
...•••••••••••••...
...Jangan menangis, karena perpisahan bukan lah akhir dari segalanya......
...•••••••••••••...
...***...
Arinta menutup pintu lemari nya setelah meletakkan semua pakaian yang sudah dilipat. Lalu mata nya menatap kearah ponsel diatas kasur yang bergetar. Menandakan jika ada sebuah panggilan masuk.
Dengan sigap Arinta mengambilnya dan melihat siapa gerangan yang menelponnya. Seperkian detik mata Arinta dibuat melotot ketika melihat nama yang tertera dilayar ponsel.
Laily.
Nama itu tertampang jelas. Membuat Arinta bimbang antara ingin mengangkatnya atau tidak. Mengingat jika hubungan nya dengan Laily sudah tidak baik seperti dulu. Namun setelah mengambil dan membuang nafas berulang kali. Arinta dengan gugup menggeser ikon hijau yang ada di ponsel seraya mendekatkan benda tersebut ke telinga.
"Ha-halo", Arinta membuka suara terlebih dahulu dengan gagap. Sumpah tangan nya sangat bergetar sekarang. Sehingga cewek itu memegang ponsel dengan kedua tangan. Takut jika tiba-tiba tergelincir.
"Holla Arin"
Arinta mematung. Apakah Laily sedang kesurupan sekarang. Mengapa cewek itu terdengar tidak lagi marah kepadanya. Apakah selama ini masalah yang ada hanya lah halusinasi Arinta semata.
"Arin!"
"Ah", Arinta tersentak mendengar teriakan Laily diseberang sana.
"Lo lagi ngapain sih Rin?, kok kayak orang bingung gitu, lagi mikirin hutang lo ya."
Mendengar itu Arinta tertawa pelan seraya memejamkan matanya membuat air matanya luruh seketika. Ini seperti mimpi untuknya. Apakah benar sahabatnya telah kembali. Apakah Laily tidak lagi marah kepadanya. Ia masih takut saat melihat pandangan membunuh yang sering ia lihat dimata Laily ketika mereka bertemu. Apakah ini nyata. Jika mimpi, tolong jangan bangunkan dirinya. Biarkan Arinta merasakan sedikit lagi kehangatan itu walau hanya sebentar.
"L-laily?, ini beneran kamu?", tanya Arinta memastikan. Cewek itu terus menghapus air matanya yang turun. Rindu, ia sangat rindu kepada si pemilik mulut ceplas ceplos tersebut.
"Enggak, ini pocong yang ada di perempatan jalan. Ya iyalah ini gue, lo kira siapa?, Selena Gomez?, iya sih suara gue emang mirip sama dia."
Arinta terisak seraya tertawa. Benar, itu adalah Laily. Cewek yang menganut prinsip bangun pagi itu bukan gosok gigi tapi pakai make-up terlebih dahulu.
"Lah kok nangis?, gue kan belum nyanyi."
"Lai, ka-kamu udah enggak marah?", tanya Arinta tiba-tiba membuat Laily terdiam. Arinta menggigiti kukunya dengan gusar. Merutuki mulutnya yang bertanya tanpa melihat kondisi.
"Gue marah, gue marah sama diri gue sendiri. Kenapa gue malah ninggalin lo disaat masa-masa terpuruk. Dan lebih parahnya gue juga ikutan nambah garam diatas luka lo. Lo tau Rin, sebenarnya gue nangis pas lihat lo natap takut kearah gue", sahut Laily setelah lama terdiam. Arinta tidak bisa lagi menahan isakan nya. Cewek itu menangis sekuat-kuatnya membuat Sinta datang menghampiri nya.
"Ma-maaf."
"Gue yang minta maaf Rin. Gue udah kasar sama lo. Gue yang egois mikirin perasaan sendiri, tanpa tau lo yang udah terluka. Mungkin gue sakit secara mental, tapi lo sakit secara mental dan fisik. Jujur, gue kehilangan Rin. Gue merasa enggak punya disaat lo dan Gina jauhin gue. Perasaan itu lebih sakit disaat tau kalau Reagan udah khianatin gue."
Laily terdengar mengambil nafas sejenak.
"G-gue sayang lo Rin. Gue nyesal karna udah buat lo nangis. Benar kata Gina, lo itu adalah anak TK yang masuk SMA. Digertak dikit aja nangis", Laily tertawa dengan suara yang serak. Arinta tak mampu membuka mulutnya. Suaranya seakan tercekat di tenggorokan. Air matanya turun seperti bendungan yang pecah.
"Rin, lo mau maafin gue?."
"Laily", panggil Arinta pelan, "Kamu dimana?, aku mau peluk."
Mendengar hal itu Laily tidak lagi bisa menahan tangisannya. Lihat lah, betapa polosnya Arinta itu. Udah dijahatin tapi masih aja mau memaafkan.
"E-enggak usah peluk ya Rin. Soalnya gue jauh, gue cium aja mau?", tawar Laily lalu setelah itu terdengar suara kecupan dari seberang sana.
"Kamu mau kemana?, kamu enggak lakuin hal gila kan Lai?", Arinta menatap cemas layar ponselnya yang masih menyala.
Laily tertawa, "Lakuin hal gila kayak gimana?, mulung?, nyopet?, atau ngepet?", canda nya membuat Arinta berdecak. Cewek itu selalu bisa merusak suasana.
"Aku serius Lai!"
"Jangan serius-serius lah. Yang serius aja belum tentu bisa kepelaminan", balas Laily yang terdengar seperti curhat.
"Hahaha, gue enggak ngelakuin hal gila kok. Cuma gue mau pergi Rin, mungkin kita enggak bisa jumpa lagi untuk waktu yang dekat."
Arinta kembali bertanya cemas, "Ka-kamu mau kemana?, jangan buat aku takut Lai."
"Santai Rin, elah. Gue masih belum siap kali jumpa malaikat Izrail. Sadar kok gue, sadar kalau dosa masih banyak. Gue cuma ikutan bokap pindah Rin. Nyari suasana baru sama cinta baru. Mana tau gue jumpa dengan bule yang lebih ganteng dari Reagan", ujar Laily dengan kekehan pelan diakhir kalimatnya.
"Lai, aku sungguh-sungguh minta maaf sama kamu. Walaupun bukan ini yang aku mau, tapi aku merasa bersalah. Karena kalau ini enggak terjadi, mungkin kamu udah tunangan. Aku minta maaf Laily. Jangan benci aku lagi, please", sahut Arinta dengan Sinta yang mengelus pelan punggung putrinya. Sedari masuk tadi Sinta belum ada membuka suaranya. Ia memberikan waktu untuk kedua sahabat itu berbicara dengan tenang terlebih dahulu.
Sinta menolehkan kepalanya kebelakang ketika mendengar suara ribut-ribut didepan pintu kamar. Lalu ia melemparkan bantal kepada ketiga laki-laki yang tengah berdebat itu. Sontak hal tersebut membuat Deri, Saka dan Raka balik kanan secara teratur.
"Gue juga minta maaf Rin. Gue janji apa pun kondisinya gue bakal tetap ada untuk lo. Cukup sekali gue udah berdosa banget buat anak TK nangis. Enggak untuk kedua kali nya", ejek Laily yang lagi-lagi merusak suasana.
"Semoga lo bahagia Rin", Laily berujar dengan nada yang berat. Sulit emang melepaskan seseorang yang kita cintai untuk sahabat kita sendiri. Mungkin Ardean benar, kalau Reagan dari awal bukanlah jodohnya. Ia hanya lah toko yang disinggahi Reagan sebentar. Sebelum cowok itu benar-benar pulang kerumahnya.
"Kamu juga harus bahagia Lai."
"Pasti. Eh, denger-denger lo belum terima lamaran Reagan Rin?"
Arinta hanya bergumam pelan. Malas untuk membicarakan si setan tersebut.
"Cepat terima Rin. Ponakan gue butuh status. Kalau enggak lo terima, gue ambil tuh baby pas udah lahir", ujar Laily sebisa mungkin untuk normal. Karena berat cuy, nyuruh mantan tunangan untuk cepat-cepat nikah dengan sahabat sendiri.
Ambil aja, ikhlas kok, gumam Arinta dalam hati.
"Laily, kapan aku bisa peluk kamu lagi?", tanya Arinta mengalihkan topik. Tapi jujur, Arinta memang sangat merindukan Laily. Pernah pada saat itu Arinta ingin sekali memeluk Laily. Tapi pada waktu itu mereka sedang tidak akur. Jadi tidak mungkin Arinta tiba-tiba memeluk Laily tanpa sebab. Yang ada gadis itu akan semakin membenci dirinya.
"Gue pun enggak tau Rin, tapi gue janji sama lo. Pas lo lahiran gue mau ada disamping lo Rin. Gue mau genggam tangan lo disaat lo sedang mempertaruhkan nyawa. Intinya gue mau nemenin lo Rin. Itung-itung penebusan dosa", Laily tertawa pelan.
"Kamu janji ya. Kalau ingkar entar kuburan nya berlubang loh."
"Buset, itu kuburan atau sumur", canda Laily, "Iya-iya gue janji. Udah dulu ya Rin, dipanggil bokap nih."
Arinta diam. Cewek itu tidak menyahut sama sekali, ia tak rela jika percakapan mereka harus ditutup sekarang juga. Arinta masih ingin melepas rindunya.
"Gue sayang lo Rin. Selalu bahagia dan jaga kesehatan. Karna kalau lo sakit enggak akan ada gue yang bakal makan kue yang dikasih-kasih orang."
"A-aku juga sayang sama kamu. Selalu bahagia, jangan berubah karna suatu hal. Tetap jadi diri sendiri. Selamat ulang tahun Laily", balas Arinta
"Kalau lo doain, gue pasti bahagia. Makasih dan maaf karena kejadian tadi malam. Daa Rinta, see you next time my bestie"
Arinta membekap mulutnya. Cewek itu melemparkan ponselnya yang masih terhubung diatas kasur. Memeluk Sinta yang duduk disampingnya.
"Arin cuma mau peluk bentar Bu. Tapi kenapa Laily enggak mau?, dia masih marah sama Arin, iya kan Bu", celoteh Arinta.
"Enggak kok. Dia kan udah bilang kalau hari ini dia mau pindah. Dia juga janji kan bakal balik pas kamu lahiran", ujar Sinta mencoba menenangkan bumil yang sedang dalam masa sensitif-sensitifnya itu.
"Jangan nangis, perpisahan bukan akhir dari segalanya, bisa saja menjadi sebuah awal yang baru nantinya", tambah Sinta lagi.
Arinta terdiam. Pikirannya kembali melalang buana dihari ulang tahun Laily kemarin. Disaat ia ingin mengucapkan selamat ulang tahun Laily justru membalasnya dengan berkata.
"Lo jangan bangga dulu. Sekarang kita lihat, siapa yang bakal dia pilih. Kalau dia milih lo, gue bakal ikhlas seikhlas-ikhlas nya."
Dan setelah itu Arinta melihat Bianca yang berjalan kearah mereka berdua. Mendorong Laily dan dirinya untuk jatuh kedalam kolam berenang.
Sekarang Arinta paham, Laily melakukan itu semata hanya mencoba memastikan kalau Reagan benar-benar sudah melupakannya atau belum.
Daa Laily, see you next time my sister, batin nya seraya melihat foto Laily yang berada diatas meja belajarnya.
...~Rilansun🖤....