Brittle

Brittle
Minta cerai



...•••••••••••••••...


...Lebih baik kita berhenti sebelum semuanya terlambat......


...•••••••••••••••...


...***...


Reagan mematikan mesin mobilnya tepat di depan rumah minimalis tersebut. Lalu dengan satu tarikan napas panjang Reagan keluar dari dalam mobil. Berjalan menghampiri Ayah mertuanya yang sedang duduk di teras depan rumah. Sepertinya pria itu sudah mengetahui masalah yang ada diantara mereka berdua. Terbukti dengan ekspresi wajahnya yang kurang bersahabat.


"Yah", sapa Reagan dengan sopan setelah sampai dihadapan Deri.


Yang dibalas Deri dengan deheman singkat sambil menyeruput pelan cangkir kopinya. Membuat Reagan menghela nafas berat.


"Kenapa kamu berdiri terus?, ambeien?", tukas Deri datar tanpa menoleh kearah menantunya tersebut.


Reagan lantas langsung mendudukkan tubuhnya ke kursi di samping Deri. Pandangannya hanya fokus kearah depan, tak berani bila harus menatap langsung mata Deri.


"Kenapa kamu kesini?", tanya Deri membuka obrolan setelah berdiam untuk beberapa saat.


"Mau jemput Arin, Yah", sahut Reagan seraya menoleh kearah Deri. Renata mengajarkan nya untuk menatap mata lawan bicaranya ketika mengobrol, apapun itu kondisinya. Sebagai tanda jika kita seorang yang memiliki attitude, dan agar harga diri kita tidak jatuh di mata lawan bicara. Walau bagi Reagan sedikit sulit jika harus menatap mata hitam tegas milik Deri.


Kemudian Deri mengangguk singkat, "Kamu ingat pesan yang saya sampaikan ketika kalian menikah?", tanyanya tiba-tiba.


"Ingat, Yah", jawab Reagan lalu menundukkan kepalanya. Tentu saja Reagan selalu mengingat pesan singkat itu. Pesan dari Deri lah yang dijadikan nya sebagai pedoman untuk tidak membuat Arinta menangis dan terluka.


"Bagus lah", Deri menganggukkan kepalanya lagi, "Pada saat itu saya mengatakan kalau kamu udah gak mencintai anak saya lagi. Maka datanglah kepada saya, karena saya akan membawanya kembali pulang dengan senang hati", tambahnya.


"Saya mencintainya, Yah", sahut Reagan dengan mantap. Tidak ada keraguan di kalimatnya serta pandangan matanya.


Deri tersenyum miring, "Dengan membuatnya menangis?."


Reagan tersentak, ia tak percaya jika Arinta akan menangis karena kejadian itu. Padahal tadi Reagan melihat dengan jelas bagaimana tenang dan santai istrinya itu dalam bertindak. Apakah Reagan telah kembali melukai Arin nya.


"Ketahuilah selama saya menjadi Ayah nya, saya belum pernah sekali pun membuat air matanya jatuh. Bahkan setetes pun. Karena saya menjaga Arinta seperti saya menjaga kehormatan diri saya sendiri. Saya gak sanggup kalau melihat mata hitam bulat itu menangis", ujar Deri panjang lebar. Membuat Reagan yang mendengarnya merasa bersalah sekaligus tersentuh. Deri adalah seorang Ayah yang sangat mencintai anaknya. Bahkan menjaga anaknya seperti menjaga harga dirinya sendiri. Benar-benar seorang Ayah yang hebat. Beruntungnya Arinta menjadi putrinya.


Jika kelak anaknya sudah lahir, Reagan ingin menjadi seorang Ayah seperti Deri. Yang bisa menjadi Ayah sekaligus teman untuk anak-anaknya.


"Maafkan Reagan, Yah", cicit Reagan pelan.


"Seharusnya kamu minta maaf sama istri kamu, bukan saya", balas Deri sambil menyeruput lagi kopinya.


Reagan menatap tak percaya Deri. Ia kira jika pria itu tidak akan mengizinkannya untuk menemui Arinta, setidaknya untuk saat ini. Tetapi perkiraan nya salah. Deri memang orang yang sangat pengertian. Ingatkan Reagan untuk membelikan hadiah buat Ayah mertuanya itu nanti.


"Boleh saya masuk, Yah?", tanya Reagan dengan menatap penuh harap kearah Deri.


"Hm", gumam Deri singkat menyetujui, "Apapun keputusan Arin nanti, saya akan mendukungnya", tambahnya.


Reagan tersenyum lebar. Lalu mengambil tangan kanan Deri, mencium sopan punggung tangannya membuat Ayah tiga orang anak itu tersentak kaget.


"Makasih banyak, Yah", ujar Reagan dengan sumringah sambil bangkit dari duduknya dan berjalan memasuki rumah minimalis tersebut.


Deri yang melihat tingkah laku menantunya itu tanpa sadar menarik sudut bibirnya. Tak menyangka orang seperti Reagan juga bisa konyol bila dihadapkan dengan cinta.


Sepertinya keputusan Deri untuk mengizinkan Reagan menemui Arinta, tidaklah salah. Karena Deri yakin kalau tidak ada laki-laki yang lebih cocok untuk Arinta selain Reagan.


Walau tadi darahnya sempat mendidih saat melihat Arinta yang menghampirinya dengan air mata yang bersimbah. Tetapi setelah Arinta menjelaskan apa yang terjadi. Deri langsung menghela nafas, ia yakin pasti ada kesalah pahaman diantara putri dan menantunya itu.


Deri yakin kalau Reagan tidak akan mematahkan kepercayaan nya. Entah kapan Deri mulai menaruh kepercayaan pada cowok itu, ia pun tidak tau.


...***...


🎶Katanya..


Cinta tak pernah salah


Takkan pernah berubah


Walau kadang hati tersakiti oleh salah...


Katanya...


Cinta tak pernah gagal


Gagal tuk memaafkan


Tapi mengapa cinta ku kecewa...


"Huft", Arinta menghela nafasnya dengan mata yang terpejam. Meresapi setiap lirik lagu yang yang dihidupkan nya dari ponsel. Mengisi penuh kamarnya, serta hatinya yang kosong.


"Sedih banget lagunya."


Arinta membuka matanya dan menatap seseorang yang tengah bersandar di pintu kamarnya dengan tangan yang bersidekap di dada.


Sial.


Dengan gerakan yang cepat Arinta menghapus air matanya. Serta mematikan lagu yang belum selesai itu. Arinta tak ingin Reagan mengira jika ia terlalu terpuruk karena cowok tersebut. Walau kenyataannya seperti itu.


Reagan tersenyum geli melihat tingkah menggemaskan Arinta. Berusaha sok tegar, padahal hati tengah berdarah di dalam sana.


"Habis diputusin mbak?", celetuk Reagan yang membuat Arinta mendengus.


"Enggak mas, habis diselingkuhin sama suami", sahut Arinta ketus. Lalu mengalihkan pandangannya kearah luar jendela.


"Oh, kok bisa?."


"Enggak tau", Arinta menatap sedih langit biru diatas sana. Ia pun tidak tau apa yang kurang dari dirinya, mungkin saja karena Arinta terlalu egois dan childish.


"Mungkin dia udah enggak suka lagi sama saya. Logika aja deh, mana ada cowok yang nolak cewek kurus plus seksi dibanding cewek gendut dengan perut buncit", tambah Arinta seraya mengelus perutnya yang terasa sedikit kram. Mungkin anaknya pun marah dengan Reagan.


"Suaminya centil ya mbak", Reagan berjalan kearah sisi kiri ranjang. Duduk diatas kasur sambil menatap Arinta yang sedang asik menatap langit.


"Iya, centil banget", sahut Arinta tanpa menoleh.


Reagan tersenyum. Lalu segera menarik tangan Arinta membuat cewek itu jatuh di pangkuan Reagan.


"Kamu, aku gak-"


"Enggak boleh berdiri lama-lama", sela Reagan seraya mengelus perut buncit Arinta. Ia yakin jika kedua malaikat kecilnya itu saat ini pasti tengah berulah. Terbukti dengan tangan Arinta yang sedari tadi mengelus perutnya.


Arinta mendengus. Jujur, kakinya juga sudah lelah berdiri di dekat jendela kurang lebih lima belas menit.


"Suaminya ganteng gak mbak?", tanya Reagan melanjutkan obrolan absurd mereka yang tertunda.


"Enggak, biasa aja", balas Arinta datar.


"Terus kenapa mbak mau nikah sama dia?."


"Enggak tau, pakai pelet mungkin dia", jawab Arinta asal membuat Reagan mendengus.


"Tapi mbak cinta gak sama suaminya?", Reagan menatap kearah leher jenjang Arinta yang terpampang. Karena cewek itu mencepol rambutnya ke atas. Membuat Reagan tak tahan ingin menghirup aromanya. Tapi Reagan tak bisa bertindak sembarangan kali ini. Kalau tidak, Arinta bakal Langsung mendorongnya keluar dari kamar.


Arinta menoleh kearah Reagan, "Mas, cinta yang salah atau kita yang salah?. Emang ada ya, jodoh yang gak jadi?", tanyanya yang tak menghiraukan ucapan Reagan.


Reagan mengernyitkan keningnya. Merasakan hawa-hawa yang tidak enak, "Emangnya kenapa?."


Lalu Arinta memalingkan wajahnya, "Saya mau minta cerai."


"Rin!"


Reagan melebarkan matanya. Menatap tak suka Arinta, "Aku enggak mau ya", ujarnya dingin.


"Tapi aku enggak sanggup Reagan", cicit Arinta pelan seraya memainkan jari tangannya.


Reagan menghela nafas berat, "Tadi kamu itu salah paham sayang", jelasnya dengan lembut.


Arinta mendongak, "Salah paham apa nya!. Orang aku lihat sendiri kok, kamu kira aku buta", sarkasnya. Arinta tidak akan berani mempercayainya kalau tidak dilihatnya sendiri.


Reagan tertawa kecil melihat mata Arinta yang melotot padanya, "Tadi dia itu kesandung dan gak sengaja jatuh kepangkuan aku. Waktunya pas banget saat kamu yang baru aja datang. Dan aku juga gak ngapa-ngapain kok", ujarnya. Sebenarnya sekretaris itu tidak tersandung, cewek gila itu memang berniat untuk menggodanya. Tapi tak mungkin Reagan mengatakan hal seperti itu kepada Arinta. Setelah ini Reagan akan meminta Xavier mencarikannya seorang sekretaris yang baru, dan yang pastinya berjenis kelamin laki-laki. Reagan tidak ingin ada kesalah pahaman seperti ini lagi kelak.


"Gak mau dengar. Reagan aku bilang ya sama kamu, kalau kamu udah bosan sama aku. Mending kita pisah di tengah jalan aja, daripada nantinya kita sama-sama terjebak dalam hubungan yang suram", ujar Arinta serius. Lebih baik mereka berhenti sebelum semuanya terlambat.


Reagan menatap datar Arinta, "Jadi kamu mau kita berhenti di tengah jalan?."


Arinta menganggukkan kepalanya ragu. Ia pun tidak tau apa yang tengah diinginkan hatinya saat ini.


Reagan yang melihat itu lantas mengetatkan rahangnya, "Sialan", umpatnya pelan dan langsung mencium habis bibir Arinta. Reagan ingin membuat Arinta paham jika tidak semudah itu bila ingin bercerai dengannya.


...~Rilansun🖤....