
...•••••••••...
...Ketika rasa peduli disalah artikan.......
...•••••••••...
...***...
Arinta berdiri dihadapan mereka semua dengan menatap garang Ayah nya yang sama sekali tidak menoleh kearahnya.
"Ayah!, bukan nya Ayah udah janji sama Arin, enggak bakal paksa Arin untuk menikah kalau Arin pertahanan anak ini", ujar Arinta dengan suara yang meninggi. Tubuhnya terasa bergetar, kaki nya lemas. Sebab ini pertama kali nya ia berbicara dengan nada tinggi seperti itu dihadapan kedua orang tuanya dan ia sangat merasa berdosa. Ya Tuhan, ampuni lah dosanya.
"Ayah enggak ada janji sama kamu. Ayah cuma bilang kalau kamu pertahanan anak itu, maka Ayah akan dukung semua keputusan kamu. Dan kalau sekarang kamu mau nolak lamaran dia, ya silahkan. Itu hidup kamu Arin, Ayah udah enggak bisa ikut campur. Karena kamu bukan lagi Arin Ayah yang berusia lima tahun. Sebentar lagi kamu bakal jadi seorang ibu", sahut Deri dengan suara yang memelan di akhir kalimat. Mengingat Arinta kecil yang dulu duduk dipangkuan nya. Dalam waktu beberapa bulan lagi, Arinta kecil itu pun akan memangku anak nya sendiri. Waktu terlalu cepat berputar. Sangat singkat dan berkesan.
Arinta terhenyak. Menatap terluka kearah Deri yang menunduk. Baru kali itu Arinta melihat Ayah nya menunduk dihadapan orang lain. Dan itu semua karena dirinya. Ia sudah memalukan kedua orang tuanya.
"Maaf kan Arin Ayah", gumam nya lalu menatap kearah Reagan beserta orang tua nya.
"Maaf Tante, Om. Tanpa mengurangi rasa hormat, saya menolak lamaran anda sekeluarga", ujar Arinta sopan.
"Arin....", Reagan memanggil Arinta yang membuat cewek itu menatapnya. Dari tatapan nya Arinta bisa paham kalau Reagan tak terima akan penolakan nya.
Arinta menggelengkan kepalanya, "Pernikahan udah dalam urutan terakhir dari list kehidupan aku Reagan."
"Kalau gitu kemarin kenapa kamu mau jagain aku semalaman suntuk?"
Arinta tersenyum samar. Sekarang ia mengerti kenapa Reagan bisa berpikiran untuk bertanggung jawab kepadanya. Ternyata cowok itu telah salah paham dengan maksud rasa pedulinya kemarin malam.
"Itu karena aku masih manusia. Kalau aku iblis kayak kamu, mungkin tadi malam udah jadi malam terakhir kamu menghirup napas", ujar Arinta yang membuat Deri menatap tak percaya putrinya. Tatapan mata dan gaya bicara Arinta sekarang mengingatkan nya kepada seseorang. Mereka terlihat sangat mirip, namun berbeda versi.
"Kamu jangan egois Arinta!, anak kita juga butuh status yang jelas", bentak Reagan menyulut api emosi dihati Arinta.
"Asal kamu tahu Reagan. Kenapa anak ini bisa bertahan sampai sekarang itu cuma karena Ayah. Ayah yang minta aku buat lahirin anak haram ini. Enggak ada sangkut pautnya sama kamu. Dan Ayah juga yang bakal ngerawat dia, biar aku bisa capai cita-cita yang aku impikan", teriak Arinta.
"Arin!", bentak Reagan berdiri dari duduknya ketika mendengar anaknya yang dipanggil sebagai anak haram. Harga dirinya sebagai orang tua merasa terluka.
"Apa?, mau marah?, punyak hak?", Arinta menyunggingkan sudut bibirnya.
"Jangan sebut dia anak haram. Mungkin cara dia hadir salah, tapi dia bukan anak haram", ujar Reagan dengan suara yang lebih pelan. Akhir-akhir ini Reagan baru dapat memahami satu sifat Arinta, yaitu cewek itu akan keras jika kita juga keras terhadap nya.
"Jadi sebutan untuk anak diluar nikah apa selain anak haram?, hah?", teriak Arinta dengan air matanya yang ikut turun. Air mata yang dari tadi ditahannya. Kesal, marah, benci, dan sedih. Perasaan campur aduk yang bercongkol didalam hatinya yang turun menjadi air mata. Sebab kata-kata tidak lagi bisa mengutarakan semuanya.
Renata berdiri mencoba menghampiri Arinta yang menangis, "L-leta", panggilnya pelan.
Arinta menoleh, "Berhenti Tante!, jangan panggil saya Leta, nama saya Arinta. Saya enggak kenal Leta yang sering Tante sebut itu", ujarnya frustasi. Sebab wanita itu selalu memanggilnya dengan sebutan Leta.
Reagan yang melihat itu pun lantas menarik tangan Arinta, "Saya izin bawa Arin keluar sebentar", ujarnya dan berjalan keluar dari rumah. Meninggalkan ketegangan yang terjadi diruang tamu.
"Lepasin!, kamu mau bawa aku kemana?!", Arinta berusaha melepaskan cekalan tangan Reagan di tangan nya.
Bukan nya menjawab, cowok itu malah memaksa Arinta untuk masuk kedalam mobilnya.
"Masuk!", titah Reagan ketika melihat Arinta yang menolak masuk.
Arinta menolehkan wajahnya kesamping, "Enggak mau."
"Masuk enggak?", tanya Reagan mencoba bersabar.
"Enggak budeg", Arinta menekankan setiap kalimatnya seraya melototkan matanya didepan wajah Reagan.
"Keras kepala", Reagan memanggul Arinta dipundak nya dan mendudukkan cewek itu dikursi samping kemudi dengan pelan. Membuat Arinta berteriak histeris.
"Dasar susah diatur", gumam Reagan seraya memasangkan sabuk pengaman. Membuat Arinta menahan nafasnya. Cowok itu terlalu dekat.
Reagan tersenyum tipis lalu mengitari mobilnya dan duduk dikursi kemudi.
"Kamu mau bawa aku kemana?, awas macem-macem, aku bunuh enggak takut emang?."
Reagan terkekeh pelan, ada orang mau bunuh bilang-bilang.
"Enggak", jawab Reagan singkat.
Arinta mendengus dan membuang pandangannya kesamping jendela. Cowok itu gila, marah tiba-tiba, tertawa pun juga tiba-tiba. Laki-laki kok moody-an.
"Arin, tatap aku", ujar Reagan membuat Arinta menatap Reagan dengan pandangan bertanya. Namun sedetik kemudian Arinta merasa speechless ketika Reagan menghapus jejak air mata di pipinya.
"Cengeng. Apa-apa nangis, kalau marah itu dikeluarin aja. Jangan dipendam, sok kuat", omel Reagan yang terdengar mirip seperti Sinta ketika mengomeli nya.
"Gara-gara kamu", Arinta menepis tangan Reagan dan kembali menoleh kearah jendela.
Reagan terdiam, cowok itu menatap Arinta sebentar lalu mulai menjalankan mobilnya. Tidak ada yang membuka suara selama perjalanan. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Hingga mobil berhenti disebuah taman kota.
"Turun", ujar Reagan sembari membuka sabuk pengamannya dan turun dari mobil.
Arinta menuruti Reagan untuk turun. Walau ada rasa was-was ketika melihat Reagan berjalan kearah bangku taman yang jauh dari keramaian.
"Aku enggak mau disana. Gelap, aku takut", jujur Arinta.
Reagan menghela nafasnya dan mengambil tangan Arinta untuk digenggam nya, "Ada aku."
Entah sihir apa yang dipakai cowok itu hingga mampu membuat Arinta menuruti perintahnya.
"Kenapa kamu nolak aku?", tanya Reagan ketika mereka berdua sudah duduk disebuah kursi taman.
"Aku rasa kamu enggak bodoh untuk memahami semua hal itu", jawab Arinta.
Reagan menoleh sekilas kearah Arinta dan kembali memandang kedepan, "Kita coba satu tahun, kalau emang enggak bisa, kita pisah. Soal anak, aku serahin semuanya ke kamu. Kalau kamu enggak mau rawat dia, kasih ke aku", usul Reagan membuat Arinta terdiam selama beberapa detik.
"Tapi aku enggak mau nikah sama pengkhianat", celetuk Arinta membuat kernyitan didahi Reagan.
"Pengkhianat?, maksud kamu?"
"Pengkhianat teman aku adalah musuh aku", jawab Arinta.
Reagan mengangguk paham, "Tapi kamu juga tau kalau itu kecelakaan. Kalau hal ini enggak terjadi, mungkin Aku sama Laily udah jadi tunangan."
Arinta terdiam. Itulah salah satu alasan mengapa Arinta menolak keras untuk menikah dengan Reagan. Cewek itu tidak ingin melukai Laily lagi. Arinta tidak ingin menambah rasa bersalah dihati nya terhadap Laily.
"Karena itu sebuah kecelakaan maka nya kamu enggak usah pikirin. Aku enggak perlu tanggung jawab kamu kalau kamu cuma merasa bersalah. Sekarang banyak kok wanita diluar sana yang bisa hidup tanpa seorang pria", ujar Arinta.
Reagan menatap Arinta lekat dari samping, "Jadi kamu enggak bakal nikah sama siapa pun?", tanyanya.
"Nanti, suatu saat nanti", jawab Arinta tak yakin. Entah jodohnya kelak masih mau menerimanya yang cacat ini atau tidak.
"Sialan!", Reagan mencium Arinta yang membuat cewek itu shock atas tindakan Reagan yang tiba-tiba. Bukankah jawaban yang Arinta berikan benar, jika ada jodohnya kelak ia pasti akan menikah. Namun bukan untuk dalam waktu dekat ini. Lalu untuk apa Reagan marah seperti itu. Sepertinya cowok itu benar-benar telah gila.
"Humph, lepasin", Arinta mendorong Reagan untuk menjauh. Reagan membuatnya kehabisan nafas.
"Kamu enggak boleh nikah sama siapapun selain aku. Paham?!", ujar Reagan dengan suara rendah mendominasi membuat Arinta
yang tengah menghirup oksigen dengan rakus hanya bisa menatap lamat cowok yang ada dihadapannya tersebut.
Mengapa Arinta bisa terjebak dengan cowok pemaksa seperti Reagan.
...~Rilansun🖤....