
...••••••••••••••...
...Kebahagiaan cewek itu simpel, dia ingin dicintai tanpa harus ada yang kedua......
...••••••••••••••...
...***...
Reagan mengernyitkan keningnya saat telinganya dengan samar-samar menangkap suara seperti orang yang tengah menangis. Tapi tidak berapa lama suara itu sudah hilang. Membuat Reagan menggelengkan kepalanya. Dari kecil Reagan diajarkan oleh Xavier untuk tidak percaya akan hal-hal seperti itu. Ayahnya itu bilang enggak ada yang namanya hantu di dunia ini, itu adalah jin yang menyerupai manusia yang telah meninggal hanya untuk menakut-nakuti umat manusia.
Sejak saat itu, kata-kata Xavier itulah yang selalu dipegangnya.
Tak ingin memusingkan hal tersebut, Reagan lantas kembali melanjutkan kegiatannya memotong buah-buahan untuk Arinta makan.
"Hiks."
Reagan tersentak dan menatap kearah pintu dapurnya yang tidak ada siapapun. Lalu beralih menatap menyeluruh dapur yang hanya ada dirinya seorang.
"Hantu itu gak ada, tapi beda konsep kalau Riko yang meninggal", gumam Reagan meyakinkan dirinya. Lalu cowok itu membawa mangkuk besar berisi segala macam buah yang telah dipotongnya dan berjalan keluar dari dapur.
Untuk beberapa saat suara isak tangis itu tak lagi terdengar. Namun beberapa detik kemudian suara itu terdengar lagi, dengan lebih kencang.
"HUWAAAA."
Reagan menghentikan langkahnya. Terdiam sejenak sebelum berjalan cepat kearah ruang keluarga. Suara itu, Reagan sangat mengenalnya. Itu bukan suara hantu atau semacamnya. Tapi itu adalah suara istrinya yang tengah duduk di depan televisi dengan air mata yang bersimbah.
"Kenapa sayang?", tanya Reagan dengan khawatir sambil menangkup wajah Arinta. Melihat seluruh tubuh istrinya itu, memastikan jika tidak ada yang terluka. Dan melihat kearah perut Arinta, takut jika anaknya ingin keluar sebelum waktunya.
Reagan lantas menghela nafas lega saat melihat jika perut buncit itu masih aman disana. Dan tubuh Arinta pun tidak ada yang terluka. Lalu kenapa istrinya itu menangis?. Apa cewek memang seperti itu?, menangis dan tertawa tanpa sebab.
"Huwaaa, Reagan", Arinta memeluk Reagan. Membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya. Membuat kaos berwarna hitam yang dikenakan Reagan basah terkena air matanya.
"Bunda kenapa, hm?", Reagan mencium puncak kepala Arinta berkali-kali. Menghirup aroma rambut cewek itu yang harum.
"Hiks, itu suaminya jahat", lirih Arinta membuat Reagan refleks melirik kearah televisi yang menyajikan sinetron yang suaminya memiliki lebih dari satu istri. Reagan mendengus, sudah berapa kali ia melarang Arinta untuk tidak lagi menonton sinetron seperti itu. Karena jika cewek itu sudah menontonnya, maka akan banyak pertanyaan yang membuat kepala Reagan terasa ingin meledak seketika.
Reagan kamu punya rencana poligami?, Reagan kamu gak akan ninggalin aku kan?, Reagan kenapa cowok itu jahat banget?. Segala macam pertanyaan akan ditanyakan oleh istrinya itu.
Harus bagaimana lagi Reagan agar istrinya itu menonton tontonan yang baik. Sepertinya besok Reagan akan mengganti semua film dengan kartun. Ya, itu setidaknya lebih baik dari drakor dan sinetron.
"Emang kenapa suaminya?", tanya Reagan sembari menggendong Arinta dan mendudukkan tubuhnya keatas sofa dengan Arinta yang berada diatas pangkuannya.
"Kalau dia bosan tuh seharusnya jajan diluar, jangan nikah lagi, kan kasihan Istrinya. Hiks, semua laki-laki itu emang berengsek", ujar Arinta sambil menatap layar tv dimana istrinya tengah menangis melihat suaminya dengan cewek lain. Lalu bumil satu itu kembali menyembunyikan wajahnya kedalam pelukan Reagan.
Calon Ayah itu mendengus, ingin sekali Reagan menghancurkan benda berukuran 80 inchi tersebut. Karena menonton sinetron itu Arinta menganggap kalau semua laki-laki itu bejat.
"Kalau gitu aku boleh dong jajan diluar?", tanya Reagan asal seraya mematikan televisi.
Arinta refleks mendongak menatap Reagan, "Kamu udah bosan dengan aku?, iya Reagan?", lirihnya yang membuat cowok itu gelagapan.
"Eh, enggak kok sayang. Masih cinta kok aku sama kamu, mana bisa aku bosan dengan kamu. Cinta aku untuk kamu itu enggak ada tanggal kadaluarsanya. Awet terus sampai ajal menjemput", sahut Reagan sambil mencium kedua pipi Arinta.
"Serius?", Arinta menatap Reagan dengan pandangan sayu.
Reagan mengangguk dan mencium bibir Arinta singkat. Membuat cewek itu tersenyum lalu bangkit dari atas pangkuan suaminya.
"Ya udah, ayo", ujar Arinta membuat Reagan memasang wajah cengo nya.
"Hah?, ayo kemana?", tanya Reagan bingung. Padahal mereka tidak memiliki rencana untuk keluar malam ini. Reagan menyelesaikan semua pekerjaan nya agar Arinta tidak lagi cemburu dengan laptop dan berkas-berkas tersebut. Jadi Reagan memberikan waktunya di malam hari sepenuhnya hanya untuk ibu dari anak-anaknya itu.
"Tadi katanya mau jajan, ayo aku ikut", jawab Arinta seraya menarik tangan Reagan untuk berdiri. Namun cowok itu tetap tidak beranjak dari duduknya.
Reagan menatap tak percaya istrinya itu. Apakah Arinta benar-benar mengizinkannya untuk jajan di luar?.
"Rin?, kamu beneran?."
Arinta memutar bola matanya jengah, "Emang kamu pikir aku bercanda?, Ya iyalah serius. Ayo, aku lagi pingin sate kambing nih", sahutnya.
"Hah?, maksud kamu enggak jajan gituan?."
Lalu Reagan memejamkan matanya sejenak sebelum menatap kembali Arinta yang sedang menatap bingung kearahnya.
"Emangnya tadi kenapa suaminya bisa nikah lagi?, hm?", Reagan menarik tangan Arinta yang membuat cewek itu kembali jatuh keatas pangkuannya. Dan memasukkan satu potong buah apel kedalam mulut Arinta.
"Karena dia udah bosan sama masakan istrinya", jawab Arinta polos dengan mulut kecilnya yang mengunyah, "Ish, tapi aku kesel, padahal dia kan bisa beli makanan diluar kalau bosan dengan masakan istrinya. Tapi kenapa harus nikah lagi?", tambah Arinta sambil memakan buah melon yang disuapkan oleh Reagan.
"Eh, tunggu dulu, maksud kamu dengan jajan gituan apa?", tanya Arinta merasa ada yang ganjal, lalu sedetik kemudian mata yang tadinya menatap polos kini berubah menjadi tatapan tajam yang mematikan. Membuat Reagan menelan saliva nya susah payah. Ia yang salah, seharusnya Reagan ingat kalau istrinya itu adalah anak TK yang beranjak dewasa. Jadi apa yang dipikirkan oleh Arinta sedikit berbeda dengan apa yang dipikirkannya.
"Reagan!, kamu pernah jajan gituan?", tanya Arinta dengan serius.
Reagan langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Serius!", ketus Arinta.
"Enggak pernah, cuma Revo doang yang sering", sahut Reagan ketar-ketir. Jangan sampai ia tidur di luar malam ini.
Arinta menatap mengintimidasi Reagan, "Awas ya kamu Reagan kalau ketahuan jajan-jajan kayak gituan diluar. Aku pecat kamu jadi suami."
"Eh, jangan dong sayang. Aku enggak pernah kok jajan yang kayak begituan. Sumpah", ujar Reagan dengan menatap cemas Arinta. Takut istrinya itu salah paham lagi. Arinta kalau sudah salah paham akan sangat menyeramkan. Cewek itu tidak akan mau mendengarkan penjelasan apapun kalau tidak dipaksa.
Arinta mendengus, ia yakin jika Reagan bukan tipe cowok yang seperti itu, "Lagipula jajan diluar itu gak sehat. Lebih baik yang dirumah aja", sahutnya yang membuat Reagan tersenyum miring.
"Kode nih Bun?", tanya Reagan sambil mencium ujung hidung bangir Arinta.
"Kamu enggak mau?."
"Mau lah, yang dirumah higienis terus gratis, kalau yang diluar mah bayar, mahal lagi", balas Reagan yang langsung mengutuk mulutnya ketika melihat mata Arinta yang kembali melotot menatapnya.
"Kok kamu tau?. Huwaa, Reagan kamu pasti pernahkan. Jujur sama aku!."
"Enggak sayang, itu aku tau dari Revo. Percaya deh, hati dan tubuh aku semuanya milik kamu", ujar Reagan yang membuat Arinta mendengus. Kenapa mulut anak Bunda Renata itu sangat manis jika bersamanya. Tapi akan sangat pedas bila bersama orang lain. Bahkan Renata pun kewalahan jika harus berbicara dengan Reagan.
"Gembel", gumam Arinta pelan.
"Apa sayang?", tanya Reagan saat tidak mendengar jelas apa yang dibilang oleh Arinta.
"Enggak ada", jawab Arinta lalu mengalungkan tangannya kearah leher Reagan, "Jangan pernah khianatin aku ya. Cewek itu rapuh Reagan, dan cewek itu juga seorang penipu ulung. Ia akan terlihat tegar di depan banyak orang, tapi ia akan menangis sekuat-kuatnya disaat malam hari. Agar gak ada yang melihat kesedihannya. Cewek itu enggak mau dianggap lemah, makanya dia pura-pura sok tegar. Aku pribadi, sebagai perempuan aku paling anti yang namanya dikasihani. Terlebih dengan cowok", ujar Arinta.
"Makanya kamu nentang pernikahan kita waktu itu?, kamu pikir aku kasihan sama kamu yang lagi mengandung?", sahut Reagan yang dibalas Arinta dengan menganggukkan kepalanya.
"Aku gak mau dipandang rendah. Kebahagiaan cewek itu simpel, dia ingin dicintai tanpa harus ada yang kedua. Terdengar egois emang, tapi itulah cewek. Sebab cewek itu mencintai dengan hatinya bukan logika. Makanya pas cewek diputusin, dia bakal nekat ngelakuin apapun. Beda dengan cowok, mungkin besoknya dia langsung gandeng yang baru. Dan juga hanya sedikit perempuan yang ikhlas suaminya dibagi. Dan aku bukan bidadari seperti itu", tambah Arinta dengan mengelus rambut Reagan.
"Dan aku juga bukan cowok yang bisa membimbing banyak wanita. Cukup satu, kamu", Reagan tersenyum membuat Arinta memukul pelan pipi suaminya itu.
"Tapi banyak kok cewek yang punya cowok banyak", celetuk Reagan.
"Kamu tau Reagan, cewek yang kayak gitu adalah makhluk yang paling berbahaya. Sebab mereka udah gak punya hati. Mereka menutup rapat-rapat hatinya untuk cinta. Mungkin mereka tersakiti terlalu dalam, sampai hatinya gak bisa diselamatkan", sahut Arinta seraya menatap miris mata Reagan. Membayangkan betapa malangnya wanita seperti itu. Tidak percaya lagi dengan cinta.
"Bijak banget sih Bunda, jadi enggak nih?", Reagan mendusel kearah leher Arinta yang terpampang jelas karena rambut cewek itu yang dicepol keatas.
"Hah?, jadi apa?, mau kemana emang?", tanya Arinta bingung.
"Katanya gak boleh jajan diluar. Jadi nyicip yang dirumah boleh kan?", gumam Reagan sambil menciumi leher istrinya.
Blush
Arinta merasa wajahnya panas seketika. Jantungnya berdegup dengan kencang. Bibirnya tak tahan untuk tersenyum.
Merasa tak ada respon, Reagan lantas mendongak menatap Arinta. Tersenyum ketika melihat pipi istrinya yang sedang merona.
"Bunda", panggil Reagan serak seraya mengelus lembut pipi Arinta.
"Sebentar aja tapi", balas Arinta pelan lalu memeluk erat leher suaminya. Merebahkan kepalanya di pundak lebar Reagan.
"Siap, komandan!", seru Reagan semangat dan menggendong tubuh wanitanya sambil berjalan kearah kamar mereka berdua.
...~Rilansun🖤....