menatap kearah jam yang menempel di dinding. Suara detik nya yang terdengar sangat nyaring di tengah kamar yang hening dan sepi. Sudah pukul sepuluh malam, tapi Reagan tidak kunjung kembali ke kamar. Apakah cowok itu keasikan main catur sampai lupa dengan waktu dan istrinya.


Huh, menyebalkan. Arinta tidak bisa tidur kalau tidak ada yang mengelus perutnya. Apa Reagan sudah melupakan itu. Ditambah Arinta yang tidak bisa tidur jika ditempat baru seperti ini.


Sekotak pudding yang tadi seharusnya untuk Reagan pun Arinta habis kan karena lumutan menunggu cowok itu kembali ke kamar mereka.


Ceklek


Arinta menatap berbinar kearah pintu yang perlahan-lahan terbuka. Lalu cewek itu sontak mendudukkan dirinya saat tau memang Reagan lah yang memasuki kamar.


"Kenapa belum tidur?", tanya Reagan dengan menatap datar Arinta. Membuat cewek itu menggigit pipi dalamnya. Tatapan itu, seperti tatapan pertama kali mereka bertemu. Pada waktu MOS. Sangat tajam dan tak tersentuh.


"Enggak bisa", lirih Arinta.


Reagan mendengus lalu cowok itu berjalan kearah kamar mandi.


"Kamu mau mandi?."


Reagan menoleh dan bergumam singkat menyahuti.


Arinta langsung turun dari ranjang seraya mengambil setelan piyama yang sudah disiapkannya. Sepertinya Reagan memang sudah merencanakan pindahan mereka ini dengan matang. Terbukti barang-barang Arinta yang sudah tersusun rapi di dalam kamar.


"Nih", Arinta menyodorkan piyama itu kepada Reagan yang langsung mengambilnya. Lalu calon Ayah itu langsung memasuki kamar mandi tanpa berkata-kata apa lagi.


Arinta menipiskan bibirnya dan berjalan kearah ranjang. Kembali membaringkan tubuhnya dengan menatap lurus kearah pintu kamar mandi.


Sepuluh menit berlalu, Reagan keluar dalam keadaan segar. Satu hal yang membuat Arinta tersenyum miris. Cowok itu tidak memakai piyama pilihannya. Hanya memakai boxer tanpa menggunakan atasan. Walau Arinta tau kalau Reagan itu tidak suka memakai baju saat tidur. Tapi kebiasaan buruk suaminya itu sudah mulai berubah belakangan ini. Reagan sudah mau memakai piyama yang ia pilihkan untuk tidur, walau itu tidak akan bertahan lama. Sebab Reagan akan melepaskan bajunya pada tengah malam. Bandel emang.


Senyuman Arinta yang tadinya lebar langsung surut saat melihat Reagan yang tidak berjalan menghampirinya. Cowok itu malah berjalan kearah sofa sambil memangku laptopnya. Mulai sudah acara selingkuhannya. Sepertinya Reagan benar-benar mengabaikannya.


Arinta yang sudah capek pun lantas membalikkan badannya membelakangi Reagan. Memejamkan matanya, mencoba tidur tanpa Reagan disampingnya.


"Halo, Rain."


Arinta refleks membuka matanya saat mendengar suara Reagan yang berbicara dengan sekretarisnya melalui telepon.


"Tolong bantu saya carikan sebuah rumah minimalis sama-"


"Rain, jangan dengerin Reagan. Dia lagi mabuk, mending kamu sekarang tidur, besok harus kerja kan", sela Arinta seraya merebut paksa ponsel Reagan. Membuat cowok itu terkejut. Arinta itu punya bakat teleportasi atau gimana. Perasaan istrinya itu tadi masih terbaring di atas ranjang, tapi sedetik kemudian malah berdiri dihadapannya.


"Iya, selamat malam", tutup Arinta dengan ramah. Untung saja sekretaris baru Reagan itu laki-laki, mana ganteng lagi. Mukanya itu soft boy banget, enggak kayak Reagan yang mukanya hard boy. Tapi sayang, Arinta cintanya dengan lelaki berwajah datar tersebut.


"Apaan sih kamu", Reagan mengambil kembali ponselnya dari Arinta. Mencoba menghubungi lagi sekretarisnya itu. Namun Arinta lebih dulu menjatuhkan tubuhnya ke atas pangkuan Reagan. Membuat cowok itu membelalakkan matanya dan refleks memegangi pinggang Arinta. Sebab istrinya itu yang duduk menghadap kearahnya dengan perut buncitnya sebagai penghalang. Dan menyebabkan ponsel mahal itu jatuh ke lantai dengan naas.


"Kalau jatuh tadi gimana?", Reagan melotot kearah Arinta.


"Enggak jatuh", jawab Arinta sekenanya, membuat Reagan tambah melotot kan matanya.


"Kamu-"


"Ngapain kamu minta Rain buat nyariin rumah minimalis?, kamu mau beliin buat selingkuhan kamu iya?", hardik Arinta.


Reagan memutar bola matanya jengah, "Katanya kamu gak suka dengan rumah ini, ya udah kita pindah besok", sahutnya datar.


"Bukannya gak suka, tapi-"


"Udah lah aku capek debat sama kamu", potong Reagan dan berniat menurunkan Arinta dari pangkuannya. Tapi cewek itu lebih dulu mengalungkan tangannya ke leher Reagan.


"Jangan marah", cicit Arinta dan mencium kening Reagan sekilas. Membuat Reagan terpaku sebelum Arinta mengelus lembut pipinya.


"Jangan marah Papi."


"Duduknya jangan kayak gini", ujar Reagan tidak menggubris ucapan Arinta.


"Enggak, maunya kayak gini", tolak Arinta dan menyandarkan kepalanya ke bahu Reagan.


Reagan menghela nafasnya. Arinta itu keras kepala banget.


"Kamu marah sama aku?", tanya Arinta kemudian dengan menatap kembali Reagan.


"Enggak", jawab Reagan singkat.


"Kamu marah sama aku. Maaf", Arinta menatap Reagan dengan mata yang berkaca-kaca, "Bukannya aku gak suka dengan hadiah kamu, tapi ini sedikit berlebihan buat aku. Aku ngerasa-"


"Ngerasa gak pantes?, kamu itu istri aku. Apapun yang aku punya, itu juga milik kamu. Udah aku bilang kan, kamu itu harus percaya ke diri kamu sendiri. Dan ini gak berlebihan, malahan kamu itu harusnya dapat lebih dari ini. Karena kamu udah relain masa muda kamu, buat aku dan anak-anak. Kamu pertaruhkan pendidikan kamu untuk keluarga kecil kita. Setiap mikirin perjuangan kamu yang gak sedikit, aku selalu minder. Apa sih yang udah aku kasih buat kamu, sampai kamu bisa bertahan dengan cowok yang bahkan belum bisa dewasa ini", ujar Reagan panjang lebar yang membuat Arinta tertegun.


"Aku sadar, aku bukan cowok sempurna, Rin. Kamu bisa dapat yang lebih dari aku, tapi aku-"


Cup


Arinta mencium bibir Reagan, membuat cowok itu bungkam dengan mata yang membelalak tak percaya.


"Aku gak butuh yang sempurna, yang aku butuhkan itu kamu. Bukan cowok lain. Aku minta maaf Reagan, belum bisa jadi istri yang pengertian. Jangan marah lagi, please", sahut Arinta setelah melepaskan ciumannya. Menatap Reagan dengan pandangan yang sayu.


Reagan menatap Arinta sebentar sebelum menarik tengkuk istrinya itu. Melanjutkan hal yang dilakukan oleh Arinta tadi. Jika kehidupan selanjutnya itu memang ada, maka Reagan ingin Arinta yang selalu menjadi istrinya di setiap kelahiran.


...~Rilansun🖤....