
...•••••••••••••••••••...
...Kalau enggak bisa dapetin apa yang lo mau, jangan ambil apa yang orang punya........
...•••••••••••••••••••...
...***...
Langit tampak mencekam dengan kegelapannya yang khas. Tak ada satu pun bintang yang bersedia menghiasi sang malam. Bulan pun tampak terbelah tertutup awan. Daun kering berjatuhan seiring kuatnya sang angin berhembus.
Sunyi, dingin dan gelap.
Arinta memeluk tubuhnya ketika rasa dingin itu menerpa kulitnya. Cewek itu sedang berdiri menatap langit malam dengan jendela kamar yang terbuka lebar. Membuat angin leluasa masuk memenuhi kamarnya.
Pikirannya kembali berkelana ke kejadian yang harus membuatnya bolos. Ya, tadi pagi setelah keluar dari kelas, Arinta memutuskan untuk pulang. Padahal Arinta itu adalah tipe orang yang paling takut dengan yang namanya alfa diabsensi. Tapi hari ini pengecualian, Arinta tak ingin menyakiti hati Gina dengan ucapannya jika ia tetap masuk hari ini dan Arinta juga tak ingin lagi mendengar sesuatu yang bisa membuat hatinya sakit. Menghindar adalah cara yang tepat daripada saling menyakiti.
Arinta terkekeh miris, "Kasihan", ujarnya mengulang kembali kalimat yang ia dengar tadi pagi.
Hanya sebatas rasa kasihan
Arinta memejamkan matanya menikmati sapuan angin diwajahnya. Rasanya ia ingin kembali menjadi kecil saja. Dimana dirinya bisa tertawa dan menangis kapan saja tanpa harus malu dengan orang sekitar. Menjadi dewasa sungguh sangat menyebalkan.
Ceklek
Arinta membuka matanya dan menoleh kebelakang menatap Saka yang masuk kedalam kamarnya dengan segelas susu ditangannya.
Saka menatap sejenak Arinta yang memandangnya sendu. Cowok itu terhenyak melihat tatapan Arinta yang menyiratkan kelelahan dan kepedihan. Saka tak suka dengan tatapan kakaknya itu. Ia meletakkan gelas ditangannya keatas nakas ketika Arinta kembali memalingkan wajah menghadap bulan yang telah tertutup sempurna dengan awan.
Saka mengambil selimut yang ada diatas kasur lalu berjalan menghampiri Arinta. Cowok itu menyampirkan selimut ke pundak kakak nya. Dan mencium lembut kepala belakang Arinta.
"Dingin", ujar Saka yang diangguki Arinta.
"Kenapa berdiri disini?, entar masuk angin."
Arinta tak menjawab bahkan tak menoleh sama sekali kearah Saka yang berdiri dibelakangnya.
Saka menghela nafas berat, "Setiap pertanyaan ada jawabannya. Setiap cobaan pasti ada hikmahnya. Semuanya pasti akan berakhir ketika waktunya. Jangan terpaku pada satu masalah dan mengabaikan yang lainnya", ujar Saka dengan lembut dan kembali mencium lembut puncak kepala Arinta.
Arinta menghela nafas dan menundukkan kepalanya, "Enggak semua pertanyaan ada jawabannya. Terkadang waktu pun enggan untuk membicarakannya. Membuat masalah itu berlalu tanpa ada titik terangnya", sahut Arinta membuat Saka tersenyum tipis. Berdebat dengan Arinta itu memang tidak akan pernah menang.
Saka tau kekalutan kakak nya sekarang bukanlah tentang Reagan. Tetapi tentang persahabatan mereka. Saka tadi ditelpon oleh Gina. Sahabat kakak nya itu menceritakan semua hal yang terjadi tadi pagi yang membuat Arinta memutuskan untuk bolos sekolah. Walaupun singkat tetapi Saka paham garis besar masalahnya.
"Simpati yang berlebihan terkadang bisa memberikan luka", Arinta menengadahkan tangannya menyentuh air hujan yang mulai turun.
Saka terdiam. Cowok itu paham jika Arinta bukan tipe orang yang suka dikasihani. Tetapi mengabaikan kebaikan yang diberi orang lain bukanlah suatu hal yang baik.
"Rasa kasihan. Kasihan?", Arinta kembali terkekeh miris. Entah mengapa ia merasa sentimentil ketika mengucapkan kalimat tersebut.
Saka membalikkan badan Arinta dan memeluk kakaknya erat, "Mau nangis?", Arinta menggelengkan kepalanya. Arinta sudah berjanji tidak akan lagi menangis bukan. Manusia yang dipegang itu janjinya. Jika Arinta mengingkari janjinya, maka Tuhan tidak akan lagi mempercayainya. Tetapi sikap Arinta yang sok tegar begini membuat Saka dan yang lainnya uring-uringan.
Arinta bukanlah orang yang mudah memendam masalahnya sendiri. Tetapi sekarang Arinta telah berubah.
Perubahan drastis yang membuat keluarganya miris.
Arinta memejamkan matanya dan membenamkan wajahnya kedada bidang Saka. Meratapi nasib persahabatan nya yang berada diambang kehancuran.
"Laily", gumam Arinta pelan menyebutkan nama sahabat yang entah bagaimana keadaannya sekarang. Mungkin tak jauh buruk dari Arinta atau lebih buruk.
Kapan semuanya berakhir......
...***...
"Woi! Jala*g! Berhenti lo!"
Arinta tersentak ketika mendengar teriakan yang berasal dari belakang tubuhnya. Ditambah dengan tatapan-tatapan yang mengerikan tertuju kepadanya. Namun, Arinta menggelengkan kepalanya. Menepis rasa takut itu. Mungkin saja ada orang lain yang berdiri dibelakangnya. Lalu cewek itu kembali berjalan dengan mengeratkan pegangannya pada tali tasnya.
"ARINTA ZARVISYA DELTAVA!"
Deg
Arinta mendadak menghentikan langkahnya. Ia kenal suara itu. Tetapi seperti ada rasa asing dengan teriakan tersebut. Dengan takut-takut Arinta membalikkan badannya. Melirik sekitar sebelum menatap seorang gadis yang berdiri satu meter didepannya.
Gadis itu menghampiri Arinta dengan senyum miring yang terpatri diwajahnya. Bisik-bisik memekakkan telinga sudah mulai terdengar saling bersahutan.
"L-laily?", Arinta menatap bingung kearah Laily yang berdiri dihadapannya dengan dua siswi yang berada dikedua sisinya. Arinta tak mengenal kedua orang itu.
Laily terkekeh mengejek, "Kenapa?, bingung?", tanyanya yang mengundang kerutan didahi Arinta. Laily mencondongkan tubuhnya kedepan dan berbisik tepat ditelinga Arinta "Atau lo merasa malu dan bersalah?."
Arinta terdiam. Hal yang ditakutinya telah terjadi. Bisakah Arinta bolos lagi hari ini.
Pengecut?, biarlah.
"Maksud kamu Lai?", Meskipun Arinta paham dengan arah pembicaraan Laily. Tetapi bisa saja ia salah praduga kan.
"L-laily", panggil Arinta pelan. Ia takut sekarang, sangat takut.
"Kenapa?, Malu karena udah khianati temannya atau malu karena udah hamil diluar nikah?!", bukan Laily yang menjawab tetapi seorang gadis yang berdiri disamping kiri Laily yang menjawab dengan sarkas.
Bianca Lauretta. Badgirl nya Allandra. Berurusan dengan cewek itu sama saja menggali kuburan sendiri. Nakal, judes dan sombong. Itulah sifatnya. Karena Ayahnya adalah salah satu donatur di Allandra membuat Bianca sering kali menindas murid-murid lemah dan miskin.
"Hamil?"
"Astaga, enggak nyangka gue."
"Jalang!"
"Alah, nampaknya aja yang polos, asli nya liar."
"*****!"
"Lacur, huuuuu!"
Mereka saling berseru menghina Arinta dengan tangan yang melempari gumpalan tisu dan kertas kearah Arinta.
"L-laily.......", panggil Arinta dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Ia tak pernah menyangka sekalipun Laily akan memalukannya didepan umum begini.
"Seorang selir mencoba untuk merangkak menjadi permaisuri. Oh, atau gue salah. Sebenarnya lo sama sekali enggak punya status apa pun. Jadi mencoba untuk menggoda Raja biar dapat status. Dasar cewek penggoda!, Jala*g!", ujar Diva Geraldine. Cewek yang berdiri disamping kanan Laily.
Arinta memejamkan matanya. Bukan, ia bukan seorang penggoda.
Laily yang sedari tadi diam, menatap tajam kearah Arinta yang menatapnya sendu, "Penggoda!", desis Laily sinis.
Deg
Arinta mematung. Dadanya terasa seperti dihantam dengan palu godam. Sesak, nafasnya berhembus secara tidak beraturan. Matanya panas. Tangannya gemetar. Ia takut dan malu. Arinta menutup kedua telinganya dan matanya dengan mereka yang masih melempar gumpalan tisu dan kertas.
"Jalang enggak ada har—"
"BIANCA!", teriakan seseorang menginterupsi mereka. Seluruh atensi mengarah kearah seorang siswi yang berdiri murka diujung koridor. Mereka yang tadi melempari Arinta sontak ketakutan ditempatnya melihat Gina yang berjalan dengan aura yang sangat mencekam. Salah mereka yang tidak berpikir terlebih dahulu, padahal mereka tau jika Arinta adalah sosok yang sangat dilindungi oleh seorang Gina Taniara Atmaja.
Plak
Semua orang yang ada dikoridor refleks menutup mulutnya ketika Gina menampar dengan keras wajah Bianca.
"Jalang jangan teriak jalang!, Sampah!", teriak Gina tepat didepan wajah Bianca.
Bianca yang tak terima lantas menunjuk Gina dengan marah, "Lo!"
"Apa?", Gina mengangkat dagunya, "Mau keluarin gue dari sekolah ini?, Lo yang bakal gue keluarin dari sekolah ini!"
Bianca diam. Ayah nya bukanlah apa-apa jika dibandingkan dengan orang tua Gina.
"Kenapa diam?, Malu karena udah nindas orang atau malu karena udah sok kaya. Uang dari rakyat aja bangga!", ketus Gina membuat mereka semua diam. Ya, profesi Ayah Bianca memang adalah seorang pejabat.
Bianca menatap nyalang Gina. Namun, bukan Gina namanya jika tidak membalasnya dengan tajam. Reagan yang notabenenya adalah sepupu nya saja bisa ia lawan. Apalagi ini, hanya seorang gadis yang mengandalkan nama belakang dan kekuasaan Ayahnya.
Gina mengalihkan pandangannya kearah Laily. Ia bisa merasakan betapa terpuruknya gadis itu. Terlihat dari kantung matanya yang besar dan menghitam. Biasanya Laily akan uring-uringan jika penampilan nya berantakan. Tetapi hari ini beda, Gina seperti melihat orang yang berbeda.
"Gue enggak percaya lo bisa lakuin hal serendah ini. Ngebully didepan orang banyak?, childish banget sih lo", sinis Gina.
Laily terkekeh mengejek, "Gue lebih enggak percaya sama kawan lo ini", tunjuknya kearah Arinta yang masih menutup kedua mata dan telinganya, "Tampangnya aja yang polos, tapi sifatnya liar. Dan gue lebih enggak nyangka ternyata dia tipe orang yang suka makan teman!, Sampah!", sarkas Laily menatap rendah kearah Arinta.
Gina mengepalkan tangannya. Jika saja tidak mengingat jika yang dihadapannya adalah orang yang pernah berbagi cerita kepadanya. Mungkin Gina sudah memukuli Laily sedari tadi.
"Ternyata gue salah menilai lo selama ini. Dua tahun rupanya belum cukup untuk mengenali karakter seseorang. Penggoda yang lo bilang ini", Gina berbalik dan menatap Arinta lalu kembali menatap Laily, "Setidaknya lebih baik daripada penjilat yang ada disamping lo itu. Dan cewek penggoda yang lo bilang ini, adalah cewek yang lebih bermartabat daripada lo semua!, Gue ingetin ke kalian semua jangan pernah ganggu Arinta!, Kalau sampai gue tahu. Siap-siap lo semua hengkang dari Allandra. Karena Allandra enggak butuh murid sampah kayak kalian semua", ujar Gina tanpa mengalihkan tatapannya dari Laily.
Gina berbalik kearah Arinta dan memeluk sahabatnya yang tengah bergemetar ketakutan.
"Sssst. Gue disini, enggak ada lagi yang bakal berani gangguin lo", bisik Gina lembut sambil melepaskan tangan Arinta yang menutupi kedua telinganya.
"A-aku bukan penggoda", racauan Arinta yang membuat Gina terhenyak.
"Iya lo bukan penggoda. Rinta itu cewek yang paling baik didunia ini", ujar Gina membuat Arinta mendongak menatapnya.
"Serius?"
Gina mengangguk dan tersenyum tipis, "Iya, serius."
Gina mendekap tubuh Arinta dari samping dan membawanya berjalan pelan kearah kelas mereka.
"Kalau enggak bisa dapetin apa yang lo mau, jangan ambil apa yang orang punya", teriak Laily membuat Gina dan Arinta menghentikan langkahnya. Namun sedetik kemudian Gina kembali menuntun Arinta untuk segera keluar dari kerumunan orang-orang yang dapat merusak mental Arinta secara perlahan.
Laily menatap sendu kearah punggung kedua sahabatnya yang sudah menjauh, "Gue yang luka. Sakit, dan kalian malah balik nusuk gue dengan segala pecahannya", gumam Laily pelan.
...~Rilansun🖤....