Brittle

Brittle
No more tears



...••••••••••••••••••...


...Jangan lagi berharap dengan hal yang sia-sia, dan jangan lagi menjadi payung untuk orang lain dengan percuma. Cukup aspal jalanan saja yang basah, tidak lagi pipi......


...••••••••••••••••••...


...***...


"Kamu kenapa enggak ikut mereka?", tanya Arinta tanpa membuang pandangannya dari langit biru yang sangat cerah diatas sana. Ia memandang miris kearah matahari yang bersembunyi dibalik awan. Matahari yang seperti itu mengingatkan nya kepada dirinya beberapa waktu yang lalu.


Gina memandang sekilas lalu mengikuti arah pandang Arinta kelangit biru, "Malas gue. Lagian itu kan urusan mereka berdua. Gue ikut andil pas udah hari H aja deh", jawabnya.


Arinta mengangkat sebelah sudut bibirnya.


*H*ari H, pertunangan, pernikahan, sebuah keluarga dan hidup bahagia. Segitu gampangnya untuk kamu. batin Arinta tertawa lirih.


Hari ini hanya mereka berdua yang duduk dibawah pohon rindang dihalaman belakang sekolah. Cewek yang sebentar lagi akan bertunangan itu, sudah terbang ke Australia tepat tadi malam untuk menyusul kekasih pujaan hati. Dan mereka baru diberitahu oleh Laily tadi pagi. Pada saat pesan itu pertama kali dibaca oleh Arinta, jantungnya terasa berhenti berdetak.


Padahal ia sudah tahu jika hari ini akan hadir, hari dimana harapannya harus sirna semuanya. Tapi entah apa yang membuat hatinya hancur. Ia seolah tak menerima ini semua. Arinta yang menjadi korban disini dan ia pun yang harus dirugikan. Menyedihkan.


"Kamu enggak pernah cerita sama aku. Kalau kamu punya sepupu", tambah Arinta dan menoleh kearah Gina sepenuhnya.


"Ngapain gue harus ceritain si kampret itu. Buang-buang waktu. Enggak ada yang spesial dari dia juga", sahut Gina.


Arinta mengangguk samar. Ia membenarkan jika memang tidak ada yang spesial dari sosok Reagan Zarvio Allandra. Selain tampan, pintar dan menjadi idola. Tidak ada lagi yang bisa dibanggakan dari cowok tersebut. Tampan tapi tak bertanggung jawab?. Bukan cowok namanya.


"Rin", panggil Gina dan memandang Arinta.


Kemudian Arinta menaikkan sebelah alisnya sebagai respon.


"Sebenarnya yang ditoilet..?", tanya Gina hati-hati. Sebab ia takut kembali menyinggung soal masalah itu, karena ia tak pernah melihat Arinta yang lugu dan polos bisa menjadi semenakutkan itu.


Arinta menghela nafasnya dan menunduk. Sebenarnya ia sudah tak ingin lagi mengingat hal itu, sebab ia telah berjanji kepada dirinya sendiri jika tidak akan ada air mata lagi setelah hari itu. Tidak boleh ada yang ditangisi lagi. Untuk apa membuang air mata, sementara sesuatu yang membuatnya begitu, belum tentu bisa menghargainya. Maka dari itu, jika Arinta begitu terus ia hanya akan menjadi gadis bodoh bin tolol.


Melihat Arinta yang muram, Gina langsung mengambil inisiatif untuk mengusap punggung gadis tersebut secara perlahan, "Pelan-pelan aja. Gue disini kok, enggak lari", ujar Gina dengan memberikan senyuman tipisnya.


Arinta mendongak lalu menyelipkan anak rambutnya yang keluar dari ikatan ke telinga, "Tanpa aku jelasin kamu pasti udah paham kan. Aku yakin kamu pasti dengerin semua racauan aku yang nggak jelas di toilet kemarin", balas Arinta dan kembali menghela nafas. Seperti ada tangan tak kasat mata yang meremas kuat jantung dan hatinya.


Gina mengangguk, "Gue paham. Tapi gue enggak paham kenapa itu bisa terjadi sama lo."


Arinta terkekeh pelan dan memandang kosong kearah depannya, "Takdir Gin", sahutnya lirih.


*T*akdir?, huh?, semuanya takdir dan takdirnya lah yang paling menyedihkan.


Mengapa sahabat terbaiknya itu bisa mendapatkan semua ini. Setahunya Arinta tidak pernah menyinggung siapa pun, justru Arinta lah yang sering diganggu. Tapi tak pernah sekalipun Gina melihat Arinta berniat ingin membalas. Justru disaat Gina ingin memberikan pelajaran kepada mereka. Arinta selalu mencegahnya dan berkata jika kita melawan mereka maka tidak ada bedanya kita dengan mereka.


Sahabatnya itu begitu baik, tapi mengapa takdir begitu kejam terhadap nya.


"Siapa orangnya Rin?, biar gue hukum dia. Berani-beraninya dia merusak Arinta gue yang polos dan baik hati", ujar Gina bersungguh-sungguh. Disaat ia tau dihari itu, disaat itu pula keinginannya menghancurkan seseorang yang berani memporak-porandakan kehidupan sahabatnya itu.


Arinta tersenyum dan membalas pelukan hangat Gina. Sebenarnya Arinta ingin sekali mengeluarkan berlian yang bersembunyi di pelupuk matanya itu. Tapi ia sudah berjanji, dan itu tidak akan Arinta ingkari.


"Kebaikan hati tidak menjadi tolak ukur dimasa sekarang Gin. Semua orang melihat dari status dan pendidikannya", sahut Arinta dan kembali mengingat jika ia dan Reagan itu berbeda, baik status dan gaya hidup. Jika bersatu pun mereka hanya akan dipandang sebelah mata oleh seluruh orang. Dan yang terpenting, Arinta tidak ingin membangun suatu hubungan tanpa adanya cinta.


Gina melepaskan pelukannya, "Dia anak pejabat?, konglomerat?", tanyanya sambil melihat Arinta dengan penuh rasa penasaran.


Arinta tertawa pelan, dia itu sepupu kamu. ujarnya dalam hati.


"Enggak peduli siapa dia, kalau dia nggak punya rasa tanggung jawab sama aja enggak guna. Aku bisa berdiri sendiri, bukannya kamu bilang. Ini hidup aku dan hanya aku sendiri yang bisa menopangnya."


Gina tersenyum, "Arinta gue emang paling hebat", sahutnya dan kembali memeluk Arinta, "Lo snggak butuh seseorang yang hanya bisa membuat lo tersakiti. Cewek itu berharga, dan enggak pantas untuk disakiti sama laki-laki yang enggak ada harga dirinya. Tenang aja, tabungan gue masih cukup untuk membangun toko bunga impian lo", lanjutnya sambil mengelus punggung Arinta.


Arinta tertawa mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Gina. Arinta memang pernah mengatakan kepada Gina jika suatu hari nanti ia ingin membangun sebuah toko bunga di


tengah-tengah keramaian ibu kota.


Toko itu akan Arinta jadikan sebagai tempat untuknya membuang penat setelah satu harian bekerja. Sebuah impian sederhana dan entah apa ia bisa mewujudkan impiannya tersebut. Impian itu ia rangkai ketika ia belum paham jika uang itu tidak mudah didapatkan.


"Tapi gue penasaran Rin, siapa sih si bangs*t itu?", tanya Gina setelah melepaskan pelukan mereka.


Kamu akan tau kalau keluarga aku juga udah tau", ujar Arinta sambil terkekeh pelan dan membuat Gina mencebikkan bibirnya kesal.


"Ah, sialan lo", umpat Gina dan membuat Arinta tertawa dengan keras. Tapi Gina tau jika hanya ada kekosongan didalam tawa yang menggema itu.


Arinta memang belum memberi tahu siapapun tentang identitas laki-laki yang sangat ia benci itu, dan sialnya pernah ia harapkan kehadirannya. Ia tak ingin menambah masalah dengan mengungkapkan sosok tersebut. Arinta tau jika ada pertempuran bila ia mengatakan orang itu.


"Pulang sekarang?", tanya Gina yang dibalas anggukan kecil oleh Arinta. Kemudian mereka berjalan meninggalkan halaman belakang sekolah yang sepi itu. Sebenarnya jam pulang sekolah telah berbunyi dari tadi, tapi untungnya hari ini ada kegiatan ekstrakurikuler sehingga mereka masih bisa berada disekolah hingga sore.


Mereka berjalan melintasi lapangan yang ramai dengan anak-anak basket. Gina yang sedari tadi digoda dengab siul-siulan jahil hanya memasang wajah datarnya sebagai tameng.


Gina itu juga termasuk jajaran most wanted di Allandra. Bagaimana tidak, wajahnya yang cantik sempurna siapa yang tak ingin menjadikannya sebagai pacar. Tapi sayangnya, itu semua tidak pernah digubris oleh Gina. Dan hal itu membuat Arinta bangga dengan sahabatnya itu, sebab menurutnya banyak cewek diluaran sana yang memanfaatkan kecantikannya untuk ajang menunjukkan diri. Namun Gina justru sebaliknya.


...~Rilansun🖤....