
...••••••••••••••••...
...Jangan marah kalau kamu enggak punya hak untuk melakukan itu.........
...••••••••••••••••...
...***...
"Hemph", Arinta mendorong tubuh Reagan dengan kuat sehingga melepaskan ciuman mereka. Lalu tanpa aba-aba dengan mata yang berkaca-kaca. Arinta melayangkan satu tamparan tepat diwajah cowok yang berdiri terkejut menatapnya. Dan kembali memasang kancing seragamnya yang dibuka oleh Reagan tadi.
Plak
"Lo...", Reagan membelalakkan matanya. Tak terima ditampar begitu saja oleh Arinta.
"Kenapa?, mau marah?", Arinta mengangkat dagunya. Menatap menantang kearah Reagan yang lebih tinggi darinya.
Reagan terdiam. Semua ucapan yang sudah sampai diujung lidah, ia telan kembali. Menatap datar kearah netra hitam yang berkaca-kaca menatapnya.
"Kamu kenapa Reagan?, Kamu punya dendam apa sama aku?, Kenapa kamu enggak biarin aku hidup dengan tenang", tanya Arinta menggebu-gebu.
"Aku udah berusaha ikhlas dengan semua takdir yang Tuhan beri. Tapi kamu selalu hadir mengingatkan aku dengan semua hal yang memalukan itu. Kamu itu seperti mimpi buruk dalam hidup aku", Arinta menundukkan kepalanya. Memejamkan mata. Jujur, Arinta sangat takut tadi ketika Reagan menciumnya. Arinta takut hal itu terulang untuk yang kedua kalinya. Namun sepertinya Tuhan sangat baik kepadanya hari ini.
Tapi itu belum bisa dikata untung, sebab predator itu masih berdiri dihadapannya. Bisa menerkam dirinya kapan saja.
"Kamu mau apa dari aku?, Kenapa kamu selalu menghantui kehidupan aku?", Arinta mendongak menatap lelah Reagan yang masih berdiri mematung.
"Aku juga manusia. Aku mau hidup seperti remaja normal lainnya. Tapi karena kamu", Arinta menunjuk dada Reagan, "Karena kamu hidup aku hancur lebur tanpa sisa. Karena kalian semua impian yang udah aku bangun harus terkubur gitu aja. Aku benci kamu!, terlebih aku benci anak ini!", ujarnya sambil memukul kuat dada Reagan. Melampiaskan semua kebencian yang ada didalam hatinya untuk cowok dihadapannya itu. Berharap jika Reagan musnah detik itu juga. Membawa serta beban yang ada dipundaknya.
Reagan terhenyak. Sedalam apa luka yang sudah ia toreh dihati cewek yang masih memukuli dadanya itu. Cowok itu membiarkan Arinta melampiaskan semua amarah yang sudah dipendam lama cewek itu.
"Aku benci kalian, aku benci kamu!", Arinta berhenti memukuli dada Reagan. Bersandar kepintu yang tertutup sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Kembali menangisi takdir yang begitu kejam terhadap dirinya.
"Kenapa pakai korset?", tanya Reagan datar setelah sekian lama diam.
Arinta mendongak, sebelum menjawab cewek itu menghapus air matanya, "Memangnya kenapa?", tanya Arinta menantang.
Reagan menggeram, "Jangan menguji kesabaran gue", ujarnya dingin.
"Justru kamu yang menguji kesabaran aku. Ka–"
"Lo boleh benci gue. Tapi lo enggak boleh benci anak itu. Dengan lo pakai kayak gituan. Lo bakal bunuh anak itu", potong Reagan dengan menatap tajam Arinta.
"Syukur kalau gitu."
"ARINTA!", bentak Reagan. Ia tak percaya jika ucapan itu terlontar dari mulut seorang gadis yang terkenal lugu dan cupu. Apakah hati nurani cewek itu benar-benar telah mati.
"Kenapa marah?, kamu enggak ada hak untuk mengatur hidup aku. Ingat Reagan kamu itu bukan siapa-siapa, tolong sadar diri. Sebaiknya menjauh dari hidup aku!", Setelah mengatakan itu Arinta hendak berbalik membuka pintu. Namun langsung dicegah Reagan dengan kembali mengurung Arinta didalam kukungan lengan kekarnya.
"Gue ada hak untuk mengurusi hidup lo sebagai Ayah dari anak itu. Camkan ini, hanya gue yang boleh jadi Ayah dari anak itu. Hanya gue", bisik Reagan tepat ditelinga Arinta yang membelakangi dirinya.
"Kamu bisa jadi Ayah dari anak ini, kalau dia bisa bertahan sampai lahir. Tapi kalau dia enggak bisa bertahan, ya salam", sahut Arinta dengan melihat kesamping tanpa menoleh kearah cowok yang berdiri dibelakangnya.
Reagan melotot. Cewek yang ada dihadapannya ini ternyata benar-benar gila.
"Jangan macam-macam Arinta!", peringat Reagan dingin.
Arinta tersenyum sinis dan berbalik, "Selain bajingan kamu itu ternyata juga enggak punya malu ya. Aku ingatkan sekali lagi sama kamu. Kamu. bukan. siapa-siapa. Jadi tolong jangan atur-atur dan halangi hidup aku. Pergi jauh dari hidup aku, kalau bisa lenyap dari muka bumi ini", sarkas Arinta dan mendorong tubuh Reagan sehingga ia bisa keluar dari UKS tanpa halangan.
Brak
Reagan memejamkan matanya seiring dengan pintu yang ditutup kuat oleh Arinta dari luar. Dan kembali membuka matanya setelah itu.
"Gue minta maaf", gumamnya dengan pandangan lurus kearah pintu yang tertutup.
...***...
Kring kring kring
Bel pulang sekolah telah berbunyi. Membuat semua anak MIPA 2 sibuk memasukkan kembali alat tulis kedalam tas mereka.
"Diapain tadi?", tanya Gina tiba-tiba kepada Arinta sambil menyandang tas nya.
"Huh?", Arinta menoleh menatap Gina. Namun belum sempat ia menjawab. Guru yang mengajar tadi berpamitan dan segera keluar dari dalam kelas setelah semua peserta didik menyahuti.
"Bagus kalau gitu", Gina menganggukkan kepalanya. Meski tak percaya, tapi ia sadar diri untuk tidak bertanya lebih jauh.
"Pulang bareng?", tawar Gina.
"Arinta pulang bareng gue", suara bariton itu berasal dari belakang tubuh Arinta. Membuat cewek itu menoleh dan menatap lelah kearah orang tersebut.
Gina menatap sebentar kearah Ardean yang masih menatap Arinta. Lalu menganggukkan kepalanya tanda setuju. Gina sangat mengenal Ardean. Walau bersahabat dengan Reagan, tapi Gina percaya Ardean tak akan berbuat hal macam-macam.
Ardean itu tenang, seperti air yang mengalir. Tidak terusik dengan sekitarnya jika mereka tidak mengusik dirinya terlebih dulu.
"Duluan kalau gitu", Gina berbalik sambil melambaikan tangannya kearah Arinta yang hanya berdiam diri menatapnya.
"Ayok", ajak Ardean dengan senyuman tipisnya. Namun Arinta hanya menatap cowok itu dengan datar.
"Ardean, aku kan udah bilang sama kamu. Aku enggak mau jadi alasan utama hancurnya persahabatan kalian. Aku hanya ingin hidup tenang. Aku mohon, jauhi aku", ujar Arinta dan melangkahkan kakinya menjauh dari Ardean.
"Tapi gue enggak mau jauhin lo", ujar Ardean membuat Arinta menghentikan langkahnya.
"Berarti kamu enggak mau berteman sama aku. Ingat, aku enggak suka berteman dengan orang yang pemaksa", balas Arinta tanpa berbalik dan kembali melanjutkan langkahnya sambil menunduk.
Menghitung setiap kotak ubin yang dilewatinya. Selalu itu yang Arinta lakukan jika ia berjalan sendirian. Daripada ia memikirkan hal-hal yang berpotensi menyakitkan hatinya.
Kemudian cewek itu menuruni tangga dengan hati-hati. Menunggu mereka turun terlebih dulu. Sebab ia tidak suka jalan berdesak-desakan.
Ketika menuruni anak tangga terakhir menuju lantai satu. Tanpa sengaja Arinta menabrak seseorang yang membuatnya hampir saja terjungkal jika tidak ada lengan kokoh yang menahannya.
Arinta mendongak takut-takut kearah orang tersebut. Sebab ia tak ingin lagi mencari masalah dengan orang lain. Arinta hanya ingin menghabiskan sisa waktunya dimasa putih abu-abu ini dengan tenang.
"Hati-hati", ujar orang tersebut membuat Arinta membelalakkan matanya. Kenapa harus bertemu dengan pecundang itu lagi dan lagi.
"Makasih", ucap Arinta dan segera menjauh dari orang tersebut, yang tak lain adalah Reagan. Cowok angkuh yang suka memerintah.
Reagan memutar bola matanya, "Pulang sama gue!", cowok itu tanpa aba-aba langsung menarik tangan Arinta dan berjalan kearah parkiran sekolah. Membuat cewek itu menjerit tertahan.
"Masuk", titah Reagan yang tak dituruti Arinta untuk masuk kedalam mobilnya. Cewek itu hanya berdiri menatap kearah gerbang sekolah. Membuat Reagan berdecak sebal. Kesabarannya memang sangat diuji saat berhadapan dengan Arinta.
"Masuk Arinta", Reagan menatap Arinta dan melembutkan nada bicaranya.
Arinta menoleh, "Kenapa aku harus masuk?, aku enggak mau pulang sama kamu", tolaknya dan berusaha melarikan diri. Namun, langsung dicegah oleh Reagan dengan menarik kembali tangan cewek itu.
"Gue bilang masuk", Reagan berusaha mendorong Arinta untuk masuk kedalam mobilnya.
"Aku enggak mau. Aku–"
"REAGAN", teriak seseorang yang membuat mereka berdua menoleh ke asal suara.
Reagan mematung. Didepan sana ada gadis pujaan hatinya yang barusan menyerukan namanya. Sudah berapa lama suara itu tidak lagi memanggil namanya. Reagan sangat merindukannya.
"Laily", gumam Reagan dan melepaskan tangan Arinta. Membuat cewek itu tersenyum miris menatapnya.
"Reagan, aku pulang bareng kamu boleh?", tanya Laily setelah sampai dihadapan mereka berdua. Sekilas cewek itu melihat Arinta dengan tatapan tak bersahabat. Membuat Arinta menunduk sedih.
Reagan menoleh kearah Arinta dan kembali menatap Laily yang tersenyum lebar kearahnya. Cowok itu masih tak percaya jika Laily sudah memaafkannya.
"Boleh ya. Please", Laily menatap memohon kearah Reagan. Membuat cowok itu tak tega untuk menolak.
"Lo–", ucapan Reagan terpotong dengan suara seseorang dari belakangnya.
"Dia pulang sama gue", Ardean yang sedari tadi menonton hal tersebut dari kejauhan langsung menghampiri mereka ketika melihat Reagan yang plin plan.
Melihat seseorang tersebut membuat darah Reagan mendidih seketika. Ardean, cowok itu datang tiba-tiba dan langsung memegang tangan Arinta.
"Enggak. Dia pulang sama gue", Reagan melepas pegangan tangan Ardean dan segera menyuruh Arinta untuk masuk. Tanpa penolakan cewek itu masuk kedalam mobil berwarna hitam tersebut. Kemudian Reagan menjalankan mobilnya meninggalkan pekarangan sekolah dan melupakan jika ada cintanya yang berdiri menatap nyalang kearah mobilnya.
Ardean yang melihat itu lantas tersenyum. Sadar jika masih ada orang didekatnya, cowok itu langsung mengubah mimik wajahnya seperti semula.
"Dari awal dia emang bukan jodoh lo", ujar Ardean saat melewati Laily. Membuat cewek itu menatapnya tajam. Lalu dengan menghentakkan kakinya, Laily berjalan kearah depan gerbang sekolah. Tak mempedulikan Ardean yang menatapnya sambil memasang helm.
"Dasar Reagan si pembuat masalah", gumamnya dan kemudian melesatkan motor nya meninggalkan pekarangan sekolah.
...~Rilansun🖤....